
Setelah membahas Susan, Dion mengambil minuman kaleng untuk mereka bertiga untuk mencair kan ketegangan mereka.
Rocky mengambil minuman kaleng dari tangan Dion kemudian membukanya dia melihat sekilas wajah Arion yang masih sama terlihat masam, dia menengguk minuman di tangan nya "Ada apa denganmu? " Tanya Rocky yang terlihat menikmati minum kaleng di tangannya itu
Tidak ada jawaban dari Arion membuat Rocky melirik ke arah Dion, siapa tau Dion tau apa yang terjadi dengan Sepupu nya itu.
Dion hanya bisa mengangkat bahunya dia tidak berani berbicara apapun di depan Arion, kalau sampai dia membuka mulut dia takut dia akan kehilangan nyawanya sebelum merasakan indahnya pernikahan
"Apa ini tentang Olivia? " Tanya Rocky yang membuat Arion menghela nafasnya panjang, membuat Rocky yakin karena hanya Olivia yang mampu membuat Arion memperlihatkan ekspresi lain selain wajah dinginnya.
"Kau, apa lagi yang terjadi apa kau membuatnya menderita lagi? " Pertanyaan Rocky itu mampu membuat Arion terlihat tambah kesal
Arion menenggak habis minuman kaleng nya dan langsung ******* kuat kaleng minumnya dan melemparkan masuk tepat di tong sampah di pojok ruangan "Apa kau pikir aku hanya bisa menyakiti nya! aku bahkan sudah mengajaknya menikah apa itu termasuk menyakitinya! " Ucap kesal Arion
"Ukhuk-ukhuk.. Apa kau bilang? " Rocky mengusap mulutnya yang baru saja menyemburkan air karena tersedak mendengar ucapan Arion
Rocky segera mendekat kepada sepupunya itu "Apa kau serius, bagaimana cara mu meminta nya menikah dengan mu? di mana kau mengatakan nya? apa Dion yang merencanakan semuanya? " Arion di bombardir dengan banyak pertanyaan dari Rocky yang kini sudah menunjukkan jiwa reporter nya jiwa ibu-ibu gosipnya
"Berisik sekali, apa meminta menikah harus memiliki rencana" Ucapan Arion yang santai mampu membuat Rocky menepuk jidat nya
"Arion kau bagaimana bisa hidup sebagai lelaki, merebut hati perempuan saja kau tidak bisa, mana ada orang meminta menikah seperti orang membeli rokok, apa kau bodoh! " Rocky tidak tahan untuk memaki sepupu nya itu, dia begitu hebat saat bekerja tapi sangat bodoh saat berhubungan dengan hati.
"Kau sendiri tidak pernah dekat dengan wanita jangan menceramahi ku! " Ucap Arion tidak Terima dia sendiri tau Rocky bahkan tidak memiliki teman dekat wanita beberapa tahun ini
"Hahaha, kau saja yang tidak tau aku bahkan mengoleksi banyak nomor wanita apa kau mau" Rocky memamerkan deretan kontak nama wanita di HP nya
__ADS_1
Arion memutar matanya, jengah dengan tingkah sok playboy Rocky, sedangkan Dion hanya bisa menggelengkan kepala nya. Dia tau benar sebenarnya kepanasan Rocky masih sendiri sampai saat ini.
Sore menjelang malam, Bibi margareth terlihat sibuk di dapur bersama dengan Rania.
Sedangkan Olivia tengah mengupas buah apel di samping nenek Angel bersama dengan Aric yang duduk di sofa sembari mengupas jeruk di tangannya.
"Olivia" Panggil nenek Angel yang melihat Olivia yang terlihat gelisah.
Olivia benar-benar tidak mendengarkan panggilan nenek Angel, bahkan dia bisa melamun saat sedang mengupas apel
"Olivia, awas tanganmu" Ucapan angel terlambat setengah detik, jari Olivia sudah teriris pisau.
