
Aku kembali ke meja dimana Raihan dan Zain menungguku setelah memberikan sepatu itu pada cleaning servis.
"Kenapa lama sekali sih!" Protes Raihan ketika aku sudah duduk di hadapannya.
"Habis buang uang nya pak Bagas."
"Hah!" Raihan menatap bengong padaku.
"Maksudku tadi di toilet aku menemukan sepatu istrinya pak Bagas tapi ketika aku kembalikan sama pak Bagas dia menolak dan meminta aku untuk membuangnya saja. Tapi aku tidak membuang nya sih ku berikan sama mba cleaning servis."
"Kok bisa sepatunya Tante meri ketinggalan di toilet? memang sih aku sempat melihat Tante Meri berlari dari arah toilet tanpa alas kaki. Emangnya apa yang terjadi padanya?"
Aku melirik ke arah pak Bagas yang sedang menikmati makan malamnya seorang diri. Ada rasa kasihan melihatnya makan sendirian di tinggal istrinya yang pergi begitu saja gara gara ketakutan melihat ku. Entah kenapa aku merasa ingin menemaninya dan dekat dengan pria itu bahkan aku ingin sekali memeluknya. Benar-benar perasaan yang sangat aneh.
"Sayang, kenapa memperhatikan pak Bagas seperti itu?" Ternyata Raihan memperhatikan arah pandang ku.
Aku mengalihkan arah pandanganku padanya."Tidak, tidak apa apa." Ucap ku dengan keringat tiba tiba mengucur di ke keningku.
"Hei, kenapa kamu keringatan seperti itu? What happening? tell me please."
Aku menggeleng."Nothing." Ucap ku. Raihan tidak tau apa yang aku rasakan saat ini. Dan tidak mungkin pula aku menceritakan bagaimana perasaanku. Aku takut dia salah paham nanti dikira aku menyukai pak Bagas.
Raihan mengambil selembar tisu yang sudah tersedia di atas meja."Buka maskernya sayang, mungkin kamu demam. Nanti habis makan kita langsung pulang."
Aku menuruti perintah nya untuk membuka masker ku. Setelah terbuka Raihan mengelap keringat yang mengucur di keningku dan setelah kering dia meletakkan punggung tangannya di keningku." Tuh kan mulai panas." Ucap nya nampak khawatir.
"Aku tidak apa apa Rai, setelah makan terus minum obat ini pasti sembuh." Aku menunjukan obat yang tergeletak di atas meja.
"Ya sudah sekarang makan dulu. Habis makan langsung minum obatnya."
Aku mulai memakan makanan yang sudah tersedia di meja. Makanan yang sudah Raihan pesan ketika aku ke toilet. Di tengah makan ku lirik Zain yang sedang memainkan mainan kecil miliknya.
Raihan mengikuti arah pandang ku."Zain sudah makan lebih dulu sayang. Aku sudah menyuapinya."
Aku tersenyum padanya."Terima kasih ya Rai."
"Sama-sama sayang."
Setelah selesai makan aku segera minum obat lalu memakai masker ku kembali.
"Kita pulang sekarang, badan kamu mulai panas." Raihan memegang lenganku mengukur suhu tubuhku. Aku pun merasakan demikian tubuh ku mulai terasa panas.
Baru saja kami berdiri pak Bagas menghampiri kami." Ehh, kalian mau pergi ya? padahal saya baru saja ingin join dengan kalian. Kita sudah lama tidak mengobrol Rai, maksud saya mumpung bertemu ingin ngobrol denganmu."
Aku dan Raihan saling pandang kemudian mengalihkan kembali pandangan kami ke arah nya."Maaf pak Bagas. Bukanya saya tidak mau ngobrol dengan bapak. Tapi..Nuri sedang tidak enak badan kami harus segera pulang."
Pak Bagas menatapku begitu pula dengan aku. Lalu dia meletakan punggung tangannya di keningku. Perbuatanya membuat aku dan Raihan terperangah menatapnya namun tidak dengan pak Bagas.
