
Arion masih tenggelam dalam ucapan neneknya terus berfikir akan perlakuan nya terhadap Olivia, sampai neneknya mengusap tangan Arion, membuat Arion tersadar dan menatap neneknya.
"Arion jika kau terus begini, aku pasti kan kau akan kehilangan Olivia seperti Papa mu yang hampir saja kehilangan Mama mu dulu, kau dan Papa mu tidak jauh berbeda sama-sama mementingkan ego, Papa mu pernah sekali kehilangan Mama mu, nenek harap kau tidak perlu merasakan kehilangan dulu" Angel mengingat masa dulu saat dirinya dan Olivia kabur dari keluarga Aditama.
Arion masih diam tidak bisa berdebat karena dia tidak tau bagaimana cara menurunkan ego nya.
Cukup lama Arion terdiam "Nenek kau istirahatlah" Arion tidak ingin terus tenggelam dalam ucapan neneknya, dia memiliki cara sendiri untuk menaklukkan Olivia.
"Baiklah, kau juga istirahat pikirkan apa yang nenek katakan, jangan ada penyesalan di kemudian hari Arion" nenek angel tersenyum ke arah cucu nya yang masih berwajah datar itu.
Arion mengecup punggung tangan neneknya dan berdiri berlalu keluar, dia menutup pintu, mengecek ponsel nya, menemukan beberapa chat dari Rocky, bergegas berjalan menuju lokasi Rocky.
Arion mengendarai mobilnya, pergi ke bar ke tempat Rocky, Aric, Daffin, dan Davian berada tak lupa ada dion di sana.
Arion memarkirkan mobilnya di depan baru itu, berjalan masuk dan menemukan keberadaan para saudara nya yang tengah minum bersama dan membahas hal yang tidak penting biasa obrolan laki-laki.
"Arion kau datang? " Ucap Davian orang pertama yang melihat kedatangan Arion.
Arion tanpa mengeluarkan suaranya langsung duduk dan mengambil gelas yang tersedia, mereka menyewa ruangan VVIP di bar itu terlihat seperti bar mini pribadi milik mereka.
Arion menenggak langsung air di dalam gelasnya, membuat Rocky tersenyum dia tau sepupu nya itu mungkin sedang dalam fase tertekan oleh pergerakan Alister yang terang-terangan terlihat ingin mengejar Olivia.
Rocky berjalan mendekat dengan gelas di tangannya "Kau harus membayar semua minuman ini karena sudah meninggalkan ku! " Rocky sedang berakting marah.
"Lakukan saja" Ucap singkat Arion yang terlihat malas berdebat dengan Rocky membuat Rocky menghela nafasnya.
"Apa ada yang terjadi? apa ku menyakiti Olivia? " Pertanyaan itu mampu membuat Arion melotot ke arah Rocky tatapan tajam itu seperti menusuk ke relung hati Rocky.
"Apa aku ini hanya bisa menyakiti orang! " Ucapan Arion yang sedikit berteriak itu mampu membuat semua yang berada di ruangan menatap Arion.
"Kau sangat kejam sobat! menyakiti orang bukankah hobi mu? " Ucap Davian dia tidak tau duduk permasalahan nya tapi di adalah orang yang menjemput Rocky bersama Dion.
__ADS_1
"Benar! bagaimana jika aku menyakitimu! " Arion menatap tajam Davian yang membuat Davian bergidik ngeri dia berniat bergurau tapi tanggapan Arion berbeda dari pikiran Davian.
"Sudahlah kak Davian diamlah kau jangan ikut campur kita minum saja, pura-pura tidak mendengar saja biar tidak terjadi masalah" Ucap Daffin menenangkan Davian, yang mendapatkan anggukan dari Davian.
Sedangkan Aric masih mengamati gerak-gerik saudara kembarnya itu.
Rocky terlihat menghela nafasnya dia tidak tau harus bagaimana membangun pembicaraan lagi setelah melihat saudara nya itu sangat tidak mood.
"Apa aku benar-benar hanya bisa menyakiti nya? " Tiba-tiba kalimat lirih itu terdengar dari mulut sang penguasa sombong itu.
Rocky ingin menjawab iya tapi dia masih menyayangi nyawanya dia memilih diam dan berfikir jawaban apa yang tidak akan menyinggung perasaan sepupunya itu.
"Dari apa yang aku lihat aku bisa menjawabnya" Ucap Aric yang sedari tadi terus mengamati dan diam akhirnya angkat bicara.
Arion menatap Aric dan menunggu jawaban apa yang akan Aric berikan padanya "Apa yang bisa kau lihat! " Arion terlihat penasaran dengan apa yang akan Aric jawab.
