
"Baiklah, tetapi demi keselamatan aku akan memakai sarung tangan."
Dukungan dari bangku penonton diberikan oleh Nona Zhou yang duduk dekat dengan ayah angkatnya. Ia berdiri dari kursi penonton sambil menyuarakan suaranya.
"Kapten, jangan sampai bersikap lunak, ya!"
"Melihatmu seperti ini, sepertinya kau sangat percaya diri," ucap Ketua Wang.
Sayang kostum yang dipakai Nona Zhou sangat ketat, hingga membuat lekukan tubuhnya tercetak jelas. Membuat mata prajurit laki-laki tergoda dan melirik pada kemolekan tubuh Nona Zhou. Belum lagi saat Nona Zhou menegakkan badannya, membuat hidung mereka mimisan seketika.
"Tentu saja, pandangan ayah angkat tidak mungkin salah, 'kan?" ucapnya sambil membusungkan dada.
Lelaki di samping Ketua Wang mendengar obrolan mereka, lalu membisikkan sesuatu pada teman duduknya. "Ayah angkat? Aku tidak salah dengar, 'kan?"
Seketika Ketua Wang melirik mereka dengan ekor matanya.
"Ha-ah, si-siapa dia?"
"Kau tidak tahu? Dia sepertinya Ketua Wang dari Shangjing."
Tetapi Ketua Wang kembali memperhatikan mereka dari kejauhan. "Tidak disangka, Xie wen bisa mengalahkan beberapa orang dengan sangat cepat, sepertinya kekuatannya meningkat pesat dibanding tahun lalu."
"Ayah angkat, kau khawatir terlalu berlebihan, hanya dengan sepuluh jurus, kapten pasti akan mengalahkannya!"
"Dan ini juga yang diharapkan ayah angkat! Benar, 'kan!" ucap Nona Zhou bersemangat.
"Sudah pasti!"
"Sudah mau mulai! Aku ingin lihat apakah Qinli hanya bisa berbicara omong besar!"
"Xie Wen hajar dia! Perlihatkan kepada Shangjing kekuatan Tianhai kita!"
Suara mereka sangat bergemuruh di Stadion Kota Tianhai.
...⚜⚜⚜...
...Arena Pertandingan...
"Ayo! Pukul arah sini!"
Xie Wen menunjukkan ke arah dadanya agar tempat itulah yang dipukul oleh Qinli nanti. Dengan membusungkan dadanya, Xie Wen bersiap untuk menerima pukulan dari Qinli.
__ADS_1
"Aku hanya akan berdiri, jika kau bisa memukul mundur aku setengah langkah, aku akan anggap kau menang!"
"Kalau begitu, aku akan mulai," ucap Qinli yang sudah bersiap memukul Xie Wen.
Saat ini, Qinli bahkan sudah memakai kedua sarung tangannya, sementara Xie Wen sudah memejamkan matanya dan bersiap untuk menerima serangan dari Qinli.
"Bocah, kau sangat cere ...."
BAM!!
Satu tinju Qinli arahkan tepat ke bawah jantung Xie Wen, hingga ia terpental jauh beberapa meter ke belakang.
"Wet ...."
Meski terlihat ringan dan tak bertenaga tapi serangan Qinli mampu meruntuhkan pertahanan Xie Wen. Buktinya ia sampai terdorong ke pinggir arena pertandingan dan jatuh terduduk.
"Arggghhh ...."
"Dia bisa menembus area pertahananku?"
"Ini tidak mungkin ...." ucap Xie Wen merah padam.
"Ini tidak mungkin!" ucapnya sambil mengambil satu botol obat dari dalam kaos miliknya.
"Pasti karena tadi, aku terlalu menghabiskan banyak tenaga, baru bisa seperti ini! Tunggu pembalasanku bocah!"
Setelah meminum pil tadi, aura hijau milik Xie Wen kembali lagi. Qinli dengan seksama memperhatikan semua yang dilakukan Xie Wen dari kejauhan.
"Tidak heran Tianhai selalu unggul dalam pertandingan, ternyata mereka punya ahli pembuat pil yang menyediakan pil obat untuk mereka!"
Benar saja, efek obat yang diminum Xie Wen bekerja dengan cepat. Energinya pulih seketika.
Xie Wen menyeringai.
"Lagi!"
"Jika kau berani, ayo coba pukul lagi!"
Kini Xie Wen sudah kembali pulih, aura hijau yang mengelilinginya kembali terlihat di mata Qinli. Tanpa basa-basi Qinli kembali memukul wajah Xie Wen dengan tangan kirinya.
BAM!
__ADS_1
Mulut Xie Wen mengeluarkan darah.
"Lagi!"
BAM!
"Lagi!"
BAM!
"Lagi!"
Berkali kali Xie Wen meminta, Qinli selalu memenuhi permintaan Xie Wen dengan memukulnya terus dan terus. Sampai wajah Xie Wen tak berbentuk lagi akibat terus menerus di pukul Qinli.
"Astaga!" seru para penonton.
"Sejak kapan Xie Wen menjadi begitu lemah."
"Bukankah si kumbang ini hanya tingkat lima?" batin Xie Wen.
Tanpa ia duga, Qinli berjongkok di hadapan Xie Wen. Xie Wen yang panik segera meminta ampun pada Qinli karena takut ia akan menyerangnya lagi.
"Kapten Qin, aku mengaku kalah, mengaku kalah! Jangan pukul lagi, jangan pukul lagi ...." ucapnya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Padahal Qinli hanya ingin mengambil obat yang jatuh di bawah Xie Wen untuk ia amati.
"Kau salah paham, aku hanya ingin melihat pil ini," ucap Qinli sambil memegang satu butir pil yang Kapten Xie Wen minum tadi.
"Ternyata begitu, ya! Aku punya banyak pil ini, aku bisa memberikan sebanyak yang Kapten Qinli mau!"
"Tetapi ...."
"Tetapi itu tergantung pada nyawamu!" ucap Xie Wen menyeringai.
Tiba-tiba aura jahat menyelimuti arena pertandingan hingga membuat sebuah ilusi yang mengekang sang target.
"Di mana tempat ini? Aura jahat yang sangat kuat!"
Tiba-tiba suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.
"Qinli ... Qinli ...."
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...