
Setelah ciuman itu Arion mengecup kening Olivia, "Kau tidurlah dan beristirahat aku akan menemanimu " Ucapan Arion Itu mampu membuat Olivia menatapnya
"Kenapa menatapku? " Tanya Arion langsung tidak basa-basi
"Tu.. tuan tidak perlu menemani saya" Olivia tidak ingin Arion terus berada di ruangannya karena itu membuat jantung Olivia merasa tidak sehat karena degup nya lebih dari biasanya
"Kenapa? " Menatap Olivia seakan menunggu jawaban akan pertanyaan nya
"Itu... " Olivia tidak tau harus menjawab apa dia tentu saja tidak ingin mengatakan kalau jantung nya bermasalah jika Arion tetap berada di sisi nya
"Cepat tidur! pejamkan matamu jika tidak aku akan tidur bersama mu di ranjang ini" Ancaman Arion mampu membuat Olivia membaringkan tubuhnya dengan benar dan menarik selimut nya di pikiran Olivia saat ini lebih baik untuk tidur sendiri dia tidak ingin berbagi ranjang dengan Arion
Sedangkan Arion tersenyum dalam diamnya melibatkan tingkah Olivia yang dia anggap sangat menggemaskan
Olivia tidak bisa memejamkan matanya dia merasa ada mata yang mengawasinya di balik punggung nya benar saja saat dia menoleh sedikit mata dia dan Arion bertemu
Olivia menelan ludahnya kasar dia merasa tidak nyaman karena di tatap Arion dia akhirnya membalikan tubuhnya namun ada hal yang tak terduga, Arion sudah duduk dan bersiap tidur di ranjang Olivia
"Tu.. tuan apa yang kau lakukan " Ucap gugup Olivia
"Kau tidak tidur itu berarti aku harus menemani mu" Jawab Arion tanpa beban dan dosa, karena perbuatan Arion ini pipi Olivia kini sudah terlihat seperti kepiting rebus
"Tu.. tuan saya akan tidur tapi tuan tidur dulu ini tidak baik, bagaimana jika ada perawat atau dokter yang memeriksa" Olivia segera memberitahu alasan yang sebenarnya perasaan yang dia rasakan.
"Kau lupa ini rumah sakit milik ku! apa ada yang bisa menggangguku" Ucap sombong Arion itu mampu membuat Olivia terdiam dia hampir lupa jika dia berada di rumah sakit milik Arion
"Pokoknya tu.. tuan turun saja ok" Olivia mencoba mendorong tubuh Arion namun tubuh Arion tak bergerak kini malah Olivia berada di pelukan Arion
__ADS_1
Olivia mendongak kedua mata saling bertatapan sekian detik perasaan seperti bunga bermekaran terasa di sekitar mereka namun tiba-tiba
"Olivia bagaim.... " Ucapan Alister terhenti saat melihat Arion tidur di ranjang bersama Olivia
"Alister" Gumam lirih Olivia "ja.. jangan salah paham" Ucap Olivia gugup dia benar-benar tidak ingin di salah pahami
Namun Arion malah mempererat pelukan nya seakan menunjukan bahwa Olivia adalah milik nya
"Tu.. tuan lepas kan jangan membuat orang lain salah paham" Ucap lirih Olivia
"Lepaskan dia Arion! " Ucap tegas Daniel. yang baru saja masuk menyusul Alister
"Apa urusan nya denganmu pak tua? " Tanya Arion dengan senyuman sinis di wajahnya
Daniel. tidak banyak berkata menarik Arion turun dari ranjang Olivia "Kau tidurlah Olivia! " Ucap Daniel yang menarik pergi keponakan nya itu
"Pak tua lepas kan apa yang kau lakukan hah! lepas kan" Ucap Arion saat dirinya di seret keluar oleh Daniel
"Aku tidak ada hubungannya dengan tu.. tuan muda dia ta.. tadi hanya sedang menjahili ku" Olivia berbicara dengan wajah merah memikirkan kejadian tadi dia merasa malu
Alister tersenyum kecut dia memiliki firasat Olivia sudah mulai tertarik dengan Arion tapi Alister tidak ingin menyerah untuk saat ini, dia selalu mengingat perkataan kakeknya jangan pernah menyerah dengan orang yang kau cintai sebelum orang itu menolak mu secara langsung itu yang di katakan kakek sean dulu pada Alister
