
Setelah memeriksa denyut nadi dan kondisi Tetua Xia menggunakan tenaga dalamnya, Qinli menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuh Tetua Xia.
"Hm? Ada yang tidak beres!" batin Qinli.
"Denyut nadinya menunjukkan jika dia sama sekali tidak terpengaruh oleh racun serangga itu! Selain itu denyut nadinya sangat lemah, ini pertanda dia dalam keadaan sekarat!"
Qinli dilanda kepanikan, bagaimana bisa kondisi Tetua Xia menjadi parah seperti ini? Tak mau mengambil resiko, Qinli harus menjalankan kewajibannya sebagai dokter.
"Masalah sudah sampai seperti ini, satu-satunya cara untuk menyelamatkannya hanya bisa dengan menggunakan jarum perak untuk mentransfer energi spiritualku ke dalam tubuhnya."
Qinli mengambil sebuah tali hitam dan menutup matanya untuk mulai mengobati Tetua Xia.
"Namun, demi mempercepat penyerapan energi spiritual, aku harus melepaskan bajunya ... sudah tidak ada waktu lagi ...." ucapnya sambil mengencangkan ikatan tali hitam itu di kedua matanya.
Lalu Qinli mulai melepas pakaian Tetua Xia bagian atas secara satu persatu. Qinli menopang tubuh Tetua Xia lalu membuang baju Tetua Xia ke sembarang arah.
Setelah tak ada baju bagian atas yang menempel alias setengah telan**** , Qinli mulai menancapkan jarum perak ke bagian tengah dada Tetua Xia. Setelah jarum itu menempel, Qinli membiarkan energi dari jarum itu bekerja di dalam tubuh Tetua Xia.
Dari tubuh Tetua Xia lalu mengalirlah energi-energi di sana. Banyak bayangan bunga sepatu yang keluar dari tubuh Tetua Xia. Hingga satu jam kemudian, ia mulai siuman.
Kedua mata Tetua Xia mulai terbuka, dan ia kaget setengah mati karena melihat Qinli sedang memegang jarum yang masih menempel di tengah dada Tetua Xia. Reflek, kedua tangannya menutupi kedua bukit kembarnya yang polos tanpa sehelai benang pun itu.
"Tuan Qin, kau ...." ucap Tetua Xia yang masih terkejut akan keadaannya.
Qinli tersenyum, "Akhirnya kau sadar juga."
Tetua Xia hendak pergi untuk memakai baju, tapi Qinli melarangnya.
__ADS_1
"Jangan bergerak, aku cabut dulu jarumnya," ucap Qinli yang masih tertutup kedua matanya itu.
Setelah semuanya selesai, Tetua Xia segera memakai bajunya. Lalu mereka berdua memandang langit di luar sana sambil berbincang-bincang.
"Mengenai tadi, aku sungguh tidak punya cara lain selain melepas ...." ucap Qinli yang merasa tak enak hati.
"Aku mengerti kondisiku, aku tidak menyalahkanmu," ucap Tetua Xia menahan kesedihannya.
Sambil memandang langit, Tetua Xia menceritakan kisah kelam hidupnya pada Qinli.
"Sejak lahir, aku bernasib buruk, seharusnya ini adalah hari kematianku, tapi kelihatannya aku bisa hidup lebih lama di dunia ini."
"Jadi kau bersusah payah memintaku menjadi tamu terhormat Sekte Xuan, agar bisa menjaga sektemu?" tanya Qinli.
Tetua Xia tersenyum ke arah Qinli.
"Bagaimana jika aku bisa menyembuhkanmu?"
Tetua Xia terkejut akan ucapan Qinli barusan. Ia bahkan sudah tidak punya keinginan lagi untuk sembuh, sebab sedari kecil tak pernah ada tabib yang bisa menyembuhkannya.
"Ah?" ucap Tetua Xia terkejut.
Lalu ia pun menunduk. Wajahnya semakin terlihat putus asa.
"Tuan Qin, apa kau sedang bercanda? Ini bukan penyakit, ini adalah nasibku. Saat kecil, guruku membawaku mencari berbagai macam orang hebat, tapi tidak ada satu pun yang bisa membantuku."
"Apa kau pernah mendengar kontrak energi spiritual?" tanya Qinli pada Tetua Xia.
__ADS_1
"Kontrak energi spiritual?" tanya Tetua Xia kebingungan.
"Dulu seseorang pernah mengajariku hal ini. Sesederhananya adalah mentransfer nyawa seseorang ke orang lain. Dengan kontrak energi spiritual, mengorbankan umur hidup seseorang untuk menambah umur hidupnya sendiri."
"Ini ... siapa yang akan bersedia memberikan nyawa?" ucap Tetua Xia semakin sendu.
Tiba-tiba dari arah belakang muncul assisten Tetua Xia.
"Aku bersedia," ucapnya saat masuk sambil membawa dua buah teh untuk Qinli dan Tetua Xia.
"Tidak boleh!" bantah Tetua Xia.
Melihat ketegangan di ruangan itu, Qinli lebih memilih untuk pergi.
"Kalian berdiskusi saja dulu, kalau sudah diputuskan baru cari aku lagi, aku masih ada urusan lain yang harus aku selesaikan."
Qinli lalu meninggalkan mereka berdua.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Yu Quanxing sedang melakukan video call bersama saudara Zhuge Yi.
"Tuan Cang, Qinli memainkan trik kotor dan meracuni Tuan Yi sampai mati. Susah payah aku bisa kabur dari sana, Anda harus membalaskan dendam Tuan Yi!"
Zhuge Cang sangat marah kali ini. Ia pun menggertak meja.
__ADS_1
"Cari mati! Beraninya dia membunuh anggota Keluarga Zhuge, aku pasti akan membuatnya membayar dengan nyawanya! Pengawal ayo kita pergi ke Pulau Selatan ..." ucap Tuan Cang sambil menggebrak meja.