
Aku terhanyut dalam pelukan Raihan sehingga mengabaikan mie yang sedang ku masak. Aku membelalakkan mataku setelah ku dapati mie yang ku masak sudah mengembang besar.
"Rai..tolong lepaskan tangannya."
"Tidak mau mba, jarang jarang aku bisa memeluk mba seperti ini." Raihan menolak melepaskan tangannya dia menjadi bersikap manja.
"Ini mie nya sudah mateng banget Rai, aku mau mengangkatnya."
Raihan tidak menjawab tidak pula melepaskan pelukannya melainkan tangannya meraih tombol kompor lalu mematikannya. Kemudian Raihan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Aku mendongakkan wajahku ke atas melihat pada wajah Raihan yang terletak di atas kepalaku karena Raihan sendiri memiliki tinggi badan seratus delapan puluh senti sementara aku hanya memiliki tinggi badan seratus enam puluh tujuh senti. Tinggi yang ideal untuk ukuran tubuh orang Indonesia.
Karena jarak wajahku dan Raihan sangat dekat hingga aku bisa merasakan wangi mint nafas hangat milik Raihan. Raihan menatap ku lekat dan aku menjadi gugup di buatnya.
"Rai...le..lepaskan aku Rai!"
Raihan tidak melepaskan pelukannya dia malah menatapku dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Aku...aku sayang dan cinta kamu mba, aku..aku ingin menggantikan posisi mas Surya menjadi suamimu. Aku ingin membahagiakan mu serta Zain. Aku tau mba tidak bahagia kan bersama mas Surya?"
Aku tercengang dan bibirku sedikit terbuka. Aku tidak menyangka Raihan akan berbicara seperti ini padaku. Ku tatap sorot matanya yang sipit dan ku dapati ada ketulusan serta keseriusan di sana.
"Ba..bagaimana mungkin kamu menginginkan wanita yang sudah bersuami serta memiliki anak dan sudah tua sepertiku Rai? di luar sana masih banyak wanita muda yang lebih pantas untuk di jadikan pendamping hidupmu Rai."
"Aku..aku hanya ingin kamu mba, hanya ingin kamu dalam hidupku." Raihan me lu mat bibirku dengan lembut. Awalnya aku tersentak kaget namun lama lama aku terhanyut di buatnya. Aku ikut menikmati sentuhan bibir Raihan yang bermain main di atas bibirku hingga aku tak sadar membuka sedikit mulutku memberi celah untuknya memasuki rongga mulutku. Lidah Raihan menelusuri rongga mulutku dengan detail dan aku membalasnya. kami saling membelit dan mengecap hingga kami merasa kehabisan nafas lalu melepaskan pagutan. Dengan keadaan ngos ngosan ku hirup udara banyak banyak begitu juga dengan Raihan.
"Biar aku yang memasak ulang mie nya mba, mba duduk saja di kursi," ucap Raihan setelah nafas kami kembali normal. Aku menunduk kan wajahku merasa malu sementara Raihan tersenyum saja melihatku.
Ku pandangi tubuh Raihan yang sedang memasak mie. Aku jadi dilema di buatnya. Antara percaya dan tidak bahwa Raihan menginginkan aku menjadi istrinya. Raihan menoleh ke arahku lalu memberikan senyum manisnya. Aku segera mengalihkan pandanganku. Aku malu kepergok telah memperhatikannya.
Sepuluh menit kemudian. Raihan membawa dua mangkok mie rebus toping telur di atasnya serta bakso dan di letakkan nya satu mangkok di hadapanku. Kemudian dia berjalan lagi mengambil air di dispenser lalu meletak kan kembali di hadapanku.
"Terima kasih Rai!"
Raihan tersenyum sembari pandangannya tak lepas dari diriku. Entah mengapa aku merasa Raihan selalu tersenyum setelah kami berciuman tadi. Wajahnya terlihat berseri seri. Apa dia merasa senang? entah lah aku tidak tau.
Satu mangkok mie buatan Raihan di hadapanku benar benar menggugah seleraku. Rasanya aku tidak sabar untuk menikmatinya. tanpa ku sadari Raihan memperhatikanku sembari tersenyum.
