
Arion dan Rocky terus bertanding sampai terlihat Rocky yang sudah tak bisa membawa kepala nya lagi "Aku akan mengalahkan mu" Ucap Rocky.
"Arion hentikan, ini sudah saatnya" Ucap Aric yang memberikan sesuatu kepada Arion.
"A, aku tau" Arion mengambil sesuatu di tangan Aric dan meminumnya.
"Kalian yakin akan hal ini? " Tanya Daniel pada Aric dan Arion.
"Tuan apa ini akan baik-baik saja" Ucap Dion yang khawatir akan kondisi Rocky.
"Hei hei apa wajah kalian seperti ini saat menculik ku waktu itu" Arion menatap Daniel dan Dion bergantian.
"Sudahlah ini akan baik-baik saja, Andreas sudah menunggu kita di Bandara" Ucap Aric.
Andreas tiba-tiba menghilang karena di tugaskan oleh Arion untuk mengatur jadwal penerbangan mereka malam ini.
"Alister bantu aku mengangkat Rocky" Ucap Daniel yang mulai memapah Rocky.
"Baiklah" Alister segera membantu.
"Apa kau baik-baik saja" tanya Aric pada Arion yang masih terlihat mabuk
"Obatnya sedang bekerja tenang saja" Arion meminum air mineral yang ada di botol sedikit membasahi Kepala nya agar dia segera sadar sepenuhnya.
"Baiklah, Fiona dan Ibu Ranti sudah menunggu di mobil kita segera berangkat"
"Hmm, kalian pergilah dulu aku akan membangunkan Olivia, dia tadi merasa tidak enak jadi aku membuka kamar untuk nya beristirahat" Ucap Arion.
"Apa kau baik-baik saja menyetir dalam keadaan seperti ini? " Tanya Aric.
"Hmm baik aku baik-baik saja"
"Tidak boleh, sangat bahaya untuk kau menyetir dalam keadaan seperti ini"
"Pak tua apa kau sedang perhatian padaku, ini terasa menjijikkan" Ucap Arion tersenyum menghina.
"Sembarangan siapa yang mengkhawatirkan bocah tengik seperti mu, aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Olivia, Dion kau bantu Alister bawa Rocky ke mobil" Daniel menyerahkan Rocky pada Dion.
__ADS_1
"Baik tuan Daniel" Dion segera mengambil alih tempat Daniel dan membantu Alister membawa Rocky, mereka pergi ke mobil terlebih dahulu.
"Paman apa kau berencana menjadi sopir Arion" Ledek Aric.
"Berisik kau segera pergi , jangan banyak omong di sini"
"Wah wah seperti nya kau memang sangat perhatian pada Arion paman, apa kau sudah menganggapnya menantu kesayangan mu" Aric terus meledek.
"Cih! " Ucap Arion dan Daniel bersamaan.
"Aku tidak sudi mempunyai mantu seperti nya" Ucap Daniel bersamaan dengan Arion yang mengucapkan
"Aku tidak sudi mempunyai ayah mertua seperti nya" Aric tertawa mendengar perkataan mereka yang kompak itu.
"Hahaha, kalian belum apa-apa sudah sangat kompak" Ledek Aric.
"Sialan beraninya kau menertawakan ku! " Daniel dan Arion berkata bersama-sama lagi, membuat Aric tak tahan untuk tertawa semakin keras dan renyah.
"Sudahlah aku tidak akan mengganggu momen romantis, ayah dan anak" Aric segera pergi dari baru itu.
"Cih! ayah, dia bahkan tidak akan ada kesempatan untuk menikah" cibir Arion yang berusaha bangkit dari duduknya dia sudah merasa lebih baik.
"He? aku cari mati kau yang akan mati pak tua, jika ibu Ranti tau kau laki-laki yang merebut keperawanan nya apa kau yakin dia akan memaafkan mu"
"Berisik! aku tidak perlu nasehat mu, aku pasti akan menikahinya "
"Hoo, aku ingin lihat, selamat berjuang pak tua jangan siakan waktumu, di kampung halaman mu kau harus bisa menyunting nya menjadi nyonya Daniel" Arion berjalan masih setengah mabuk membuat Daniel terus berjalan di belakang nya.
Meski mereka berdua terlihat sering adu mulut tapi sebenarnya mereka berdua paman dan keponakan yang saling perduli satu sama lain, hanya saja ego mereka berdua sangat tinggi.
Arion masuk kedalam kamar, sedangkan Daniel memilih menunggu di lobby hotel. Arion masuk dan melihat istrinya yang sedang tertidur Arion mengusap lembut pipi Olivia dan mengecup keningnya. "Aku tidak tega membangun kan mu " Arion mengusap lagi wajah cantik istrinya.
