
"Bagaimana kau tau ada peluru mengarah ke pada Aric? jelaskan padaku? " Tatapan Arion itu membuat Olivia takut, pertanyaan Arion itu seperti Olivia sedang di curigai.
"Itu hanya kebetulan, aku hanya reflek lebih cepat beberapa detik dari peluru itu tuan. " Jelas Olivia, sebenarnya Olivia terlahir dengan kepekaan mata dan telinga maka dari itu dia ingin menjadi dokter hebat, namun selama ini dia hanya diam dan menutupi kepekaannya karena dia lebih memilih melindungi ibunya dengan mengorbankan uang yang dia dapat untuk biaya berobat ibunya, jadi impiannya menjadi dokter sirna begitu saja.
"Sudahlah Arion jangan terlalu menekan Olivia, dia juga tidak mungkin bersekongkol dengan penembak jitu itu, dia 24 jam ada dalam pengawasan kita! " Rocky tidak ingin Arion mencurigai Olivia, walaupun Rocky tau Arion tidak benar-benar mencurigai Olivia.
'Apakah dia mencurigai ku? ' Olivia mencuri pandang pada Arion yang masih menatapnya, Saat pandangan mereka bertemu Olivia menundukkan kepalanya.
Arion hanya diam saja tanpa menjawab, entah mengapa ada rasa sedih di mata Olivia, ada perasaan ingin mendengar Arion mengatakan tidak mencurigai nya sama sekali tapi nyatanya Arion memilih untuk diam.
Di sela percakapan mereka, lampu operasi telah padam, pintu perlahan di buka terlihat seorang dokter dan asistennya keluar "Dokter bagaimana keadaannya" Fiona yang sedari tadi menyembunyikan tangisnya langsung bangkit dan berdiri di hadapan sang dokter dia ingin tau bagaimana keadaan Aric. Fiona segera mencengkram kuat kedua bahu dokter itu membuat dokter itu kesakitan tapi masih menahan nya.
"Te.. Tenanglah Nona pasien baik-baik saja, untung saja peluru tidak mengenai jantung pasien, peluru berhasil di keluarkan terlebih lagi peluru tidak berada terlalu dalam jadi hanya perlu istirahat untuk memulihkan keadaan pasien" Mendengar penjelasan dokter Fiona merasa sangat lega dia melepas cengkraman nya yang begitu kuat itu setelah mendengar berita kalau Aric baik-baik saja.
Mendengar ucapan dokter semua orang merasa sangat lega dan bersyukur, karena Aric baik-baik saja.
"Syukurlah syukurlah terimakasih Tuhan! terimakasih" Fiona merasa senang Aric baik-baik saja, Fiona ingin sekali bertemu dengan Aric, namun saat Fiona ingin masuk ke ruang operasi dirinya di hentikan oleh dokter.
"Nona anda bisa menemui pasien di ruangan nya, pasien akan segera di pindahkan" Dokter itu menjelaskan prosedur rumah sakit, tidak ada orang biasa yang di perbolehkan masuk ke ruang operasi meskipun operasi telah selesai di lakukan, itu untuk menjaga sterilisasi ruangan operasi tersebut.
__ADS_1
"Tenanglah kak Fiona kita tunggu kak Aric di pindahkan" Aleena berjalan ke arah Fiona menggandeng tangan Fiona untuk menenangkan Fiona, Fiona hanya mengangguk Olivia juga ikut mendekat kearah Fiona dan mengusap punggung Fiona.
"Tenanglah Fiona, tuan Aric sudah baik-baik saja, jangan khawatir" Olivia melihat Fiona sangat khawatir dan takut saat melihat Aric tertembak di depan matanya.
Fiona sendiri tidak menyangka hal itu membuatnya takut pasalnya saat dia bersama sang papi dan adiknya melawan pemberontak Fiona tidak pernah takut melihat orang yang tertembak atau mati di depan matanya tapi saat melihat Aric yang mengalaminya ada ketakutan yang amat di rasakan oleh Fiona
Aric di pindahkan di ruangan VVIP, orang pertama yang menjenguk Aric tentu saja Fiona, Fiona menemani Aric di dalam ruangan nya, melihat Aric terbaring air mata Fiona yang sudah berhenti tiba-tiba mengalir kembali."Aku sangat takut, aku takut ka.. kau akan meninggalkan ku aku sangat takut aku benar-benar takut" Ucap Fiona di iringi air mata di pipinya, Fiona juga menggenggam tanganmu Aric erat.
