
Arion berjalan ke arah cafe dia masuk kembali bersama-sama dengan Rocky dan Aleena yang tertangkap basah menguping dan mengintip pembicaraan nya dengan Fiona.
"Kalian sudah kembali? " Ucap Aric yang masih setia menunggu di meja cafe dengan cangkir coffe yang bertambah.
Terlihat Aleena dan Rocky mengusap telinga mereka seperti nya telinga mereka di salah satu sisi-Nya terlihat sangat merah.
Arion melihat sekeliling dua tidak menemukan orang yang dia cari dia mulai terlihat sangat kesal "Mereka belum kembali? " Arion tidak ingin menunggu jawaban dia ingin melangkah pergi dan mencari orang yang sedang ada di pikiran nya itu dengan tangan yang sudah mengepal sempurna.
Namun langkah kaki Arion terhenti seketika saat mulut Aric mulai berbicara "Mereka sudah pulang terlebih dahulu, Olivia tidak enak badan" Aric mengangkat hp nya memberitahu pesan yang Alister kirim kan, mendengar itu secepat kilat darah Arion mendidih wajah memerah, dia terlihat sangat menyeramkan dia benar-benar marah.
Braaakkkkkkkkkkkkkkk meja tak bersalah di depannya itu menjadi sasarannya hancur berantakan.
Rahang Arion mengeras dia berjalan dengan cepat tentu saja diiringi tetesan darah di tangan Arion karena bukan meja saja yang menjadi korban piring yang melukainya pun menjadi berkeping-keping.
"Arion tunggu" Ucapan Rocky yang segera mengejar Arion, dia tidak bisa membiarkan Arion yang cemburu itu menyetir sendirian, selain akan membahayakan nyawanya dia akan membahayakan pengemudi lain di jalanan.
Rocky berhasil menyamakan langkahnya dengan Arion, "Hei hei kau tenang dulu, ini bukan kali pertama Alister mengantarkan Olivia pulang" Rocky berusaha menenangkan Arion dengan ucapan nya.
Arion berhenti melangkah kakinya dan mengangkat kerah baju Rocky "Dulu dia bukan istri ku! kau tidak punya istri tentu saja tidak tau rasanya! " Ucapan Arion itu kenyataan atau sindiran bagi Rocky yang jomblo abadi.
"Hei aku memang jomblo tapi kau marah seperti ini bukanlah berlebihan mereka hanya pulang bersama bukan tidur bersama" Ucapan kelepasan Rocky itu malah membuat amarah Arion semakin meledak, tanpa sadar langsung mencekik leher Rocky.
__ADS_1
"Apa yang kau bilang! jika itu sampai terjadi dia berani menyentuh istriku akan ku bakar hidup-hidup kau dan Alister! " Arion melepas cekik-kan nya dan melempar tubuh Rocky.
"Uhuk..uhuk..Hei kenapa aku di bawa-bawa" Rocky mengusap lehernya yang masih terasa tercekik
"Karena kau sudah berkata sembarangan!" Arion mengatakan jtu sembari melirik tajam ke arah Rocky membuat Rocky bergidik ngeri
*Hei Rocky kau seharusnya berhati-hati saat berkata dengan orang yang sedang cemburu buta, atau kau akan mati dalam keadaan perjaka " Rocky menasehati dirinya sendiri.
Rocky sadar Arion sudah berjalan menjauh dia berlari dan mendahului Arion masuk kedalam mobil "Bi.. biar aku yang mengemudi ok" Rocky tertawa kaku berharap dia tidak mendapat ceki-kan lagi.
Arion tanpa berbicara berjalan memutar dan duduk di kursi di sebelah pengemudi itu membuat Rocky menghela nafasnya lega.
"Baiklah baiklah aku tau kau duduk yang tenang " Rocky berusaha mencairkan suasana yang mencekam itu tapi tentu saja tidak berhasil.
Sesuai ucapan Arion Rocky melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi tapi mungkin tidak lebih tinggi jika Arion yang mengemudi.
