
Dengan cepat Ling'Er segera berhambur untuk memeluk ayahnya. Betapa ia sangat bahagia melihat ayahnya baik-baik saja saat ini.
"Ling'Er!" ucap Tetua Lembah Dewa Obat pada putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Oh iya, Ayah!"
Nona Ling'Er melepaskan pelukan pada ayahnya. Lalu mulai memperkenalkan gurunya pada sang ayah.
"Ini adalah guruku, namanya Qinli. Ia adalah Tetua Sekte Bumi!" ucap Ling'Er dengan kedua mata berbinar.
"Oh! Tidak disangka, Tetua Qin masih semuda ini!"
Sejenak Ayah Ling'Er melirik ke arah sebelah kiri, "Akan tetapi di sini bukanlah tempat yang cocok untuk mengobrol, mari ikut denganku!"
Akhirnya mereka semua telah berkumpul di suatu tempat yang jauh lebih aman dan nyaman. Sebuah ruangan yang berhiaskan bunga warna-warni untuk dihadiahkan untuk orang terkasih.
Tanpa basa-basi, Tetua Lembah Dewa Obat langsung bertanya pada Qinli untuk rasa penasaran miliknya.
"Tetua Qin, kenapa kau bisa muncul dari terowongan ruang waktu prajurit Kuil Dewa Yin?"
"Aku baru pertama kali menggunakan kekuatan ruang waktu, masih belum mahir."
Sejenak Qinli baru menyadari pertanyaan yang diajukan padanya bukan hal itu, melainkan tentang prajurit Kuil Dewa Yin.
"Tapi, yang Tetua bilang mengenai prajurit Kuil Dewa Yin ... Apakah orang tadi?"
__ADS_1
"Benar, Kuil Dewa Yin telah mendapatkan informasi dan datang kesini. Dalam waktu tiga hari, mereka meminta Dewa Lembah Obat untuk menyerahkan Ling'Er!"
Ling'Er yang hendak menuang minuman begitu terkejut. Qingyin bisa menangkap ekpresinya dengan cepat.
"Apa!" batin Ling'Er terkejut.
"Kuil Dewa Yin agresif sekali, aku akan tetap berjuang bersama ayah sampai akhir!" ucap Ling'Er penuh dengan semangat.
Ayah Ling'Er menoleh ke arah putrinya, "I-ini ...."
Untuk sejenak raut wajah ayahnya berubah menjadi tertawa.
"Ha ha ha ... Tidak kusangka putri bungsuku punya keberanian ini! Langit memberkati keluarga kami!"
Tiba-tiba saja Qinli sudah berdiri di belakang Nona Ling'Er sambil memegang bahunya, "Tenang saja Ling'Er, akan aku hajar orang-orang jahat itu kalau berani datang!"
"Ya baik, Ayah."
Tidak lama kemudian, Paman kedua Ling'Er segera membawa keponakannya pergi.
"Ayo, Ling'Er!" ajak pamannya.
"Ayo, Paman!" ucapnya bahagia.
Setelah Ling'Er pergi, Ayahnya segera berbincang kembali dengan Qinli.
__ADS_1
"Tetua Lin, silakan katakan!"
"Aih, sejujurnya Tetua Qin belakangan ini sangat terkenal, kekuatanmu yang berada di alam hidup dan mati mampu melenyapkan Keluarga Lei."
"Tapi meski ada bantuan dari Tetua Qin, aku tetap tidak yakin bisa melawan Kuil Dewa Yin."
Mendengar penuturan dari Ayah Ling'Er, beliau terlihat khawatir.
"Tetua Kuil Dewa Yin paling-paling cuma berada di Puncak Alam Dominasi, kenapa tetua sebegitu takutnya pada Kuil Dewa Yin?" tanya Qinli secara terang-terangan.
"Hmph, kalau cuma Puncak Alam Dominasi, Lembah Dewa Obat tidak akan setakut ini!" ucap Tetua Kedua.
"Api kekuatannya sudah melampaui Alam Dominasi? Tidak mungkin! Bukankah sumber kekuatan di Huangdi sudah ...." keterkejutan Qinli terhenti untuk sesaat ketika ia mengingat sesuatu.
"Ternyata Tetua Qin tahu sesuatu juga, kelihatannya daratan tingkat rendah tanpa nama yang ada di dalam data Tetua Qin adalah Daratan Huangdi yang legendaris itu, 'kan?" tanya Ayah Ling'Er pada Qinli.
"Apa!"
"Bocah ini berasal dari Daratan Huangdi?" ucap Tetua Kedua dengan sangat terkejut.
Bahkan ia sempat menggebrak meja karena rasa terkejutnya itu. Qinli menoleh ke arahnya lalu mencoba menerangkan apa yang diketahui olehnya.
"Daratan tempat kita berada sekarang yang disebut dengan bumi, berdasarkan dugaan seharusnya adalah Daratan Huangdi yang kekuatan spiritualnya disegel!"
Mengetahui ada hal yang tidak transparan, Qinli pun mencegah sesuatu darinya.
__ADS_1
"Latar belakang Dewa Lembah Dewa Obat pasti tidak sesimple ini," gumam Qinli.