
Arion segera meninggalkan Aleena dan Olivia di ikuti Rocky dan Alister mereka memilih pergi ke gedung lantai atas untuk berbicara masalah serius itu.
Mereka sudah berada di gedung paling atas, tidak ada yang bisa menguping atau melihat mereka di atas gedung tinggi itu.
"Jadi apa kau mengingat penembak itu! " Tanya Arion yang entah dari mana mendapat kan kertas dan pena di tangannya, menunggu jawaban dari Alister.
"Ya kurasa, aku sedikit mengingat nya? tunggu apa kau akan menggambar wajahnya dengan penjelasan ku? " Menatap Arion ada rasa iri namun juga kagum bercampur dari tatapan mata Alister.
"Kenapa? apa ada yang salah? Apa kau tidak bisa melakukan nya " Wajah dan suara Arion ini benar-benar membuat Alister kesal nada sombong dan meremehkan nya itu membuat Alister merasa dirinya kalah lagi dari Arion.
Rocky melihat Alister mulai kesal dengan Arion, ya Rocky tidak ingin ada perkelahian saat ini "Alister kau tinggal jelaskan saja, biarkan Arion menggambarnya ok" Rocky mencoba menenangkan Alister.
Arion menarik ujung bibirnya senyumnya itu terlihat sekali kalau dia meremehkan Alister seakan-akan berkata 'Kau yang seperti ini ingin merebut istriku mimpi saja' Begitulah kiranya arti senyuman Arion itu.
Alister memang kesal sekali dengan tingkah Arion ingin rasanya langsung memukul wajah tampan tapi sombong itu, namun Alister bisa berfikir dengan jernih ini bukan waktunya untuk Berkelah, Alister hanya bisa meredam amarah nya dengan menggenggam tangannya "Ya aku bisa menggambarkan nya, Tingginya sama dengan ku, kulitnya sedikit gelap, dia memakai topi tapi aku melihat ada tanda lahir di leher nya, ada tato di tangannya, tato lambang sebuah organisasi tapi aku kurang yakin" Jelas Alister selesai menjelaskan Arion juga selesai menggambar nya dan menunjukkan pada Alister
"Kau bodohkah, ini sama sekali tidak membantu untuk melihat wajahnya! " Arion merasa gambaran nya sia-sia "Kau harus nya bilang tidak melihat bagian wajahnya karena menggunakan topi!. ".
" Sudahlah Arion setidaknya ini masih memberikan kita petunjuk ok. " Rocky tau Arion masih menyimpan rasa cemburu nya saat dia tau Alister ikut bermain bersama Aleena dan mungkin memiliki kesempatan berduaan dengan Olivia.
"Kau tidak mengatakan wajahnya! kau bilang apa kau masih mengingat penjahat itu! di bagian mana aku bodoh! " Alister tidak Terima untuk perkataan Arion Itu.
Rocky menghela nafasnya dia tau perdebatan mereka ini tercampur aduk antara urusan penembak dan Olivia "Kalian berdua bisaka menyampingkan urusan pribadi" Tegur Rocky.
"Diam! " Teguran Rocky mendapat surat tinggi dari kedua orang di hadapannya itu, membuat Rocky hanya bisa menarik nafasnya saja.
Setelah mereka terdiam "Tunggu kau melihat orang yang mengemudikan mobil atau tidak? " Tanya Arion yang mendapatkan gelengan kepala dari Alister.
"Di sisi lain mencelakai Aric di sisi lain menyuruh moko menembak Susan untuk tutup mulut, apa kau pikir mereka orang yang sama? apa dia tau kalau kau dan Aric kembar atau dia mengira kau Aric? " Rocky mengutarakan pertanyaan yang ada di pikiran nya.
__ADS_1
"Moko? " Alister sedikit bingung dengan pembicaraan mereka namun Alister tidak ingin bertanya lebih jauh.
"Entahlah jika mungkin saja dia tau aku memiliki saudara kembar dan ingin membuatku merasa kehilangan saat dia berhasil membunuh Aric, atau dia memang berfikir Aric adalah aku yang sedang tidak waspada, sekarang itu tidak penting hanya saja seperti nya seseorang sudah tidak sabar untuk menunjukkan dirinya! " Arion tersenyum penuh Arti.
Rocky mengangguk seperti yang Arion katakan mereka sudah mulai aktif untuk melakukan penyerangan mungkin sebentar lagi mereka akan tau siapa yang ada di belakang Mario Harris.
Setelah mereka berbicara banyak mereka kembali ke ruangan VVIP tempat Aric di rawat, terlihat Rafael dan Dion yang berjaga, Olivia dan Aleena juga belum kembali.
"Kalian kenapa belum pulang! " Tanya Rocky kepada Aleena dan Olivia yang masih setia duduk di depan ruang VVIP rumah sakit itu.
"Kami menunggu kak Fiona, dia belum keluar" Ucapan Aleena yang memang menunggu Fiona.
