
Fiona segera memalingkan pandangan nya kemudian mengatur nafasnya "Kak Aric... " Kenapa tiba-tiba Fiona merasa ragu untuk bertanya.
"Fiona ada apa sebenarnya? apa kau benar-benar sakit? " Aric memilih menepikan mobilnya, dia mendekat kan dirinya dan menyentuh kening Fiona "Kau tidak demam tapi kenapa kau bertingkah aneh, apa ada sesuatu yang terjadi? " Fiona menangkap tangan Aric, menurunkan secara perlahan terlihat pandangan tajam dari mata Fiona.
Fiona melepaskan tangan Aric, kemudian mengambil kalung Arion yang masih dia bawa "Kau tau ini? " Fiona menunjukkan kalung itu.
"Te.. tentu saja itu kalung milik Arion" Aric berusaha untuk tenang, yang ada di dalam pikiran Aric sekarang dia harus bersikap tenang, mungkin saja Fiona hanya bertanya tidak mungkin Fiona tau kebenaran nya.
"Hah benar ini kalung milik kak Arion tapi apa kakak tau siapa yang memberikan nya? " Fiona menatap. semakin tajam Aric tatapan seperti seorang detektif yang menginterogasi sumber informasinya.
"Hahahaha apa yang kau katakan ini Fiona, tentu saja yang memberikan kalung ini Arion, kau ini sebenarnya kenapa? " Aric masih belum mengerti situasi nya bahwa Fiona sudah tau semuanya.
Fiona menganggukkan kepalanya sedikit mendongakkan pandangannya untuk menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya "Apa begitu menarik memainkan permainan ini kak? " Fiona tidak mengerti siapa yang berkata benar antara Arion dan Aric dia tidak tau lagi siapa yang sedang berkata benar atau bohong.
"Permainan apa Fiona, kau ini sedang berbicara apa aku benar-benar tidak mengerti kau sangat aneh" Aric melihat sedikit air mata jatuh di ujung mata Fiona, melihat itu batik Aric merasa sedih.
"Kalau bukan sebuah permainan lalu apa? kak Arion mengatakan kau yang memberikan kalung ini padaku, dia juga bilang orang yang ada di ingatan ku adalah kau, kau yang berjanji padaku kau yang menolongku kau yang memberikan ku kalung ini, dan sekarang kau mengatakan bukan kau yang memberikan nya hahahhaha apa begitu menyenangkan untuk kalian berdua mempermainkan hati wanita?! " Setelah tertawa dan menangis itu Fiona menarik kerah Aric mendekat ke arahnya "Apa benar-benar menyenangkan mempermainkan hatiku! kak! " Fiona meremas kencang kerah kemeja Aric "KATAKAN! " teriak frustasi Fiona
"Fi.. tenanglah aku bisa jelaskan semuanya, tenangkan emosimu" Aric memegang kedua bahu Fiona membuat Fiona melihat kearahnya.
"Baik kalau begitu jelaskan padaku! jelaskan dengan jelas jangan sampai ada yang terlewat" Sikap Fiona berubah saat dia sedang serius, Fiona yang biasanya terlihat manja dan manis kini terlihat seperti papinya yang tegas.
__ADS_1
"Ka.. kalung itu " Aric sebenarnya belum siap untuk mengatakan nya tapi melihat Fiona yang terlihat frustasi membuat nya harus memberanikan diri untuk mengatakan semuanya.
"Katakan" Fiona menatap tanpa ragu Aric seakan menanti jawaban dari Aric, Aric menghela nafasnya.
******
Olivia menarik tangan Rania, "Rania maaf seperti nya aku juga ingin ke kamar mandi, kau bisa pakai kamar mandi bawah bisakan" Olivia dengan cepat masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Saat dia berbalik tatapan tajam namun mempesona itu melihat ke arahnya, membuat Olivia jadi salah tingkah.
"Dari mana keberanian mu mengurung tuan rumah di dalam kamar mandi? lalu katakan bagaimana aku harus menghukummu?" Senyuman Arion penuh dengan maksud tersembunyi, Arion berjalan mendekat ke arah Olivia, membuat Olivia ada di dalam tubuhnya, suara hentakan dari tangan Arion terdengar sampai luar, membuat Rania masih di balik pintu mendengar.
