
"Ne ... nenek!" teriak Tetua Keempat ketika menyadari jika ke-enam kestria yang baru bangkit tersebut adalah bagian dari Keluarga Qin dari generasi sebelumnya.
Satu-satunya wanita yang berada di dalam barisan kesatria tersebut adalah Nenek Tetua Keempat sedang menyapa Tetua Keempat.
"Xian'Er sudah dewasa sekarang, kelihatannya kita sudah lama berada di sini!"
Seorang kakek di sampingnya tersenyum, "Benar."
Sementara itu Kakek Qin Badao dan Tetua Keempat terkejut bukan main akibat kemunculan ke-enam prajurit tersebut. Hingga akhirnya Kakek Qin Badao angkat bicara.
"Enam Tetua Keluarga Qin dari generasi sebelumnya? Bu ... bukankah kalian semua ... sudah hilang?" ucap Kakek Qin Badao terbata.
Tiba-tiba seorang prajurit yang berkepala plontos kedua matanya memerah, dengan posisi tangan mengepal dan bertumpu pada salah satunya, ia menggertak Kakek Qin Badao, hingga membuatnya ketakutan.
"Bocah Badao, siapa yang membuat rumor ini!" ucapnya dengan geram.
Kemudian kakek kesatria berkepala plontos mulai menjelaskan kenapa mereka semua ada di sana.
"Kami secara sukarela disegel di sini untuk menjaga relix kuno."
"Selama relix kuno masih ada, garis keturunan Kaisar Abadi Keluarga Qin akan selalu ada!"
Seorang kakek yang bertubuh lebih ramping akhirnya turut bicara, "Benar! Barusan kami merasakan garis keturunan Kaisar Abadi dalam keadaan gawat, jadi kami berenam muncul."
Tetua Keempat berhadapan dengan Kakek Qin Badao, sementara itu Nona Mo Yao memapah tubuh Qinli yang sedang sekarat.
"Dalam keadaan gawat? Garis keturunan? Jangan-jangan yang mereka maksud adalah Qinli?" ucap Tetua Keempat pada Kakek Qin Badao.
Tubuh Qinli dibaringkan di atas lantai, kemudian nenek memeriksa keningnya.
"Tidak disangka, anak ini terluka sangat parah. Kalau bukan karena dia punya darah keturunan Kaisar Abadi ...." ucapan nenek terhenti.
Salah satu prajurit menoleh ke arah Qin Badao, "Oh iya, di mana Yalei?"
"Yalei dan istrinya terluka parah, sekarang mereka disegel di dalam es milenium dan dalam keadaan sekarat."
Kakek yang bertubuh besar dan berkepala plontos kembali menggertak Kakek Qin Badao.
__ADS_1
"Apa begini caranya kalian melindungi Garis Keturunan Kaisar Abadi?"
Salah seorang temannya menasehatinya, "Sekarang yang terpenting adalah memikirkan cara untuk menyelamatkan putra Yalei."
"Istriku apa ada cara untuk menyelamatkannya?"
"Ada, kita berenam bisa bekerja sama untuk menyalurkan energi kita padanya."
"Tapi roh kita perlahan akan binasa!" ucapnya sambil memejamkan kedua matanya.
Seorang kakek yang rambutnya dibelah dua dengan kumis tebal terkejut akan ucapan nenek barusan. Namun, sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, itu sebuah kehormatan bagi kita bisa membagikan energi spiritual untuk garis keturunan Kaisar Abadi! Kelihatannya ini memang kehendak langit!"
Tetua Keempat terlihat sendu saat memandang neneknya, "Nenek .... "
Nenek mengusap pucuk kepala Tetua Keempat.
"Maaf, baru bertemu sudah mau berpisah dengan Xian'Er lagi."
"Anak baik, sekarang kau adalah pilar Keluarga Qin, lindungi baik-baik garis keturunan Kaisar Abadi, ini adalah tugasmu sebagai Tetua Keluarga Qin," ucap Nenek.
"Sudah saatnya tugas kami berakhir."
Setelah berpamitan pada Tetua Keempat, tubuh Qinli diposisikan untuk duduk bersila. Sementara itu ke enam Tetua Keluarga Qin dari generasi sebelumnya tersebut melesat ke langit, lalu ke enamnya mengarahkan energi spiritualnya ke tubuh Qinli.
Beberapa saat kemudian, tubuh Qinli mulai mengambang dan melayang di angkasa.
...SWOOSH ... SWOOSH ... SWOOSH .......
Energi spiritual dari ke enam Tetua Keluarga Qin terdahulu nyatanya mampu membuat Qinli siuman dan membuka kedua matanya. Saat sadar dirinya berada di sebuah tempat dengan beralaskan sebuah simbol segel yang bercahaya kuning keemasan.
"Di mana ini?" ucap Qinli sambil memegangi kepalanya.
"Di sini adalah ruang waktu kami."
Ternyata di hadapan Qinli sudah ada keenam Tetua Keluarga Qin dari generasi sebelumnya yang mengelilingi Qinli.
__ADS_1
"Kami adalah enam Tetua Keluarga Qin dari generasi sebelumnya, juga adalah penjaga Keluarga Qin."
"Bocah tengik! Segera bersiap-siap, lukamu itu sangat parah. Kami akan menyalurkan kekuatan kami untuk menyembuhkanmu. Ingat ... setelah lukamu sembuh, kau harus menyelesaikan tugasmu!"
Beberapa saat kemudian kekuatan maha dahsyat dari ke enam Tetua secara bersama-sama menyerang tubuh Qinli dengan cepat.
...SYUH...
"Argh!" teriak Qinli ketika tubuhnya dihantam oleh ke enam kekuatan maha dahsyat itu.
Dari arah bawah, lingkaran segel yang dibuat oleh ke enam Tetua Keluarga Qin sebelumnya terlihat retak dan siap meledak. Benar saja, setelahnya benda berwarna emas tersebut meledak dan keluarlah Qinli dari dalam sana.
"Qinli!" teriak Kakek Qin Badao dan Nona Mo Yao bahagia.
Ketika ia turun dan berada di tengah Keluarga Besarnya, tidak lupa Qinli mengucapkan terima kasih kepada keenam Tetua tersebut.
"Terima kasih semuanya," ucapnya sambil tersenyum.
Luka berlubang di dada Qinli kini telah menutup dengan sempurna. Lalu kini tibalah saat mereka berpisah.
"Jangan lupa akan janjimu!" ucap Kakek berkepala plontos berbadan ramping pada Qinli.
"Pasti!" jawab Qinli dengan tegas.
Kini roh ke enam Tetua Keluarga Qin dari generasi sebelumnya sudah semakin semakin menghilang, setelah ini roh mereka benar-benar musnah, tetapi mereka bahagia karena tugas mereka telah selesai dengan baik. Melindungi garis keturunan Kaisar Abadi yang darahnya mengalir di tubuh Qinli juga sudah dilakukan. Kini mereka bahagia bisa pergi dengan tenang.
"Tapi, masih ada satu hal yang harus aku lakukan sekarang!"
"Memusnahkan Hong Ming!"
Kini Qinli, Tetua Keempat, Kakek Qin Badao dan Nona Mo Yao berjalan bersama untuk mencari keberadaan Hong Ming.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1