
Olivia masih menatap bunga yang dia pegang erat sedari tadi dan juga coklat yang baru saja Arion berikan untuk nya.
"Apa dia benar-benar menyukaiku? " Pertanyaan itu tiba-tiba menghampiri nya "Tidak- tidak itu tidak mungkin sadarlah Olivia" Olivia ingin menepuk pipinya agar membuat nya sadar namun dia mengurungkan niatnya karena kedua tangannya sudah penuh dengan mawar dan coklat.
"Sudahlah Olivia jangan di pikirkan lagi, mungkin saja tuan muda sedang ingin bermain kejar mengejar" Olivia meyakinkan dirinya bahwa Arion mungkin sedang mempermainkan nya.
Pada akhirnya Olivia membawa kembali bunga dan coklat itu dan menyimpannya di dalam kamar.
Di kamar Angel, setelah melakukan pemeriksaan rutin Angel mulai mengobrol banyak hal dengan Andreas.
"Andreas" Wajah Angel terlihat ragu dia seperti nya ingin mengatakan sesuatu namun masih dia tahan.
"Ya nenek? apa ada yang terasa sakit" Ucap Andreas yang segera memegang tangan Angel memeriksa denyut nadinya.
Angel tersenyum ada rasa bersalah terlihat di wajah Angel "Andreas apa pendapat mu tentang Olivia? " Pertanyaan itu mampu membuat Andreas terdiam ada ketakutan tersendiri saat Angel mengucapkan nama Olivia, Andreas takut Angel meminta sesuatu yang sudah lama tidak bisa dia putuskan yaitu melepaskan Olivia untuk sahabat nya.
"Dia gadis yang cantik, dia juga sangat baik, tidak pernah berfikir negatif tentang orang lain dia lebih suka menyalahkan dirinya sendiri dari pada harus mengorbankan orang lain, dia gadis yang sangat mempesona tidak ada duanya" Ucapan itu benar-benar lahir dari hati Andreas pandangan nya tentang Olivia begitu sempurna.
"Kau begitu mengenalnya? " Angel tersenyum, senyuman yang membuat Andreas takut.
"Nenek, kau sudah memeriksa semuanya bukan, jangan berbicara seperti anda tidak tahu" Ucap Andreas bibirnya sedikit bergetar.
"Andreas jika Olivia tidak bisa menerima mu kembali, kenapa tidak mencoba untuk melepaskan nya? biarkan dia bahagia dengan orang lain"
Deg... perkataan yang dia takuti muncul juga dari orang yang sangat dia hormati dan sayangi selain menjadi gurunya Angel juga memberikan kasih sayang seorang nenek padanya.
"Aku masih ingin berusaha untuk mendapatkannya kembali, namun aku juga ingin berusaha membiarkannya memilih kebahagiaan nya sendiri, biarkan aku berjuang nek namun jika perjuangan kami tidak sama arah, jika dia menemukan orang lain mungkin saat itu aku akan menyerah tapi sekarang aku ingin berusaha semampu ku untuk mengejar layang-layang yang putus itu" Ucap Andreas sendu setiap ucapan nya menggambarkan luka hatinya.
Angel menghela nafasnya dia tau betul seperti apa sifat muridnya yang tidak pantang menyerah tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan cucunya, apalagi cucunya begitu bodoh tentang cinta membiarkan nya berjuang sendiri mungkin akan mengakibatkan kekalahan untuk cucunya dan berakhir kehilangan Olivia, jika Olivia pergi dari hidup Arion mungkin Arion akan benar-benar kehilangan hatinya dan berakhir bersifat lebih sombong kejam dan dingin.
"Berjuanglah tapi aku juga ingin memberitahu mu, jangan berjuang untuk sesuatu yang akhirnya membuatmu kehilangan semuanya" Angel menepuk-nepuk punggung tangan Andreas, Andreas mengerti betul arti ucapan dari Angel.
Di sisi lain Arion sudah berangkat ke kantor, sedari menginjakkan kaki di kantor hawa mencekam terlihat di sekeliling Arion, membuat Dion tidak bisa berucap.
__ADS_1
Dion terus melihat bos nya yang sedang duduk di kursi kebesaran nya menatap tajam layar HP besar itu, terus menatapnya tanpa berkedip.
Namun tiba-tiba Arion menghela nafasnya melempar HP yang sedari tadi dia pegang "Ahhhh Romantis apa itu romantis! benar-benar sangat sulit mempelajari nya" Ucap kesal Arion itu mampu membuat Dion menganga.
"Tutup mulutmu! dan bantu aku! " Ucapan Arion mampu membuat Dion tersadar.
"Apa yang perlu saya bantu tuan? " Tanya Dion serius setelah menutup mulutnya yang menganga tadi.
"Apa kau tuli? aku sudah Menggerutu tadi!! " Ucap Arion yang terlihat makin kesal, Dion hanya bisa menghela nafasnya menelan kasar ludahnya.
