
Arion dan Olivia menunggu Andreas yang sedang berkeliling dengan Zulfa di kantin rumah sakit.
Arion juga sudah mengirim pesan pada Andreas kalau dia menunggu mereka di kantin rumah sakit.
Saat menunggu Andreas dan Zulfa, Olivia memesan sesuatu untuk mereka makan. "Boo apa kau mau sesuatu? " Olivia memperlihatkan daftar menu di kantin rumah sakit itu. "Di sini makanannya lebih banyak dan mewah di banding rumah sakit tempatku bekerja dulu" Ucapan Olivia santai, sepertinya dia lupa siapa pemilik tempat nya bekerja dulu.
"Hmm, kalau begitu nanti setelah pulang buat saja daftar menunya kita bisa merubah kantin rumah sakitmu bekerja dulu seperti yang kau inginkan" Jawab Arion dengan sombong nya namun juga terdengar nada kesalnya.
'Celaka, Olivia bagaimana bisa kau lupa, rumah sakit itu milik suamimu' Olivia tertawa kaku "Tapi di sana makanan nya sangat enak, Oh iya boo " Olivia mengambil sesuatu dan menarik tangan Arion dan memberikan nya pada Arion, membuat Arion mengernyitkan dahinya.
"Apa ini? " Tanya Arion pada Olivia saat membuka tangannya dan melihat sebuah memori di tangannya.
"Belum lama ini ibu memberikan nya padaku, ibu bilang di dalam sini ada dokumen aset milik almarhum ayah kandungku, boo aku tidak bisa mengurusnya bisakah kau mengurusnya untuk ku" Olivia tersenyum dan memohon.
"Baiklah akan aku urus semuanya, tapi apa kau yakin mempercayakan ini padaku? "
"Apakah Tuan Arion tidak percaya diri kalau bukan padamu harus ku percayakan pada siapa lagi" Olivia tersenyum begitu manis "Lagi pula jumlahnya tidak lebih banyak dari harta suamiku ini"
"Kau sangat pintar tanpa ini kau juga sudah menjadi istri penguasa yang kaya raya " Ucap Arion dengan ciri khas kesombongan nya.
"Benar jadi Boo, simpan ini untuk ku "
"Baiklah sayang aku akan menyimpan dan mengurusnya untuk mu" Arion mengecup kening istrinya dengan santai di kantin rumah sakit yang tidak termasuk sepi itu, semua orang di buat iri melihat nya.
"Boo, kau" Olivia ingin protes karena suaminya mengecupnya tapi saat melihat wajah bahagia suaminya dia menjadi tidak tega dan hanya tersenyum dan menghela nafas saja "Sudahlah, aku akan memesan minuman dan cake apa kau mau sayang"
"Minuman saja cake tidak perlu" Ucap Arion
Olivia ingin berjalan ke arah pelayanan namun di tahan oleh Arion "Kau cukup memanggilnya saja" Arion mengangkat tangannya
Pelayan yang melihat nya segera menghampiri Arion memang sedari tadi mereka memperhatikan Arion yang mereka pikir adalah Aric tentu saja sebagai pemilik rumah sakit dia akan selalu di amati meski pelayan itu salah mengira.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? " Tanya
pelayan itu saat mendekat.
__ADS_1
Arion melirik ke arah Olivia memberikan isarat agar istrinya yang memesan " em itu saya pesan cofelate dan jus" Olivia ingin memesan jus mangga kesukaan nya tapi tiba-tiba dia merasa mual
Arion mengerti itu karena dia selalu mengamati gerak gerik istrinya "Jus strawberry dan ini" Dia menunjuk cake yang dari tadi Olivia liat di buku menu.
"Baik tuan" Pelayan itu pergi setelah Arion memesan.
Olivia melihat kearah Arion dan tersenyum senang, suaminya begitu perhatian padanya.
Di sisi lain
"Kenapa kau di sini? " Tanya Alister yang tidak sengaja berpapasan dengan Andreas dan Zulfa.
Zulfa melihat Alister dengan tatapan yang tak biasa "Alister kau di sini? apa kau sedang sakit? " Zulfa terlihat sangat khawatir.
"Tidak, aku menemani temanku saja, dia sedang ada di dalam" Alister menunjuk ruang IGD.
"Apa temanmu sakit parah? " Tanya Andreas
"Tidak, dia menjenguk ibunya yang di rawat di sana" Ucap Alister "Apa kalian sedang berkencan di rumah sakit, dokter memang beda memilih tempat kencannya haha" Tawa Alister begitu renyah menggoda Andreas dan Zulfa.
