
"Mencari mereka?" tanya Lian Qing.
"Kalau kau ingin, aku bisa membantumu mencari keterangan mengenai keberadaan mereka."
Lian Qing menoleh.
"Apa aku masih bisa menemukan mereka?"
"Bagimana bisa tahu kalau tidak mencoba!" ucap Qinli.
Tidak disangka perkataan Qinli barusan membuat Lian Qing terharu dan menangis.
"Baik, aku akan memberimu data pribadi mereka," ucap Liang Qing sambil mengusap air matanya.
"Eh, biasanya gadis kecil ini sangat kuat, ternyata di dalam hatinya ada sisi rapuh," batin Qinli.
Lian Qing lalu mengambil sebuah koper kecil, di dalamnya ada barang berharga miliknya.
"Aku selalu menyimpan data-data ini, tidak disangka di saat seperti ini masih memerlukannya."
Lian Qing memberikan sebuah map coklat pada Qinli.
"Kalau begitu, tolong ya boss!"
"Oke, aku akan berusaha semampuku."
Setelah selesai diobati, Qinli segera kembali ke Villa miliknya.
...⚜⚜⚜...
...VILLA QINLI...
Di dalam villa, ternyata Qingyin sedang memantau perusahaannya dari laptop. Ia memainkan jari jemarinya diatas keyboard laptop.
CEKLEK ...
"Qinli, kau sudah pulang!" ucap Qingyin dengan berbinar.
"Apa kerjaanmu banyak, kau keliatan lelah," tanya Qingyin.
"Lumayan, sudah aku bereskan. Perusahaan baru buka dan kau yang mengerjakan semuanya, kau pasti banyak tekanan 'kan?" tanya Qinli.
"Lumayan, karena ini adalah perusahaan baru, aku ada kabar baik yang mau aku bagikan padamu!"
Qingyin lalu memindahkan laptop ke depan Qinli, agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.
"Lihat, produk ujicoba yang baru saja kita luncurkan mendapat perhatian besar."
"Bagus, ternyata kau sangat cocok dalam mengelola perusahaan kosmetik."
Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Qinli membelai pucuk kepala istrinya sebagai bentuk ucapan terimakasih.
"Itu, juga berkat kau, aku baru bisa punya perusahan sendiri dan berkarir."
"Oh iya, akan ada pertemuan pertukaran pengusaha di Yangcheng besok sore, pimpinan perusahaanku yang dulu meminta penyelenggara untuk mengundangku, aku tidak ingin bertemu mereka," ucap Qingyin sendu.
"Kalau begitu, kau ingin pergi tidak?" tanya Qinli hati-hati.
"Ta ... tapi kalau aku pergi, bukankah seperti melakukan apa yang mereka mau?"
"Mereka hanya ingin kau mempermalukan diri sendiri, apa kau khawatir Grup Jiang tidak dapat bersaing dengan perusahaan Tianying?"
"Bagaimana mungkin, perbedaan mereka seperti langit dan bumi."
__ADS_1
"Itu dia, aku akan menemanimu ke sana!"
Di dalam kamar, Qinli membuka hodie miliknya. Ia pun mengechek luka di lengannya. Ia pun menyembuhkan lukanya dengan bantuan tenaga dalam miliknya.
"Lukaku sudah membaik..." ucapnya ketika selesai menyembuhkan luka itu.
CRASH ... CRASH ... CRASH ...
Sementara itu Qingyin sedang mandi di ruang sebelah. Setelah selesai ia pun menuju kamar untuk menemui Qinli.
KRAK...
"Kau terluka?" ucap Qingyin hawatir karena melihat perban yang melilit bahu sebelah kanan milik suaminya.
"Ah ... ti ... tidak apa-apa, hanya luka kecil."
"Kau harus lebih hati-hati di luar, ayah masih berharap untuk menggendong cucu."
"Ah, iya. Tapi menggendong cucu ..."
Tiba-tiba Qinli salah tingkah karena ucapan Qingyin barusan.
Uhuk ... uhuk ... ia pun jadi memerah karena saking malu. Di satu sisi ia malu, di sisi lain ia amat bahagia.
"Itu, bukankah kau menyukai wanita?" tanya Qinli penasaran.
Hal ini ia lakukan karena tempo hari ia pernah melihat Qingyin berkencan dengan seorang wanita di klub.
"Seharusnya aku tidak boleh membahas privasinya," batin Qinli.
Ia begitu menyesal karena menanyakan hal barusan yang membuat wajah istrinya sendu.
“Sebenarnya, sebelum bertemu denganmu, aku berkenalan dengan seorang senior ... aku hampir saja tertipu dan hampir mati.”
