MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG

MENIKAH DENGAN PENGUASA SOMBONG
Episode 240


__ADS_3

Sampai akhirnya sudah keluar, dokter membuka kertas yang merupakan hasil pemeriksaan Olivia, dokter menarik nafasnya dan mulai membaca hasilnya "Tuan Arion nona Olivia hasil pemeriksaan nya nona Olivia selamat ada positif hamil" Ucapan dokter itu membuat pasangan suami istri itu teel aku sejenak.


"Sayang kau hamil, Arion junior akan segera hadir" Arion langsung memeluk istrinya itu mengecup keningnya "Terimakasih" bisiknya lembut membuat air mata bahagia turun ke pipi Olivia.


Untuk sejenak mereka melupakan dokter yang sedang menatap mereka iri, 'Suaminya sangat romantis' Ucap kagum dokter itu namun hanya bisa di ucapkan dalam hati.


"Ekhm.. Tuan nyonya selamat ya, karena dari perhitungan nyonya Olivia mungkin mengandung baru 3 minggu jadi saya belum melakukan pemeriksaan USG, tapi setelah usia 4 atau 5 minggu kita bisa melakukan USG Sebab, pada usia tersebut sudah bisa dideteksi kantung kehamilan serta perkembangan janin di dalam perut ibu, untuk sekarang saya akan memberikan vitamin untuk kandungan nyonya Olivia, setelah itu 2 minggu kemudian tuan dan nyonya bisa datang kembali untuk melakukan USG" Ucapan dokter itu membuyarkan sisi romantis dunia milik berdua milik Arion dan Olivia.


"Hmm, baiklah berikan vitamin terbaik" Ucap Arion yang melepaskan pelukan nya tapi tidak dengan genggaman tangannya.


Mereka selesai melakukan konsultasi dan pemeriksaan kali ini mereka menuju apotik untuk menebus vitamin yang sudah di resepkan oleh dokter kandungan Olivia.


Sekian lama mereka menunggu alhasil nama Olivia di sebut, sebenarnya Arion dan Olivia di minta untuk menunggu di ruang pemeriksaan saja, namun Olivia tidak mau merasa pasien yang di belakang nya merasa di bedakan jadi dia meminta untuk mengambil obatnya sendiri di apotik seperti pasien lain yang tidak memiliki kuasa.


"Sepertinya Andreas belum selesai berkeliling, lebih baik kita pulang dan menyuruhnya pulang sendiri" Ucap Arion sembari menarik tangan Olivia.


Olivia menggelengkan kepalanya "Boo aku lihat di depan rumah sakit ada sebuah cafe kecil bisakah kita menunggu di sana? " Olivia menantikan jawaban Arion.


"Tidak! cuaca mulai terik jika berjalan ke sebrang kau akan terpapar sinar matahari" Ucap Arion yang membuat Olivia tertawa kecil.


"Boo, ini jaraknya tidak jauh"


"Tidak, kalau begitu kita berputar menggunakan mobil, biar Andreas saja yang menyebrang" Ucap Arion.


"Kunci mobilnya? " Olivia seperti nya tidak melihat Andreas memberikan kunci mobil nya pada Arion.


"Ah sial ada padanya" Olivia tertawa ternyata ada saat tuan penguasa yang sombong inu melakukan hal yang ceroboh berbicara tanpa berfikir.


"Sudahlah Boo kita berjalan saja ok"


"Tidak! tidak tidak! " Arion tidak mengizinkan Olivia berjalan menyebrang.

__ADS_1


"Zebra cross agak jauh letaknya dari rumah sakit kita sedikit memutar aku tidak mau kau berjalan lama di bawah terik matahari" Arion bersikukuh tidak mengizinkan Olivia pergi ke cafe.


Sebenarnya sebelum mengenal Arion Olivia sudah terbiasa berjalan atau menggunakan angkutan umum karena kehidupan nya bersama Mario Harris memang tidak mudah untuk Olivia. Tapi setelah mengenal Arion dan menikah dengan nya, Arion menjadikan nya seperti Ratu membuat Olivia senang namun sedikit terkekang.


"Sudahlah kalau begitu kita menunggu saja di cafetaria rumah sakit" Olivia akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pergi ke cafe yang ada di sebrang rumah sakit.


"Itu pilihan yang tepat sayang, kita bisa menunggu di sana sambil" Arion mengedipkan matanya menggoda istrinya.


"Sambil makan maksud nya" Ucap Olivia meneruskan kata-kata Arion.


"Iya, sambil makan kamu" Bisik Arion yang membuat Olivia bergidik ngeri.