Arion sangat tidak suka jika Olivia berdekatan dengan Alister karena Arion tau betul Alister sangat menyukai Olivia, ingin rasanya Arion menampar wajah Alister dengan kenyataan wanita yang dia sukai sudah menjadi istrinya tapi karena perjanjian nya dengan Olivia dia tidak bisa mengatakan nya karena menghormati permintaan dari Olivia.
Di sepanjang jalan Olivia hanya diam dan terus berfikir tentang arti dari pernikahan nya 'Apakah semua seperti dugaan ku, tuan hanya mempermainkan ku tapi dia menyelamatkan ibuku, tuan apa yang sebenarnya kau rencanakan menyakitiku? 'Olivia terus menghela nafasnya teringat kembali saat Arion memeluk Fiona
Alister yang melihat Olivia hanya diam saja menjadi khawatir, "Olivia apa kita perlu ke dokter atau rumah sakit? " Alister melihat wajah Olivia semakin pucat dan matanya memerah
__ADS_1
Olivia menggelengkan kepalanya dengan cepat dia hanya ingin cepat sampai di kamarnya "Ti.. tidak perlu aku hanya butuh minum vitamin dan tidur, jangan terlalu khawatir Alister aku benar-benar hanya sedikit sakit mungkin karena terlalu lelah bermain Air" Olivia segera memberikan alsan terbaiknya untuk tidak pergi ke dokter.
"Oh baiklah aku mengerti " Alister memilih diam tidak memaksa Olivia untuk pergi bersamanya 'Olivia kau sakit badan atau sakit karena melihat pemandangan tadi, Olivia mungkinkah kau sudah jatuh cinta dengan kak Arion? ' Alister menyetir dengan wajah yang begitu sendu.
Mereka akhirnya sampai di kediaman Mars, Alister turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Olivia.
Olivia tersenyum "Terimakasih sudah mau aku ajak pulang terlebih dulu" Olivia merasa tidak enak seenaknya meminta di antar pulang.
"Jangan bilang begitu Olivia tidak perlu berterimakasih ok, sekarang kita masuk dan kau istirahat lah" Alister mengusap pelan kepala Olivia, Olivia mengangguk.
Mereka masuk ke dalam rumah Alister memilih menemui paman dan bibinya yang berada di kamar Angel, karena dia belum menyapa Rayyan dan Tiara saat mereka sampai di sini.
Sedangkan Olivia memilih langsung masuk kedalam kamar, baru saja masuk air matanya sudah tumpah "Kau sangat naif Olivia, kau.. kau cemburu bukan, perasaan ini aku telah benar-benar jatuh cinta dengan tuan? tapi benarkah tuan benar-benar mencintai ku? atau ini keberhasilan nya meraih hatiku dan mencampakkan ku ini lebih sakit dari pukulan yang aku Terima" Olivia membaringkan dirinya menutup wajahnya untuk terus menangis agar tidak bersuara dengan keras.
Olivia mengatur nafasnya dan perlahan bangun dan duduk, dia mulai berfikir "Haruskah aku pergi, untuk apa aku disini? tuan dan Fiona sudah bersama aku hanya barang mainan yang akan segera di campakkan, oh Olivia kenapa kau harus jatuh cinta dengan tuan Arion kenapa? " Olivia menampar dirinya sendiri agar tersadar jika dia tidak pantas untuk Arion.
"Aku harus segera ke rumah sakit untuk membawa ibu pergi, untuk apa aku tetap di sini, Olivia tenanglah harusnya kau sudah tau ini akan terjadi dari awal kau sendiri yang salah kenapa masih jatuh cinta dengan orang yang dari awal sudah membenci mu" Olivia menyeka air mata nya.
"Olivia sekarang bukan saatnya kau menangis kau harus sadar akan posisi mu, yang terpenting kini membawa ibu pergi" Olivia bergegas berjalan ke depan pintu dia ingin membuka pintu kamarnya namun itu terlambat seseorang telah mendorong terlebih dulu pintu kamar Olivia.
Sepasang mata tajam menatapnya "Apa yang kau katakan barusan" Mata yang begitu menusuk membuat Olivia menundukkan kepalanya
__ADS_1