“Semenjak itu, aku sangat takut berhubungan dengan pria.”
"Dengar-dengar, senior itu melakukan pemerkosaan dan ahirnya masuk penjara. Setelah kejadian itu, aku hanya berani bergaul dengan wanita, dan tidak disangka hasilnya aku pun ditipu oleh wanita ..."
"Ternyata begitu, tenang saja kedepannya, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu."
"Qinli, aku minta maaf atas semua perbuatan yang aku lakukan sebelumnya padamu."
"Qinli, aku ..."
"Yang lalu biarlah berlalu..." Qinli lalu mengukung tubuh Qingyin.
"Iya ..." ucap Qingyin pasrah.
Kini posisi mereka tidak sama-sama menguntungkan. Qinyin berada di bawah Qinli, sedengkan Qinli sudah berada di atasnya. Qinli mematikan lampu kamar mereka.
Angin berhembus perlahan, mengiringi kegiatan panas yang sedang dilakukan sepasang suami itri itu.
SYUH ... SYUH ... SRASH ... SRASH ...
Sedangkan di dalam kamar, entah sejak kapam mereka sudah tidak berbusana.
"Em .."
Peluh dan keringat mengucur deras dari kedua sepasang suami istri itu. Tangan Qingyin menyentuh bahu Qinli yang terluka.
"Oh iya, kau sedang terluka. Kalau tidak malam ini ..." seru Qingyin diantara kegiatan panasnya bersama suaminya.
"Luka kecil ini bukanlah masalah!" ucap Qinli.
__ADS_1
"Kalau begitu, pelan sedikit ..." pinta Qingyin.
"Iya ...."
Ahirnya kegiatan olahraga malam penuh peluh itu mereka lanjutkan kembali.
.
.
...Keesokan harinya ......
Di sepanjang jalan dekat Villa Qinli, penuh dengan sampah daun dari pepohonan.
"Angin semalam sangat kencang, aku harus membersihkannya lagi," seru salah seorang petugas kebersihan.
Sedangkan sepasang suami istri itu telah bersiap untuk sarapan pagi. Qingyin sedang menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Sedangkan Qinli baru saja mandi pagi.
"Cuci tanganmu dan makanlah!" ucap Qingyin ketika melihat suaminya ke dapur.
"Baik"
"Itu, kau masih sakit tidak? Apa perlu aku pijat?" ucap Qinli malu-malu, karena merasa tidak enak hati karena perbuatannya semalam.
"Ti ... tidak perlu, aku baik-baik saja."
Qingyin pun masih malu karena teringat kegiatannya semalam bersama Qinli.
"Kalau begitu, kita langsung pergi menghadiri pertemuannya nanti!" ajak Qinli.
"Oke!"
Lalu mereka segera sarapan pagi, sesudahnya mereka bersiap untuk pergi. Qingyin juga sudah selesai berdandan dan berganti baju. Rencananya setelah ini, mereka berdua segera pergi untuk mengunjungi acara pertukaran bisnis.
Tetapi nyatanya Qinli malah mengajak Qingyin pergi untuk membeli mobil di sebuah showroom mobil-mobil mewah. Hingga Qingyin pun protes pada suaminya.
"Eh, bukankah seharusnya kita menghadiri acara pertemuan, kenapa kita ke tempat layanan penjualan mobil?" tanya Qingyin heran.
Sedangkan sikap Qinli masih seperti biasanya santai.
"Aku hanya berpikir, kedepannya, kerjaan semakin banyak, tidak baik kalau terus menerus menggunakan mobil ayah dan ibu, lebih baik membeli satu mobil."
"Kau suka yang ini?" tanya Qinli menunjuk pada salah satu mobil.
"Iya, jenis mobil favoritku ketika aku masih kecil adalah mobil off-road."
Lalu Qinli mencoba membuka pintu mobil. Belum sempat ia melihat isinya, petugas showroom sudah menegurnya dari arah kejauhan.
"Eh, eh, eh, siapa yang mengizinkanmu membuka pintu mobil, jangan sembarang menyentuh!" tegurnya.
"Kau tau seberapa mahal mobil ini? Kalau sampai tergores, apa kau mampu membayarnya?"
"Bukankah anak muda sepertimu ke sini hanya untuk melihat-lihat saja, aku sudah bertemu banyak yang seperti dirimu."
.
.
...🌹Bersambung 🌹...
.
.
__ADS_1
...Buat yang suka dengan novel ini bantu share, like dan komen ya, semoga suka.. Terimakasih 🙏...