Di luar ruangan Alister berlari tergesa-gesa mencari keberadaan kakaknya dan Aric, Alister tidak langsung ikut ke rumah sakit dia berlari berusaha mendapatkan penembak jitu Itu tapi saat dirinya akan berhasil menangkap penembak jitu itu, seseorang menyelamatkan penembak jitu itu dengan mobil membuat Alister kalah cepat dia hanya berlari sedangkan mereka menaiki sebuah mobil yang kecepatan nya sudah di tambah.
"Hah huhh haah, ka.. kalian di sini? " Manatap Arion dan Rocky yang ada di hadapan nya, sembari membenarkan posisi nya yang terengah-engah itu agar terlihat tidak lemah.
"Kenapa kau kemari! " Tatapan mata Arion terlihat tidak suka dengan kedatangan Alister itu.
Aleena yang berada di dekat Rocky berusaha menarik pakaian Rocky, dia memberi isyarat untuk Rocky membantu mengalihkan pembicaraan agar dia tidak mati karena tatapan tajam kakaknya itu yang seakan sedang Menyayat-nyayat dirinya.
"Yo Alister kenapa kau terengah-engah? dan kau bilang dari awal bersama mereka lalu dari mana kau? " Untung saja Rocky mengerti signal dari Aleena jika tidak mungkin saja Aleena akan benar-benar mati karena tatapan yang begitu tajam.
"Aku berusaha mengejar penembak jitu itu, aku lihat dia di atas gedung aku pikir aku masih ada waktu saat dia turun aku akan menangkap nya, awalnya aku sudah berhasil melihat dan mengejarnya tapi sial ada orang yang membantunya melarikan diri dariku saat aku sudah mengejar nya sampai di jalan raya dia menggunakan mobil." Jelas Alister yang tadi langsung berlari saat melihat Aric tertembak
__ADS_1
Arion dan Rocky mendengar penjelasan Alister dengan seksama "Kau melihat plat mobilnya? " Tanya Arion siapa tau ada celah untuk mereka menemukan penembak jitu itu
"Tidak ada, itu adalah mobil yang seperti nya di modifikasi" Jelas Alister lagi, membuat tangan Arion mengepal.
"Apakah penembak itu mengincar Aric karena dia pikir itu kau? " Tanya Alister karena tidak mungkin Aric yang belum lama tiba di negara itu langsung memiliki musuh bukan
"Apakah dia orang yang sama yang menyuruh moko menembak su.. " Rocky berhasil menghentikan kalimatnya dia melupakan di sana masih ada Olivia dan Aleena dua orang yang tidak mengerti dengan kejamnya dunia bawah satunya wanita polos satunya gadis kecil yang masih awam dengan dunia keluarganya..
"Haah dug.. " Arion menghela nafasnya dan memukul kepala Rocky dengan tangannya "Sebaiknya kita bicara di tempat lain" Arion tidak ingin dua wanita di depan nya itu mendengar sesuatu yang mengerikan seperti bunuh membunuh tembak dan menembak terlalu dini untuk Aleena dan terlalu kejam untuk Olivia, Arion memikirkan perasaan dua wanita yang berharga di hidupnya.
"Kakak apa yang kak Rocky katakan? " Aleena penasaran kenapa pembicaraan mereka terhenti padahal Aleena merasa sangat senang mendengar cerita mereka.
"Tidak ada apa-apa, kalian berdua tunggu di sini, sebentar lagi Rafael dan Dion akan datang menjaga Aric dan juga mengantarkan kalian berdua " Aleena menggelengkan kepalanya dia ingin ikut kakaknya yang membahasakan sesuatu yang membuatnya merasakan sebuah keseruan.
"Tidak! aku ikut berdiskusi dengan kakak! " Ucap Aleena tegas dia terlihat sangat ingin ikut membahas sesuatu yang harusnya dianggap mengerikan untuk anak kecil.
"Heh, dari pada kau ikut denganku, lebih baik kau pikirkan alasan untuk sesuatu! " Arion menatap Aleena bergantian dengan Alister, itu cukup membuat Aleena mengerti kakaknya sedang marah karena Aleena membuat Alister dan Olivia bersama.
'Aleena tamatlah riwayat mu' Aleena menepuk jidatnya cukup keras membuat Olivia terkejut dan mendekat ke arah Aleena
__ADS_1
"Aleena kau baik-baik saja? " Olivia terlihat khawatir dan melihat kening Aleena yang Aleena tepok sendiri.
'Aku tidak akan baik-baik saja' Gumam Aleena dalam hati.