Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Rencana pembalasan Nuri


__ADS_3

Bu haji menyuruh Raihan segera membawa aku dan Zain untuk masuk dan istirahat di kamarnya. dia pun menuruti kemauan ibunya. Sembari menggendong Zain, Raihan menuntun ku berjalan menuju kamarnya. Tiba di dalam kamar, Raihan meletak kan Zain di atas tempat tidur perlahan agar dia tidak terbangun.


Setelah Raihan meletak kan Zain, dia nampak terdiam. Aku mengikuti arah pandang nya tertuju pada gelang yang terdapat pada tangan zain.


"Kenapa, Rai?"


Raihan memegang tangan kiri Zain dimana gelang itu melingkar." Nuri Aisha B. Ini....gelang dari mana, sayang?"


"Oh, itu gelang pemberian almarhum bapak saat aku ulang tahun yang ke lima tahun. Bapak bilang itu sebenarnya gelang kaki."


"Sekecil ini? bukan nya gelang ini tidak akan muat pada kaki anak berusia lima tahun?"


"Waktu itu bapak bilang dia pesan ukuran nya kekecilan. Tapi, meskipun tidak muat dia menyuruhku untuk menyimpan nya baik baik dan bapak bilang semoga gelang itu membawa keberuntungan untuk ku."


Raihan terdiam dan entah apa yang dia pikirkan.


"Tapi Rai, yang membuat aku penasaran gelang ini kira kira terbuat dari apa ya? soalnya sudah puluhan tahun masih saja mengkilat dan tidak karatan."


Raihan nampak berpikir." Ehm, nanti kita cari tau ya sayang. Sekarang kamu tidur saja dulu. Aku tidak ingin mata mu berubah jadi mata panda."


Aku tersenyum lebar mendengarnya.


Raihan keluar kamar setelah menyelimuti tubuhku dan Zain dengan selimut tebal. Aku berusaha memejamkan mata ku namun sayangnya mataku sama sekali tidak bisa di pejamkan. Banyak hal yang aku pikirkan. Tentang siapa orang tuaku dan apa alasan mereka membuang ku. Apakah mereka masih hidup atau sudah tidak ada lagi di dunia ini? andai saja aku di beri kesempatan bertemu dengan mereka.


Selain itu, aku juga memikirkan cara membalas ke dzoliman orang tua angkat serta kakak angkat ku. Jujur saja, aku tidak akan pernah ikhlas jika rumah itu di kuasai oleh mereka karena mereka sudah mendzolimi ku sejak aku masih kecil. Andai saja mereka baik padaku meskipun aku bukan keluarga kandung mereka, dengan senang hati aku akan memberikan rumah itu sekaligus pabrik nya pada mereka.


Senyum tersungging di bibirku ketika terlintas sebuah ide gila di otak ku untuk membalas rasa kebencian ku pada mereka meskipun terkesan kurang manusia. Biarkan saja, toh selama ini mereka pun tidak memiliki rasa kemanusiaan pada ku.


Aku mengambil ponsel ku lalu mengirimkan pesan pada bang Supri agar meliburkan para pekerja hari ini dan besok. Bang Supri pun membalas pesan ku dan menyetujuinya.


Waktu menjelang pagi, setelah kami selesai sarapan aku mengajak bicara Raihan.


"Rai, aku boleh minta tolong tidak?"


"Boleh dong, mau minta tolong apa?"


"Tolong antarkan aku ke suatu tempat."


"Memang nya mau kemana?"


Aku membicarakan masalah ide ku itu pada nya. Raihan sempat terkejut dan awalnya tidak setuju dengan ide ku itu. Tapi lama lama dia menyetujuinya meskipun nampak nya seperti terpaksa karena rengekan ku.


Sebelum kami berangkat, kami ijin dulu pada Bu haji agar dia tidak khawatir mencari kami.


"Memang nya kalian mau pergi kemana sih?" Tanya bu haji.


"Ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi, Bu." Kata Raihan.


"Ya sudah kalau begitu jangan ajak Zain, biar Zain sama Oma saja. Iya, sayang?" Tanya Bu haji pada Zain.


Zain menoleh ke arah ku seperti meminta pendapat ku." Apa Zain mau mama tinggal sebentar dan Zain ikut sama Oma dulu?"

__ADS_1


Zain mengangguk.


"Anak pintar," ucap Bu haji sembari tersenyum.


Kami menoleh pada Art yang baru datang dan mengantarkan teh untuk Bu haji."Bibi, nanti tolong bantu ibu saya jagain anak saya ya?" kata Raihan.


"Siap mas Raihan."


Aku dan Raihan tersenyum senang.


Aku meminta Raihan melajukan mobilnya mengarah ke arah pasar. Tiba di sana, aku mendatangi sebuah toko sembako langganan ku yang memiliki beberapa karyawan berbadan kekar. Kemudian aku mengutarakan niatku pada pemilik toko itu dan beruntungnya dia membolehkan aku menyewa anak buahnya.


Setelah dari pasar, kami mendatangi kantor polisi lalu mengutarakan ke ingin ku untuk menyewa dua orang polisi yang akan bertugas sebagai penjaga keamanan misi ku dan beruntung nya mereka bersedia.


