
Setelah ucapan Fiona di telepon tadi membuat Aric tidak bisa tidur "Bagaimana ini apakah Fiona akan terluka" Aric sangat khawatir dengan perasaan Fiona nantinya karena akhir akhir ini Arion sudah menunjukkan terang-terangan rasa sukanya pada Olivia
"Sebaiknya aku hubungi Mama, untuk bertanya" Ucap Aric namun Aric mengurungkan niatnya karena sudah larut malam akhirnya dia kembali ke kamarnya melempar ponselnya dan dirinya ke ranjang empuk miliknya, Aric menatap langit langit kamarnya.
Aric mencoba untuk tidur tapi dia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali "Akhhhhhhhh ini sangat menganggu" Aric terduduk dan mengacak-acak rambutnya "Perasaan ini sangat rumit! akhh benar-benar menjengkelkan" Aric akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil air agar dirinya merasa tenang
Di sisi lain
Rocky menatap Rafael dengan tatapan penuh selidik
"Tu.. tuan Rocky kenapa menatap ku seperti itu? apa ada yang salah? " Ucap Rafael
"Kau yakin kau tidak salah melakukan perintah? " Ucap Rocky yang heran melihat Rafael membawa ibunya Andreas ke markas dengan wajah yang sudah lebam
"Tentu saja tuan, saya sangat yakin" Ucap Rafael dengan wajah yang penuh dengan keyakinan
"Kau yang melukainya? " Tanya Rocky yang membuat Rafael bingung kenapa Rocky begitu banyak pertanyaan karena sebenarnya Rafael pun tidak terlalu mengenal wanita tua yang dia bawa, dia hanya mandang dia mengatakan bahwa dirinya adalah ibunya Andreas tapi Rafael pikir hanya tipuan dari wanita tua itu
"Ck! ck! apa yang sebenarnya terjadi? " Ucap Rocky menunggu jawaban Rafael
"Dia sudah menyakiti Nona Olivia di rumah sakit, dan tuan menyuruhku memberikan pelajaran yang sama" Ucap Rafael
"Dia menyakiti Olivia dan kau hanya menampar nya! itu tidak setimpal" Ucap Rocky yang berubah setelah mendengar penjelasan Rafael
"Aku sudah menyuruh mereka untuk memberikan pelajaran di tangan wanita tua itu, karena tangan nya yang sudah menyakiti nona Olivia, tapi untuk selanjutnya aku masih menunggu kedatangan tuan Arion, seperti apa yang doa perintah kan" Ucap Rafael memperlihatkan pesan yang Arion berikan
"Mematahkan tangannya, Arion masih memberikan muka pada Andreas, aku pikir karena mereka menjadi rival mereka akan bermusuhan sampai ke tulang" Rocky tersenyum tanpa sebab membuat Rafael merinding melihat nya
*Arion kau sudah banyak berubah, jika itu dulu aku yakin kau tidak akan berbaik hati seperti ini, aku rasa Olivia memang wanita yang tepat untuk mu, dia mampu mengembalikan hati mu itu! " Ucap Rocky inilah alasan Rocky tersenyum dia bahagia sepupu nya sudah banyak berubah tidak berhati iblis lagi
"Tunggu Arion bilang akan segera kemari tapi kenapa dia belum datang? " Ucap Rocky yang teringat pesan di HP Rafael tadi yang mengatakan dia juga akan segera ke markas
"Soal itu aku tidak ta.. " Ucapan Rafael terhenti saat Dion tiba-tiba keluar dari ruang rahasia dan mencari keberadaan Rocky
__ADS_1
"Rocky tu... tuan dalam bahaya" Ucap Dion dengan wajah panik
"Dia mana mungkin bisa dalam bahaya" Rocky menanggapinya dengan santai meski ada sedikit ke khawatiran di hatinya
"Lihat pesan yang dokter Andreas kirimkan, ada beberapa mobil yang mengikuti mereka, pesan ini baru aku bajak di kirim setengah jam yang lalu" Ucap Dion
"Dion kau lacak Arion sekarang" Ucap Rocky yang mendapatkan anggukan dari Dion
Di tempat lain Arion sedang menikmati pertarungan nya
Pemimpin kelompok itu sudah terlihat kewalahan melawan Arion di tambah hanya tinggal beberapa orang yang masih bisa berdiri namun dengan wajah yang sudah babak belur di buat oleh Arion
Pemimpin kelompok itu baru menyadari level mereka berbeda dia benar-benar pemimpin Leviathan.
