
"Mami apa kau menyukai oleh-oleh diriku? " Tanya Fiona pada Tina sang mami.
"Fio apakah oleh-oleh yang kau bawa tidak terlalu banyak, mama sampai bingung mau meletakkan nya di mana" Jawab jujur Tina.
"Ha apa yang aku bilang, mami dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang ku katakan, untung saja kami lepas landas pada malam hari jika tidak aku takut minimarket yang ada di sana akan dia bawa kemari" Ucap Alister.
"Papi lihat aku sedang di bully" Fiona memang terkenal manja pada papinya namun sifat manjanya itu hanya Fiona tunjukan pada keluarganya.
"Sudahlah Alister jangan ganggu kakak mu" Ucap kenzo sembari mengambil stik game yang ada di ruang keluarga itu "Bagaimana jika kita" Kenzo mengangkat stik gamenya sepertinya tuan mafia yang dulu suka bermain pistol.
"Papi apa kau sudah berlatih? aku tidak ingin melawan pecundang" Ucap Alister sembari mengambil stik yang papi kenzo sodorkan padanya.
"Hah! siapa yang kau sebut pecundang, lihat bagaimana papi akan mengalahkan mu "
"Hahaha baiklah jika kalah jangan menangis" Ledek Alister.
"Kalian berdua mulai lagi" Tina menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat pemandangan yang sudah lama dia rindukan.
"Lihatlah putra mu itu bagaimana dia meremehkan papinya" Gerutu kenzo manja pada sang istri
"Papi seingat ku kau sudah kalah memainkan game bersama ku 100 kali" Kenzo sekarang memang lebih santai apa lagi semenjak Alister membelikan game untuk mengisi waktu luangnya.
"Enak saja aku baru kalah 97 kali" Ucapan kenzo membuat semua orang yang mendengar nya tertawa "Kalian jangan menertawai ku lihat nanti aku akan menang
Kenzo dan Alister akhirnya memainkan game, sedangkan tina menyiapkan cemilan untuk mereka semua
" Hahaha sudah ku bilang papi pasti kalah" Ucap Alister dengan bangga.
"Itu kita harus ulang permainan, papi hanya sedang tidak fokus"
"Sudahlah papi dari pada papi menyibukkan main game, bagaimana jika papi bertanya soal kekasih putri papi" Ucapan Alister mengingatkan kenzo akan pesan yang Alister kirim kepada nya. Meski Alister jarang pulang tapi Alisterlah yang lebih sering mengirim pesan kepada kedua orang tuanya, sedangkan Fiona karena jarang pergi jauh dari orang tuanya jadi membuat nya tidak pandai berkirim pesan.
__ADS_1
Kenzo langsung mematikan game dan menyimpan stik nya, kemudian matanya menatap putrinya yang sudah terlihat salah tingkah.
"Fio, apa ada yang ingin kau katakan? " Tina juga menatap putrinya yang belum cerita jika dia sudah berpindah hati, karena sejak kecil Tina tau orang yang Fiona suka adalah Arion.
"Hehe so.. soal itu kita bahas besok pagi ya" Fiona ingin melarikan diri namun papinya sudah berdiri di depan putrinya yang ingin melarikan diri itu.
"Bicara sekarang! kenapa tiba-tiba berubah pikiran apa dia memaksamu? " Kenzo sebenarnya sedikit banyak sudah mengerti bahwa putrinya berpacaran dengan Aric.
"Papi apa yang kau katakan? dia tidak memaksa ku, tapi banyak yang terjadi yang membuatnya seperti ini" Fiona tak ingin keluarga nya salah paham, alhasil dia duduk kembali dan menceritakan semuanya, Kenzo dan Tina akhirnya mendengar cerita putrinya dengan seksama, sedangkan Alister mendengarkan layaknya radio yang sedang di hidupkan dia mendengarkan sembari makan cemilan yang maminya siapkan.
"Jadi bukan karena Aric yang memaksa mu" Kenzo menegaskan pertanyaan yang sama.
"Tentu saja bukan, Papi percaya lah Fiona dan kak Aric saling mencintai"
"Fiona ini benarkan, jangan jadikan Aric hanya pelarian, Aric anak yang baik" Tina khawatir jika anak perempuan nya hanya menjadikan Aric yang mirip dengan Arion sebagai pelarian saja, karena bagaimanapun dulu Fiona selalu membicarakan Arion dan menyukainya.
