MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG

MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG
Episode 169


__ADS_3

"Ak.. aku hanya bermain basket saja tidak.. tidak ada hal lain yang terja... " Tertentu ucapan Olivia sudah tertelan bersama bibirnya yang sudah di lahap habis oleh Arion...


Olivia mencoba mendorong Arion karena Olivia takut perbuatan mereka di lihat oleh Aleena tapi usaha Olivia sia-sia Arion tidak gentar dengan keadaan dia malah mencoba membuka kancing baju dress manis yang Olivia lakukan, Olivia menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Arion untuk menghentikan aktivitas yang Arion lakukan namun kode yang Olivia berikan sengaja tidak Arion hiraukan.


Olivia memukul Arion sebisanya dan akhirnya Arion melepaskan ciuman nya tapi tangannya masih berada di tempat yang sama.


"Ja.. jangan lakukan" Mencoba melepaskan tangan Arion dari dadanya namun tangan Arion benar-benar jahil dia bahkan menggerakkan tangannya membuat Olivia merasa geli "Emm ja.. jangan lakukan" Ucap Olivia lagi.


Arion menghentikan aktivitas nya dan menatap Olivia, Arion tersenyum melihat ekspresi Olivia yang menahan sesuatu yang membuatnya geli, Arion dengan jahil menggerakkan tangannya lagi membuat Olivia menahan suara "Ahhh emmmm he.. hentikan, ja..jangan lakukan" Wajah Olivia sudah memerah


"Kenapa? aku berhak melakukan nya bukan, Nyonya Arion" Goda Arion dengan suara khas laki-laki yang menggetarkan iman semua wanita.


"Tidak.. tidak di sini" Olivia sekilas melirik Aleena yang memejamkan matanya di jok belakang dengan posisi meringkuk membelakangi mereka handset pun masih terpasang di telinganya.


"Lalu di mana? apakah aku harus melakukan nya di rumah di kamarku?" Arion mengusap bibirnya dan sedikit mengedipkan matanya sungguh ekspresi yang sangat menggoda.


"Ak.. aku" Olivia tidak bisa menjawab Arion dia masih belum bisa sepenuhnya membuka hati, dan Arion tau jawabannya, Arion menarik tubuhnya dia membenarkan posisi duduknya membiarkan kancing baju dress Olivia masih terbuka.


"Sampai kapan aku harus menunggu kau siap! apa sampai aku kehilangan mu! , sarat yang kau berikan hampir terselesaikan" Ucapan Arion itu membuat Olivia memandang Arion dengan seksama, terlihat jelas wajah kecewa Arion.


"Apakah ibuku sudah membaik? " Olivia mengerti dengan ucapan Arion yang mengisyaratkan saratnya hampir selesai.

__ADS_1


"Ibu mu berada di kota lain bersama dengan paman Daniel, dia yang aku percaya mengurusnya bersama dengan more, kau jangan khawatir dokter spesialis kejiwaan ini sangat jenius dan berbakat" Arion masih berbicara dengan wajah kecewa nya sembari menghidupkan mobilnya kembali.


Mendengar ucapan Arion Olivia mulai termenung terdiam dan terus berfikir tentang apa yang dia lakukan dia seperti sedang memanfaatkan Arion 'Apa aku terlihat kejam, dia benarkah dia benar-benar mencintai ku? tapi walaupun tidak juga aku harus membalas budinya, haruskah aku menyerahkan diriku padanya? " Olivia bergulat dengan pikiran nya sendiri banyak yang dia harus pertimbangkan.


Terlalu larut Olivia dalam. pikiran nya sampai dia tidak sadar mobil nya sudah sampai di kediaman Arion, Arion bahkan sudah menggendong Aleena "Kau tidak ingin turun! " Wajah Arion berusaha menyembunyikan kekecewaan nya dia berulang kali harus memendam hasrat yang sudah bangkit.


'Ck! sejak kapan aku begitu lemah! " Ucap Arion dalam hatinya dia sebelumnya tidak akan bisa menahan untuk apa yang dia inginkan, dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara apapun, namun dia depan Olivia Arion merasa dirinya begitu lemah. 'Aku rasa aku sudah gila!' Arion terus menggendong Aleena setelah menyadarkan Olivia dari lamunannya.


