
"The.. kau ingin mati dengan mudah atau kau ingin mati mengenaskan! itu mudah bagiku" Arion tersenyum licik dia benar-benar mengerikan.
"Ka.. kau akan menyesal! " Susan menahan kesakitan nya, dia mencoba menutup darah yang terus mengalir dari pahanya dengan merobek pakaian nya.
"Aku tidak akan menyesal! katakan selamat tinggal pada dunia Susan! " Pistol yang Arion pegang mengarah ke kepala Susan, membuat Susan gemetaran bahkan tidak bisa menyelesaikan ikatan di pahanya, Susan tau Arion tidak akan main-main
"Tu.. tunggu dulu" Ucap Susan seperti nya dia berubah pikiran atau dia sedang merencanakan sesuatu agar tidak jadi di bunuh.
"Apa? " sudut bibir Arion sedikit terangkat seperti nya rencana nya berhasil setelah menakut-nakuti Susan.
"Ak.. aku bisa memberitahu mu siapa dia, ta.. tapi biarkan dokter mengobati ku dulu" Susan berusaha bernegosiasi dengan Arion
Arion tertawa meremehkan, Susan pikir bisa mengelabuhi Arion "Katakan dulu siapa dia! aku baru akan membantumu, jika tidak bicara mati saja! " Arion tersenyum licik. Arion tahu Susan hanya ingin sembuh dah mengulur waktu.
"Bagaimana aku bisa percaya denganmu! " Susan tidak ingin berhenti berdebat sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Banyak bicara! sudahlah! " Arion menarik pelatuk nya membuat Susan benar-benar takut. 'Dia benar-benar kejam! ' Susan bergumam pada dirinya.
"Ya Susan kau akan segera bertemu dengan malaikat maut, tidak bisa bersenang-senang lagi, sayang sekali kau harus mati muda" Rocky menertawakan Susan dengan keras, namun ucapan Rocky membuat Susan berfikir dua kali.
"Tunggu ak.. aku akan memberitahu padamu! dia adalah... " Kalimat Susan tidak selesai karena peluru sudah bersarang di kepala Susan.
anak buah Rocky dari belakang menembak Susan melewati celah penjara besi, kemampuan menembaknya sehebat Arion.
"Siapa dia tangkap! " Ucap Rocky namun sayangnya orang itu tidak berniat kabur namun malah menghujam jantungnya sendiri seperti nya dia siap mati menjadi penghianat.
__ADS_1
Susan tergeletak, orang yang menembaknya pun sama "Kalian bawa Susan ke rumah sakit! " Teriak Rocky dan menunjuk pada anak buah yang dia kenal baik.
Sedangkan Arion berjalan ke arah pembunuh itu "Siapa dia? " Arion melihat orang itu dengan seksama, dia terlihat tidak asing.
"Moko dia sudah lama mengikuti aku tidak sangka kau akan mengkhianati ku" Ucap Rocky melihat anak buahnya yang masih di ambang kematian
"Maaf, keluarga ku dalam bahaya tuan maaf" Moko menyesal mati dalam keadaan berkhianat tapi dia tidak bisa melibatkan keluarga yang dia sayang. "Akkkkkk kakkk maaf" Sebelum meninggal moko menarik HP nya sebelum bisa melakukan nya Moko benar-benar tewas.
"Moko! kau ini bodoh, Arion bisa menyelamatkan keluarga mu jika kau mengatakan pada kami! kau benar-benar bodoh! " Rocky menyayangkan perbuatan moko, moko salah satu penembak jitu yang Rocky latih sendiri.
"Dia penembak yang bagus, tapi sayang dia bodoh! " Ucap Arion menggelengkan kepala tapi dia saat dia berkhianat dia juga ingin membantuku? heh aku akan menyelamatkan keluarga mu" Arion mengambil HP milik Moko.
"Kau dengar aku akan menemukan mu! Pengecut! " Arion menyadari Moko dalam panggilan , namun teleponnya segera di matikan.
"Tidak bisa! dia pasti sudah mengacaukan sinyalnya, tapi seperti nya moko tidak berbohong" Arion menunjukkan wallpaper handphone Moko yang memperlihatkan foto ibu moko dan kedua adik perempuan nya.
