
"Rafael kau terlalu lama!" mendengar ucapan Arion Rafael menambahkan kecepatan nya.
'Olivia kau harus baik-baik saja' Arion menekan dadanya, dadanya terasa sakit perasaan nya merasa tidak enak.
Rafael mulai melambatkan laju mobilnya "Kenapa kau mengurangi kecepatan mu! " Ucap Arion
"Sebentar tuan" Rafael segera memutar balik mobilnya dan melewati jalanan yang sepi jalanan yang biasa terkena macet, bagaimanapun itu pagi hari.
Rafael mengemudikan mobilnya lagi, kali ini lebih cepat karena tempat yang mereka tujuan sudah mulai dekat dan tempat nya benar-benar sangat jauh dari pusat kota.
Rafael menghentikan mobilnya "Tuan " Baru memanggil tapi orang yang dia panggil sudah keluar tanpa bicara.
"Dari sini kita jalan, suruh anak buah mu kepung tempat ini" Ucap Arion.
"Mengerti tuan" Rafael mengkoordinasikan anak buahnya.
Ting pesan masuk di HP Arion tapi sayang HP Arion berada di dalam mobil, HP nya tertinggal.
Arion dan Rafael berjalan sudah cukup dekat dengan rumah tempat Olivia di tahan "Tuan di kamar mana Nona Olivia berada" Tanya Rafael.
"Aku akan lihat" Arion memeriksa celananya, memeriksa jasnya dia tidak menemukan ponselnya "Di mana handphone ku? " Arion menyadari dia meletakkan halnya begitu saja setelah sampai.
"Bagaimana tuan" Melihat tuannya kehilangan HP, Rafael ingin kembali.
Arion tau Rafael ingin mengambil HP nya tapi bagi Arion itu membuang buang waktu, Arion hanya menggeleng sekali dan Rafael mengerti isyarat Arion.
"Aku yakin bisa menemukan nya tanpa melihat GPS karena hati kami sudah terhubung" Ucapan Arion itu sedikit membuat Rafael geli sekaligus iri
'Apakah ini waktu yang tepat untuk berkata seperti itu? ' Rafael tidak menduga orang yang sedingin dan sekejam Arion bisa mengatakan hal yang seperti itu.
...
"Mereka di sana! " Ucap Aric yang melihat mobil Arion dan anak buahnya dia menghentikan mobilnya.
"Olivia ku harap kau baik-baik saja" Ucap Fiona dan Rania bersama-sama, mendengar perkataan meraka Aric tersenyum, dia tau kedua gadis yang bersamanya sama-sama menyayangi Olivia.
__ADS_1
"Dia pasti akan baik-baik saja" Aric meyakinkan keduanya dan mendapatkan anggukan dari keduanya.
"Aric kau lebih baik di sini saja, kau masih dalam masa pemulihan" Fiona khawatir tentang luka Aric.
"Kau pikir aku ini siapa? meski aku begini aku adalah anak dari Rayyan Baskoro Aditama, pelatihan tubuhku lebih kuat dari semua orang ".
" Kau ini, percuma aku mengkhawatirkan mu" Fiona menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Terimakasih sayang" Aric mengusap pucuk kepala Fiona dan sedikit mengadakan rambut nya
'Situasi apa ini? apa masih situasi yang sama? aku di mana? aku siapa? ' Perasan batin seorang jomblo meronta melihat kemesraan di depan nya. 'Rania tenanglah ' Ucap Rania dalam hati.
Rania segera turun dia tidak tahan melihat sisi romantis di saat genting.
"Baiklah kita segera menyusul Arion" Aric dan Fiona bergegas di ikuti oleh Rania, Rania selalu terhubung dengan kakaknya.
"Mereka lewat sini tuan" Rania berpindah di posisi depan dia menunjukkan jalan.
Mereka segera berlari saat Rafael dan Arion tengah di kepung "Haruskah kita bergabung" Ucap Fiona yang terlihat bersemangat.
'Bisakah aku juga di panggil sayang sebelum berkelahi' Iri dengki seorang jomblo merasuki hati Rania.
"tunggu, apa aku ketinggalan? " Ucap Alister yang sebenarnya sudah tiba terlebih dulu hanya saja menunggu mereka menyadari keberadaan nya tapi sayang, dua orang di hadapan nya merasa dunia hanya milik berdua dan satu orang gadis sibuk dengan kejombloan nya pada akhirnya kehadiran Alister tidak terdeteksi.
