
Ternyata efek yang ditimbulkan oleh bunga Teratai Api Putih kali ini bukan memunculkan makhluk spritual yang lain, melainkan menunjukan bahwa keberadaannya adalah sebuah pilar bagi salah satu lembah yang berada di sana.
"Tidak adanya Teratai Api Putih ini, tempat ini akan runtuh!" ucap Qinli.
"Ayo pergi!" seru Tuan Ye.
Akibat bunga Teratai Api Putih yang kini dipegang oleh Qinli membuat keseimbangan tempat itu menjadi goyah. Dalam sekejab mata tempat itu sudah roboh. Beruntung saat ini keduanya sudah melayang-layang di angkasa. Sementara tempat itu benar-benar roboh dan hancur.
.
.
πTiga hari kemudian, Shangjing.
...βββ...
...QIAN KUN TANG...
Setelah cukup lama di rawat oleh Qinli, akhirnya Kakek Qin Badao siuman dan membuka mata.
"Kakek Badao! Akhirnya kakek sadar juga!" ucap Qinli bahagia.
"Qinli ...." sapa Kakek Badao.
Kakek Badao akhirnya bangkit dan duduk.
"Anak baik, kau yang menyelamatkanku, ya."
"Ini sudah seharusnya."
"Kau sudah mencapai level apa sekarang?"
"Alam setengah dewa."
Kakek Badao menghela nafasnya sebelum bercerita.
"Kelihatannya ... sudah saatnya ... aku menceritakan tentang orang tuamu ...."
"Waktu itu ...."
"Orang tuamu adalah pasukan elite Keluarga Qin, level kultivasi mereka sangat tinggi, sedangkan aku sebagai senior yang punya level kultivasi rendah hanya bisa menjadi pengikut mereka."
"Saat itu ayahmu mengajakku ikut serta untuk masuk, tetapi aku menolaknya."
"Sungguh tidak mau ikut masuk bersama kami?"
"Meski kultivasiku akan meningkat pesat jika masuk ke sana, tapi aku hanya akan menjadi hambatan untuk kalian."
Dengan susah payah, akhirnya mereka menemukan kunci relix kuno yang dilindungi oleh keluarga tersembunyi, bersiap-siap untuk masuk.
Mereka masuk ke tempat relix kuno dan menemukan beberapa metode meracik obat.
__ADS_1
Tampak Ayah dan Ibu Qinli membahas tentang metode meracik obat tersebut.
"Lihat, tulisan ini sepertinya adalah metode meracik obat," ucap Ayah Qinli pada istrinya.
Namun, mereka bertemu dengan binatang iblis kera raksasa api level langit. Alhasil mereka di usir oleh kera raksasa itu.
...GROAR...
Dalam perjalanan pulang, mereka di serang oleh Keluarga Huang, menimbulkan peperangan antar keluarga. Menyebabkan banyak anggota keluarga yang tewas. Karena hal ini, mereka diadili oleh pihak keluarga. Lalu kultivasi mereka dihancurkan setengah dan diusir dari Keluarga Qin.
"Kemudian, mereka menemukan dunia sekuler, bergabung dengan organisasi dan mulai meracik obat ...."
Namun, kabar mereka masuk ke tempat relix kuno tersebar kemana-mana. Banyak pasukan kuat yang ingin merebut barang yang ada di tangan mereka dan bekerja sama membunuh mereka. Keluarga Huang, Keluarga Zhuge, Organisasi Qingtang ikut berpartisipasi.
Saat aku membawa Tetua Keempat mencari mereka, mereka sudah dikubur. Tapi, mereka masih sekarat dan belum sepenuhnya mati. Demi menyelamatkan mereka, Tetua Keempat diam-diam membawa mereka pulang ke Kediaman Qin dan disembunyikan dalam peti mati beku.
"Cerita selanjutnya, kau juga sudah tau."
Kedua mata Qinli berkaca-kaca mengingat cerita tentang kedua orang tuanya.
"Kalau begitu ... ayah dan ibu masih hidup!"
