
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Qinli, Shangjing...
Saat sampai, Qinli langsung memeriksa keadaan Qingyin. Saat ini kondisinya lebih membaik karena sudah ditangani oleh Qinli.
Ia pun duduk di sisi ranjang sambil memegang tangan istrinya.
"Untung kau memberi tahuku tepat waktu, kalau telat sedikit, racun ini akan masuk ke jantungnya," ucap Qinli sambil memandangi wajah istrinya yang sedang berbaring lemah itu.
"Diperlukan waktu setidaknya tiga jam untuk aku kembali dari Huadong ke Shangjing. Racun ini menyebar sangat lambat, ini pasti ada kaitannya dengan wanita yang ada di dalam tubuh Qingyin itu," batin Qinli.
Lalu Qinli teringat sesuatu, "Oh iya, di mana pembunuhnya?"
"Ada di basemen," ucap Lian Qing.
Saat di basemen, Qinli menemukan pembunuh itu sudah terikat dan terpasung. Di atas kepala orang itu dan di kedua lututnya ditaruh lilin sebagai penerangan ruang itu.
Wajahnya babak belur, belum lagi peralatan untuk menyiksa pembunuh itu masih tergeletak di depannya. Bahkan dia juga sudah mengaku kalah.
"Aku salah! Aku salah!"
"Dia sudah mengaku."
Kemudian Lian Qing menjelaskan suatu kebenaran pada Qinli.
"Penyihir yang kau bunuh sebelumnya, bukan hanya sekutu Wei Kaiyuan, tetapi adalah Tetua Sekte Sanhetang dari Pulau Selatan."
"Pria ini adalah salah satu anggota yang diutus oleh Sekte Sanhetang," ucap Lian Qing sambil menunjuk ke arah lelaki itu.
Lalu Lian Qing menjelaskan satu hal lagi, poin yang penting untuk Qinli.
"Sanhetang tidak berani mencari masalah denganmu, jadi dia mengutus beberapa anggotanya untuk pergi dan membunuh Kak Qingyin, benar-benar licik!"
"Qingyin terkena racun serangga berbisa, sebelumnya Senior Fu pernah berkata bahwa jurus sihir ini ada kaitannya dengan Pulau Selatan, ternyata maksud dia ini," ucap Qinli memprediksi.
Di sisi lain, Xin Miusi masih kecewa karena kemarin ia belum berhasil meringkus semua kawanan pembunuh itu.
"Suatu hari, aku pasti akan membunuh orang-orang yang berhasil melarikan diri itu," ucap Xin Miusi sambil memegangi luka di badannya.
Memang kondisi saat ini, Xin Miusi juga terluka saat melawan para pembunuh tadi. Oleh karena itu ia pun diobati dan dibalut oleh Lian Qing.
"Aku tahu kalian sudah berhasil semampu kalian. Terlebih lagi, kekuatan musuh jauh lebih kuat berkali-kali lipat daripada kalian, yang terpenting adalah kalian aman," ucap Qinli mencoba menenangkan Xin Miusi yang masih terlihat kecewa.
Dari tempatnya, Qinli melemparkan sebuah botol obat ke arah Xin Miusi.
"Minumlah pil obat ini, satu untukmu dan satu lagi untuk Liang Qing," ucap Qinli setelah memberikan obat itu.
Xin Miusi tampak memperhatikan botol tersebut dengan seksama.
"I ... ini untukku?" ucapnya tak percaya.
__ADS_1
Terlebih selama ini Qinli sudah sering berbuat baik kepadanya. Padahal sebelumnya, ia mengganggap Qinli sebagai musuh, tapi ternyata Qinli orang baik. Ia tak pernah menyimpan dendam untuknya. Bahkan ia juga yang menyelamatkan hidupnya ketika hampir mati overdosis karena pil peningkat kultivasi kapan hari.
Di saat Xin Miusi termenung, Qinli memegang bahu Xin Miusi.
"Lain kali ketika bertemu sekelompok orang ini, kau tidak akan meninggalkan penyesalan lagi," ucap Qinli.
"Namun, musuh kita ke depannya akan semakin tangguh. Jika hanya mengandalkan Keluarga Xu, Keluarga Jiang dan kalian berdua, pasti tidak bisa melawan mereka. Jadi, aku juga meminta seorang
teman untuk membantu."
Di dalam pikiran Qinli, ia harus meminta bantuan dari Keluarga Liu. Lalu Qinli menoleh ke arah Lian Qing.