"Ayok dimakan sayang!"
Aku mendongakkan wajahku melihat pada pria tampan yang sedang duduk manis di seberang meja.
"Rai..jangan berlebihan aku tidak suka."
__ADS_1
"Ha..ha..! ya sudah di makan mba, mumpung masih panas kalau sudah mengembang tidak enak lagi."
Aku menuruti perintah Raihan dan mulai menyuapkan mie buatannya. Aku memakannya dengan lahap selain karena lapar rasa mienya enak dan terasa lain di lidahku. Apa karena Raihan membubuhkan bumbu lain atau apa aku tidak tau dan intinya rasanya enak sekali.
"Enak kan mba? aku membuatnya dengan penuh cinta dan sayang khusus buat mba makannya rasanya enak."Aku tercengang kenapa Raihan bisa tau isi hatiku? apa dia memiliki indera ke enam?pikirku.
Setelah selesai makan mie aku mencuci perkakas kotor di wastafel dan seketika Raihan memeluk ku kembali di belakangku.
"Rai..tolong lepaskan jangan seperti ini!" Aku menolak di peluk Raihan aku tidak ingin terjadi khilaf lagi seperti tadi.
"Aku hanya ingin memeluk mba!"
"Rai, kita bukan pasangan suami istri aku tidak mau khilaf lagi seperti tadi."
Raihan melepaskan pelukannya." Apa kalau aku sudah menjadi suami mba, aku boleh bebas kan peluk mba?"
"Rai..itu tidak mungkin terjadi mana mungkin kita bisa menjadi pasangan suami istri!"
"Kenapa mba? kenapa tidak bisa?"
"Karena kamu....!"
"Karena aku anak kecil yang tidak akan bisa memberikan mba nafkah lahir dan batin? apa mba mau aku buktikan kalau aku bisa memberikan nafkah bathin sama mba? mba tidak usah khawatir aku bisa memuaskan mba di ranjang kok, mba juga tidak usah khawatir aku juga bisa memberikan nafkah uang untuk mba dan Zain dan apa pun yang mba mau akan aku berikan."
"Lantas kenapa mba?"
"Aku ini wanita yang sudah memiliki suami Rai, tidak mungkin kita bisa menjadi pasangan suami istri."
"Apanya yang tidak mungkin mba, mba tidak bahagia kan bersama mas Surya. Kenapa mba tidak minta cerai saja padanya. Setelah itu kita menikah."
"Bicara mudah tapi kenyataannya tidak. Kamu tau sebelum menikah aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidupku."
"Jadi artinya mba tidak mau menikah denganku?"
"Rai...!"
Sebelum aku meneruskan ucapan ku Raihan pergi meninggalkan aku dalam keadaan marah. Aku menghela nafas berat. Aku bingung harus bagaimana menghadapi sikap Rai yang sudah terang terangan bicara menginginkan aku menjadi istrinya. Di satu sisi mungkin aku mulai menyukai sosok Raihan yang lembut padaku dan aku menginginkan sosok seperti Raihan lah yang menjadi suamiku. Namun di sisi lain aku memiliki suami yang tidak akan menceraikan aku. Selain itu, aku memang menginginkan sebuah pernikahan sekali seumur hidupku. Ku selesaikan cucian ku yang sempat tertunda. Setelah itu, aku menyusul Raihan ke lantai dua.
Aku melihat Raihan sedang duduk di atas sofa ruang keluarga dan sibuk berkutat di layar laptopnya. Aku berjalan ke arahnya dan berdiri di sampingnya.
"Rai..!"
__ADS_1
"Aku sedang ada kerjaan mba, mba Nuri istirahat saja di kamar," ucap Raihan tanpa menoleh ke arahku. Aku tau Raihan masih marah padaku.
Aku mengangguk dan pergi dari hadapan Raihan dan masuk ke dalam kamar. Ku lihat Zain masih tertidur padahal dia belum makan siang. Apa aku pulang sekarang saja, pikirku.
