
Fiona berjalan ke arah cafe, namun dia melangkah begitu tak bertenaga dia masih teringat akan ucapan Arion.
Fiona terus melangkah sampai tidak terasa dia sudah sampai di depan meja cafe, dia dan Aric tanpa sengaja bertemu pandang membuat Fiona malah merasa aneh, 'Ada apa denganmu Fiona tidak-tidak yang di katakan kak Arion belum tentu benar, bisa saja mereka bekerja sama" Fiona meyakinkan dirinya tentang pembicaraan nya dengan Arion itu belum tentu sebuah kebenaran.
"Kak Fiona ada apa kau terlihat lemas? " Tanya Aleena yang berpura-pura tidak tau apa-apa, padahal dia sudah melihat semua yang terjadi.
"Em aku baik-baik saja Aleena jangan khawatir, di mana yang lain? " Fiona mencari keberadaan Rocky, Arion, Alister dan juga Olivia.
"Em itu, kak Olivia tidak enak badan jadi kak Alister mengantarkan pulang, sedangkan kakak dam kak Rocky mereka juga sudah pergi" Jelas Aleena pada Fiona, Fiona mengangguk pelan tanda dia mengerti.
"Jadi kita juga pulang? " Tanya Fiona entah mengapa setelah ucapan Arion itu, Fiona merasa sulit untuk menatap Aric padahal dia ingin bertanya tentang apa yang Arion katakan.
"Em, Aleena masih ingin berjalan-jalan kak, kak Aric kau sudah lumayan lama di sini pasti sudah lumayan akrab dengan negara ini, ajak Aleena jalan-jalan ya" Aleena memasang wajah imutnya berharap Aric akan menuruti permintaan nya
"Tidak Mama akan marah jika kita pulang terlalu larut, Aleena kita pergi lagi besok ya" Aric memikirkan kesehatan Aleena dia takut Aleena terlalu lelah dia baru saja sampai sudah bermain air dan ingin bermain lagi itu tentu tidak akan baik untuk tubuh Aleena
Aleena menggembungkan pipinya dia merasa enggan untuk pulang, karena dia telah lama menantikan saat ini tapi seperti yang kakaknya bilang dia juga tidak ingin mamanya marah dan khawatir "Hmm baiklah, tapi besok kakak harus membawa Aleena jalan-jalan lagi ya" jika ingin pulang Aleena tentu saja mengajukan syarat dia tidak ingin rugi.
"Baiklah besok kita jalan-jalan lagi" Aric berdiri dari duduknya mengusap kepala Aleena kemudian menggendong gadis kecil itu yang langsung menempel pada Kakaknya itu.
Mereka bertiga pulang bersama di sepanjang jalan Fiona berfikir kapan waktu yang tepat untuk nya bertanya, apakah benar yang Arion ucapkan atau hanya sandiwara belaka 'Kalung ini apa benar dia yang memberikannya 'ucap Fiona dalam hati sembari melirik Aric yang sedang menyetir.
Aleena duduk di jok belakang dan sudah merasa ngantuk, Aleena membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Fiona melihat Aleena yang sudah terlelap kemudian menghela nafasnya dan melihat kearah Aric yang tengah serius menyetir.
"Ekhm apa di wajahku ada sesuatu? kenapa sedari tadi kau mencuri pandang? " Ucapan Aric itu membuat Fiona menjadi gugup, baru pertama kali dia bisa se gugup itu di depan Aric.
"Itu hanya perasaan kak Aric saja, aku tidak sedang mencuri pandang" Jawab Fiona berusaha melihat ke depan.
"Kau sangat aneh, apa kau sakit? " Tanya Aric yang menyadari sedari tadi prilaku Fiona terlihat tidak seperti biasanya.
"Em, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan" Fiona akhirnya mengutarakan apa yang ingin dia ucapkan sedari tadi.
"Tanyakan saja selama aku bisa menjawabnya aku akan menjawab pertanyaan mu " Aric dengan santai menjawab, dan sekilas melirik ke arah Fiona yang ternyata melihat ke arahnya, kedua pasang mata itu saling bertemu.
Fiona segera memalingkan pandangan nya kemudian mengatur nafasnya "Kak Aric... " Kenapa tiba-tiba Fiona merasa ragu untuk bertanya.
