
Alister lagi-lagi menjadi supir gratis untuk Daniel.
Alister menghela nafasnya panjang beberapa kali saat seharusnya dia fokus menyetir
"Kau terlihat sangat lelah? apakah mengantarku bisa membuatmu selelah ini" Ucap Daniel tanpa melihat wajah Alister.
"Tidak hanya saja Paman apa kau pernah mencintai orang yang di cintai banyak orang? bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan nya" Ucap Alister yang menyenderkan tubuhnya di kursi dan mengangkat tangannya menatap ke atas melihat ke arah matahari yang menyilaukan.
Daniel tersenyum kecut dia juga pernah merasakan di posisi Alister tapi dia tentu tidak mengatakan itu "Cinta itu bukan berarti harus memiliki, tapi cinta yang sesungguhnya adalah perasaan bahagia di saat melihat orang yang kita cintai bahagia, terdengar klasik tapi itulah kenyataan. Dan saat kau sudah mengihklaskannya yakinlah kebahagiaan mu sendiri juga akan segera datang" Daniel terdengar bijak hari ini membuat Alister menatapnya
"Ck! aku bertanya cara mendapatkan nya bukan cara untuk mengikhlaskan nya, apa kau salah paham tentang sesuatu? apa kau sedang menceritakan kisah mu" Perkataan Alister terdengar meledek untuk Daniel
"Berisik! aku tau kau sedang membicarakan Olivia bukan? aku hanya memberikan opsi agar kelak kau tidak terlalu tersakiti, kau seharusnya berterimakasih padaku" Ucap Daniel
"Akhh apa sangat jelas terlihat aku tidak memiliki kesempatan?" Tanya Alister suaranya terdengar sangat kecewa.
"Aku tidak tau" Daniel mengangkat bahunya sebagai refleks
"Paman kau ini benar-benar tidak bisa di andalkan soal cinta pantas saja kau masih sendiri di usia sekarang ini" Ledek Alister
"Aku sendiri bukan karena aku tidak laku, tapi aku memegang teguh perkataan, anak jaman sekarang tidak akan mengerti, sudahlah turunkan aku di sini" Ucapan Daniel membuat Alister terdiam.
"Paman kau marah? aku hanya bercanda"
"Siapa yang marah, aku sudah sampai kau boleh pergi! "
Alister melihat sekeliling dia lagi-lagi melihat Daniel akan pergi ke rumah sakit " Paman apa kau sakit? jika iya aku akan memberitahu bibi dena untuk menjemput mu" Ucap Alister yang tau Daniel hanya akan menurut dengan saudara kembarnya itu
__ADS_1
"Diam! jangan katakan apapun padanya, aku tidak sakit kau mengerti, aku hanya ada urusan saja, kau pergi dan tetap diam, sampai dena mendengar sesuatu yang darimu, jangan harap nyawamu akan pada tempatnya, mengerti" Ancam Daniel
"Paman kau kejam, aku hanya khawatir terhadapmu"
"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun aku baik-baik saja! " Daniel segera pergi dan mengangkat tangan nya.
******
Olivia masih diam karena ucapan Arion, Arion menyadarkan Olivia dengan tiba-tiba mengusap pipi Olivia yang tanpa sengaja terkena eskrim yang Olivia pegang.
"Tu.. tuan" Ucapnya gugup sedangkan wajah tampan di depannya masih saja datar tak berubah.