Aku segera mengemasi barang barang pemberian Raihan dan ku masukan dalam satu tempat agar aku mudah membawanya. Ku rapihkan kamar Raihan terlebih dahulu sebelum aku meninggalkannya karena aku tidak ingin mengotori rumah orang. Setelah itu, aku menggendong Zain yang masih tertidur dan membawa barang pemberian Raihan.
Ku tutup pintu kamar dengan pelan lalu aku menghampiri Raihan yang masih terlihat sibuk. Aku berdiri dengan jarak dua meter.
"Rai..aku mau pulang sekarang,"ucap ku.
Raihan menoleh padaku memandangku dengan ekspresi datar.
"Oh, ya sudah hati hati,"ucap Raihan lalu mengalihkan kembali pandangannya ke layar laptopnya.
"Terima kasih telah memberi tumpangan untuk kami di rumahmu dan terima kasih untuk baju baju yang kamu belikan untuk kami dan makanan yang kamu belikan untuk kami."
Raihan mengangguk tanpa menoleh ke arahku. Aku tersenyum tipis lalu ku langkahkan kakiku meninggalkan Raihan dan ketika aku hendak menuruni anak tangga aku menoleh ke belakang terlebih dahulu dan ku dapati Raihan sedang memperhatikanku namun segera dia memalingkan pandangannya ke arah lain.
Aku berjalan sambil termenung menuju rumahku. Pelukan, ciuman serta ucapan Raihan terngiang ngiang di otak ku. Aku menghembuskan nafasku lalu menggelengkan kepala. Aku tidak boleh lagi memikirkan apa yang sudah Raihan lakukan padaku tadi.
Setelah tiba di depan rumahku. Aku melihat motor mas Surya masih ada. Aku heran kenapa mas Surya belum kembali saja ke Jakarta? kenapa dia lama sekali liburnya? Aku memasuki rumahku lewat pintu samping dan kebetulan tidak di kunci. Setelah berada di dalam dapur ku dapati ibuku yang sedang makan nasi Padang di meja makan. Ibu menoleh padaku dengan pandangan sinis.
"Darimana saja kamu Nuri, pergi ninggalin ibumu serta suamimu. Dasar anak durhaka kamu."
"Aku nginap di rumah teman Bu."
Lalu aku bergegas masuk ke dalam kamar baru yang ku tempati dan menidurkan Zain di atas kasur lantai serta meletak kan barang bawaan ku.
Aku mendengar ibu mengumpat kasar namun ku biarkan saja tidak menanggapinya. Setelah aku tidak lagi mendengar ibu mengumpat dan sepertinya ibu sudah tidak ada di dapur aku keluar kamar hendak mengambil air wudhu karena aku belum sholat dzuhur. Ketika aku membuka pintu dan menutupnya tiba tiba dua buah tangan melingkar di pinggangku.
"Kamu dari mana saja sayang?" mas Surya memeluk ku dari belakang dan aku tersentak kaget mendapat perlakuan yang tak pernah mas Surya lakukan sebelumnya.
"Mas rindu sekali sama kamu, jangan marah lagi ya sama mas?"sambungnya lagi. Aku diam mematung tidak bicara tidak pula bergerak. Aku masih tidak percaya mas Surya bersikap lembut padaku. Mas Surya membalikan tubuh ku dan hendak mencium bibirku hal itu bertepatan dengan ibu yang keluar dari kamarnya.
"Heh, kalian tidak tau malu dan tidak tau tempat." Sentak ibu dengan suara cemprengnya sambil menatap tajam ke arah kami. Aku serta mas Surya tersentak kaget. Mas Surya membatalkan niatnya yang hendak mencium ku.
"Ibu ganggu saja," ucap mas surya.
"Siapa yang ganggu kalian, kalian saja yang tidak tau tempat."
"hm, mas aku mau wudhu dulu soalnya aku belum sholat dzuhur.
__ADS_1
"Iya deh sayang, mas tunggu ya di kamar?"
Aku melangkah ke kamar mandi tanpa menanggapi ucapan mas Surya yang menurutku sikapnya sangat aneh.