MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 136


__ADS_3

Wanita yang sempat menyinggung Nona Tan Rouhan dan Qinli tadi sempat melihat ketika Qinli melangkah pergi keluar meninggalkan tempat kompetisi.


"Beraninya menyinggungku! Hari ini aku akan memberimu pelajaran!" gumam wanita itu.


Wanita tadi menjentikan jarinya untuk memanggil para pengawalnya. Sesaat kemudian tiga orang lelaki bertubuh besar dan menyeramkan mendatangi wanita tersebut.


"Nona Besar, ada perintah apa?" tanya salah seorang dari ketiga pengawal tersebut.


"Lelaki yang baru saja keluar tadi aku serahkan pada kalian!"


"Siap!"


Satu jam kemudian.


Ketiga pengawal tadi sudah berhasil mengejar dan menemukan keberadaan Qinli. Tanpa permisi ia sudah datang untuk memberikan pelajaran pada Qinli sesuai perintah nona besar mereka.


"Matilah, bocah!" teriak pemimpin pengawal tersebut.


Padahal saat itu, Qinli sedang ingin mencabut rumput obat yang ia temui barusan, tetapi perlakuan Qinli terhadap mereka membuat ketiga pengawal tersebut menghentikan aksi penyerangan mereka.


"Eh?"


Qinli mengulurkan tangannya yang berisi tiga butir Pil Xisui pada ketiga pengawal tadi.


"Gi, gi, gi, gi ... gila! I, i, ini Pil Xisui!" teriak ketiganya secara bersamaan.


Mata yang awalnya terlihat kebencian dan hendak menyerang Qinli tanpa ampun itu kini berubah serakah dan ingin mengambil pil tersebut dari tangan Qinli. Air liur mereka juga hampir menetes melihat betapa pentingnya Pil Xisui tersebut.


"Bahkan Nona Besar Lu beberapa tahun ini tidak pernah mendapatkan Pil Xisui, tidak disangka aku mendapatkannya! Benar-benar beruntung!" ucap pimpinan pengawal itu.


Selanjutnya pil itu benar-benar diambil olehnya. Qinli memang sengaja memberikan pil tersebut dengan cuma-cuma.


"Selanjutnya kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, 'kan?" ucap Qinli sambil tersenyum.


"Tidak disangka ahli pembuat obat di Chuansi sangat sedikit, bahkan obat seperti ini tidak ada," batin Qinli sedikit miris dengan keadaan kota di sana.


Ketua pengawal tersebut berbinar ketika sudah mendapatkan Pil Xisui tersebut. Mereka juga sudah paham tentang apa yang akan mereka laporkan kepada nona besar mereka.


"Tahu, tahu! Aku akan bilang kami sudah menghabisimu sampai babak belur," ucapnya sambil tersenyum ke arah Qinli.


Bahkan kedua teman dari pengawal tersebut juga tersenyum ke arah Qinli.


"Ya, benar! Apa kalian tahu di mana ada Arenaria Brivepetala di gunung ini?" tanya Qinli penasaran.


"Tahu! Katanya ada pohon ajaib yang khusus memproduksi Arenaria Brivepetala belasan kilometer di sebelah tenggara sana!" ucap salah pimpinan pengawal tersebut.


"Terima kasih banyak!"


Qinli menangkupkan kedua tangannya sebagai ucapan terima kasih kepada mereka dan dibalas dengan senyuman dari ketiganya. Setelah beberapa saat, akhirnya Qinli telah sampai di tempat tujuan.


Dari kejauhan Qinli bisa melihat pohon yang dimaksud, tetapi ia harus melewati sebuah tebing yang curam.


"Kelihatannya tempat yang dibilang orang tadi ada di sini," batin Qinli.


...SWOOSH...


Qinli melompat ke arah pohon itu dengan cepat.


"Hanya kurang satu macam bahan penting ini!" ucapnya dengan tatapan menuju ke arah Arenaria Brivepetala yang tampak menempel pada pohon tersebut.


Dalam waktu yang bersamaan ada tangan lain yang menyentuh tumbuhan berwarna merah itu. Qinli memegang akarnya dan lelaki itu memegang bagian bunganya.

__ADS_1


...SWOOSH...


Setelah mendapatkan tanaman tersebut keduanya sama-sama menjadikan batang pohon raksasa itu sebagai tumpuan atau batu pijakan. Setelah mendarat ia memandang lelaki di sampingnya itu. Di tangannya memegang bunganya dan Qinli hanya mendapatkan batangnya.


"Kau juga peserta kompetisi?" tanya Qinli sambil menoleh.


"Ya," ucap lelaki itu.


"Sejak kapan orang ini datang, aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya," batin Qinli.


Qinli lalu memperhatikan akar yang diambilnya sambil bergumam,"Hanya mendapatkan bagian akarnya, sepertinya hanya bisa mengandalkan cara itu untuk membuat obat."


Sesaat kemudian lelaki itu mengeluarkan kekuatannya untuk memunculkan sebuah benda yang turun dari langit. Qinli terkagum dengan barang yang diperlihatkan lelaki itu.


Langit seolah membuka sebuah lubang untuk mengeluarkan tungku tersebut.


"Ini!"


"Tungku panci naga!"


Dari tempat kompetisi terlihat cahaya biru turun di dekat sebuah bukit.


"Kakek, itu apa?" tanya Nona Tan Rouhan ketika melihat cahaya itu.


"Aku juga tidak tahu, baru pertama kali melihat kejadian itu," ucap kakek sambil mengusap jenggotnya.


