
Pagi menyapa Rocky masih mengidentifikasi foto dan sebagian wajah itu dengan hati-hati sampai-sampai dia tidak tidur.
"Kau masih mengerjakan nya, ambil ini makan sesuatu" Arion membawa kopi panas dan roti yang dia beli di minimarket.
"Aku tidak ada waktu untuk makan, aku segera ingin tau siapa dia!! berani menyuruh Mario Harris melukai nenek, membuat Olivia menderita dan bisa-bisanya mencelakai Aric, dia benar-benar berani" Ucap Rocky yang terus berkutat dengan komputernya.
"Baiklah lakukan saja apa mau mu " Arion duduk dan menikmati roti yang dia bawa.
Rocky terlihat begitu serius dengan semua data yang ada di komputer nya "Sial lama terlalu lama sial, sial" Rocky terus mengomel sembari bekerja. mengidentifikasi beberapa foto dengan data.
Rafael berlari dari luar membuka pintu dengan keras "Tuan celaka" Ucapan Rafael membuat dia orang yang sedang melakukan hal yang berbeda melihat ke arahnya. "Hah hah hah, tu. tuan ga.. " Ucapan Rafael terpotong.
"Tenangkan dirimu, jangan sampai informasi mu tak ku mengerti" Ucap Arion dengan nada tegas namun wajah yang terlihat takut, Arion tiba-tiba merasa gelisah.
Rafael mengatur nafasnya yang terengah-engah menjadi stabil " Tuan Muda, Nona hilang " Ucapan Rafael itu membuat Arion terkejut
Dia meremas roti yang ada di tangannya menjadi tak berbentuk " Berani menyentuh wanitaku benar ingin mati! " Ucap Arion
"Bagaimana mungkin penjagaan di rumah kita sangat ketat" Rocky meremas tangannya keras.
"Tuan tadi mala... " Lagi-lagi ucapan Rafael tidak selesai
"Jelaskan nanti, kita ke mobil sekarang" Arion mengambil ponselnya dan berjalan pergi.
"Kau lakukan identifikasi nya, Olivia serahkan padaku, Rocky jangan bertindak gegabah tanpa bukti mengerti! " Ucap Arion kepada Rocky yang dia tau saat ini tengah mencurigai Andreas.
Arion berjalan dengan cepat menuju mobil di ikuti dengan Rafael "Siapkan anak buah mu, dalam beberapa kelompok " Ucap Arion yang masih berjalan dengan terus mengutak-atik HP nya.
__ADS_1
Olivia tidak mengenali tempat dia membuka matanya "Ini di mana? "
"Kau sudah bangun! " Ucap seseorang yang menggunakan pakaian hitam dan menggunakan topeng dia berpenampilan seperti malaikat pencabut nyawa, suaranya pun di samarkan.
"Ke.. kenapa tangan ku di ikat? hah lepas.. lepaskan siapa kamu! " Olivia ketakutan, Olivia berusaha melanggar ikatan di tangannya.
"Hahaha, kau tidak perlu tau siapa aku, kau hanya perlu mati di tanganku, wanita seperti mu tidak bisa menandinginya bagaimana Arion bisa jatuh cinta denganmu tapi tidak dengannya " Ucap orang memakai jubah hitam itu. Orang berjubah itu menarik Olivia ke tepi ranjang mendudukkan Olivia di sana.
'Arion tunggu dia mengenal Arion, apa dia musuh yang sama yang menembak Aric? ' Olivia masih mencerna semua yang terjadi, dia benar-benar di culik.
Orang berjubah itu mengangkat wajah Olivia melihat seksama wajahnya "Heh hanya wanita biasa, tidak bisa menandingi kecantikan nya tapi bagaimana bisa Arion menikahi mu! benar-benar tidak bisa di ampuni!! " Orang itu mencengkram kuat pipi Olivia dengan penuh amarah.
Olivia menahan sakitnya dia tidak bisa berteriak, Olivia ingin menangis tapi dia menahannya 'Dia tau aku sudah menikah dengan Arion, siapa dia! orang terdekat bagaimana bisa? Jangan menangis Olivia yakinlah Arion akan menyelamatkan mu' Olivia terus meyakinkan dirinya bahwa suaminya akan segera menemukannya.
"Hahaha, kau ingin menahan sakit, tahanlah tahan akan ku balas kesakitan nya beribu kali lipat, plakk... plak.... plak... plaaakkkk" Beberapa kali wajah Olivia di tampar.
nya sudah berdarah, air mata pun tanpa sadar mengalir di pelupuk matanya.
