
Kedua laki-laki itu sudah berdiri di atas panggung, salah seorangnya tentu saja Qinli sementara yang satunya Qin Zhan. Dengan gaya arogan, Qin Zhan meremehkan Qinli sekali lagi.
"Jangan salahkan aku jika aku tidak sengaja memukulmu hingga mati."
"Kalau ingin menyalahkan, salahkan saja dirimu yang terlalu lemah!"
Namun, hal itu sama sekali tidak membuat nyali Qinli menciut, ia malah menanggapinya dengan sangat tenang.
"Tunjukkan kemampuanmu!" ucap Qinli.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Qin Zhan langsung memperlihatkan kekuatan yang ada pada dirinya.
...... HIAT ......
Sesaat kemudian nampaklah kekuatan Qin Zhan yang sebenarnya. Level kultivasinya langsung bertambah pesat hingga menyentuh level master. Qinli terus memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Qin Zhan.
"Ternyata dalam sekejap dia bisa menaikan level kekuatannya ke level puncak master," gumam Qinli.
"Kekuatan ini tidak setingkat dengan beberapa prajurit di dunia sekuler."
Sesaat kemudian Qin Zhan langsung melompat ke atas dan langsung menyerang Qinli dengan kekuatan penuh. Kekuatan yang dimiliki Qin Zhan berwujud seekor raja singa raksasa berwarna merah langsung menyerang Qinli dengan ganas.
...GROAR!...
Qinli masih bisa mempertahankan dirinya lalu sesaat kemudian menyeringai.
"Kalau begitu, aku akan mencoba kekuatan tempur yang baru saja ditingkatkan!"
...... HIAT ......
Qinli kemudian mulai mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya. Setelah semua energinya terkumpul Qinli langsung melakukan serangan balik.
"Terimalah jurusku ini!"
...WUSH...
Serangan dari Qinli nyatanya mampu melumpuhkan lawan dalam satu kali serangan. Hingga membuat tubuh Qin Zhan terpental dan muntah darah.
...PUFT ... BAM...
Tubuh Qin Zhan benar-benar terluka parah saat ini. Hal itu sukses membuat Qin Xiaotian, ayahnya khawatir. Sementara itu Qingyin tersenyum dari tempat duduknya.
"Untung saja Qinli sudah meningkatkan kekuatannya dengan kultivasi ganda. Kalau tidak, dia yang akan kalah."
Melihat Qin Xiaotian panik dari tempat duduknya membuat Tetua Keempat tersenyum miring.
"Kenapa? Kepala keluarga tidak menduganya?" ucap Tetua Keempat sambil tersenyum.
Qin Xiaotian menoleh ke arah Tetua Keempat.
"Bagaimana bisa? Aku tidak menyangka Qinli bisa berkultivasi sampai ke level yang begitu tinggi di luar."
Meskipun begitu di dalam hati Qin Xiaotian ia merutuki kebodohannya karena telah menganggap Qinli dengan remeh.
"Bocah tengik! Aku pasti akan membalaskan dendam putraku!"
__ADS_1
Dari atas panggung Qinli menantang beberapa prajurit yang mengikuti kompetisi ini.
"Masih ada lagi yang mau menantangku!"
Beberapa prajurit yang menunggu di lantai bawah masih terdiam tidak bicara sepatah kata pun. Mereka sama seperti Qin Xiaotian, tidak menyangka jika kekuatan Qinli sebesar saat ini.
"Situasi sekarang lebih rumit, bocah ini tidak disangka bisa mengalahkan Qin Zhan dalam sekali serang, kekuatannya pasti luar biasa ...."
"Selain itu, dia adalah putra dari dua orang itu. Lebih baik jangan menyinggung perasaannya."
Setelah cukup dalam membaca situasi, perwakilan prajurit di bawah mengakui bahwa mereka sudah sepakat jika apapun keputusan kepala keluarga dalam memilih calon penerusnya mereka akan setuju.
"Karena Kak Qinli mengalahkan Kak Qin Zhan dalam satu serangan, maka kami tidak perlu menantangmu, aku yakin kepala keluarga akan membuat keputusan yang tepat," ucap salah seorang prajurit mewakili semuanya.
Qinli tersenyum ke arahnya.
"Aku hanya beruntung bisa menang dengan menggunakan jurus ini, semua berkat Qin Zhan yang membiarkanku menang."
"Selanjutnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Qinli.
"Orang-orang ini lumayan cerdik, tapi ada bagusnya juga, bisa mengurangi masalah."
Dari bangku juri, Tetua Keempat berdiri dan mengangkat salah satu tangannya.
"Qinli mengalahkan Qin Zhan berarti dia adalah yang terkuat di generasi muda ini, tentu saja penerus kepala keluarga adalah ...."
Melihat Tetua Keempat hendak mengumumkan jal tersebut membuat Qin Xiaotian mengatakan keberatannya.
"Sebentar. Qinli memang memenangkan pertandingan, tapi dia tumbuh besar di luar, tidak tau urusan Keluarga Qin, takutnya sulit baginya untuk memikul tanggung jawab."
"Kalau tidak paham bisa belajar, tapi sejak zaman dulu kompetisi pemilihan penerus selalu pemenang yang menjadi penerusnya, kepala keluarga ingin melanggar aturan keluarga?" tanya Tetua Keempat.