Alister berjalan mendekat dan menepuk pucuk kepala Olivia dan kemudian mengusapnya secara lembut "Em aku mengerti kau beristirahat lah" Ucap Alister yang berusaha untuk tenang meski hatinya merasa cemburu melihat kedekatan Olivia dan Arion
Olivia mengangguk "Baiklah, selamat malam Alister" Ucap lembut Olivia
"Selamat malam, mimpi indah Olivia" Ucap Alister kemudian berjalan keluar dan menutup pintu
__ADS_1
Di depan ruangan masih ada Daniel dan Arion sedang menatap tajam satu sama lain, membuat Alister bingung apa yang terjadi sebelum dia datang
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong mu! " Ucap Arion mengepal kan tangannya
"Kau harus mendengar ucapan ku!" Ucap Daniel lagi tak kalah emosi nada bicara nya sedikit meninggi
Arion mengeratkan giginya " Siapa kau aku tidak perduli! pak tua siapapun yang menghalangi keinginan ku aku tidak akan memaafkan nya! " Arion ingin memukul Daniel tapi tidak bisa dia akhirnya memilih menghempas tangannya dan pergi
Setelah kepergian Arion "Paman apa yang terjadi kenapa dia terlihat sangat marah? " Tanya Alister yang melihat Daniel mulai duduk di kursi yang ada di depan ruangan Olivia
"Tidak ada, hanya saja" Daniel teringat apa. yang dia lihat di hasil tes DNA itu
"Apa ini tentang kertas yang ada di tangan paman tadi? " Tanya Alister yang sedari tadi tidak di beritahu hasil tes apa yang ada di kertas itu
"Apa kau pikir Arion mencintai Olivia? " Tanya Daniel tiba-tiba membuat Alister terdiam namun juga berfikir "Sudahlah lupakan kau boleh pulang aku masih ada urusan di sini" Ucap Daniel yang berjalan pergi meninggalkan Alister
Sedangkan Alister menekan dadanya yang perlahan sakit, sakit teringat adegan mesra yang dia lihat tadi, tatapan mata yang penuh cinta membuat Alister merasa sakit di dadanya "Alister tenanglah ini hanya angan mu saja, jangan menyerah Olivia masih sendiri selama dia masih sendiri kau masih ada kesempatan Alister jangan takut" Ucap Alister meyakinkan dirinya sendiri
Kini Arion berjalan ke luar rumah sakit namun tiba-tiba tangan nya di tarik seseorang "Arion tunggu! di mana ibuku? " Tanya seseorang yang suaranya sangat Arion kenal
Arion tersenyum penuh arti dan tertawa mengejek " Andreas apa kau tidak salah dia adalah ibumu kenapa bertanya tentang keberadaan nya denganku! lucu sekali kau" Ucap Arion tanpa rasa bersalah
Andreas mencengkram kuat kerah Arion dan mengguncang kan tubuh Arion "Katakan di mana ibuku! Arion jangan main-main lagi, jika ada masalah denganku jangan libatkan ibunya" Ucap Andreas masih mencengkram kemeja Arion
Arion menatap tajam Andreas "Ibumu yang ingin bermain, Dia berani menyentuh wanita ku!" Ucap tegas Arion itu mampu membuat Andreas diam dan perlahan melepaskan tangannya dari kerah kemeja Arion
"Ap.. Apa maksud mu? siapa wanita mu? apakah Olivia? ibu.. ibuku tidak mungkin menyakitinya" Ucap Andreas naif dia sangat mempercayai perkataan ibunya
__ADS_1
"Bodoh! aku masih memandangmu sebagai sahabat aku akan memberikan kejutan untuk mu, tapi setelah itu menghilang dari kehidupan Olivia! pergi mengabdi ke negara T aku akan mengatur kepergian mu" Ucap Arion yang memainkan HP nya tak lama hp Andreas berbunyi
Andreas membuka HP nya matanya membulat sempurna dia terlihat terkejut menerima pesan yang Arion kirimkan padanya, itu membuat tangannya lemas hampir menjatuhkan HP nya "ini" Tangannya bergetar...