
"Boo kau akan membawaku kemana? " Tanya Olivia penasaran.
"Kau akan menyukainya setelah kita sampai" Ucap Arion dengan penuh percaya diri
"Baiklah, aku tidak akan banyak tanya" Olivia tersenyum dia mulai menikmati jalan yang mereka lewati.
Arion memarkirkan mobilnya di restoran yang terlibat sangat mewah dan bagus.
Olivia sedikit tidak percaya diri dengan baju yang dia kenakan, dia bahkan tidak menggunakan gaun "Boo se.. seperti nya aku salah kostum, apa tidak masalah aku memakai baju seperti ini? " Tanya Olivia
Arion menggelengkan Kepalanya dan tersenyum, senyuman mempesona penguasa sombong itu mampu menenangkan Olivia, Arion segera merangkul lembut istrinya itu dan mengajaknya masuk.
Semua mata melihat kehadiran Arion dengan Olivia, semua orang yang melihat Olivia merasa iri kepadanya karena perlakuan lembut Arion itu.
Baru saja mereka masuk seseorang sudah menyambut kedatangan mereka "Tuan Arion? " Tanya pelayan itu.
"Iya" Jawab singkat Arion
"Mari ikut saya" Pelayan itu mengarahkan Olivia dan Arion untuk naik ke atas lift.
Mereka sampai di gedung atas yang terlihat seperti dek kapal lautan lampu malam menghiasi tempat itu terlihat sangat indah.
"Silahkan duduk" Ucap pelayan itu.
"Bagaimana apa kau menyukai tempat nya? " Tanya Arion.
"Ini tempat yang indah" Olivia tersenyum senang dengan restoran yang di pilih oleh Arion.
"Tentu saja, karena bidadari harus berada di tempat yang indah"
Olivia menutup mulutnya dia tidak bisa menhan tawanya "Sudah pandai merayu ternyata sang penguasa sombong" Ledek Olivia.
"Siapa yang merayu aku mengatakan yang sesungguhnya" Arion menggenggam tangan Olivia
"Terimakasih" Olivia membalas menggenggam tangan Arion.
Arion mengambil kedua tangan Olivia "Bukan kau yang harusnya berterimakasih sayang, tapi aku" Arion menarik tangan Olivia dan mengecupnya.
Olivia tersipu dengan tindakan Arion yang terlihat sangat menghargai nya.
****
Aric melajukan mobilnya ke arah rumah Fiona, sebelumnya Aric sudah mampir di beberapa tempat, tentu saja untuk membawa buah tangan untuk kekasih dan kedua calon mertuanya.
Aric memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah keluarga wiguna, baru kali ini Aric merasa gugup untuk masuk ke rumah Fiona, sebelum mereka menjadi sepasang kekasih Aric tidak pernah ragu masuk ke rumah Fiona. "Perasaan apa ini, tenanglah Aric tenang" Aric mencoba menenangkan dirinya dengan berbicara dengan dirinya sendiri.
Aric mengatur nafasnya, menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk mengurangi kegugupan nya.
Aric menekan bel pintu rumah Fiona, Fiona segera membuka pintu rumahnya "Kak Aric kau sudah datang? " Fiona tersenyum. saat mendapati Aric yang menekan bel itu.
__ADS_1
"Hmm, ini" Aric memberikan buah tangan yang dia bawa untuk mereka semua.
"Ini, terimakasih kak Aric silahkan masuk" Fiona mempersilahkan Aric untuk masuk.
Baru saja masuk dua orang laki-laki sudah menatapnya "Malam Paman kenzo " Aric merasa kikuk dia tidak pernah merasa seformal ini pada keluarga Wiguna.
"Nak Aric, kemari ayo kita makan" Ucap Tina ramah mengajak Aric.
Lima orang sedang berada di meja makan, suasana nya terlihat tidak , kenzo terus menatap Aric membuat Aric merasa tidak nyaman.
"Papi, apa papi ingin membakar kak Aric, tatapan papi sangat menyeramkan" Ucap Alister pada Mama nya yang duduk di sampingnya.
"Husst jangan bicara sembarangan" Tina segera mengambilkan nasi untuk sang suami, begitupun Fiona yang mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Aric.
Aric menghabiskan makan malamnya dengan perasaan di intai.
"Aric ikut aku sebentar" Ucap Kenzo membuat Fiona segera beraksi.
"Tunggu, aku ikut" Ucap Fiona yang ingin tau apa yang akan papinya lakukan pada kekasihnya itu.
"Tidak! " Kenzo segera berjalan di ikuti Alister dan Aric
"Mami lihat papi dia tidak mengizinkan ku ikut, tapi Alister bagaimana kenapa dia boleh ikut"
"Tenang sayang biarkan mereka bertiga berbicara, tidak akan terjadi masalah tenang saja" Tina mengusap pundak putrinya meyakinkan kalau tidak akan terjadi apapun.
