
Aleena menghentikan langkahnya dan menarik nafasnya "BERHENTI! JANGAN BERANI MENDEKAT LAGI! " teriakan Aleena yang begitu keras membuat semua orang terkejut dan menatap Aleena tak terkecuali Andreas dan Rocky.
tatapan Aleena benar-benar terlihat ingin memakan seseorang, membuat semua orang tanpa sadar memundurkan tubuh mereka.
"Masuk! kak Andreas cepat! " Ucap Aleena sembari menarik Rocky masuk duduk di belakang menyisakan Andreas yang duduk di kursi pengemudi.
Andreas membunyikan klakson mobilnya untuk membuyarkan kerumunan itu, dan akhirnya mobil mereka melenggang bebas keluar.
Sepanjang jalan Aleena hanya diam, auranya begitu menakutkan mereka seperti merasakan keberadaan Rayyan dan Arion secara bersamaan.
"Aleena apa kau sakit? " Tanya Andreas yang tidak di tanggapi oleh Aleena.
Sedangkan Rocky yang mendengar ucapan Andreas itu mencoba menyentuh kening Aleena, namun Aleena dengan keras menepis tangan Rocky.
"Kau seperti nya benar-benar sakit wajahmu panas dan merah" Ucap Rocky.
"Tidak! " Aleena tambah kesal dengan ucapan Rocky.
"Lalu kenapa? wajahmu merah dan wajah mu panas" Ucapan Rocky itu membuat Andreas mengerti.
"Aleena apa kau marah pada kami? " Pertanyaan Andreas itu malah membuat Rocky bingung.
"Andreas itu tidak mungkin, untuk apa Aleena marah? apa kita melakukan salah? " Ucap Rocky yang tidak merasa melakukan sesuatu perbuatan yang salah.
"Rocky! " Andreas memperingati Rocky untuk melihat sekarang hawa membunuh sudah berkeliling di sekitar tubuh gadis kecil itu.
"Aleena apa kami membuatmu malu? maaf kami tidak menyangka akan menjadi begitu heboh"
"Malu? ah maafkan kami, apa kami akan membuatmu dalam masalah" Rocky akhirnya menyadari nya.
"Tentu saja kau menarik begitu banyak perhatian! om om om semua temanku memanggil kalian om! apa aku ini peliharaan om om" Kesal Aleena ya sebenarnya bukan itu yang membuat kesal Aleena yang sebenarnya adalah karena Rocky menarik perhatian teman-teman nya.
__ADS_1
"Om? apa aku setua itu, teman mu harus memakai kacamata" Rocky Menggerutu tentang panggilannya.
"Rocky seperti nya kau pantas di panggil om, lagi pula jarak umur kita dengan Aleena hampir 18 tahun" Ucap Andreas yang melupakan bahwa Rocky lebih muda darinya.
"Berisik! " Rocky tidak ingin berdebat.
Aleena masih terlihat kesal bahkan sepanjang jalan dia terus menghela nafas.
***
Daniel tidak langsung mengajak Ranti pulang, namun dia memarkirkan mobilnya ke sebuah restoran kecil.
"Kau tidak keberatan kan jika kita makan dulu? " Tanya Daniel pada Ranti karena Daniel menyadari jika mereka sudah melewatkan waktu makan.
Ranti menggelengkan kepalanya "Tidak " Ranti mencoba tersenyum dan bersikap biasa pada Ranti.
"Baiklah ayo masuk" Daniel mengajak Ranti masuk, baru saja masuk sang pemilik restoran terkejut melihat Daniel mengajak seorang wanita ke tempat nya, biasanya sang pemilik restoran hanya melihat kai atau anak buah laki-laki yang ada di sekitar Daniel.
"Diam! bisakah kau diam! dan jaga matamu atau aku akan mencungkil nya keluar! " Ucap Daniel dengan wajah yang terlihat serius membuat Ranti sedikit takut.
"Ayo yo bos kau jangan menakuti wanita mu, atau dia akan kabur meninggalkan mu nanti" Ucap pemilik restoran kecil itu.
Mendengar ucapan pemilik restoran kecil itu Daniel langsung melihat kearah Ranti dan benar saja wajah Ranti terlihat ketakutan "Maaf aku bercanda keterlaluan, ayo silahkan duduk" Ucap Daniel menarik kursi yang berhadapan langsung dengan chef yang bersiap untuk memasak. Daniel memilih restoran yang memilih layanan French service .
