
"Jangan banyak omong, cepat masuk" Rocky berbicara sembari menghabisi penjaga itu, satu penjaga berlari ingin menusuk Arion.
"Ingin mencelakai ku mimpi saja!! " Arion melakukan tendangan memutar menyerang tepat di tangan penjaga yang ingin menusuk nya sampai pisau itu terpental dengan tangan penjaga yang mungkin hampir patah. "Tidak perlu hidup lagi! " Arion menendang tepat di ulu hati membuat penjaga itu terjatuh dan tidak sadar.
Arion segera masuk baru saja masuk dia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengerikan "Malang sekali kau, berani percaya dengan ucapan laki-laki! " Ucapan Arion saat dia melihat Susan sudah tergeletak tak bernyawa.
Arion sudah memperkirakan jika Susan sudah tidak bernyawa tapi dia masih saja ingin menemuinya karena dia perlu mengambil sesuatu "Selamat karena sudah bertemu dengan raja neraka " Ucap Arion sembari mengambil anting-anting milik Susan.
"Aku pikir mereka akan mengambil semua barang yang ada di tubuhmu, ternyata mereka sangat ceroboh! " Mungkin saja mereka bukan ceroboh tapi terlalu terburu-buru dan langsung mengeksekusi Susan tanpa memeriksa tubuh nya.
"Arion Susan sudah mati? " Rocky terkejut saat melihat tubuh Susan di bunuh dengan sadis.
"Dia sendiri yang memilih kembali ke sisi laki-laki kejamnya itu, ya meskipun aku lebih kejam, jika aku yang membunuhnya aku tidak akan menggunakan pistol aku akan menggunakan pisau menusuk nya tepat di tulang rusuk nya dan menggunakan tehnik memutar lalu aku akan mencong.. " Ucapan Arion di hentikan oleh tangan Rocky yang mengarahkan lima jarinya ke depan.
"Stop jangan bicara lagi, aku tau kau sangat kejam tidak hanya tindakan mu tapi kata-kata mu juga sama kejamnya" Keluh Rocky
" Tidak perlu memuji, aku sudah tau itu" Jawab Arion dengan tampang yang begitu bangga membuat Rocky menggelengkan kepalanya pelan.
"Sudahlah, jadi untuk apa kita kesini Susan juga sudah mati" Ucapan Rocky.
"Apa kau kesini untuk menemui Susan, jika kau berfikir seperti itu kau salah besar, karena aku sudah memperkirakan dia akan mati seperti ini, lagi pula laki-laki mana yang mau menyimpan barang yang sudah tak bisa di pakai lagi"
"Woi woi dia ini manusia bukannya barang" Rocky sedikit kasihan pada Susan ini, bagaimana pun sebelum nya Susan begitu meninggikan dan mempercayai orang yang ada di baliknya itu tapi sayang sekali kepercayaan nya di balas dengan pengambilan nyawanya.
"Itu di matamu bukan di mata orang yang ada di belakang nya, Susan di bawa kembali hanya untuk bertanya informasi tentang kita" Jawab Arion itu sungguh masuk akal, bagaimanapun juga orang yang sudah tertangkap oleh musuh sulit untuk di percaya lagi, apa lagi orang seperti Susan.
"Jadi kita kesini untuk apa? " Tanya Rocky yang tidak tahu rencana Arion.
"Tentu saja mengambil kamera milik ku" Arion menyeringai "Ingin kabur tidak akan bisa" Arion menggenggam anting itu.
"Kapan kau menaruhnya di anting Susan, bukankah dia tidak pernah melepaskan nya? aku bahkan tidak menyadari nya"
"Kau tidak perlu tau kapan dan bagaimana aku bisa memasang nya yang harus kau tau, bersiap untuk membantai! " Arion bergegas berjalan ke luar meninggalkan penginapan itu.
"Kapanpun aku siap! " Jawab Rocky dengan sangat bersemangat, dan mengikuti langkah Arion.
Mereka berdua kembali ke markas dengan bukti di tangan mereka.
__ADS_1
****
"Fiona haruskah aku mengantarkan mu pulang, kau harus beristirahat beberapa hari ini kau telah menemaniku di rumah sakit sekarang harus bermalam di rumah sakit lagi" Aric khawatir dengan kondisi tubuh kekasihnya itu.
Fiona menggelengkan kepalanya "Aku baik-baik saja, selama bersama mu aku akan baik-baik saja"
"Tapi Fiona ka.. " Aric membulatkan matanya sebentar namun kemudian memejamkan matanya membalas ciuman Fiona.