"Kau masih saja memanggilku tuan, sudah ku bilang panggil nama ku! " Ucap Arion yang merubah wajahnya menjadi sedikit kesal
"Ta.. tapi aku tau status ku tuan, saya tidak pantas memanggil nama tuan" Ucap Olivia sopan dia sedikit menghindari pandangan mata Arion
Arion menarik Olivia mendekat ke arahnya wajah mereka saling beradu sangat dekat mata bertemu mata bahkan hembusan nafas Arion terasa di wajah cantik Olivia "Lalu apakah Rocky yang pantas! statusmu adalah wanitaku kenapa memanggil orang lain dengan sebutan nama sedangkan denganku kau memanggil ku tuan, aku bukan majikan mu! " Ucap tegas Arion kali ini Arion benar-benar memperjelas status Olivia
Arion merasa hatinya sangat sakit mendengar perkataan Olivia itu, dia mengingat betapa keterlaluan nya dia dulu terhadap Olivia dan sekarang itu sudah menancap kuat di hati Olivia "Ma... " Ucap Arion sulit, doa menarik nafasnya panjang dan menenangkan pikiran nya lagi, dia mencoba membuka mulutnya lagi "Ma.. " Ucapnya masih ragu
"Tuan mau makan? kita bisa makan di sekitar sini " Tanya Olivia yang merasa Arion sulit berkata, membuat Olivia berfikir mungkin Arion lapar dan tidak bisa mengatakan nya karena malu
Arion dengan cepat menggeleng dan tiba-tiba menarik Olivia dalam pelukan nya membuat eskrim itu jatuh begitu saja, Olivia masih terkejut dan hanya diam.
Sedangkan Arion berbicara lirih "Ma.. maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu" Ucapnya sangat lirih hampir tak terdengar oleh Olivia
Olivia membulatkan matanya mencoba mengingat perkataan Arion barusan *Apakah tuan mengatakan maaf? ini baru pertama kali aku mendengarnya, mungkinkah dia benar-benar tulus meminta maaf? " Olivia masih meragukan ketulusan Arion bagaimana tidak mengingat perlakuan Arion di masa lalu pasti tidak mudah untuk Olivia percaya seseorang yang dulunya sangat membencinya tiba-tiba kini berkata untuk mengejarnya, hal sulit yang bisa di terima oleh logika.
__ADS_1
Arion melepaskan pelukan nya "Apa kau mendengar ku? " Olivia hanya mengangguk dengan wajah tak percaya
Matahari semakin meninggi panas semakin terasa di taman itu, Arion mengajak Olivia kembali ke mobil dan melajukan mobilnya.
Suasana terasa canggung di dalam mobil sampai Arion membawa Olivia pergi ke sebuah tempat, Arion memarkirkan mobilnya
Olivia melihat dari balik kaca mobil sebuah butik yang sangat besar ini kedua kalinya dia kemari
"Tuan kenapa kita kemari lagi apa akan ada pesta lagi? ka.. kalau ada sebaiknya tuan tidak mengajak ku, aku tidak cocok dengan lingkungan seperti itu" Olivia menolak dengan sopan dia tidak ingin membuat Arion tersinggung
"Kita tidak kemari untuk sebuah pesta orang lain, tapi untuk pesta kita berdua" Ucapan Arion sedikit membuat Olivia bingung
"Kita berdua? pesta? apakah tuan ulang tahun? " Tanya polos Olivia, Olivia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Arion saat ini
"Bukan! ini akan jadi pesta kita berdua" Ucap Arion meyakinkan tapi Olivia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang menjadi pembahasan Arion
"Maaf tuan, saya tidak mengerti? ulang tahun saya masih dua bulan lagi, jika ulang tahun tuan bulan ini kita tidak bisa merayakan pesta bersama" Olivia mengira ini tentang pesta ulang tahun bersama namun ternyata Olivia salah besar
"Ini bukan pesta ulang tahun " Arion menatap sekilas Olivia lalu membuang muka kembali menatap lurus di depan stir
"Lalu pesta apa? " Olivia benar-benar tidak tau tidak mengerti dan tidak bisa menebak dia terlalu polos.
"Pesta pernikahan kita" Ucapan Arion mampu membuat Olivia hampir mato tersedak oleh ludahnya sendiri
"Pe.. pernikahan? apa tuan bercanda? " Olivia menggelengkan Kepala nya tidak percaya
"Aku tidak bercanda" Ucap Arion serius
__ADS_1
Olivia menghela nafasnya memegangi perutnya dan kepalanya "Tuan seperti nya saya tidak enak badan, bisakah mengantar saya pulang" Olivia membuat alasan tidak ingin melanjutkan lamaran yang tidak masuk akal ini
*Dia meminta seseorang menikah dengan nya seperti meminta orang untuk menemaninya belanja, apa dia sedang mempermainkan ku? " Ucap Olivia dalam hati