"Aku tidak berani!" ucap Qin Xiaotian dengan wajah memendam amarah.
Lalu Tetua Keempat melanjutkan kembali ucapannya. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu mulai berbicara.
"Kalau begitu, atas nama Tetua Keempat Keluarga Qin, kuumumkan, Qinli sebagai penerus selanjutnya dari Keluarga Qin."
Maka sejak itu resmi sudah kedudukan Qinli di mata Keluarga Besar Qin. Setelah semua rangkaian pemilihan kepala keluarga selesai. Qinli, Qingyin, Kakek Badao dan Tetua Keempat sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat, di mana tubuh kedua orang tuanya disimpan.
...WUSH...
Angin yang berhembus malam itu sama sekali tidak membuat tempat yang didatangi Qinli terasa seperti ada kehidupan.
"Di sini tempatnya!"
Ternyata benar di hadapan Qinli saat ini terlihat kedua orang tuanya yang masih dibekukan di dalam sebuah batu kaca. Qinli menyentuh batu tersebut.
"Ayah, ibu ...."
Keempat orang itu tampak terharu karena suasana mengharukan ini. Lalu Kakek Badao mendengus kesal karena mereka ia sama sekali tidak berguna saat ini.
"Aih, aku yang tidak berguna!" ucapnya sambil menunduk.
Qinli lalu menoleh ke arah Kakek Badao dan Tetua Keempat untuk menanyakan sesuatu.
__ADS_1
"Tetua Keempat, Kakek Badao, apa ada cara untuk menyelamatkan mereka?" tanya Qinli hati-hati.
"Ada, kita harus pergi ke tempat relix kuno dan mencari kera raksasa api itu dan mengambil intinya untuk melepaskan segel, barulah orang tuamu bisa terselamatkan."
"Hanya saja kera raksasa api itu sangat sulit dilawan, saat orang tuamu membawa banyak petarung hebat dari Keluarga Qin, tidak ada satu pun yang bisa mengalahkannya."
"Tidak peduli seberapa sulit, aku akan mencobanya!" ucap Qinli bersemangat.
Qingyin pun ikut menimpali ucapan suaminya.
"Ya, karena kita sudah datang, maka kita tidak boleh mundur!"
Sementara itu, di puncak sebuah bukit, Qin Xiaotian sedang menunggu kedatangsn seseorang. Ternyara orang lain itu adalah lelaki yang pernah di serang Qinli saat digurun dan berubah menjadi boneka kayu.
"Kau sudah datang?" tanya Qin Xiaotian mendapati sahabatnya sudah datang.
Lelaki bertopeng putih dan berambut warna kuning itu mendekati Qin Xiaotian yang berdiri di atas tebing.
"Ternyata Qinli adalah anggota keluarga kalian. Di wilayah barat, aku hampir saja terbunuh olehnya. Aku tidak akan tenang jika bocah ini tidak dihabisi," ucap lelaki bertopeng itu.
"Qinli melukai putraku, aku juga ingin sekali membunuhnya. Sekarang ada kesempatan bagus untuk membunuhnya."
"Kesempatan apa?" tanya lelaki bertopeng itu.
"Qinli kembali ke Keluarga Qin demi orang tuanya, sesuatu yang bisa menyelamatkan orang tuanya ada di tempat relix kuno. Saat mereka masuk ke tempat peninggalan sejarah itu, kita memanfaatkan kesempatan ini diam-diam mengikuti mereka dari belakang ...."
Lelaki bertopeng itu menyeringai ke arah Qin Xiaotian, "Kau memang cerdik."
Sementara itu mereka tidak tau jika ada seorang wanita yang mendengar semua percakapan mereka tadi. Nona Zhou bersembunyi di bali sebuah pohon sambil terus mengawasi mereka.
"Dasar tua bangka, tidak peduli apa yang kalian rencanakan, aku pasti akan menggagalkan rencana kalian!"
Malam harinya di Kediaman Tetua Keempat. Beliau sedang menyerahkan kunci tempat relix itu pada Qinli.
"Ini adalah kunci relix kuno."
Qinli menerima kunci tersebut dan memandanginya terus menerus. Sedangkan Qingyin meragukan keaslian kunci tersebut.
"Apa itu benar-benar kunci relix kuno? Terlihat tidak ada bedanya dengan kunci biasa," ucap Qingyin.
Kakek Badao dan Tetua Keempat baru menyadari hal itu setelah Qingyin berkomentar.
"Ada yang aneh dengan kunci ini!"
Tetua Keempat ikut menimpali ucapan Kakek Badao.
"Benar! Tidak tau kenapa kunci ini sudah kehilangan energi spiritualnya beberapa tahun yang lalu, tidak ada energi spiritual tidak bisa membuka relix kuno," ucap Tetua Keempat.
Lalu secara tiba-tiba kunci relix kuno yang dipegang Qinli diselimuti energi tenaga dalam berwarna hijau.
"Hm? Aura ini ...." ucap Qinli terkejut.
Sedangkan Qingyin tersenyum ke arah suaminya. Hingga di saat itulah ia baru sadar jika energi tenaga dalam yang berwarna hijau itu adalah energi yang dikeluarkan dari tubuhnya.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1