Sepasang mata tajam menatapnya "Apa yang kau katakan barusan" Mata yang begitu menusuk membuat Olivia menundukkan kepalanya
Arion melangkah masuk dan menutup pintu nya, dia mengangkat dagu Olivia perlahan "Kena diam! " Aura di sekitar Arion begitu mendominasi membuat Olivia ketakutan dia bahkan tidak berani menatap mata Arion.
Arion menekan dagu Olivia terlalu kuat karena kemarahan pada dirinya, Olivia mengaduh kesakitan membuat Arion melepaskan tangannya dari dagunya, tapi matanya tidak lepas dari Olivia
"Kau ingin pergi dariku? apa karena kau sudah mendapatkan Alister! apa kau pikir dengan bersama Alister kau bisa meninggalkan ku! tidak akan mungkin" Rahang Arion mengeras mengingat ucapan Olivia yang ingin meninggalkannya.
Olivia menggelengkan kepalanya dengan cepat "Tidak.. tidak ada hubungan nya dengan Alister" Sanggahan Olivia itu semakin memperburuk suasana hati Arion yang tengah cemburu itu.
__ADS_1
"Kau membela nya! apa yang dia katakan padamu! sampai kau ingin meninggalkan ku hah! " Arion tanpa sadar menarik tangan Olivia dia tidak ingin Olivia pergi darinya.
"Dia tidak mengatakan apapun" Olivia merasa ketakutan dan juga kesakitan. "Au" berusaha melepaskan tangan Arion yang cengkraman nya semakin kuat.
"Lalu kenapa ingin pergi? katakan! " Menatap tajam Olivia, saat ini Arion sangat butuh jawaban dari Olivia, namun Olivia bahkan tidak berani menatap Arion.
Sikap Olivia itu semakin membuat Arion kesal tanpa sebab cemburu semakin mendalam, Arion menarik kasar Olivia melemparkan tubuh wanita cantik itu ke ranjang, Arion berada di atas Olivia wajah mereka sejajar. "Katakan kenapa kau ingin pergi! jika alasanmu adalah Alister, akan aku buat dia tau siapa sebenarnya kau! " kedua tangan Arion menhan kedua tangan Olivia
Olivia merasa sangat takut dengan sikap Arion yang mendominasi penuh emosi ini, Olivia menahan nafasnya sebentar dan memejamkan matanya "Bukankah ini mau mu tuan! kau berhasil kau sudah berhasil jadi lepaskan aku sekarang, jangan siksa aku lagi" Teriak Olivia dengan keras membuat Arion sangat bingung tidak mengerti apa maksud Olivia.
"Apa yang kau maksud? aku tidak mengerti" Arion menatap wajah yang sudah di basahi air mata, mata yang kini dia lihat penuh dengan kesedihan.
"Jangan berpura-pura lagi, tuan jangan mainkan perasaan ku ku mohon biarkan aku pergi, apa balas dendam ini belum cukup" Olivia menggelengkan kepalanya dia tidak ingin air matanya jatuh lagi, tapi rasa sakit itu membuat air mata di pipi Olivia semakin banjir.
"Ha! apa yang kau katakan! " Arion benar-benar tidak mengerti sama sekali apa yang Olivia bicarakan "Balas dendam apa? " Arion menatap penuh kesakitan melihat wajah Olivia di penuhi Air mata
"Biarkan aku pergi tuan ku mohon biarkan aku pergi ini sudah cukup" Olivia memberontak mencoba melepaskan tangannya dari tangan Arion.
"Pergi? tidak akan!" Arion tanpa sadar menekan tangan Olivia semakin kuat, Arion mencium bibir mungil itu dengan begitu ganas.
Olivia coba memberontak dia langsung menggigit bibir Arion, membuat Arion melepaskan ciuman nya " Apa yang kau lakukan? " Menatap tajam Olivia
"Lepaskan aku ku mohon" Ucap lirih Olivia namun di dengar oleh Arion, Olivia masih berusaha melepaskan tangannya yang di kunci Arion.
__ADS_1
"Melepaskan mu? untuk bersama Alister jangan bermimpi, kau ini istriku! " Arion melepaskan cengkraman tangannya dia duduk dan menarik kasar rambutnya. Dia sama sekali tidak tau apa yang ada di pikiran Olivia.