Setelah dari kantor polisi, kami mendatangi kantor kelurahan lalu aku menceritakan masalah ku pada seorang lurah yang memimpin desa kami. Awalnya pak lurah tidak setuju dan meminta aku untuk menyelesaikan nya secara damai dan kekeluargaan. Tapi aku tidak mau dan memberikan alasan yang signifikan pada nya hingga dia menyetujuinya.


Setelah dari kantor kelurahan, aku mencari rumah yang di kontrak kan. Cukup sulit mencarinya hingga akhirnya aku menemukanya dengan harga yang cukup menguras kantong ku. Tapi bukan aku yang membayarnya melainkan Raihan.


Dan terakhir tempat yang kami kunjungi adalah tempat dimana keberadaan excavator. Kami menyewa excavator sekaligus sopirnya untuk membantu menjalankan misi ku hingga akhir.


Aku menyender kan punggungku ke senderan jok. Rasanya hari ini cukup membuatku sangat lelah setelah mengunjungi beberapa tempat serta beberapa orang untuk membantu menjalankan misiku hingga sukses.


"Lelah!" ucap Raihan.


Aku tersenyum samar.


"Apa kamu senang?"


"Sayang, apa kamu sebegitu benci nya pada mereka?"


"Ya, sangat."


Raihan menghela nafas lalu mulai fokus mengemudi. Bahkan dia tidak lagi bertanya tanya seperti kehabisan topik pembahasaan.


Di tengah kebisuan kami tiba tiba aku teringat tentang acara pernikahan kami yang tinggal menghitung hari.


Aku melirik Raihan."Rai.."


Dia menoleh padaku." Kenapa sayang?"


"Apa....kamu sudah menyebar undangan pernikahan kita?"


"Memang kenapa?"


"Jawab saja."


"Belum, rencana besok si Dina akan menyebarkan nya."


Aku meluruskan duduk ku.


"Rai.."

__ADS_1


"Ehm.." ucap Raihan dengan pandangan fokus ke depan.


"Aku....boleh minta waktu untuk mengundur pernikahan kita?"


Ciiiiiiiiittttttttt


Tiba tiba Raihan mendadak rem di tengah jalan. Beruntung nya aku pakai sabuk pengaman dan di belakang tidak ada pengendara lain.


Raihan melirik kesal padaku dan langsung menghujam pertanyaan." Apa maksud mu menunda pernikahan kita?"


"Rai, please. Jangan salah paham dulu."


Tin tin tiiinnnn


Suara klakson saling bersahut sahutan di belakang mobil kami.


Raihan masih menatap kesal pada ku.


"Pinggir kan dulu mobilmu Rai, apa kamu mau di amuk pengendara lain."


Raihan mengusap wajahnya lalu meminggirkan mobilnya.


"Rai.."ucap ku


Raihan diam bahkan menoleh pun tidak. Aku tau mungkin saat ini dia sedang kecewa padaku. Karena Raihan tidak merespon ku, aku memegang lengan nya dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Raihan tidak menolak, dia membiarkan aku bersikap manja. Sikap yang tidak pernah aku lakukan sebelumya pada siapapun.


"Rai, andai kamu berada di posisiku dan setelah mengetahui fakta tentang siapa dirimu sebenarnya, bagaimana perasaanmu?"


Raihan masih diam.


"Kamu di nikah kan dengan orang yang tidak kamu cintai dan di wali kan oleh orang yang sebenarnya tau bahwa kamu tidak memiliki hubungan nasab dari pihak mana pun baik bapak atau kakek mu dengan orang itu. Apakah pernikahan itu sah di mata hukum agama kita, Rai?"


Raihan mulai bergerak dan memegang lenganku yang sedang bergelayut di tangannya.


"Pernikahan ku tidak sah kan Rai, aku sudah berbuat dosa."


"Hei, bukan kamu yang berdosa. Kamu hanya korban ketidaktahuan mu. Mereka yang menikah kan kamu lah yang akan menanggung dosa besarnya."


"Jadi...sekarang kamu mengerti kan bagaimana perasaan ku? dan kamu mendukung kan atas apa yang akan aku lakukan pada mereka?"


"Iya, iya, aku mendukung mu. Toh, kita sudah meminta ijin sama lurah dan pihak kepolisan. Jadi nanti tindakan mu tidak akan terjerat hukum."


Aku tersenyum.


"Terus tadi kenapa bicara masalah mengundur pernikahan? apa alasan mu?"


"Aku, aku ingin mencari orang tua yang sudah membuang aku dalam keadaan masih hidup atau sudah mati."


"Untuk apa?pencarian itu membutuhkan proses yang panjang dan lama, sayang. Kita bisa menikah menggunakan wali hakim kalau tidak tau dimana keberadaan orang tua kandung. Lagi pula mereka sudah membuang mu kan? apa kamu masih membutuhkan mereka padahal mereka tidak menginginkan mu?"


Aku terdiam. Apa yang di katakan oleh Raihan benar. Untuk apa aku mencari orang tua ku, toh, mereka saja sudah membuang ku dan tidak menginginkan keberadaan aku di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2