"Dia tau kelemahan moko! dan tau moko salah satu anak buah ku yang aku percaya, tidak semua anak buah ku bisa selalu mengikuti ku, aku hanya memilih beberapa dari mereka, dari mana dia tau moko akan ada di saat kita berbicara dengan Susan? " Rocky merasa aneh tentang ini.
"Kemungkinan nya tentu saja mungkin dia sangat mengenalmu, atau mungkin ada pengkhianat di sekitar kita" Arion masih tenang dengan apa yang terjadi sampai telepon nya Berbunyi.
"Apa Aleena kau di mana? " Tanya Arion yang terlihat khawatir, Arion mematikan teleponnya.
"Rocky urusan moko kita selidiki nanti, kita ke rumah sakit sekarang" Arion bergegas berjalan setelah mengatakan itu, membuat Rocky bingung namun dia tetap mengikuti langkah Arion.
Saat berada di mobil "Sebenarnya ada apa kenapa kita tiba-tiba harus ke rumah sakit? " Rocky sungguh penasaran Arion tidak menjawab dia langsung melajukan mobilnya. "Sudahlah Rocky jangan buang waktu mu berbicara dengan batu" Sindir Rocky yang kesal karena dia benar-benar tidak mendapat jawaban dari Arion
__ADS_1
Arion mengemudikan mobilnya sangat cepat dia seperti pembalap sekarang, sampai akhirnya mobil mewahnya berhasil terparkir di rumah sakit.
Arion bergegas masuk bahkan meninggalkan Rocky di belakang nya "Arion tunggu, dia benar-benar meninggalkan ku" Arion berjalan dengan cepat menuju ruang operasi dia melihat semua orang berada di lorong menunggu.
Arion sedikit merasa lega saat Olivia masih berdiri di sana, Arion berjalan semakin cepat dan memeluk Olivia, dia takut terjadi sesuatu pada Olivia "Syukurlah" Gumam lirih Arion yang memeluk erat Olivia.
Olivia merasa senang saat Arion sangat mengkhawatirkan nya namun Olivia segera mendorong Arion, saat Olivia sadar dia masih berada di rumah sakit
"Kakak aku di sini" Aleena menarik pakaian kakaknya membuat Arion tersadar, tubuh Arion tidak bisa di kendalikan saat melihat Olivia baik-baik saja.
'Dia kehilangan kendali saat melihat istrinya, benar-benar membuat iri" Gerutu Rocky dalam hati dan juga sedikit tertawa ternyata si jenius yang hebat itu bisa kehilangan kendali di depan Olivia.
"Ekhemm.. aku salah melihat aku pikir kau sudah tumbuh lebih tinggi" Alasan yang Arion berikan ini tidak masuk akal bukan, tapi semuanya hanya bisa menghela nafas.
"Alasanmu begitu buruk" Gumam Rocky dan Aleena bersama-sama.
"Diam! ekhemm bagaimana keadaan Aric? " Arion mengalihkan pembicaraan, Arion menatap ruangan operasi terlihat Fiona yang terus melihat ke pintu operasi, Fiona bahkan tidak melihat adegan dulu mana Arion memeluk Olivia karena jiwa dan raga Fiona kini tertuju pada Aric.
"Tuan Aric terkena tembak di sakitar area jantungnya melihat dari kondisi nya mungkin tuan Aric masih bisa selamat, seperti nya tembakannya tidak mengenai jantungnya" Ucap Olivia menenangkan Arion yang terlihat khawatir.
"Itu karena kak Olivia mendorong kak Aric sebelum peluru mendarat, tapi kak Olivia itu bahaya jika kak Olivia lebih kuat mendorong nya aku rasa peluru itu akan bersarang di tubuhmu" Aleena tidak melihat dengan benar saat peluru itu dengan cepat mengarah ke Aric tapi Aleena melihat dengan benar saat Olivia masih bisa berfikir mendorong nya bagaimana bisa.
"Aleena itu hanya kebetulan" Ucapan Olivia yang membuat Arion menatap Olivia tatapannya penuh dengan pertanyaan.
"Bagaimana kau tau ada peluru mengarah ke pada Aric? jelaskan padaku? " Tatapan Arion itu membuat Olivia takut, pertanyaan Arion itu seperti Olivia sedang di curigai.
__ADS_1