"Aleena pulanglah aku yakin kak Fiona tidak ingin pulang sekarang" Ucapan Alister yang menepuk kepala Aleena.
Aleena mengangguk dia mengerti perasaan Fiona dia mungkin tidak ingin meninggalkan Aric sendiri seperti Aleena dulu yang selalu ingin menemani mamanya saat di rumah sakit "Baiklah aku mengerti" Aleena menggandeng tangan Olivia mengajaknya pulang.
Sesuai dengan pesan dari Arion, Dion segera melangkah dia yang bertugas mengantarkan pulang Aleena dan Olivia namun tiba-tiba Dion berhenti karena melihat isyarat tangan Arion.
" Aku ikut pulang bersama kalian" Ucap Alister yang tidak ingin kalah dengan Arion ubah mendapat Olivia ya meski kenyataannya Olivia sudah menjadi istri sah Arion.
"Tidak perlu! kau temani kakakmu! " Arion menolak Alister secara halus menggunakan Fiona sebagai alasan.
"Dia tidak akan keberatan jika aku pulang" Ucapan Alister dia tidak akan membiarkan Arion memiliki kesempatan bersama Olivia lama-lama.
"Eh, meninggalkan dia di sini sendiri di kelilingi laki-laki, tidak boleh benarkan Olivia" Olivia terkejut saat Arion menyebut namanya Olivia bingung akan menjawab apa. Olivia tidak ingin melarang Alister ikut pulang tapi dia tidak ingin mendapatkan hukuman jika dia membiarkan Alister ikut pulang dan pada akhirnya Olivia mengangguk.
"Benar, Fiona seperti nya sangat sedih, Alister bisakah kau menghiburnya untuk ku" Hanya ini yang bisa Olivia lakukan untuk menyuruh Alister tetap tinggal.
"Aku mengerti" Alister melihat Olivia khawatir dengan keadaan kakaknya Alister mengangguk pelan
__ADS_1
'Cih! menurut sekali! ' Kesal Arion dalam hati
Mereka bertiga kini sudah ada dalam mobil, namun aura dingin terasa di sekitar Olivia dan Aleena, Aleena masih terus berfikir alasan apa yang mampu meredakan amarah kakaknya nanti 'Aleena berfikir lah sebelum ada ledakan boom molotov! ' Aleena berbicara pada dirinya.
"Nah kalian berdua sebelum ada penembakan itu apa kalian menikmati jalan-jalan nya? " Pancing Arion dengan nada masih terdengar biasa.
"Ya" Jawab Olivia dan "tidak" Jawab Aleena secara bersama-sama, Aleena segera menepuk jidatnya
'Kak Olivia' Ingin rasanya Aleena berteriak untuk menyadarkan Olivia jawabannya akan mengundang masalah.
"Jadi mana yang benar! " Wajah dingin yang di lihat Aleena dari kaca mobil itu membuat Aleena bergidik ngeri.
"Tidak bisa menikmati nya ka.. karena kak Arion tidak ada" Aleena segera membuat alasan yang bisa menyenangkan Arion.
"He bukankah sangat menikmati sampai memanggil pemain yang tidak ada skrip! " Maksudnya Aleena hanya bilang ingin pergi berempat dan pada kenyataannya mereka pergi berlima
Aleena sangat sulit kenalan ludahnya "Itu tidak seperti yang kakak pik... " Jawaban Aleena tak terselesaikan
"Bagaimana aku harus menghukum seseorang yang tidak bisa menepati perkataan nya! haruskan aku menggantung kakinya di atas pohon karena sudah berbohong" Mendengar ucapan Arion Aleena membayangkan dirinya bergelantungan dengan kaki terikat dan kepala di bawah
"Tidak... tidak.. kau salah paham kak, ak.. aku mengantuk aku pergi tidur" Aleena segera menutup matanya memakai handset nya dan mendengarkan musik pengantar tidur.
"Aku akan menghukum mu setelah kau bangun! " gumam Arion yang di dengar Olivia.
"Hukuman untuk apa?" tanya Olivia yang mendengar gumaman Arion.
"Bicara hukuman bagaimana aku harus menghukum mu nyonya Arion? " Arion melirik sekilas istrinya.
"Hu.. hukuman untuk.. untuk apa? " Tanya gugup Olivia.
__ADS_1
Arion menghentikan mobilnya di pinggir jalan, Arion melepaskan sabuk pengaman nya dan mendekat ke arah Olivia, memegang dagu Olivia perlahan mendekat "Hukuman untuk istri yang membiarkan laki-laki lain menyentuhnya selain suaminya, seperti bermain basket bersama" Bisikan Arion Itu membuat Olivia terkejut
"Ak.. aku hanya bermain basket saja tidak.. tidak ada hal lain yang terja... " Tertentu ucapan Olivia sudah tertelan bersama bibirnya yang sudah di lahap habis oleh Arion...