Dengan takut-takut Dion membuka mulutnya "Ap.. apa tuan ingin belajar menjadi pria yang romantis? " Setelah mengucapkan perkataan itu tenggorokan Dion terasa seperti tertusuk dia takut dia salah berbicara.
"Ekhm.. Sudahlah lupakan itu! apa yang harus aku lakukan untuk menunjukkan sebuah ketulusan" Ucap Arion mengucapkan kata itu dengan wajah yang malu-malu benar-benar pemandangan yang jarang terjadi malah hampir tidak pernah terjadi.
"Apa tuan ingin menunjukkan nya pada Olivia" Ucap Dion tanpa sadar, mata elang itu langsung menatap tajam ke arah Dion
"Apa kau begitu akrab dengan nya, berani sekali memanggil namanya begitu saja" Ucap dingin Arion itu mampu membungkam mulut Dion seperti pisau yang menikam
"Ma.. maafkan saya tuan, ka.. kalau ini menyangkut dengan Nona Olivia mungkin bunga atau coklat akan membuatnya merasa ketulusan tuan" Ucapan Dion
Dion mendengar tuanya yang memberikan wanita hadiah tak bisa menyembunyikan wajah terkejut nya "Apakah benar-benar tidak mendapatkan respon apapun?" Ucap Dion ragu biasanya wanita paling suka dua hal ini.
"Pikirkan yang lain!"
"Bagaimana dengan mengajaknya pergi ke taman bermain ini pilihan yang bagus untuk menunjukkan ketulusan tuan pada Nona Olivia" Ucap Dion hati-hati.
"Taman bermain? kalau begitu kosongkan satu taman bermain di kota ini" Ucap Arion dengan sombong nya, hal itu tentu mudah untuk Arion lakukan.
Dion menggosok tengkuknya yang tak gatal dia ingin mengatakan sesuatu tapi takutnya akan membuat tuan nya itu marah.
Arion melihat dion hanya diam dan menggosok tengkuknya "Apa ada yang salah? " Menatap tajam Dion.
"Tidak ada tuan hanya saja" Dion ragu untuk melanjutkan perkataan nya.
__ADS_1
"Hanya saja apa? katakan! " Arion menantikan jawaban dari Dion.
"Hanya saja tuan bukankah ingin menunjukkan ketulusan tuan, jika tuan mengosongkan taman bermain ini terkesan tuan seperti sedang membawa simpanan bermain secara diam-diam agar tidak di ketahui publik "
"Lalu apa yang akan aku lakukan bukankah aku ini tidak kalah terkenal nya dengan selebriti" Ucap sombong Arion
"Aku ada ide tuan, tuan bisa menghindari publik juga bisa menunjukkan ketulusan tuan" Ucap Dion begitu yakin namun Arion malah menatap curiga pada Dion.
"Kau jangan coba menghancurkan image ku! " Tatapan mengancam Itu mampu membuat Dion merinding dan reflek menggelengkan kepala.
Setelah melakukan semua persiapan, Dion melajukan mobilnya ke rumah Arion untuk menjemput Olivia.
Setelah sampai Dion bergegas mencari keberadaan Olivia beruntung sekali saat Dion datang Olivia baru saja akan kembali bertugas ke kamar Angel namun berhasil Dion tahan
"Nona Olivia" Teriak Dion yang mampu menghentikan langkah Olivia, Olivia menoleh kemudian tersenyum melihat Dion senyuman sopan
"Ada tuan memanggil saya? " Ucap Olivia
"Anda harus ikut dengan saya sekarang juga tapi anda terlebih dulu berganti pakaian" Ucap Dion yang membuat Olivia bingung "Ini perintah tuan muda" Ucapan itu tidak bisa di bangat oleh Olivia
Olivia segera berganti pakaian, dia memilih memakai celana panjang dan menggunakan baju putih berenda di sekitar lengannya, itu terlihat simple namun memiliki kesan anggun.
Mereka bergegas berjalan ke arah mobil tak di sangka ada sepasang mata yang melihat kejadian itu.
Dion membuka pintu mobil untuk Olivia dan terlihat laki-laki tampan yang berpenampilan casuals menunggu di dalam mobil.
Laki-laki yang memakai hoodie hitam dengan rambut sedikit berantakan mampu membuat Olivia terpesona sesaat.
"Masuk! " Suara itu mampu menyadarkan Olivia, pria tampan yang membuatnya terpesona itu adalah laki-laki yang sama yang selalu menganggap nya sebuah barang.
"Tuan kita mau kemana? " Tanya Olivia sedikit takut
"Kau jangan banyak tanya ikut saja" Ucap ketus Arion mampu membuat Dion menggelengkan kepalanya
__ADS_1
*Hei tuan apa kau lupa kau harus berprilaku sedikit lembut, kau terlalu dingin untuk mengejar seorang wanita" Dion hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, tidak habis pikir seberapa kaku nya tuan mudanya itu