"Apa kau baru datang, lama! " Gerutu Fiona yang membuat Alister jengah.
"Aku sudah berada di belakang mobilmu dari tadi tapi aku seperti hantu tidak terlihat" Keluh Alister.
"Ma.. ma.. sudahlah jangan bertengkar ok" Keakraban antara Fiona dan Alister memang tidak di ragukan.
Rania tidak menunggu para tuan dan nona berdebat dia sudah bergabung dengan kakak nya.
"Rania kau datang" Ucap Rafael yang melihat adiknya
"Emm, tentu, kak kau terlalu lama habisi mereka semua" Rania yang biasanya terlihat seperti pembantu kini sudah memancarkan aura pembunuh berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Kedua orang itu menghajar puluhan orang dengan cepat saat keduanya menggunakan latihan mereka pertarungan ganda.
"Arion kau masuklah di sini serahkan pada kami" Ucap Aric yang menarik pistolnya.
"Aku mengerti habisi mereka yang menghalangiku" Ucap Arion yang berlari sembari menghajar orang yang mengepungnya.
Aric membidik orang orang yang menghalangi jalan Arion, Aric memilih metode menggunakan pistol karena Fiona melarang dia untuk bertarung dengan fisik...
Door... Satu tembakan mengarah pada Aric tapi Aric berhasil menghindar. "Kalian semua hati-hati di atas ada penembak jitu" Teriak Aric memperingati rekannya.
Alister mendongak ke atas benar saja satu orang mendapat kan satu sudut ubah menembak mereka "Kalian semua terus bergerak, kak Aric aku serahkan mereka padamu" Ucap Alister, mereka semua harus berkelahi dengan puluhan orang menggunakan gerakan lincah agar penembak jitu itu sulit membudidayakan mereka
Aric mengerti, saat ini dia harus mencari tempat yang pas untuk nya menghabisi para penembak jitu di atas.
Rocky berlari dari jauh dan mendekat ke arah mereka semua, dia tanpa bicara membuka jalan menghabisi yang menghalanginya untuk mengejar Arion.
"Rocky hati-hati " Ucap Fiona yang segera menendang orang yang ingin menikam Rocky.
"Terimakasih" Ucap Rocky sebelum berlari masuk ke dalam.
Anak buah musuh mereka semakin banyak, seperti nya mereka terus berdatangan, suara tembakan juga semakin terdengar seperti nya penembak nya semakin bertambah.
"Kak seperti nya mereka sudah mempersiapkan ini, kita masuk perangkap" Ucap Rania kepada sang kakak nafasnya terengah-engah bagaimana pun dia tidak bertarung dengan satu orang.
"Tenanglah kita pasti menang" Rafael menyemangati adiknya, mereka menempelkan punggung mereka dan terus berkelahi itu cara mereka bertarung.
Di sisi lain, tubuh Olivia sudah tidak sanggup menahan cambukan itu "Hahaha seperti nya kau sudah tidak sanggup? tapi aku masih punya sesuatu untuk mu" Ucap orang berjubah itu dia membuang pecut nya dan mengambil lilin di tangannya dan sebuah korek, Olivia dengan samar melihat itu.
Orang berjubah itu menyalakan lilinya sembari berjalan ke arah Olivia 'Apa dia ingin membakar ku' Olivia hanya bisa bicara dalam hati tenaganya sudah tidak ada tubuhnya sudah terluka bajunya sudah terlihat compang-camping akibat pecutan nya.
"Aku akan memberimu hadiah, wajahmu harus rusak dengan ini dengan ini Arion akan mencampakkan mu dan kau tau betapa buruknya pria bernama Arion itu" Ucapnya lagi.
Orang berjubah itu sudah dekat dengan Olivia yang sudah terkapar di lantai tak berdaya dengan kaki tangan di ikat, orang berjubah itu ingin meneteskan lelehan lilin di atas wajah Olivia namun dia berhenti "Si.. sial secepat ini menemukan keberadaan ku" Ucap orang berjubah itu dengan sembarang melempar lilin yang menyala itu ke ranjang kemudian pergi.
"Dia pergi, Olivia kau harus bangun" Ucap Olivia dengan susah payah berusaha untuk duduk.
__ADS_1
Api mulai membakar sprei yang ada di sana, Olivia menyadarinya saat duduk "Kebakaran ak.. aku harus segera keluar dari kamar ini" Kali ini Olivia berusaha bangun dan berdiri namun kakinya terasa sangat sakit.