"Terimakasih atas vitamin nya ini lebih sari cukup" Fiona menyapu bibirnya dengan lidahnya seakan habis menikmati sesuatu hidangan yang nikmat.
"Kau ini kita sedang di depan ruangan IGD dan kau berani melakukan nya, gadis baik dari mana kau belajar hal mesum ini? "
Fiona mendekatkan wajahnya ke telinga Aric "Tentu saja darimu sayang" Terakhir Fiona mencium pipi Aric membuat Aric tak bisa menyembunyikan pipinya yang memerah karena di goda oleh kekasihnya itu.
"Kau ini, jika bukan di rumah sakit" Aric menarik Fiona yang ingin menjauhkan wajahnya membuat wajah mereka saling berdekatan dan Aric membisikkan sesuatu "Aku akan memakan mu" Aric memundurkan kepalanya dan mengusap bibirnya menggunakan ibu jarinya dengan tatapan yang terlihat begitu buas.
"Ap.. apa yang kau katakan kak! mesum dasar mesum" Kali ini serangan balik Aric berhasil wajah Fiona sangat merah bakal tomat siap panen.
Di sisi lain
Di dalam mobil Alister
"Alister apa kau yakin kau bisa menyetir? atau lebih baik kita panggil taksi saja" Olivia khawatir dengan luka di tangan Alister.
Alister menggelengkan kepalanya "Tidak perlu hanya luka sekecil ini tidak masalah, aku akan baik-baik saja" Ucap Alister dan mulai menyalakan mesin mobilnya
"At.. atau aku saja yang menyetir" Ucap Olivia karena panik bagaimana pun terlihat tangan Alister masih mengeluarkan sedikit darah.
"Apa kau bisa? " Alister tidak pernah tau Olivia bisa menyetir mobil.
"Tidak, tapi aku orang yang cepat belajar, ak.. aku sudah melihat cara mengemudi aku pasti bisa" Olivia mengatakan nya dengan yakin.
"Aku tidak ingin mati muda, sudahlah biar aku saja yang menyetir"
"Baiklah tapi pelan-pelan saja ok" Olivia hanya bisa menghela nafas bagaimana juga saran dia itu terlalu berbahaya, walaupun sebenarnya dia pernah belajar mengemudi diam-diam tapi dia tidak memiliki SIM.
"Aku tau tenang saja " Alister mengemudikan mobilnya perlahan.
__ADS_1
"Alister dari mana kau tau tentang aku dan tuan? " Olivia sedari tadi sebenarnya sudah penasaran dari mana Alister tau tentang dirinya dan Arion.
"Coba tebak? " Alister sudah bersikap seperti teman lagi, dia memutuskan benar-benar melepaskan Olivia setelah Olivia menyuapinya malam ini.
"Apakah dari Aleena? atau tuan Rayyan atau nyonya Tiara"
"Tidak kau salah, aku tidak sengaja mendengar nya" Ucapan Alister itu mengingatkan Olivia tentang benda jatuh yang di lihat tidak ada siapa-siapa.
"Apa kau mendengar nya dari balik pintu? "
"Benar, aku sampai harus merusak HP ku karena terkejut" Keluh Alister.
"Maaf" Olivia merasa tidak enak, Alister harus tau dengan cara seperti itu.
"Kau ingin aku memaafkan mu? " Alister berusaha membuat suasana seperti biasanya.
"Tentu saja" Jawab Olivia cepat, meskipun ini bukan salah Olivia, masalah hati tidak bisa di paksa.
"Menikahlah denganku" Canda Alister
"Di tolak" Jawab Olivia dengan menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Kau sudah berubah Olivia, kai sudah menjadi separuh kak Arion kau kejam" Alister berakting sedang merajuk.
"Bagaimana jika menikah kita ganti dengan membuat kue" Olivia tau Alister bercanda.
"Setuju, aku akan menantikan kue buatan mu"
Suasana di antara Alister dan Olivia sudah kembali membaik, Alister dengan ikhlas melepaskan Olivia untuk Arion, asal Olivia bahagia.
Tak terasa mobil Alister ini sudah memasuki rumah keluarga Mars. Olivia turun dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Alister memilih untuk pergi lagi entah dia pergi kemana bagaimanapun dia baru patah hati.
Sekuat apapun kita menahan, tapi luka tetaplah luka.
Olivia melihat Rania sudah tidur dia memilih membersihkan diri dan ikut berbaring di samping Rania.
Sebentar saja Olivia sudah terlelap, di tengah tidurnya Olivia merasa haus, dan saat membuka mata Olivia terkejut "Ini? " Olivia mengedarkan pandangan nya
__ADS_1