Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Hari apes


__ADS_3

Drrt... drrt...drrt...


Ponsel jadul yang aku simpan di dalam saku daster lusuh yang sedang ku pakai terasa bergetar. Kemudian aku menghentikan sejenak aktifitas yang sedang ku lakukan. Aku mematikan kompor terlebih dahulu lalu meletak kan serokan di atas wajan karena aku sedang menggoreng kerupuk yang akan aku bungkus setelah di goreng nanti.


Dengan rasa tidak sabar aku segera merogoh saku dasterku. Ku tatap lekat lekat ponsel ku karena layar nya sudah terdapat banyak goresan sehingga tidak terlalu nampak dengan jelas. Ponsel yang aku beli dengan uangku sendiri dua tahun sebelum menikah. Sebenarnya, ponselku terbilang ponsel bagus pada masanya karena aku membelinya dengan harga tiga juta karena dulu aku bekerja dan memiliki uang.


Sebuah pemberitahuan dari m banking bahwa uang telah masuk ke rekeningku dengan nominal lima ratus ribu. Aku ingat bahwa hari ini adalah tanggal gajian suamiku.


Ku tatap kembali ponsel yang masih aku pegang dengan erat berharap angka nol yang berjejer rapih itu bertambah menjadi enam. Namun kenyataannya, angka nol nya tidak berubah masih saja sama yaitu lima.


Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari suamiku yang sedang bekerja di Jakarta dan aku segera membacanya.


"Aku sudah transfer uang untuk kebutuhan bulan ini. Jangan boros boros karena nyari uang itu sulit."


Aku tersenyum kecut menatap pesan yang ada di layar ponselku.Jangan boros boros, Kalimat itu selalu dia sampaikan ketika mengirim jatah bulanan yang berjumlah tidak pernah lebih dari lima ratus ribu sebagai nafkahnya padaku selama tiga tahun usia pernikahan kami.


"mama, Zen mau minyum cucu."


Aku menunduk ke bawah melihat pada balita berusia satu setengah tahun sedang menarik narik daster lusuh ku. Anak ku minta di buatkan susu. Zain memang tidak minum ASI dariku melainkan minum susu formula. Dulu, ketika baru lahir aku sempat memberinya ASI hingga berumur satu bulan. Namun, ketika aku sakit dan di rawat di rumah sakit suamiku melarang aku memberinya ASI dengan alasan takut tertular oleh penyakit yang aku derita. Padahal penyakit ku tidak ada hubungannya dengan ASI dan dokter pun membolehkannya. Akan tetapi, suamiku tetap ingin di berikan susu formula saja.

__ADS_1


"Sebentar ya nak, mama buatkan dulu susu untuk Zain," ucap ku sambil mengelus pucuk kepalanya.


Kemudian, aku berjalan mendekati sebuah meja dimana biasa aku menyimpan kotak susu Zain. Setelah itu, aku mengambil kotak berwarna merah di atas meja lalu membukanya. Aku menatap nanar pada kotak kosong tersebut. Kenapa aku baru ingat bahwa susu terakhir yang diminum oleh Zain adalah tadi malam dan tadi pagi Zain belum minta minum susu. Baru siang ini dia minta minum susu. Aku menghela nafas berat lalu berjongkok mensejajarkan tinggi ku dengan Zain.


"maaf ya sayang, susunya sudah habis.Tapi, papa sudah kirim uang buat beli susu lagi. kita ke mini market dulu yuk, Zain mau ikut?"


Zain tidak menangis melainkan mengangguk dan tersenyum senang karena akan di ajak jalan jalan olehku meskipun hanya membeli susu ke mini market.


Kemudian, aku meraih switer yang tergantung sebagai penutup atasan daster yang ku pakai lalu memakai jilbab rumahan. Setelah itu, kami berjalan kaki menuju mini market yang letak nya cukup jauh dari rumahku karena aku tidak memiliki kendaraan. Sesekali aku menggendong Zain lalu ku turunkan kembali ketika aku merasa lelah menggendongnya hingga tiba di mini market.


Aku menarik semua uang kiriman suamiku yang berjumlah lima ratus ribu. Kebetulan di mini market tersebut menyediakan mesin ATM dan aku tidak perlu mengambilnya ke bank. Setelah itu, aku membeli dua box susu formula paling murah yang berukuran satu kilo dan sabun serta minyak telon untuk Zain. Semua di total habis dua ratus ribu dan sisa uang tinggal tiga ratus ribu lagi. Sisa uang belanja kebutuhan anak ku itulah aku harus pandai pandai mengaturnya selama satu bulan.


