MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA

MENANTU LAKI-LAKI PERTAMA
EPISODE 111


__ADS_3

"Cepat lihat! Orang itu adalah Tetua Keluarga Zhuge!"


Lalu di depan mereka muncullah Tetua Zhuge yang menyapa semua tamu undangan di gedung itu.


Lalu dari arah lain, terdengar teriakan dari para pendukung Keluarga Zhuge.


"Hormat pada Tetua Zhuge!"


"Kalian semua terlalu formal, tidak perlu seperti itu," ucap Tetua Zhuge.


Lalu Tetua Zhuge melihat keberadaan Qinli di tengah para tamu undangan. Qinli tersenyum lalu secepat kilat mendatangi Tetua Zhuge ke atas panggung.


...SWOOSH...


Kini Qinli sudah berada di hadapan Tetua Zhuge. Jarak mereka pun terlalu dekat. Hanya sekitar dua langkah saja.


"Tetua Zhuge! Aku telah banyak mendengar tentang kehebatanmu!" sapa Qinli.


"Ka ... kau Qinli?" tanya Tetua Zhuge sedikit kaget karena Qinli tiba-tiba berdiri di depannya.


"Benar."


"Hahaha, akulah yang sudah mendengar banyak tentangmu!" ucapnya sambil bertepuk tangan.


"Sejak kau membunuh Wu Tianshi di hadapan banyak orang, berita mengenaimu tidak pernah ada habisnya, kau benar-benar pahlawan yang masih sangat muda."


Qinli menanggapi hal tersebut dengan sangat santai, ia bahkan bersedekap dada saat ini.


"Tetua Zhuge menduduki Keluarga Wei secara paksa dan juga mengundang banyak sekali orang untuk datang ke rapat umum ini."


"Strategi seperti ini sangat tidak biasa, dibandingkan dengan pahlawan yang masih muda, tetap tidak akan bisa menandingi yang lebih tua!" ucap Qinli sambil tersenyum ke arah Tetua Zhuge.


"Hahaha, kau lumayan cerdas bocah, apa kau punya pertimbangan untuk bergabung dengan Keluarga Zhuge kami?"


"Asalkan kau bersedia bergabung, masalah mengenai kau membunuh anggota keluarga kami akan kami lupakan, dan kau akan diberi Marga Zhuge. Bagaimana?"


"Maaf aku tidak tertarik menjadi anjing keluarga orang, tapi ada sesuatu yang ingin aku pastikan padamu."


Qinli mengarahkan ponsel miliknya yang telah berisi salah satu foto yang salah satu anggota Keluarga Zhuge yang pernah menyerang kedua orang tuanya di markas.


"Coba lihat orang ini, apa kau mengenalnya?" tanya Qinli.


"Aih! Ini ... kenapa kau bisa mempunyai foto diriku yang sudah belasan tahun yang lalu," ucap Tetua Zhuge sambil mengusap dagunya.


Sementara itu, Qinli sudah sangat murka akan hal itu. Kemarahannya tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.


"Tidak disangka kau bisa mendapatkan foto ini, sungguh luar biasa."


Lalu Qinli menggeser icon di ponselnya hingga terlihat kedua orang tua Qinli saat terakhir kali di markas dan kembali menunjukan foto itu pada Tetua Zhuge.


"Kalau begitu, coba kau lihat lagi, apa kau masih ingat kedua orang ini?"


"Me ... mereka!" ucap Tetua Zhuge terkejut.


Saking terkejutnya ia sampai memundurkan langkahnya.


"Mereka adalah kedua orang tuaku!"


Dengan sorot mata dan aura membunuh, Qinli mengarahkan jari telunjuknya ke arah Tetua Zhuge.

__ADS_1


"Sejujurnya, aku datang hari ini untuk membunuhmu!"


"Gila! Bocah ini serius? Beraninya melawan Keluarga Zhuge, benar-benar cari mati!"


Begitulah ucapan orang-orang yang berada dibawah panggung. Sebagian besar mencemooh keberanian Qinli yang berani menantang Tetua Zhuge.


"Aku sangat menyarankan Tetua Zhuge untuk menghabisi orang ini! Dia sangat tidak tahu diri."


"Benar! Tetua Zhuge sangat baik hati, masih keburu kalau bocah ini memohon ampun sekarang!"


"Karena kau adalah anak dari dua orang ini, maka kau tidak dapat diampuni lagi. Namun, demi mereka semua yang ada di sini, aku akan memberimu dua pilihan."