Olivia merasa ada sesuatu yang menyentuh bibir nya, dia kemudian membuka matanya perlahan dan melihat wajah tampan suaminya berada sangat dekat dengan wajahnya.
Benar saja yang menyentuh bibirnya adalah bibir milik suaminya, Olivia membuka matanya hanya sebentar dan menutup matanya lagi dan merasakan ciuman Arion yang semakin panas.
"Boo" Olivia memanggil nama Arion saat Arion melepas sebentar ciumannya dan ingin mencium Olivia lagi namun di hentikan oleh tangan Olivia.
__ADS_1
Olivia merasa sesuatu di lidahnya dan menatap suaminya "Apa kau mabuk boo? "
Arion menggelengkan Kepala nya "Tidak aku tidak mabuk sayang, ayo kita lanjutkan" Ucap Arion yang masih sedikit mabuk dan mulai bergairah.
Arion kembali mencium bibir Olivia dan tangannya mulai menelusup masuk, Arion seperti nya sudah kecanduan bibir dan tubuh istrinya.
Arion baru saja akan membuka baju istrinya namun tiba-tiba pintu kamar terdengar di gedor "Hei bocah tengik kau berencana berapa lama membuatku menunggu! sialan! " Teriakan Daniel itu membuat Arion dan Olivia terkejut.
Arion segera mengakhiri aktivitas nya begitu juga dengan Olivia yang merapikan dirinya, Daniel tiba-tiba masuk kedalam kamar karena dia menggedor terlalu keras dan ternyata pintunya lupa di kunci oleh Arion.
"Kau membuatku menunggu lama di lobby, dan mereka semua sudah sampai di bandara, kau berencana berapa lama mengerjai ku! " protes Daniel saat melihat Arion yang malah Santai duduk di samping ranjang.
"Tu.. tuan Daniel jangan marah ini karena aku yang tak kunjung bangun maaf" Olivia merasa bersalah karena membuat Daniel menunggu.
"Kau tidak salah, bocah tengik ini yang melupakan aku, Olivia ayo kita segera berangkat ke bandara jangan hiraukan dia" Daniel ingin berjalan dan menggandeng Olivia namun dengan cepat Arion menarik Olivia.
Arion memeluk Olivia dari belakang dia seakan memperlihatkan ketidak relaannya bila Daniel menyentuh Olivia "Pak tua dengar, aku ini pria yang berpikiran sangat sempit, jika kau berani menggandeng tangan istriku, aku ini tidak segan untuk memotong tanganmu" Arion menatap tajam Daniel.
"Sudahlah ini sudah terlalu malam untuk berdebat, ayo segera ke bandara" Daniel berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua, Daniel berjalan dan tertawa getir bayangan Arion yang posesif itu membuatnya berfikir "Kau benar-benar mengingatkan ku pada Rayyan di masa lalu, menjengkelkan" Ucap Daniel yang tertawa kecil entah apa yang sedang dia tertawakan.
Saat ini mereka bertiga berada di dalam mobil, Lagi-lagi Arion berhasil membuat Daniel kesal. "Kau pikir aku ini supir, bocah tengik! " Ucap Daniel kesal saat dirinya di biarkan duduk di kursi pengemudi dan Arion malah menemani Olivia di kursi belakang.
"Jangan banyak bicara, cepat bawa mobilnya" Arion malah semakin menjadi dia benar-benar menganggap Daniel adalah supir.
"Kau benar-benar membuat ku kesal, hei Olivia kau duduk di depan"
Olivia melihat ke arah Arion, Arion menggelengkan kepala nya tanda tidak memperbolehkan Olivia melakukan itu.
"Baik tuan Daniel" Olivia malah dengan sengaja mengiyakan permintaan Daniel.
"Olivia, berani kau pindah aku akan.. " Ucapan Arion terhenti.
"Akan apa boo? " Olivia dengan wajah polosnya menatap suaminya.
"Ah sudahlah lupakan, aku akan pindah ke depan" Ucap Arion yang langsung berpindah tempat duduk.
Arion akhirnya pindah di samping Daniel Daniel sedikit tertawa melihat tingkah Arion "Tidak sangka sang penguasa sombong juga bisa takut dengan istri" ledek Daniel lirih.
__ADS_1
"Berisik! ini bukan takut istri tapi ini adalah cara suami yang bertanggung jawab menghargai istri dengan tidak menyakiti perasaan nya! pak tua kau yang belum punya istri tentu tidak tau akan hal ini" Ledek balik Arion yang mampu membungkam Daniel hingga tak dapat berkata lagi.