"Ada apa Olivia? suara apa itu" Tanya Rania membuat Olivia gugup, mengatur nafas untuk menjawab pertanyaan Rania.
"Em.. baiklah kalau begitu, Olivia lekas istirahat ya Olivia agar kau cepat sembuh" Rania kemudian keluar dan menutup pintunya.
Olivia bernafas lega saat mendengar langkah kaki keluar dan pintu tertutup sampai dia lupa dirinya sekarang sedang di Sandra dalam tatapan Arion.
"Kau akan lama di sini? " Arion menatap begitu menggoda kearah Olivia membuat Olivia menjadi salah tingkah, hawa kamar mandi yang harusnya dingin kini terasa sangat panas.
"Tu.. Tuan lebih baik kita keluar" Olivia memutar tubuhnya ingin membuka pintunya, namun posisi itu membuat Arion merasa tubuhnya semakin menginginkan Olivia.
__ADS_1
Arion menekankan tubuhnya ke tubuh Olivia memeluk Olivia dari belakang, kedua tubuh yang saling bersentuhan itu membuat hawa sekitar nya semakin panas, Arion meniup telinga Olivia membuat Olivia bergidik "Tu..tuan jangan lakukan itu, itu sangat geli" Entah mengapa tiba-tiba nafas Olivia seperti sedang di buru.
Arion menikmati suara nafas Olivia itu, Arion menekan kepala Olivia membuatnya sedikit menengok kebelakang, Arion mencium lembur bibir Olivia dengan tangan sebelah nya bermain-main ke tempat yang kenyal dan nyaman.
"Emmm " Hanya suara itu yang keluar dari mulut Olivia karena mulut Olivia telah terbungkam sempurna oleh bibir Arion.
Ciuman itu berlangsung sangat lama, sampai tangan Arion berjalan-jalan kebawah menyusuri sebuah bukit kecil, Olivia bergerak memberontak ada perasaan nyaman namun ada rasa malu.
Arion melepaskan ciuman nya dari bibir mungil Olivia, kini bibirnya menjelajah ke leher Olivia, hembusan nafas hangat itu membuat Olivia merasa geli.
"Bisakah aku mendapatkan mu sekarang Olivia? " Arion memutar tubuh Olivia menghadap ke arahnya, dua pasang mata yang sudah mulai memerah itu saling pandang ada hasrat yang tidak bisa di ceritakan.
Olivia tidak mengatakan apapun Arion langsung mencium lagi bibir Olivia, ciuman itu terasa makin panas, Arion dengan berani menerobos bukit kecil yang sudah mulai basah itu.
tubuh Olivia terasa lemas akan sentuhan yang di buat oleh Arion, melihat ekspresi yang begitu menggemaskan dari Olivia, Arion tidak bisa menahan hasrat nya lagi, tapi tetesan air menyadarkan Arion, dia tidak bisa melanjutkan nya di sini atau akan ada yang datang lagi.
Arion dengan cepat menggendong tubuh Olivia dan membawanya keluar dari kamar Olivia, Arion menjatuhkan tubuh Olivia ke ranjang luasnya menutup pintunya.
"Tu.. Tuan ini? " Olivia tiba-tiba merasa ragu dengan apa yang dia lakukan namun sentuhan bibir Arion mempu membungkam ucapan Olivia.
'Aku tidak akan melepaskan mu Olivia, kau akan menjadi milik ku seutuhnya' pikir Arion di sela kegiatan panasnya.
__ADS_1
Arion terus menciumi Olivia secara intens, lidahnya juga ikut menari ke sana kemari, Olivia tanpa sadar mengimbangi tarian dari lidah Arion.
Arion perlahan membuka resleting gaun Olivia di sela permainan nya, Arion mengusap punggung Olivia perlahan-lahan seirama dengan permainan lidahnya, Olivia tiba-tiba mencengkram punggung Arion saat sesuatu berhasil di lepas Arion.