"Mami, Fiona sudah bilang kan Fiona menyukai kak Aric, dan lagi Fiona juga sudah menceritakan semuanya jadi mami jangan berfikir kalau Fiona hanya menjadikan kak Arion pelarian " Fiona memeluk maminya "Mami percayakan pada Fiona" Fiona menatap maminya yang mulai menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Bie jangan lakukan yang aneh-aneh ya" Ucap Tina memperingati suaminya itu, Tina tau bagaimana suaminya itu mencintai putrinya, pasti tidak akan mudah untuk Aric mendapatkan restu suaminya itu.
"Apa yang kau katakan tidak akan terjadi hal yang aneh sayang tenang saja" Kenzo tersenyum, senyuman yang penuh Arti.
"Papi senyuman mu itu sudah aneh" Ucap Alister yang mendapatkan pandangan tajam dari papinya itu.
"Diam kau Alister! , harusnya kau mendukung ku" Ucap lirih Kenzo yang mendapatkan jempol dari Alister.
*****
Setelah mengobrol dengan Rocky, Arion tentu saja segera pergi untuk kembali ke kamarnya dan menagih janji Olivia padanya tadi.
Saat Arion akan masuk tiba-tiba Andreas menghentikan langkah Arion "Arion" Panggil Andreas yang berjalan kearah Arion.
__ADS_1
"Ada apa? " Tanya Arion pada Andreas
"Kau belum mengunjungi nenek? " Pertanyaan Andreas ini membuat Arion ingat apa yang sedari tadi mengganjal di hatinya.
"Gawat, aku hampir saja lupa" Arion ingin pergi menemui nenek angel
"Arion tunggu dulu" Andreas bahkan belum membicarakan apa yang ingin dia bicarakan tapi Arion sudah terburu-buru.
"Ah ada apa lagi? " Arion menatap Andreas
Andreas sedikit tertawa "Hah! kau sudah berubah, kau tak sekaku dulu bahkan sekarang kau hampir melupakan nenek yang selalu jadi prioritas mu"
"Memang apa ada yang salah jika orang berubah"
"Tentu saja tidak, aku menyukai mu yang seperti ini, kau lebih terlihat seperti manusiawi"
"Apa kau pikir selama ini aku ini seperti iblis, apa kau memanggilku hanya untuk mengkritik ku hah! "
"Ya sedikit seperti itu" Ucapan jujur Andreas itu mendapatkan tatapan tajam dari Arion. "Hahaha aku hanya bercanda, aku ingin memberitahu soal kondisi Raisa, seperti nya kehamilan nya sedikit berbahaya namun dia masih ingin mempertahankan anak dalam. kandungan nya, tapi ini memerlukan obat yang sangat mahal bagaimana apa kau akan mengizinkan dokter yang menangani Raisa memberikan obat-obatan ini? "
"Soal ini lakukan saja, lagi pula anaknya tidak bersalah" ucapan Arion itu mampu membuat Andreas tersenyum lagi "Kenapa kau tersenyum, kau sedang menertawai ku"
Andreas dengan cepat menggelengkan kepalanya "Tidak, aku hanya berfikir jika itu kau yang dulu aku rasa kau akan membiarkan Raisa dan anaknya, tapi berkat Olivia kau sudah berubah, Arion kau menemukan wanita yang tepat" Andreas menepuk pundak Arion.
"Tentu saja aku tau itu, jadi aku tak akan membiarkan siapapun untuk mengganggunya, atau berfikir memilikinya bahkan hanya mengagumi atau memandangnya, aku tidak akan memafkan orang itu" Arion mengatakan nya dengan serius membuat Andreas bergidik ngeri.
"Kau sangat berfikiran sempit ya"
"Tentang dia aku akan berfikir sangat-sangat sempit " Setelah mengatakan itu Arion segera meninggalkan Andreas untuk menemui istrinya tentunya.
"Dia terburu-buru untuk menemui istrinya bukan, dia benar-benar cinta mati pada Olivia"
__ADS_1
Arion langsung bergegas masuk kedalam kamar dan apa yang dia lihat membuat wajahnya terlihat kesal.