"Pertama, hancurkan meridianmu sendiri, berlutut dan meminta ampun, mulai sekarang kau keluar dari dari dunia bela diri!" ucap Tetua Zhuge dengan sombong.


"Kedua, biar aku yang lakukan, tanpa rasa sakit!"


Dengan ketenangan luar biasa tanpa ada rasa takut, Qinli malah tersenyum menanggapi ucapan Tetua Zhuge.


"Takutnya kau tidak punya kemampuan untuk membunuhku!"


"Aku tahu kau sangat kuat, lantas kenapa?"


Tetua Zhuge mengangkat kartu undangan miliknya lalu mengalirkan kekuatannya.


"Apa kau tahu kenapa aku memilih tempat ini?"


...SYUH ... WUSH ......


Kartu tadi melayang ke langit-langit gedung itu. Dari kartu tersebut keluarlah benang-benang emas yang terhubung pada setiap kartu undangan yang dipegang oleh semua tamu undangan.


...SYUH ... SYUH ... SYUH .......


"A ... apa yang terjadi?" tanya mereka kebingungan.


Sementara itu Tetua Zhuge dengan sangat lantang meneriakan sesuatu.


"Semua orang yang hadir hari ini adalah orang-orang penting, dan aku bisa membunuh mereka semua hanya dengan menggunakan jari-jariku."


"Jika terjadi masalah padaku, maka semua yang hadir di sini akan ikut mati bersamaku!" ucap Tetua Zhuge dengan sangat bangga hingga merentangkan kedua tangannya sambil tertawa.


Tetua Zhuge menatap Qinli dengan sangat tajam.


"Begitu juga dirimu!"


Lalu Tetua Zhuge menjentikkan jarinya lalu tiba-tiba beberapa orang yang memegang undangan itu meledak di tempat.


...CTAK!...


...BOOM!...


Melihat hal itu para tamu undangan yang tadi masih memegang undangan itu segera melepasnya.


"Mereka benar-benar mati! Sebenarnya benda apa ini?" ucap beberapa orang ketakutan.


"He! Kenapa kau melemparkannya padaku! Cepat lari!"


Tetua Zhuge menoleh.


"Aku sarankan kalian jangan asal bergerak jika tidak ingin mati secara tiba-tiba."

__ADS_1


"Jika ingin tetap hidup, kalian bisa memohon pada Tuan Qinli yang ada di sebelahku ini. Asalkan dia mati, aku pastikan tak akan menyulitkan kalian semua."


Hampir semua tamu undangan termakan omongan dan rayuan dari Tetua Zhuge dan memaki Qinli.


"Apa yang kau lakukan? Kematianmu bisa menyelamatkan nyawa kami, cepat matilah!"


"Benar! Bisa membuatmu menjadi pahlawan adalah keberuntunganmu!"


Begitulah beberapa teriakan mereka, yang kebanyakan hanya mementingkan urusan mereka sendiri.


"Matilah!"


"Hei! Yang bermarga Qin, cepat matilah!"


Di atas sana Jiangjun sedang berpikir keras bagaimana ia bisa menyelamatkan Qinli saat ini.


"Aku harus pikirkan cara untuk meminta bantuan dari luar," batin Jiangjun.


Dari atas panggung, Tetua Zhuge semakin mempersulit Qinli.


"Aku hanya memberi kalian waktu tiga detik!"


Lalu Tetua Zhuge mulai berhitung mundur.


"Tiga!"


"Cepat berlututlah!"


"Itu hitungan yang sangat cepat!"


"Cepat matilah!"


"Dua!"


"Satu!"


Qinli tetap tenang dan tersenyum tanpa gentar. Sesaat kemudian Tetua Zhuge mulai menyerang Qinli.


"Matilah!" teriak Tetua Zhuge.


Qinli tersenyum dan mulai menyerang Tetua Zhuge dengan tenaga dalamnya.


"Siapa yang mati, masih belum tentu!" teriak Qinli sambil menyerang Tetua Zhuge.


...WUSH ......


Kedua tangan Qinli menyerap semua kartu undangan yang berada di dalam gedung itu.


"A ... aku salah strategi .... " ucap Tetua Zhuge panik.


"Tetua Zhuge, kau sudah lihat belum?"


Tanpa aba-aba, Qinli menyerang Tetua Zhuge dengan tenaga dalamnya tepat ke jantungnya.


...JLEB ......


.


.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2