"Tidak mungkin terjadi sesuatu pada Bos, 'kan?" batin Tuan Muda Jiang melihat ke arah yang sama dengan kakek dan Nona Tan.


Sementara itu Pimpinan Lembah Raja Obat dan Nona Lu juga melihat hal itu.


"Itu pertanda Tungku Panci Naga muncul di dunia, ayo kita lihat, petarung hebat dari keluarga ning ada di gunung itu!" ucap pimpinan Lembah Raja Obat.


Nona Besar Lu juga melihat hal tersebut, "Kaluarga Ning! Meski mereka adalah salah satu dari empat keluarga yang tidak menonjol, tapi mereka tetap salah satu dari keluarga besar, aku juga mau lihat!"


...SWOOSH...


...SYUNG...


Tungku Panci Naga itu terangkat dan berputar untuk meramu sebuah pil yang akan diikutkan dalam kompetisi tersebut.


"Hebat sekali!" ucap Nona Besar Lu melihat hal tersebut.


Sedangkan Pimpinan Lembah Raja Obat memberi hormat pada lelaki tersebut.


"Ternyata Tungku Panci Naga milik Keluarga Ning. Dua puluh tahun yang lalu, Pemimpin Keluarga Ning pernah menerima seorang anak kecil berbakat menjadi murid pribadinya, apakah itu Anda?"


"Pemimpin memang adalah guruku," ucap lelaki itu.


"Ternyata benar, murid berbakat dari Pemimpin Keluarga Ning."


Di sisi lain, Qinli sedang berjongkok untuk meramu obatnya, tetapi Nona Besar Lu malah menertawakannya.


"Hahaha! Si bodoh ini sedang membuat lelucon, ya? Seperti anjing yang sedang mengubur kotorannya," ucap Nona Besar Lu mengejek Qinli.


"Ternyata tiga orang itu cukup bisa diandalkan juga," batinnya.


Ketiga teman Nona Besar Lu juga menertawakan tingkah Qinli yang membuat ramuan pil obat itu dengan membuatnya seperti bola besar dari tanah dan ada beberapa pucuk daun yang keluar dari bulatan bola tersebut.


"Hahaha ...."


"Apa dia pikir membuat pil obat sama seperti Legenda Ayam Pengemis? Ha ha ha ...." ucap yang lainnya.

__ADS_1


"Anjing di rumah mengubur kotorannya juga seperti ini juga."


Tetapi Qinli tidak memperdulikan ejekan dari orang-orang tersebut. Ia tetap fokus membuat bola dari tanah tersebut.


Pimpinan Lembah Raja Obat memandang remeh Qinli, "Bagaimana lelaki itu bisa datang ke sini?"


Dari arah belakang datanglah Tuan Muda Jiang, Nona Tan dan kakek.


"Apa katamu!" teriak Tuan Muda Jiang.


Nona Besar Lu tampaknya masih merasa sombong, "Kalian tidak dengar ya? Aku katakan sekali lagi, dia seperti anjing yang sedang mengubur kotorannya."


Nona Tan yang mempunyai perangai cepat marah segera menjambak rambut Nona Besar Lu.


"Aku jambak rambutmu sampai botak! Biar jadi biarawati sana!" teriak Nona Tan dengan amarah yang meluap-luap.


"Argh! Lepaskan tanganmu! Dasar wanita idiot!" ucap Nona Besar Lu tidak terima.


Tungku Panci Naga tersebut tiba-tiba terbuka dan muncullah sebuah pil dari dalam sana.


...KRAK...


Kedua wanita yang tadinya bertengkar itu terpukau akan kemilau yang diperlihatkan dari pil yang baru saja keluar dari dalam panci tersebut.


"Silakan lihat!" ucap lelaki dari Keluarga Ning sambil mengambil pil tersebut dengan kekuatannya.


Pimpinan Lembah Raja Obat memandang takjub akan pil yang dihasilkan dari Tungku Panci Naga tersebut.


"Ini pil obat tingkat lima, sudah melebihi standar penilaianku, ku umumkan pemenang kali ini adalah ...."


"Tunggu!" teriak Qinli.


Qinli datang ke arah Pimpinan Lembah Raja Obat dengan membawa sebuah bola tanah sebesar bola ke hadapannya.


"Tuan Ye masih belum melihat pil buatanku sudah mau menarik kesimpulan," ucap Qinli.


Anggota lain menertawakan pil buatan Qinli. Begitu pula dengan pandangan remeh dari Tuan Ye, Pimpinan Lembah Raja Obat.


"Jangan bilang yang kau buat itu adalah pil bunga," ucap salah satu anggota Lembah Raja Obat.


"Hahaha ...."


Sementara itu Tuan Muda Jiang, Nona Tan Rouhan dan Kakek Tan Zhongguo menutup matanya dengan salah satu telapak tangan mereka karena malu dengan pil buatan Qinli. Padahal pil itu belum terbuka dengan sempurna saat ini.


Bola dari tanah yang dipegang Qinli mulai retak dan dari dalamnya muncul cahaya keunguan.


...KRAK ... ...


"Apa Tuan Ye tidak tahu pil apa yang ditanganku ini?"


...KRAK ... KRAK .......


"I ... i, i, ini ....!"


Muncullah sebuah pil dengan cahaya keunguan yang menyilaukan mata. Bahkan membuat mata Tuan Ye hampir keluar dari kelopak matanya.


"Ini ... ini pil tingkat sembilan, Pil Zixin!" ucapnya tidak percaya.


Tiba-tiba saja Nona Besar Lu memuji Qinli, "Tidak disangka Kakak Qin sungguh hebat!"


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2