"Tidak perlu menjelaskan kau berkencan juga sudah saatnya, karena kakak ku juga sudah akan menikah, aku lihat kemarin kau tidak datang "
"Aku sedang bekerja, aku juga sudah mengirimkan hadiah ku pada paman dan bibi, aku juga sudah mengucapkan selamat pada Fiona"
"Kalau begitu kalian lanjut berkencan aku ingin ke toilet" Ucap Alister sembari melangkah dan sedikit melambaikan tangannya.
"Aku tidak berkencan" Ucap lirih Zulfa sedikit terdengar suara sedih di sela perkataannya.
Andreas hanya mengamati dan sedikit mengerti tapi entah mengapa rasanya dia merasa sedih, entah sedih karena sebab apa tapi itu yang Andreas rasakan.
Melihat situasi yang berubah akhirnya Andreas memutuskan untuk menyudahi kegiatan nya berkeliling "Emm, Nona zulfa terimakasih untuk hari ini seperti nya saya harus kembali"
Mendengar itu Zulfa merasa tidak enak karena mungkin karena dia yang tiba-tiba diam membuat Andreas tidak nyaman "Ah maaf dokter Andreas apa saya membuat dokter merasa tidak enak? "
"Bukan begitu dokter Zulfa seperti nya Arion sudah menunggu ku, aku tidak mau dia kesal karena menunggu ku terlalu lama" Andreas tentu saja hanya beralasan dia tidak mungkin menjawab iya untuk pertanyaan Zulfa.
__ADS_1
"Seperti itu, baiklah lain kali jika ada kesempatan saya akan mengajak dokter berkeliling tempat yang belum sempat dokter lihat" Zulfa tersenyum
"Baiklah, saya pasti akan menantikan waktu itu, ja kalau begitu saya permisi" Andreas pamit dan melangkah meninggalkan Zulfa.
'Alister' Zulfa menekan dadanya yang terasa tidak enak dan menyebut nama Alister dalam diam.
****
"Tidak ada, Ranti sebenarnya.. " Seketika Daniel terdiam tidak bisa melanjutkan kata-kata nya
"Sebenarnya apa tuan? " Entah mengapa degup jantung Ranti berdetak lebih cepat
"Itu.. tidak ada lupakan saja" Ucap Daniel yang ragu untuk mengatakan isi hatinya.
"Hmm baiklah" Ranti kembali menikmati keindahan yang ada di depan matanya.
"Ranti? " Daniel tiba-tiba memanggil nama Ranti membuat Ranti kembali melihat kearah Daniel
"Tuan kenapa kamu bersikap aneh, apa tuan sakit? " Tanya Ranti yang mulai mendekat kearah Daniel "Permisi" Ucapnya lirih sembari menyentuh kening Daniel membuat pipi Daniel mulai memerah.
Daniel tersadar dan memundurkan tubuhnya sedikit "A.. aku baik-baik saja " Ucapnya sedikit gugup
"Syukurlah lalau begitu soalnya tuan bersikap sangat aneh"
"Ranti boleh aku bertanya? " Daniel melihat Ranti dengan tatapan serius.
Ranti mengangguk kecil dan tersenyum "Tentu saja"
"Se..seandainya ada orang yang melakukan kesalahan di masa lalu mu lalu dia kembali untuk menebusnya apa kau akan memberikan kesempatan dan memaafkan nya? i..ini hanya seandainya saja" Pertanyaan yang Daniel ucapkan seakan menguras tenaganya, Daniel sedikit takut mendengar jawaban Ranti.
"Emm, jika dia benar-benar serius untuk meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang sama tentu saja harus di maafkan" Ucap Ranti dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Setelah mendengar jawaban Ranti, tiba-tiba Daniel memeluknya "Ranti Maaf" Ucap Daniel yang terdengar penuh penyesalan.
"Maaf untuk apa? " Ranti terlihat sangat bingung dengan sikap dan ucapan Daniel.
__ADS_1
"Untuk malam itu, maafkan aku Ranti" Ucapan Daniel seketika membuat Ranti terdiam air mata Ranti tiba-tiba membasahi pipinya, sepertinya Ranti mengerti arah dari perkataan Daniel karena sentuhan tubuh Daniel mengingatkan nya pada malam yang mengerikan untuk nya. "Ranti maaf"