MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG

MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG
Episode 52


__ADS_3

"Bagaimana kondisi istriku dokter jawab!!" Ucap Rayyan langsung mendekat kepada sang dokter. Dia tidak sabar mendengar ucapan dokter itu meski dokter itu hanya mengambil waktu untuk menghela nafas saja, Tapi Rayyan tak sabar.


"Nyonya Tiara sudah melewati masa Kritis, kondisi nya sudah cukup stabil, mungkin beberapa jam Nyonya akan sadar" Ucap Dokter itu membuat semua orang merasa lega benar-benar lega.


Aric yang sifatnya lebih terbuka, merasa bersalah karena telah menuduh saudara kembarnya menyakiti sang ibu. Nyatanya berkat Arion yang menjaga ibunya, ibunya bisa melewati masa kritis *Ma kau sadar karena tau Arion di sini ya" Ucap Aric dalam hati.


"Apa saya bisa menjenguk istri saya dokter? " Tanya Rayyan tak ingin menyiakan waktu dia ingin dirinya orang pertama yang Tiara lihat saat sadarkan diri.


"Tentu Tuan tapi hanya boleh satu orang saja" Ucap dokter itu


"Saya mengerti" Ucap Rayyan


"Kalau begitu saya permisi Tuan Rayyan" Ucap dokter itu yang segera berjalan di ikuti perawat di belakang nya.


Rayyan sudah berada di ruangan Tiara melihat tiara yang akhirnya terlepas dari alat medis yang menempel di tubuhnya, tidak semua terlepas masih ada infus dan alat bantu bernafas terpasang di sana.


"Sayang, apa kau tau Arion datang? dia menjagamu dengan baik" Rayyan menggenggam tangan istrinya "Tapi dia sangat dingin padaku" Ucap Rayyan lagi mengeluh pada istrinya sikap apa yang Arion tunjukkan padanya.


Di tempat lain


"Tuan kau mau kemana? " Teriak Olivia yang sudah lelah mengikuti Arion yang berjalan menaiki tangga padahal Ada lift di rumah sakit itu.


Arion tetap diam, dan masih dengan santai menaiki anak tangga itu, untuk Arion menaiki ratusan anak tangga adalah hal biasa di banding pelatihan nya di masa muda, tidak bukan masa muda tapi masa kecil. Arion mengikuti banyak pelatihan dia menguasai banyak senin beladiri, Arion menguasai seni menembak, Arion bisa memainkan piano, merentas, banyak keahlian yang Arion miliki bahkan dia memiliki lencana untuk menggerakkan pasukan militer makan dari itu dia di kenal sebagai penguasa di negara A, bahkan pemimpin negara itu akan berfikir ribuan kali untuk menyinggung Arion.


"Tuan aku sangat lelah, bisakah kita berhenti" Nafas Olivia tersengal-sengal *Apa dia jika marah melampiaskan nya dengan aktivitas fisik " Gerutunya Olivia dalam hati dia benar-benar sudah tidak kuat lagi, kakinya gemetar dia berhenti sejenak dia takut jika dia terus menaiki anak tangga itu dia akan jatuh.


"Hufh.. Hah.. Hufh" Olivia mengatur Nafasnya dia menatap kedua kakinya yang gemetaran Namun tiba-tiba tubuhnya terangkat dan, tangan Olivia refleks melingkar ke leher Arion, Olivia menatap lurus ke dada bidang Arion, tak bisa di pungkiri sekarang detak jantung nya berdetak lebih cepat.


Olivia sekilas menatap wajah Arion yang biasa saja menggendong Olivia sembari menaiki anak tangga.

__ADS_1


Saat ini mereka sampai di gedung paling atas, Arion menurunkan Olivia dan berjalan menatap senja di gedung itu, Mata Olivia berbinar melihat pemandangan indah di hadapan nya.


"Apakah Tuan suka berada di tempat tinggi saat merasa tidak nyaman? " Tanya Olivia pada Arion. Arion menyukai tempat tinggi sama seperti ibunya.


"Apa dia akan baik-baik saja" Kalimat itu yang malah keluar dari mulut Arion


"Tenanglah Tuan, Nyonya akan baik-baik saja saya yakin " Ucap Olivia yang berusaha meyakinkan Arion.