French service : tipe pelayanan yang bersifat formal dan eksklusif di mana chef menyiapkan makanan secara langsung di hadapan para tamu.
"Bos apa yang kau inginkan untuk makan siang? " Tanya chef itu pada Daniel.
"Terserah sajikan yang terbaik darimu" Daniel. tidak pernah tidak menyukai masakan chef seumuran nya itu.
"Baik, Beri bos Daniel, anggur berkelas milik kita" Ucap Chef itu kepada pelayan yang membantunya.
__ADS_1
"Baik" Ucap pelayan itu yang segera menyiapkan minum untuk Daniel.
"Kau bisa minum? " Tanya Daniel pada Ranti, Ranti hanya tersenyum dan mengangguk.
Arion dan Olivia kini tengah berada di atas ranjang mereka, Arion terus mengusap perut rata istrinya itu membuat Olivia hanya bisa tersenyum melihat nya "Boo sampai kapan kau akan mengusap perutku ini? " Tanya Olivia yang juga mengusap kepala Arion.
"Aku akan mengusapnya setiap hari" Arion menatap Olivia, sekarang wajah mereka menjadi sejajar dan begitu dekat "Sayang terimakasih sudah memberiku hadiah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, Terimakasih" Arion mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia perlahan tapi pasti bibir mereka mulai terpaut satu sama lain.
Kelembutan bibir Olivia membuat Arion tidak bisa menahan hasrat nya, Arion mulai menjelajahi tubuh Olivia dengan tangannya, membuat Olivia melenguh dalam bungkaman bibir Arion.
Arion perlahan melepaskan ciumannya dari bibir mungil Olivia, namun ciumannya turun ke leher Olivia, Arion membuka kancing baju Olivia dan mulai memberikan tanda di sekitar dada milik Olivia.
Tangan Arion mulai menyingkap rok milik Olivia namun di tahan oleh Olivia "Boo jangan se.. sekarang" Ucap Olivia menahan geli dalam tubuhnya yang sudah mulai menggelitik.
"Tidak bisa aku harus menghukum mu karena membiarkan fiona mengusap perutmu, sayang" Arion terus memberikan tanda di leher Olivia dengan tangan yang terus berusaha mengusap apa yang harus di usap.
"Boo ak.. aku mohon ah, ka.. kasihan Arion junior di.. dia masih rentan" Ucap Olivia
Arion mendengar ucapan Olivia membuat nya kesal dan menggigit kecil pundak Olivia membuat Olivia berteriak "Aaaaaa" Setelah teriakan itu Arion menjilat bekas gigitan nya membuat teriakan itu menjadi mengurangi geli "Aaahhhh boo he.. hentikan" Ucap Olivia terbata-bata menahan geli.
Arion menyudahi permainan yang sudah membuatnya bergairah itu, dia duduk dan memegangi kepalanya dia tertawa dengan penuh arti "Menyebalkan kau baru berusia tiga minggu tapi kau sudah jadi pengganggu, lihat bagaimana nanti aku menghukum mu" Arion kemudian mengusap perut Olivia.
"Boo dia bahkan belum bernyawa kau sudah posesif dan ingin menghukum nya" Olivia menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana tidak menghukum nya, kau baru saja mendapatkan nya lalu sudah mau mencampakkan suamimu ini" Arion memasang wajah yang begitu memelas membuat Olivia tidak bisa tidak memperdulikan nya.
Olivia membawa Arion ke pelukannya menyenderkan kepalanya di dada empuknya dan mengusapnya secara lembut "Boo apa kau bercanda, aku tak akan bisa mencampakkan mu, karena kau bagian dari nyawaku " Olivia mengecup kening suaminya.
"Sayang kau ini sedang menggoda ku ya! mana bisa aku menahannya" Arion kembali mengecup bibir Olivia membuat Olivia tidak bisa menahan godaan suaminya Itu.
Pada akhirnya mereka menyalurkan hasrat nya meski dengan ritme yang pelan tapi berakhir dengan lenguhan panjang keluar dari mulut mereka berdua.
__ADS_1