"Benar, Nak. Ayo kita pulang ke Kediaman Qin, mencari cara untuk menyelamatkan orang tuamu," ajak Kakek Badao.
"Baik," ucap Qinli senang.
Malam harinya Qinli kembali ke kediamannya. Di dalam kamarnya, Qinying baru saja selesai mandi. Rambutnya saja masih basah, tetapi tidak mengurangi kecantikannya. Dengan santainya ia malah mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk.
Qinli menundukkan pandangannya ke bawah.
"Ya! Walau harus mengorbankan nyawaku, juga tetap akan menyelamatkan ayah dan ibu."
Entah sejak kapan, Qingyin sudah naik ke atas ranjang dan berjongkok di hadapan Qinli sambil menangkup wajah suaminya itu.
"Karena kau sudah memutuskannya, maka aku juga akan ikut bersamamu pulang ke Kediaman Qin."
"Kau ... kau serius?" ucap Qinli terkejut.
"Tentu saja! Aku ini istrimu!"
"Qingyin ...." panggil Qinli dengan rasa harunya.
Qinli tidak menyangka jika kini cintanya bersambut dan Qingyin semakin mencintainya. Tanpa rasa malu, sepasang suami istri ini kembali berciuman. Sementara itu, dewi di dalam tubuh Qingyin, segel yang melingkari tubuhnya semakin terlepas.
"Ini ...." ucap Dewi itu terkejut.
"Segelnya perlahan-lahan terlepas," ucap dewi itu.
Qinli kini sedang berhadapan dewi itu dan saling mengobrol.
"Sentuhan ini ...."
__ADS_1
Dewi itu mulai menyentuh wajah Qinli.
"Segelmu sudah sepenuhnya lepas!" ucap Qinli sambil memandangi dewi itu.
Setelah menyentuh Qinli, dewi itu malah bersedekap dada sambil memejamkan mata.
"Dengan kekuatanmu yang sekarang juga ingin melepas segelku sepenuhnya."
"Hng."
"Kekuatanmu ini hanya bisa membuatku bebas di dalam tubuh wanita ini."
Dewi itu kemudian membuka matanya dan mulai mengatakan apa yang menjadi keinginannya.
"Tapi, karena kau sudah mencapai level alam setengah dewa, biarkan aku membantumu mengaktifkan kultivasi tahap selanjutnya."
Tanpa menunggu jawaban dari Qinli, dewi itu mulai menggunakan kekuatannya untuk membantu Qinli meningkatkan kultivasinya.
"Tahap keempat metode pemikiran tatanan surga!" teriak dewi itu sambil mengarahkan kekuatannya ke tubuh Qinli.
... HIAT...
...KEKUATAN BERTAMBAH...
Tubuh Qinli langsung merasakan efek dari kekuatan sang dewi. Tubuhnya memancarkan cahaya keemasan dan melayang di udara.
Sementara itu di dunia nyata, Qinli dan istrinya sedang berhubungan dengan suami istri. Saat ini Qinli berada di atas tubuh Qingyin.
"Suamiku, ba ... badanku sangat panas ... terasa tidak enak ...."
"Efeknya cepat sekali, tidak di sangka metode ini sangat luar biasa ...." ucap Qinli di dalam hatinya.
Tiba-tiba tubuh Qinli di dorong hingga kini giliran Qingyin yang memimpin di atas tubuh Qinli.
"Suamiku ... cepat ... berikan padaku ....!" ucap Qingyin dengan wajah memerah.
"Iya!" ucap Qinli dengan tersenyum.
.
.
π Keesokan harinya.
Saat ini Qinli dan Kakek Badao sudah bersiap-siap untuk pergi. Mereka sedang mengobrol di lantai bawah.
"Ayo kita pergi!" ajak Qinli pada Kakek Badao.
"Tunggu!"
Ternyata Qingyin sudah siap untuk ikut dengan suaminya. Di tangannya ia sudah membawa tas wanita.
__ADS_1
"Kalian tidak berencana ingin meninggalkanku di sini, kan?"