"Aku harap begitu " Ucap Arion lagi menatap senja yang makin meninggi


"Tu... Tuan" Ucap Olivia sedikit takut


"Hmm"


"Apa sebenarnya yang terjadi? " Ucap Olivia yang sangat penasaran dengan kejadian apa yang membuat Arion dan keluarga nya terpecah.


Arion tersadar sikapnya kepada Olivia terlalu baik membuat Olivia berani menanyakan hal seperti itu, dia berjalan ke arah Olivia mantap Olivia tajam.


Arion terus berjalan mendekat ke Olivia, Olivia pun berjalan mundur menjauh dari Arion, "Teruslah mundur dan kau akan jatuh dari sini" Ucapan Arion membuat Olivia menghentikan langkahnya menengok ke belakang benar saja beberapa langkah lagi mungkin dia akan jatuh dari atas gedung itu.


"Tuan ma.. maafkan saya, saya tidak akan berani bertanya lagi" Olivia diam dengan tubuh gemetar namun Arion terus mendekat ke arahnya.


Wajah Arion semakin dekat, Olivia baru menyadari ujung bibir Arion terluka, Arion yang ingin berbicara tiba-tiba terhenti saat tangan halus dengan sapu tangan mengusap lembut bibirnya "Tuan ayo kita turun ujung bibirmu membiru" Ucap Olivia tulus


Arion melihat mata Olivia yang begitu jernih, wajah mereka yang dekat membuat Arion langsung mencium bibir Olivia, membuat Olivia membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang Arion lakukan. Olivia mendorong tubuh Arion, membuat Arion tersadar dengan apa yang dia lakukan dan menyudahi ciuman itu.


Suasana menjadi hening, Kali ini Arion juga tidak tau kenapa dia mencium Olivia. mereka masih dalam.


*Ada apa denganku? " Jantung nya semakin berdetak kencang memikirkan ciuman singkat itu.

__ADS_1


Olivia tengah larut dalam pikiran nya sendiri sampai dia melihat Arion bergerak, dan berjalan menjauh darinya.


"Tuan Arion mau kemana? " Tanya Olivia


"Ke Bandara kita pulang" Ucap Arion yang terasa berbeda pada dirinya.


"Kita? " Olivia terkejut dengan ucapan itu.


"Kenapa? kau adalah barang milik ku! kau harus pulang dengan ku bukan? " Ucap Arion yang membuat Olivia sedikit kecewa.


Meski perlakuan Arion tak begitu kasar seperti dulu bahkan menciumnya begitu lembut tapi ternyata dirinya masih hanya sebuah barang di hadapan Arion.


"Arion kau disini " Ucap seseorang yang kini berada tepat di hadapan Arion meski jaraknya cukup jauh


"Ada apa Tuan Aric mencari ku, apa ibu mu sudah mati! " Ucap Arion yang teringat kejadian tadi. dan masih terus berjalan tanpa memperdulikan kedatangan Aric


"Jangan katakan begitu dia Mama kita, Aku minta maaf telah memukulmu dan mengatakan hal yang tidak baik, aku hanya takut kehilangan Mama" Aric bersungguh-sungguh meminta maaf pada Saudara nya itu.


"Simpan Maaf mu karena aku bukan Tuhan yang maha Pemaaf! " Ucap Arion yang berjalan melewati Aric dengan begitu saja.


Sedangkan Olivia menunduk melihat Aric dan tetap berjalan di belakang Arion.


"Tunggu! Apa kau akan pergi" Ucap Aric yang kini menatap punggung saudara nya itu.


Arion menghentikan langkahnya " Untuk apa aku berlama-lama di tempat yang seharusnya aku tidak ada! " Ucap Arion


"Apa kau tidak ingin menemui Mama saat dia siuman nanti? " Tanya Aric


*Siuman? dia benar baik-baik saja" Tanpa sadar Arion merasa lega atas informasinya yang dia dengar

__ADS_1


"Tunggu sampai Mama siuman dia pasti senang bertemu dengan mu" Ucap Aric yang tidak di tanggapi oleh Arion


Olivia menatap Punggung Arion *Apakah Tuan akan menemui Mama nya? " Ucap Olivia dalam hati.


__ADS_2