"Kau bilang apa sayang" Tanya Tina yang sedang membereskan meja makan, dia tidak mendengar gumaman putrinya
"Tidak ada Mi" Fiona berusaha untuk tenang, dan segera membantu maminya membereskan meja makan bersama asisten rumah tangga mereka.
Di ruang latihan Kenzo
"Paman untuk apa kita kemari? " Tanya Aric yang sebenarnya tau mungkin dia akan di tantang Kenzo atau Alister.
"Apa kau benar-benar serius dengan putriku? " Tanya Kenzo dengan wajah yang begitu serius.
"Tentu saja paman, aku sudah menyukainya sejak kecil" Jawab panjang Aric.
"Kalau begitu bisakah kau tunjukan keseriusan mu? " Kenzo menunggu jawaban Aric.
Tanpa pikir panjang Aric langsung menjawab "Tentu, dengan cara apapun aku sanggup"
"Baiklah, kalau begitu kau bisa melawan ku, Jika kau menang aku akan menerima mu, meski aku sudah tau kau tidak buruk" Kenzo sebenarnya lega jika yang menjadi kekasih putrinya adalah Aric, namun martabat seorang ayah tidak bisa di tanggalkan begitu saja, dia tidak bisa memberikan putrinya dengan mudah.
"Paman serius? " Tanya Aric dia tau Kenzo bukan lawan yang lemah tapi bagaimanapun juga umur Kenzo sudah setengah Abad.
"Kau meremehkan ku" Tanpa aba-aba Kenzo langsung menyerang Aric, dengan tendangannya.
Aric reflek menahan, sedangkan alister segera mundur memberikan ruang untuk calon kakak ipar dan Papinya bertarung.
__ADS_1
Pertarungan mereka lumayan sengit terlihat dari keduanya tidak ada yang ingin mengalah "Ini akan jadi pertarungan sengit "gumam lirih Alister yang menonton dengan seksama.
****
Sebelum makan malam Daniel mengantarkan Rocky pulang dan Tiara menyuruh Daniel untuk masuk dan makan malam bersama.
Setelah makan malam Daniel tidak langsung pulang, dia terlihat di tahan oleh Rayyan di ruang rahasia miliknya.
" Kenapa membawaku kesini? " Tanya Daniel.
"Aku sudah mendengarnya, Ranti adalah wanita di malam itu bukan? " Pertanyaan Rayyan tidak membuat Daniel terkejut, karena Daniel sudah mempersiapkan jika dirinya akan ketahuan.
"A, dia orangnya" Jawab singkat Daniel.
"Bagaimana bisa, kebetulan yang tidak wajar. Tunggu dulu apakah Olivia itu putrimu hasil cinta satu malam? "
"Awalnya aku berfikir seperti itu, tapi kau jangan khawatir dia buka putri kandungku tidak akan ada pernikahan antar sepupu" Daniel tau apa yang Rayyan cemaskan.
"Lalu bagaimana apa kau sudah mengatakan tentang masa lalu kalian pada Ranti? "
Daniel menggeleng "Aku tidak tau harus mengatakan apa"
"Jadi apa kau benar-benar menyukai Ranti atau hanya perasaan bersalah saja"
"Aku benar-benar menyukainya ini buka perasaan bersalah tapi aku jatuh cinta untuk kedua kali padanya"
"Kalau begitu kau harus menceritakan semuanya, jika dia juga mencintai mu aku yakin dia akan memaafkan mu" Entah setan apa yang merasuki Rayyan kenapa dia bersikap begitu bijaksana pada Daniel yang pernah menjadi rivalnya.
"Hmm, aku tau aku pasti akan mengatakan nya, namun aku sedang mencari waktu yang tepat"
"Semua waktu tepat saat semuanya belum. terlambat" Perkataan Rayyan itu membuat Daniel terdiam
Di sisi lain, Aleena terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar Rocky, beberapa kali tangannya sudah bersiap untuk mengetuk tapi dia mengurungkan niatnya. "Hah Aleena jangan takut, kau tidak berbuat jahat" Ucap gadis kecil itu.
Dengan berat hati Akhirnya Aleena mengetuk pintu kamar Rocky, tak lama kemudian pintu itu terbuka.
Mata Aleena dan Rocky bertemu " Aleena apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Rocky
"Ak.. aku hanya kebetulan lewat" Alasan yang Aleena berikan seperti nya kurang tepat.
"Kebetulan lewat? bukankah kamarmu ada di lantai tiga, untuk apa kau berbelok ke arah kamarku harusnya kau tinggal naik saja" Rocky merasa tidak beres.
"Berisik! ulurkan tangan mu" Ucap Aleena
"Untuk apa? "
"Jangan banyak tanya cepat! " Rocky tidak mau terlalu lama berurusan dengan Aleena alhasil dia mengikuti perintah Aleena, Rocky mengulurkan tangannya "Ambil ini" Ucapan Aleena yang langsung pergi setelah memberikan sesuatu untuk Rocky.
"Ini? " Rocky terlihat bingung
__ADS_1