"Benar, suhu kamu panas sekali apa sebaiknya tidak di bawa ke klinik langsung, Rai?" Pak Bagas menyarankan setelah mengetahui suhu tubuhku lalu menurunkan kembali tangannya.
Aku dan Raihan saling pandang." Benar kata pak Bagas sayang, lebih baik kita berobat ke klinik dulu."
Aku menggeleng cepat." Tidak usah Rai, aku kan baru minum obat dari apotek mungkin sebentar lagi obatnya akan bereaksi."
"Jangan sembarangan minum obat Nuri, meskipun obatnya beli dari apotek tapi harus sesuai dengan anjuran dokter. Lebih baik periksa dulu ke dokter biar dokter mengetahui apa penyakitnya lalu nanti bisa di tangani dengan benar." Pak Bagas menasehati ku.
"Benar kata pak Bagas sayang, kita harus ke dokter dulu ya?" Raihan menyetujui ucapan pak Bagas.
__ADS_1
Aku merasa dua pria ini over protektif padaku padahal aku hanya demam biasa. Mereka tidak tau saja bagaimana aku dulu jika sakit hanya cukup minum obat warung harga seribu atau kalau tidak kebeli aku menggunakan rempah tradisional yang aku tanam di pekarangan belakang rumah.
Meskipun over protektif aku bersyukur karena niat mereka baik memperhatikanku agar aku sehat. Sebab, setelah ayah meninggal dan jika aku sakit aku merawat tubuhku sendiri hingga sembuh atau ku biarkan rasa sakit ku hingga sembuh sendiri.
"Terima kasih pak, atas perhatian nya." Ucap ku pada pak Bagas.
Dia tersenyum padaku." Lekas sembuh ya, jangan lama lama sakitnya kasihan Zain kalau kamu sakit." Kata pak Bagas lalu mengelus pucuk kepala Zain.
"Iya pak."
"Emm, ya sudah pak Bagas. Kami permisi dulu ya!" Ucap Raihan.
"Iya Rai, hati hati."
Sambil menggendong Zain Raihan menuntun ku menuju pintu restauran. Di tengah melangkah aku menoleh ke belakang pak Bagas menyunggingkan senyum padaku dan aku pun tersenyum di balik masker ku.
Raihan membuka pintu mobil untuk ku dan membantu aku duduk di jok depan. Entah mengapa aku merasa tubuhku bertambah panas padahal sudah minum obat dari apotek seperti nya obat itu tidak memberi reaksi apa apa terhadap tubuhku.
Raihan melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota mencari sebuah klinik. Di perjalanan aku hanya berdiam diri sembari memeluk Zain. Sembari mengemudi sesekali dia menyeka keringat yang mengucur di kening ku padahal AC mobil sudah di besarkan oleh nya tapi tetap saja tubuhku rasanya panas.
Raihan membelok kan mobilnya ke jalanan sedikit sempit lalu memarkirkan mobilnya di sebuah klinik tidak terlalu besar.
"Sayang, untuk sementara kita berobat di sini dulu ya! klinik yang bagus letak nya masih sangat jauh. Aku khawatir sama kamu." Raihan berucap sembari membuka sabuk pengamannya. Setelah itu dia membantu aku keluar dari mobil nya.
Setelah berada di dalam klinik kecil itu Raihan segera mendaftar dan beberapa saat kemudian nama ku pun di panggil karena klinik itu sepi hanya ada dua pasien saja.
Setelah berhadapan dengan dokter pria yang nampak masih sangat muda itu memberikan pertanyaan seputar penyakit yang aku rasakan dan aku pun menceritakan nya. Kemudian di lanjutkan dengan pemeriksaan.
"Bagaimana istri saya, dok? apa penyakitnya?" Raihan bertanya dan menatap datar tanpa ekspresi pada dokter itu ketika aku baru saja selesai melakukan pemeriksaan. Aku tau kenapa dia berbohong mengaku bahwa aku adalah istrinya karena selain dokter Itu masih muda dan lumayan tampan dokter itu terus menerus memperhatikan wajahku dan bertanya di luar penyakit ku. Aku rasa Raihan cemburu padanya.