Aku kembali pulang berjalan kaki seperti pertama berangkat. Sebenarnya banyak tukang ojek dan membayar ongkos sepuluh ribu. Tapi bagi ku, uang sepuluh ribu itu sangat berharga dari pada bayar tukang ojek lebih baik uang nya di gunakan untuk hal yang lebih penting lagi.


"ya Allah bagaimana ini, kerupuknya pasti kehujanan dan rusak," gumam ku lirih.


Aku gelisah sekali memikirkan kerupuk yang ku jemur dan sudah pasti kebasahan dan hancur karena baru tadi malam aku membuatnya dan berharap hari ini cuaca panas dan ter jemur lalu kering. Kemarahan ibuku sudah terbayang di pikiranku.


Kemudian, hujan kembali reda. Aku melanjutkan langkahku lagi menuju pulang ke rumah sambil menggendong Zain.

__ADS_1


Tiba di rumah, aku mendapati ibuku sedang meraung menangis meratapi jemuran kerupuk yang basah. Aku pasrah jika ibuku mau memarahiku lagi. Seperti biasa, ibuku akan memarahiku habis habisan ketika aku melakukan kesalahan meskipun hanya melakukan kesalahan kecil. Apalagi sekarang, kesalahan yang menurut ku besar dan telah membuat kerupuk itu basah serta rusak.


Aku segera menurunkan Zain dari gendonganku dan meletak kan belanjaan ku terlebih dahulu. Lalu, berjalan mendekati ibuku yang belum mengetahui kedatanganku. Aku menatap pada ibu yang masih menangis di hadapan beberapa penampi beras sebagai wadah berjemur kerupuk yang dibuat olehku tadi malam. Kerupuk yang nantinya akan di jual di setiap warung dan dari keuntungan hasil penjualan kerupuk itu lah untuk makan kami sehari hari.


"ibuu," sapa ku dari belakang punggungnya. Lalu, aku menundukkan wajah sesal ku. Aku menyesal sudah meninggalkan jemuran kerupuk dalam keadaan tidak ada siapa siapa di rumah karena ibu ku sendiri sedang pergi arisan. Sebelum aku pergi ke mini market tadi, cuaca terlihat begitu cerah dan panas sehingga aku tidak berfikir bahwa akan turun hujan pada siang ini.


Ibu menoleh ke belakang lalu menatap tajam ke arahku. Aku tau ibuku sangat marah sekali padaku. oleh karena itu, aku pasrah saja apa pun yang akan ibu lakukan padaku.


Kemudian dia bangun dengan nafas naik turun. Aku tau bahwa dia sedang menahan amarahnya padaku.


"Kenapa kamu biarkan kerupuknya kehujanan nuriiii, dari mana saja kamu?" Ibu berteriak padaku padahal aku berdiri di hadapannya. suara cemprengnya memekakkan gendang telingaku. Aku masih menunduk, aku tidak berani menatap kemarahannya.


"Lihat itu, lihat sama kamu, kerupuknya hancur. Kalau sudah begini bagaimana? boro boro untung modalnya saja tidak balik. Terus gimana mau membuat kerupuk lagi kalau modal nya saja tidak ada nuriiii," ucap nya lagi dengan nafas naik turun menahan amarah.


Aku memberanikan diri mendongak kan wajahku menatap pada wanita yang sudah melahirkan ku dan aku pun memberanikan diri untuk berbicara padanya.


"ma maaf Bu, tadi aku beli susu Zain di mini market, susunya sudah habis dan aku tidak tau kalau siang ini mau hujan."


"Oh, jadi kamu sudah dapat transferan dari suami mu? bagus kalau gitu, kamu bisa belikan lagi bahan bahan untuk membuat kerupuknya pake duit itu. Anggap saja sebagai pengganti karena kamu sudah membuat kerupuk ibu hancur dan tidak layak makan,"ucap ibuku dengan entengnya.

__ADS_1


Ibu ku sendiri tidak pernah tau berapa nafkah yang selalu di berikan oleh suamiku padaku. Aku tidak pernah mengeluh atau cerita pada keluarga atau orang lain tentang nafkah yang di berikan oleh suamiku selama ini. karena aku sebagai istri hanya ingin menjaga harkat dan martabat suamiku di hadapan keluarga maupun orang lain.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Sisa uang nafkah dari suamiku harus ku relakan untuk membeli bahan bahan kerupuk lagi. Biarlah yang penting ibuku tidak marah lagi padaku.


__ADS_2