Di sisi lain


Daniel sudah berada di halaman keluarga Aditama, dia belum berani untuk masuk ke dalam rumah ada keraguan dan kebimbangan yang terus mengusik pikirannya "Ayolah Daniel kau harus selesaikan semuanya " Setelah mengucapkan itu Daniel melepaskan sabuk pengaman nya dan bersiap untuk turun tangan nya sudah akan membuka pintu mobil namun tiba-tiba dia mengurungkan niatnya dan melempar tubuhnya bersandar lagi ke kursi pengemudi.


"Tunggu dulu, jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana bagaimana, bagaimana jika nanti setelah dia mendengar semuanya dia akan membenciku, bagaimana tunggu apa yang harus aku lakukan" Daniel terlihat sangat frustasi dia ingin berbicara jujur tentang dia adalah laki-laki di malam itu pada Ranti namun di sisi lain Daniel juga tidak ingin mengatakan dia takut Ranti akan membencinya.


"Akhhhh, Daniel berhenti jadi pengecut, kau bukan pengecut" Daniel berbicara pada dirinya dan Plak... terdengar suara tamparan di kedua pipi Daniel, Daniel menepuk kedua pipinya untuk menyadarkan dari kegelisahan nya.


Daniel menatap rumah yang di tinggalin oleh Ranti itu dan berjalan masuk.


Daniel tidak perlu menekan bell rumah karena pintunya sudah terbuka seperti nya asisten rumah tangga masih belum selesai untuk bersih-bersih.


Daniel masuk kedalam rumah di ruang tamu terlihat Ranti dan Tiara sedang mengobrol.


"Kak kau sudah datang" Ucap Tiara yang sudah tau hari ini Daniel dan Ranti akan pergi.


"Ya" Jawab singkat Daniel


"Bagus kalau begitu bawa ibu Ranti bersenang-senang" Tiara berdiri dan menarik Ranti dan sedikit mendorong nya maju ke arah Daniel.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan ke arah mobil, sebagai lelaki yang Gentleman Daniel membukakan pintu untuk Ranti.


"Terimakasih" Ucap Ranti tersenyum sembari menganggukkan kepalanya


Daniel sekilas tersenyum dan berlari kecil untuk masuk dan duduk di belakang kemudi.


Daniel melajukan mobilnya dengan Hati-hati dia mencoba untuk konsentrasi saja menyetir tapi ternyata tidak bisa jantung nya terus bergemuruh memikirkan bagaimana nanti dia akan memulainya.


"Tuan" Suara Ranti membuyarkan pikiran berlebihan Daniel.


"Ah iya, ada apa? Ranti sudah ku bilang untuk memanggilku Daniel saja bukan" Ucap Daniel sekilas melirik ke arah Ranti.


"Tuan sepertinya sedang gelisah, tuan terlihat tidak berkonsentrasi saat menyetir" Ranti sengaja mengajak Daniel berbicara agar Daniel lebih sadar saat dia sedang menyetir.


"Tidak sama sekali, aku tidak memikirkan apapun" Jawaban Daniel itu membuat Ranti mengerti kalau jawaban yang sebenarnya adalah kebalikannya Daniel memang sedang gelisah karena memikirkan sesuatu.


Ranti mengangguk "Baik kalau begitu saya bisa tenang, saya takut tuan kurang berkonsentrasi menyetir" Ranti mengatakan itu sambil tersenyum.


"peringatan yang begitu manis, tenang saja kita akan baik-baik saja" Daniel terlihat mulai lebih santai saat melihat senyum di wajah Ranti.


Daniel memarkirkan mobilnya ke sebuah taman, Daniel keluar dan membukakan pintu mobil untuk Ranti.


Mereka berdua kini berjalan ke sebuah danau ternyata taman itu memiliki Danau yang begitu indah.


Mereka duduk di bangku yang di sediakan di sana tempat duduk yang mengarah langsung pada pemandangan danau yang sangat indah.


"Indahnya, mungkin akan lebih indah jika kita datang lebih pagi" Ucap Ranti tersenyum membayangkan dia melihat matahari terbit dari danau itu.


"Sore nanti juga akan terlihat cantik sama cantiknya dengan orang di sebelah ku" Ucapan Daniel membuat Ranti sedikit terkejut dan juga malu-malu.


"Tuan apa yang kau katakan" Wajah Ranti mulai memerah.

__ADS_1


"Tidak ada, Ranti sebenarnya.. " Seketika Daniel terdiam tidak bisa melanjutkan kata-kata nya


"Sebenarnya apa tuan? " Entah mengapa degup jantung Ranti berdetak lebih cepat


__ADS_2