"Kau berdarah Olivia" Ucap nenek angel khawatir
Baru saja melangkah keluar dari kamar mandi Aric sudah berdiri di depan kamar mandi dan memberikan satu plester yang ada di tangannya
"Kau harus hati-hati, dan lagi pisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan jangan memikirkan yang lain saat menjaga nenek ku" Entah mengapa Aric terlihat sangat dingin pada Olivia, di dalam hati Aric seperti ingin marah melihat , namun dia sendiri tidak tau alesan kenapa dia ingin marah pada Olivia
"Maafkan saya tuan, say... " Ucapan Olivia terpotong
"Tidak perlu meminta maaf aku hanya mau kau menjaga nenek ku dengan baik" Aric kemudian berjalan duduk kembali ke sofa
Angel hanya diam dia tidak mendengar jelas setiap perkataan Aric Kepada Olivia tapi dia tau seperti nya Aric mengatakan hal yang membuat Olivia merasa bersalah
"Aric, jangan terlalu menekan Olivia, dia masih muda wajar saja jika dia banyak berfikir" Angel berusaha membela Olivia
__ADS_1
Olivia tersenyum dan benar-benar tambah merasa bersalah bagaimana dia bisa bekerja sembari melamun "Nyonya tuan Aric tidak salah, saya memang seharusnya bisa menempatkan diri, tidak memikirkan hal pribadi di saat bekerja" Olivia terlihat sangat menyesal, meski begitu dia kembali menyelesaikan pekerjaan mengupas Apel dan memotongnya
"Apa Arion menyakiti mu lagi? " Tanya angel yang sebenarnya tau mungkin Olivia sedang teringat perbuatan Arion yang tiba-tiba memintanya menikah dengannya.
"Ti... tidak nyonya tuan tidak menyakiti saya, saya juga tidak sedang memikirkan tuan" Ucapan Olivia ini malah membuat Angel yakin kalau Olivia benar-benar sedang memikirkan ucapan Arion.
"Benarkah lalu apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Angel yang seperti tidak percaya dengan perkataan Olivia
"Tidak.. tidak ada yang saya pikirkan Nyonya" Kilah Olivia sembari menyodorkan apel kepada Angel
Angel menerima piring berisi apel yang sudah di kupas dan di potong itu, dia hanya mengangguk tidak ingin bertanya lebih jauh lagi "Terimakasih" Ucap Angel saat piring berisi apel sudah di tangannya.
Hari semakin larut, Andreas sudah datang dia masuk setelah mengetuk pintu, suasana seketika menjadi canggung Olivia membuang matanya tidak ingin melihat Andreas yang berjalan mendekat ingin memeriksa Angel
"Nenek apa yang kau rasakan, apa ada yang terasa sakit? " Tanya Andreas dia juga terlihat menjauh dari Olivia, seperti nya Andreas benar-benar percaya ucapan Mama nya sehingga dia merasa kecewa dengan Olivia
Olivia segera menjauh dari angel dan juga menjaga jarak dari Andreas, Aric menyadari kecanggungan yang terjadi "Olivia besok kau libur bukan kau bisa kembali sekarang, ada aku dan Andreas yang menjaga nenek, kau kembalilah ke kamar dan beristirahat" Ucapan Aric seakan membawa angin segar pada Olivia, membuat Olivia bisa bebas dari perasaan canggung
"Baik tuan, saya permisi, Nyonya selamat beristirahat" Ucap sopan Olivia, dia melewati Andreas begitu saja, Orang yang dulu saling mencintai kini bisa terasa seperti orang asing karena perkataan yang menyakiti hati.
Olivia kembali ke kamar, Rania sudah bersiap untuk tidur sedangkan Olivia dia pergi membersihkan diri dan kemudian tidur di samping Rania, tanpa makan malam Olivia tidak memiliki keinginan untuk makan saat ini.
Olivia menatap langit kamarnya dan mencoba untuk memejamkan matanya, tapi bayangan Arion yang akhir akhir ini memberinya banyak perhatian mulai terbayang di pikiran nya
*Akhhhh Olivia kau harus bangun, anggap saja itu semua adalah mimpi" Ucap Olivia dalam hati dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1