Arion melemparkan satu anak buah pemimpin itu lagi tepat di depan pemimpin yang sedang bersiap untuk menyerang Arion lagi, Arion sedikit melirik ke arah Andreas, Andreas terlihat kewalahan bagaimana pun besik Andreas adalah dokter bertarung hanya kegiatan yang Andreas lakukan sesekali bersama dengan Arion
Pemimpin kelompok melihat Arion sedng melirik ke arah Andreas itu adalah kesempatan untuk menyerang dia mengambil pisau yang tadi dia cabut dari dadanya pisau milik Arion, dia mengarahkan kepada Arion
Grep... Arion menangkap pisau itu dengan tangan kosong membuta pemimpin itu gemetaran sehingga melepaskan pisau itu, Arion melemparkan pisau itu ke sembarangan arah "Sudah cukup bermainnya! " Teriak Arion dia berlari menendang pemimpin kelompok itu hingga tersungkur jatuh ke bawah, Arion menginjak tubuh pemimpin kelompok itu, Arion menarik kasar rambut pemimpin itu dan terlihat darah di tangan Arion terjatuh di wajah pemimpin itu, membuat pemimpin itu takut dan gemetaran.
"Ck! kau diam dulu di sini jika kau berani kabur akan ku makan daging mu! " Ucap sadis Arion yang membuat pemimpin itu benar-benar tidak bisa menelan ludahnya
Arion mengikat pemimpin itu dengan dasi miliknya ikatan yang sangat kencang meski itu bukan tali
Arion segera berlari ke arah Andreas, membantu Andreas mengalahkan 3 orang yang masih berdiri melawan Andreas
"Kau harusnya menyuntik mati mereka! " Ucap Arion yang menendang orang yang akan menyerang Andreas dari belakang
"Berisik! jika aku tau aku sudah membawanya akan khusus suntik mati mereka semua" Ucap Andreas kesal dengan wajah dan suara yang terengah-engah karena sudah kelelahan
"Kau awasi saja pemimpin itu, aku selesaikan ini" Ucap Arion yang tidak tega melihat dokter tampan dan berwibawa itu terengah-engah karena sebuah pertarungan
"Baiklah, kau yang memaksa" Ucap Andreas tidak sungkan dia, segera pergi ke arah pemimpin yang sudah terikat
__ADS_1
Dua orang itu tidak sampai dua menit sudah terkapar tak berdaya di bawah karena serangan Arion.
"Andreas kita bawa pemimpin kelompok itu ke markas" Ucap Arab berjalan ke arah Andreas
Aku mengerti, Andreas menarik kasar pemimpin itu membawanya masuk ke dalam mobil, Andreas masuk ke dalam mobil dan baru menyadari tangan Arion yang terluka "ka.. kau terluka?"
"Luka kecil" Ucap Arion singkat, luka di tangan tidak ada apa-apa nya untuk Arion
Andreas mengambil jas dokter nya menyobek nya dengan pisau yang masih dia simpan dan membalas luka Arion "Biar aku yang menyetir" Andreas turun setelah membalut luka Arion mereka bertukar tempat
Arion hanya diam dan menyetujui perkataan Andreas, mereka sekarang sedang dalam perjalanan ke markas
sesampainya dia di markas, Arion melihat Rocky, Rafael dan dion sudah bersiap dengan anak buahnya
Arion turun dengan santainya dan berjalan ke arah mereka semua "Kalian mau kemana? " ucapnya santai
"Kau baik-baik saja, sia-sia aku khawatir" Ucap Rocky yang sebenarnya lega melihat Arion baik-baik saja
"Memangnya ada orang yang bisa membuatku tidak baik-baik saja" Ucap sombong Arion
"Sialan! tentu saja ada" Ucap Rocky tak kalah sombong
"Siapa? " Ucap Arion yang merasa tidak ada orang yang mampu membuatnya begitu
"Nenek dan Olivia" Ucapan itu mampu membuat Arion diam sejenak, begitupun langkah Andreas yang terhenti karena nama Olivia di sebut
Andreas memantapkan langkahnya *ayolah Andreas kau harus melepaskan nya" Andreas meyakinkan dirinya
"Rafael bawa seseorang di dalam mobil bawa dia ke penjara bawah tanah" Ucap Arion yang berjalan masuk ke markas
Rafael membawa keluar pemimpin kelompok yang menyerang Arion, Rocky melihat orang itu saat Rafael menarik paksa untuk masuk ke dalam markas
Rocky sedikit berlari untuk mengejar Arion, kini Rocky sudah di samping Arion dan bertanya "Dia yang menyerang mu? "
__ADS_1
"Ya" Jawab singkat Arion
"Seperti nya aku tau sesuatu" Ucap Rocky yang membuat Arion menghentikan langkahnya menatap Rocky seakan meminta pertanggung jawaban atas perkataan nya