"Iya! kau terlalu menyakiti Olivia, perlakuan mu terhadap nya bukan perlakuan terhadap manusia, kau menganggap nya seperti dia barang milikmu, aku saja yang baru melihat tidak lama interaksi di antara kalian bisa langsung mengerti! kau yang sudah lama melakukan interaksi itu apa kau tidak merasa" Ucap Aric sedikit kesal dia teringat nasibnya dia saja selalu berbuat baik dan melakukan yang terbaik untuk fiona bahkan tidak bisa meluluhkan hatinya, bagaimana dengan Arion dia bahkan memperlakukan Olivia seperti barang miliknya itu saja tidak dia sadari.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan IQ yang begitu tinggi di atas orang normal, tapi masalah seperti ini kau bahkan tidak menyadari nya! apa kau bodoh! " Aric yang biasa bersikap tenang tiba-tiba terbawa arus kesal dengan sikap saudara kembarnya yang benar-benar buta dengan perasaannya sendiri Aric sampai berdiri tanpa sadar dan berteriak pada Arion
Arion terdiam mendengar ucapan Aric itu, dia merasa ucapan Aric benar-benar menyentil nya,
"Kak apa kau mabuk" Ucap Daffin lirih dan kemudian mendudukkan Aric.
Aric seperti nya sedikit mabuk namun dia masih sadar akan perbuatannya "Aku tidak mabuk aku hanya ingin menasehati laki-laki bodoh ini, jika dia menyukai Olivia dia harusnya mengejarnya bukan selalu memojokkan Olivia membuat Olivia semakin jauh dirinya, apa dia tidak sadar banyak laki-laki baik yang menginginkan Olivia! " Ucapan Aric itu membuat Arion menatap penuh tanya
"Siapa yang berani menginginkan Olivia apa dia ingin aku membunuhnya" Ucapan itu tanpa sadar keluar dari mulut Arion.
"Ada Andreas aku lihat dia juga bukan orang yang pantang menyerah, apa lagi Alister dia juga bukan orang yang pantang menyerah dia memiliki kekuasaan yang sama besarnya denganmu di negara I, untuk melawan mu bukan masalah untuk nya selama paman dan papinya ada di belakang nya" Ucap Aric
"Hanya mereka aku bisa menang dengan mudah" Ucap sombong Arion
__ADS_1
"Itu orang yang kita tahu, kau tidak tau berapa banyak orang yang bisa diam-diam mencintai tanpa menunjukkan perasan sesungguhnya! " Aric sedang membicarakan orang seperti dirinya yang hanya diam-diam menyukai Fiona.
"Apakah ada orang bodoh seperti itu! kenapa suka harus diam" Ucap Arion mencibir dia tidak sadar dia tengah mengatai saudara kembarnya dia termasuk golongan orang yang diam-diam suka.
"Berisik! orang seperti itu hanya ingin melihat orang yang dia cintai bahagia" Ucap Aric tak Terima dengan ucapan Arion.
"Bagaimana bisa membiarkan diri sendiri terluka untuk kebahagiaan orang lain" Ucap polos Arion
"Orang seperti mu tidak akan mengerti! " Ucap Aric yang membuat semua orang diam tidak ingin masuk dalam perdebatan kedua saudara kembar itu.
Di sisi lain Alister tengah menjemput Daniel di rumah sakit.
Daniel masuk ke mobil alister, Alister menganalisa pamannya dari ujung rambut sampai ujung kepala.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu" Ucap Daniel dengan nada ketusnya.
"Apa kau sakit? kenapa kau ke rumah sakit? " Tanya alister
"Tidak! " Hanya itu yang mampu Daniel katakana.
"Lalu kenapa paman ke rumah sakit? " Tanya Alister penasaran
"Berisik sekali! cepat jalan" Ucap Daniel yang tidak ingin banyak bicara, Alister juga tidak ingin ikut campur urusan Daniel.
"Paman kau ini punya banyak keponakan tapi kenapa selalu merepotkan ku" Ucap Alister
"Apa kau lupa siapa yang mengajarimu, urusan dunia bawah mengandalkan papi mu yang hanya bisa mematuhi mami mu itu apa yang akan terjadi dengan Black Drago" Ucap Daniel tersenyum sinis.
Dia memang orang yang mengajari masalah dunia bawah kepada Alister dia bisa juga di bilang guru Alister.
"Baiklah maafkan aku guru" Ucapan Alister yang tak ingin berdebat dengan Daniel, bagaimanapun Daniel memang mengajarinya banyak hal.
__ADS_1
Setelah obrolan berakhir Alister fokus mengemudi, sedangkan Daniel tengah memikirkan apa yang baru saja terjadi.
*Sial kenapa harus ada kerusakan di saat begini, aku harap itu tidak akan mempengaruhi hasilnya" Ucap Daniel dalam hati