Olivia turun dari mobil dan mengikuti Arion berjalan di belakang nya, Olivia terus menatap punggung yang semakin lama semakin menjauh ke depan meninggalkan nya.


****


Fiona dengan setia berada di sisi Aric, dia terus menunggu Aric untuk bangun, Fiona ingin jadi orang pertama yang di lihat Aric saat bangun nanti. "Kak aku akan menunggumu" Fiona Menggengam tangan Aric.


Fiona dengan cepat menggelengkan kepala nya "Aku tidak lapar" Ucap Fiona dengan senyum pura-pura nya di wajahnya, Fiona menyembunyikan semua yang dia rasakan saat ini, ketakutan, khawatir sedih semua menyatu jadi satu di rasakan Fiona.


"Jangan makan karena lapar kak, makanlah untuk kesehatan mu, jika kau jatuh sakit mungkin orang yang di lihat kak Aric untuk pertama kali Itu aku bukan kamu" Canda Alister yang memiliki maksud baik.


"Aku mengerti aku akan makan sesuatu" Ucap Fiona yang akhirnya mengambil apa yang alister bawa dia memilih makanan ringan dia tidak bisa makan berat sekarang jadi Fiona hanya makan buah yang Alister bawa juga di dalam kantung plastik itu.


Setelah Fiona makan Fiona kembali duduk di dekat Aric, Alister melihat kakaknya yang begitu khawatir dan mengusap punggung kakaknya membuat Fiona menatap adiknya itu "Ada apa? " Tanya nya yang heran karena sikap adiknya itu.

__ADS_1


Alister menggelengkan kepalanya "Kakak kau harus menjaga orang yang mencintaimu dengan baik, dia adalah orang yang sangat tulus mencintai mu" Ucapan Alister itu membuat Fiona bertanya.


"Dari mana kau tau dia menyukai ku? " Fiona seperti nya belum cerita kepada Alister tentang pengakuan Aric.


"Hah dasar! kau memang selain cerewet juga tidak peka, dari dulu kak Aric selalu membuatmu menjadi yang pertama, seorang laki-laki yang melakukan itu berarti laki-laki itu benar-benar tulus kepada wanitanya, hanya saja sial untuk kak Aric kenapa bisa mencintai wanita yang begitu tidak peka" Ledek Alister membuat kakaknya menekuk wajahnya.


"Huh maaf saja jika aku tidak peka, aku hanya terjebak dengan masa lalu, kali ini aku akan melangkah dan menatap hari esok bersamanya" Ucap Fiona dengan sangat yakin membuat Alister terseyum.


"Itu baru kakak ku" Ucap Alister dengan bangga dan tiba-tiba berjalan meninggalkan Fiona membuat Fiona merasa heran


"Hei kenapa tiba-tiba pergi? " Tanya Fiona dengan nada sedikit keras karena Alister yang berjalan dengan cepat.


"Jika aku tidak pergi sekarang aku takut aku akan jadi nyamuk! " Alister segera menutup pintu sedangkan Fiona masih berfikir namun pikiran nya langsung mendapatkan jawaban saat matanya menemukan dua pasang mata yang baru terbangun.


"Benarkah apa yang kau katakan Fiona? " Ucap lirih Aric membuat Fiona merasa malu.


"Itu? " Fiona merasa gugup dengan pertanyaan Aric, Fiona tidak menyangka Aric mendengar perkataan nya


"Fiona ayo kita menikah" Ucapan Aric itu mampu membuat Fiona membulatkan matanya, dia tidak menyangka Aric akan mengatakan hal itu di saat seperti ini.


Fiona terdiam membuat Aric tiba-tiba menyadari seharusnya dia tidak mengajak nya menikah di situasi ini "Apa aku terlalu terburu-buru? maka.. " Ucapan Aric terhenti saat tangan Fiona menyentuh bibir Aric.

__ADS_1


Fiona menganggukkan kepalanya dan mengusap bibir Aric "Aku bersedia" kemudian mencium bibir Aric dengan lembut.


__ADS_2