"Bagus, menangislah menangis gantikan air matanya yang sudah jatuh" Ucap orang berjubah itu
Olivia menahan perih yang menjalar di wajahnya, orang berjubah itu berbalik, mata Olivia melihat benda-benda di atas meja dan terkejut 'Dia ingin menyiksa ku? tidak dia ingin membunuhku? Jangan datang boo dia orang gila, aku lebih baik mati dari pada kau kemari dan membahayakan nyawamu jangan datang aku mohon' Melihat perlengkapan orang itu Olivia berubah pikiran dia tadinya berharap bisa di tolong Arion namun sekarang dia berharap untuk Arion tidak datang.
"Kau sangat tegang dan sedari tadi hanya menahan, aku ingin lihat seberapa kuatnya kau menahan ini! " Orang itu membawa sebuah tongkat dan memainkan nya di tangannya "Tunggu aku ingin bermain dengan ini dulu" Dia menaruh kembali tongkat nya membawa pecut di tangan nya sedikit memainkan nya.
"Terimalah ini gantikan sakitnya gantikan penderitaan nya, biar Arion menjadi hancur ketika melihat luka di sekujur tubuhmu hahahaha" Orang itu tertawa dengan keras mengarahkannya ke tubuh Olivia, beberapa kali bunyi pecut itu mengenai tubuh Olivia, tubuh Olivia sudah memar tergores pecut itu.
Olivia ketakutan dia memejamkan matanya dia menahan sakit di sekujur tubuhnya, perih panas sakit semua menjadi satu, penyiksaan yang dia dapat dulu tidak sebanding dengan kegilaan yang orang di hadapannya lakukan.
__ADS_1
"Kenapa diam Teriak teriak aku bilang teriak frustasi lah seperti dia frustasi lah teriak aku bilang" Orang itu tidak puas dengan Olivia yang menahan sakitnya dan terlihat kuat di depannya dia ingin Olivia menjerit frustasi karena menikah dengan Arion, orang berjubah ini ingin Olivia menyalahkan takdir nya karena bertemu dengan Arion.
Ceplas... ceplas... terdengar lagi suara pecut itu mendarat di tubuh Olivia kali ini lebih kuat Olivia tidak bisa menahan lagi saat ini air matanya tumpah sangat banyak "Hahaha bagus menangis menangis bagus hahaha, seperti nya aku harus lebih keras terhadap mu, salahkan semuanya pada Arion, jika kau tidak bertemu dengannya kau tidak akan mengalami ini"
"Aku tidak pernah menyesal bertemu dengannya, aku bersyukur di cintai olehnya aku bersyukur bisa mencintai nya" Ucapan lemah Olivia.
"Berisik gadis sialan, jangan membual!! marah lah pada Arion marah lah! " Orang berjubah itu terlihat semakin marah mendengar ucapan Olivia.
"Ini bukan salahnya, salahku tidak sekuat dia sampai aku bisa jatuh ke tangan mu"
"Diam! diam! diam! kau gadis bodoh! simpan kata-kata mu! kau harusnya menyalahkan dia bodoh! Plasss" satu cambukan lagi mendarat di tubuh Olivia.
****
"Rania kau baik-baik saja" Ucapan Aric dan Fiona yang kembali ke rumah karena Arion bilang Olivia di culik dan menyuruh Aric melihat kondisi rumah
Rania berjalan ke mobil Aric dan Fiona "Baik-baik saja tuan, sebaiknya kita segera pergi" Ucapan Rania, ya Aric dan Fiona menjemput Rania untuk membantu Arion.
"Bagaimana ini bisa terjadi Rania? " Tanya Fiona penjaga begitu ketat bagaimana bisa selengah itu.
"Seperti nya ada yang menyebarkan gas tidur, setelah Olivia pulang"
"Bagaimana kau tau? " Tanya Fiona.
"Ini hanya tebakan ku Nona tentu saja masih ada kemungkinan lain, seperti di beri obat tidur, kalau hanya tidur saya tidak mungkin tidak terbangun saat Olivia pulang, ataupun saat Olivia di culik" Jelas Rania "Dan saat bangun kami dalam kondisi lemah dan pusing" Rania menambahkan situasi yang terjadi dalam kediaman Mars.
"Ini masuk akal" Jawab Aric dan mendapatkan anggukan dari Fiona.
__ADS_1
Di Markas Rocky bekerja sangat keras, dia juga ingin segera membantu Arion tapi dia masih butuh waktu sebentar lagi untuk mengidentifikasi siapa orang yang membunuh Susan tak.. tak.. tak.. tak.. tak.. tangan Rocky tidak bisa berhenti terus dengan sangat cepat dan TAK suara keras itu mengakhiri kerja kerasnya "Dia! " menatap foto yang ada di layar komputer nya. Rocky bergegas mengirimnya pada Arion dan beranjak pergi dari tempat nya dengan terburu-buru.