"Nanti jika ada kesulitan, temanku itu akan membantu kalian juga. Intinya, masalah di Shangjing kuserahkan pada kalian!"
Lian Qing terkejut akan tanggung jawab besar yang diberikan Qinli kepadanya.
"Bos, kau berencana pergi meninggalkan Shangjing?" tanya Lian Qing.
"Karena Sanhetang berani menyerang Qingyin, maka aku akan pergi ke Pulau Selatan untuk bertemu mereka!" ucapnya sungguh-sungguh.
Akhirnya dengan ditemani oleh Jiangjun, Qinli benar-benar pergi ke Pulau Selatan.
...⚜⚜⚜...
...Pulau Selatan...
Karena sudah cukup larut malam, akhirnya Qinli dan Jiangjun memutuskan untuk menginap di sebuah hotel. Saat ini ia sudah sampai di depan seorang resepsionis.
"Benar!" jawab Qinli.
Lalu sesaat kemduian, Jiangjun melihat ke arah monitor televisi yang berada tak jauh dari tempat resepsionis.
"Bos, lihat!" seru Jiangjun.
"Kompetisi prajurit Sanhetang akan diadakan dalam beberapa hari. Master metafisika, Yu Quanxing juga akan tampil di kompetisi ini," ucap pembawa berita itu.
Ternyata disana sedang dibahas tentang "Berita mengenai Yu Quanxing, ketua Sanhetang!"
Tiba-tiba resepsionis itu ketakutan dan menegur Qinli dan Jiangjun.
"Tutup mulut kalian! Master Yu adalah master terhormat. Beraninya kalian memanggil Master Yu dengan namanya?" ucapnya ketakutan.
Dengan sedikit kebingungan, Jiangjun mulai bertanya pada resepsionis itu.
"Apakah dia sangat terkenal? Aku belum pernah mendengar tentang dia."
Tiba-tiba dari arah belakang muncul sekelompok orang yang tiba-tiba berdiri di belakang Jiangjun.
Karena kedatangan sekelompok orang itu membuat wajah resepsionis itu semakin ketakutan. Lalu dengan sedikit terbata ia menyapa orang yang baru datang itu.
"Pak Yu! Dia tidak sopan kepada Master Yu dan ini bukan urusanku, ya!" ucap resepsionis itu sambil menunjuk Jiangjun.
__ADS_1
Karena hal itu Jiangjun menoleh, "Siapa lagi Pak Yu?"
Lelaki di belakang Jiangjun mulai berbicara dengan lantang dan bersedekap dada.
"Beraninya kau memandang rendah Master Yu? Apa kau tidak kalau hotel ini milik Grup Yu?" ucap lelaki itu.
Lalu dengan amarah, ia pun menggertak Qinli dan Jiangjun.
"Kalian tidak diterima di sini!" gertaknya.
"Enyahlah dari sini!"
Lelali arogan itu bersiap menendang Jiangjun, beruntung Qinli dengan cepat menangkis serangan itu dengan sebuah payung.
...BANG!...
"Aduh! Sakit, sakit!" seru lelaki itu.
Tetapi dengan santainya Qinli memberikan sebuah alibi.
"Aku lihat di luar sudah mau hujan dan hanya ingin meminjam payung, kau tidak perlu segitunya, 'kan?"
"Ka, ka, kau ....!" seru lelaki itu.
Bukannya meminta maaf, Qinli malah asyik membuka payung itu dan memamerkan pada lelaki di depannya itu.
"Namun, kualitas payung ini lumayan bagus!"
"Bolehkah menjualnya padaku."
Dengan wajah pias, resepsionis itu menggerak-gerakkan tangannya tanda ia tidak memperbolehkan hal itu.
"I ... itu tidak dijual!"
"Aih, sayang sekali!" ucap Qinli seolah kevewa.
Ekspresi wajah lelaki di depan Qinli semakin terlihat marah. Lalu ia menunjuk ke arah resepsionis dengan sangat marah.
"Ternyata uang tahunan dihabiskan untuk hal-hal seperti ini! Mulai tahun depan pengeluaran hotel akan dikurangi setengah!" gertaknya.
"Astaga!" ucap resepsionis itu.
Mendengar hal itu seolah membuatnya menjadi batu, Krak!
Lalu lelaki itu segera pergi dengan dipapah oleg dua orang penjaga. Salah satu penjaga membawa sebuah buket bunga dan yang satunya membawa sebuah boneka little poni.
Dilihat dari penampilannya mungkin malam ini ia akan pergi kencan.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...