
Ayah Ling'Er menoleh ke arah Qinli lalu berkata, "Karena Tetua Qin dan teman-temanmu lahir di Daratan Huangdi, maka ikut denganku ke tempat itu untuk mencoba peruntungan di sana, mungkin ...."
Benar saja, sesaat kemudian Qinli benar-benar diajak Ayah Ling'Er menuju ke sebuah tempat rahasia. Banyak anak tangga yang terlihat di antara banyaknya puncak gunung. Kini mereka justru sedang menaiki tangga satu persatu darinya.
"Ini ...." ucap Qinli dengan sangat terkejut.
Rupanya Qinli dan teman-temannya dibawa menuju ke sebuah tempat suci milik Lembah Dewa Obat.
"Leluhur Lembah Dewa Obat di sebut Dewa Obat! Sementara itu gua yang berada di puncak gunung ini adalah peninggalan Dewa Obat!" terang Tetua Kedua pada Qinli.
"Juga ada tempat terlarang Lembah Dewa Obat! Kalau ingin mendapatkan kekuatan yang mampu melawan Kuil Dewa Yin, takutnya hanya cuma ini tempatnya ...."
"Kalau begitu, kenapa bukan kalian yang masuk?"
Ucapan Qinli yang tiba-tiba rupanya membuat Tetua Kedua terkejut hingga hampir terjingkat.
"Ka-kami tidak berjodoh dengan tempat ini ...."
Akhirnya Ayah Ling'Er ikut bersuara. "Benar! Karena leluhur kami, Lembah Dewa Obat baru bisa menjadi pasukan teratas dari semua peracik pil di dunia!"
Rupanya Tetua Kedua mengingat sesuatu tentang Qinli lalu tercetuslah sebuah ide. Ia pun menoleh ke arah Qinli.
"Dengar-dengar, kau juga seorang peracik pil?"
"Dilihat dari umurmu, paling banyak cuma tingkat empat. Tingkat empat juga sudah termasuk hebat."
__ADS_1
"Saat aku seusiamu, aku sudah menjadi peracik pil tingkat lima! Anak muda, kau harus bekerja keras lagi!"
"Ah, baik!" ucap Qinli dengan tersenyum.
"Ya, kalau bisa secepatnya mencapai tingkat lima, kalau tidak kau tidak akan memenuhi syarat menjadi Guru Ling'Er."
Tiba-tiba arah pandangan Qinli terlihat pada sebuah cahaya yang berada di sisi gunung.
"Kekuatan pembatas yang sangat hebat!"
Sementara itu Tetua Kedua dan Ayah Ling'Er masih menatap ke arah gunung tersebut.
"Entah apa yang dipikirkan Tetua selama bertahun-tahun ini. Tidak ada satu pun murid dewa obat yang berhasil menerobos pembatas ini. Apalagi orang luar ...."
Tiba-tiba saja kejutan terjadi. Mereka melihat Qinli masuk ke dalam sana.
Kedua mata Tetua Kedua begitu terkejut karena Ayah Ling'Er membiarkan Qinli masuk.
"Ka-kau ...."
Ayah Ling'Er menoleh, "Jangan kaget, aku sudah mengantisipasi ... Leluhur berasal dari Daratan Huangdi."
"Selama bertahun-tahun, tidak ada satu pun murid Lembah Dewa Obat yang mampu masuk ke dalam tempat terlarang, takutnya cuma prajurit Daratan Huangdi yang memenuhi syarat untuk masuk!"
Saat keduanya asyik mengobrol rupanya Ling'Er menyusul mereka. Ketika melihat ayahnya sedang berbincang dengan Tetua Kedua maka ia pun langsung menyapa.
__ADS_1
"Ayah, dimana guru dan yang lainnya?" tanya Ling'Er sambil mengangkat tangan kirinya.
"Di sana!" Ucap Tetua Kedua.
Sementara itu Tetua Ketiga terkejut, "Cepat sekali sudah masuk!"
Di sisi lain, Ling'Er sangat khawatir dengan kondisi gurunya.
"Puncak gunung? Bukankah itu tempat terlarang Lembah Dewa Obat?" ucap Ling'Er terlihat khawatir.
"Ada banyak sekali orang berbakat dari Lembah Dewa Obat, tapi malah menyuruh peracik pil yang baru berada di tingkat empat masuk duluan!" ucap Tetua Ketiga penuh amarah.
Bahkan tangannya terlihat mengepal karena itu. Akan tetapi Ling'Er belum terlalu paham tentang maksutnya.
"Paman, yang kau maksud adalah guruku? Sudah lama dia bisa meracik pil obat tingkat delapan. Takutnya sekarang dia sudah mampu meracik pil obat tingkat sembilan!" ucap Ling'Er jujur.
"Ti-tingkat sembilan?" ucap Tetua Ketiga yang notabene peracik pil tingkat tujuh begitu terkejut akan ucapan Ling'Er.
Lain lagi dengan sikap ayahnya, ia justru memuji kehebatan Qinli.
"Aih, Qinli begitu berbakat, memperoleh peninggalan leluhur juga tidak termasuk sia-sia."
"Seharusnya kalian merasa senang, kenapa malah ...."
Ucapan Ling'Er terpotong ketika ayahnya lebih dulu mengambil tindakan.
__ADS_1
"Ling'Er, kau hanya tahu leluhur disebut Dewa Obat, tetapi leluhur tidak hanya bisa meracik pil, dia sebenarnya adalah petarung kuat Alama Setengah Abadi!"
"A-apa!"