"Oh, ya, ya istri anda...hanya...demam biasa saja." Jawab dokter itu dan nampak gugup.
"Tidak, tidak ada. Anda jangan khawatir. Saya akan memberikan resep obat nya."
"Baik, terima kasih." Setelah berucap Raihan menuntunku keluar dari ruang dokter itu dan mendudukkan aku di sebuah kursi tunggu untuk menunggu obat yang akan di berikan oleh staf klinik tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya namaku di panggil untuk mengambil obatnya di tempat bagian obat.
"Sayang, tunggu sebentar ya." Ucap Raihan lalu berdiri.
Aku mengangguk dan menatap punggung nya yang sedang berjalan ke arah tempat pemberian obat. Lagi lagi aku merasa beruntung dan bersyukur telah di cintai oleh sosok seorang Raihan.
"Aku gendong saja ya sayang! ayok naik ke punggungku." Raihan merendah kan tubuhnya di hadapanku.
"Tidak perlu Rai, aku masih bisa jalan. Lagi pula kamu sedang gendong Zain."
"Aku kuat kok. Kamu nampak lemas sekali. Aku takut kamu terjatuh nanti."
"Jangan berlebihan. Aku masih kuat kok. Lagian jarak ke mobil hanya beberapa langkah saja."
"Ya sudah kalau gitu aku tuntun saja." Akhirnya Raihan yang mengalah dan menuntun aku hingga masuk ke dalam mobil."
Setelah tiba di basemen aku merasakan pusing yang luar biasa. Selain suhu tubuh ku semakin panas, kepala terasa mau pecah, perutku ku pun terasa mual. Aku berpikir tidak biasanya aku mengalami demam seperti ini. Biasanya hanya panas di sertai pilek dan batuk tapi saat ini benar benar sakitnya lain daripada yang lain.
Raihan buru buru keluar dari mobil sembari membawa Zain untuk mencari pertolongan disaat aku merasa tidak berdaya untuk keluar dari mobil.
Tak lama kemudian Raihan datang lagi tanpa membawa Zain. Dan dalam keadaan demikian aku pun memaksakan diri untuk bertanya."Zain di dimana, Rai?"
__ADS_1
Zain ku titipkan pada orang baik sayang. Ayok naik ke punggungku." Dia merendahkan tubuhnya dalam posisi membelakangi ku agar memudahkan aku naik ke atas punggungnya.
Aku tidak menolak karena memang tubuh ku benar benar lemas tidak bertenaga. Perlahan aku menaiki punggung Raihan setelah berada di punggung nya dengan sempurna dia membawa tubuh ku memasuki sebuah lif yang letaknya tidak jauh dari kami.
Setelah berada di depan pintu apartemen Raihan, seorang wanita memakai seragam mendekati kami. Ternyata Zain di titipkan pada seorang wanita yang berprofesi sebagai cleaning servis.
"Mba, tolong bawakan anak saya ke dalam ya!" Kata Raihan pada cleaning servis itu.
"Iya mas."
Kemudian kami memasuki apartemen setelah Raihan membukanya. Setelah itu, dia meletak kan aku di atas sofa panjang terlebih dahulu lalu mengambil alih Zain dari gendongan wanita itu.
"Terima kasih ya mba!" Ucap Raihan sembari menempelkan uang pada telapak tangan wanita itu.
"Tidak usah mas, tidak usah." Wanita itu menolaknya dan berusaha hendak mengembalikan uang itu kembali pada tangan Raihan namun Raihan menghindarinya.
"Tolong di ambil mba, tidak boleh menolak rezeki."
"Saya jadi tidak enak mas, mas Raihan sering kali ngasih saya uang." Dari kalimat ucapannya nampaknya Raihan sudah mengenal baik dengan wanita dewasa itu.
"Di enakin saja mba, tidak apa apa. Tolong ambil saja."
"Ya sudah kalau mas Rai memaksa saya ambil nih. Kalau begitu terima kasih banyak ya saya permisi dulu."
"Sama sama mba. Mari silahkan." Raihan menutup dan mengunci pintu setelah wanita itu pergi dari apartemennya.
"Mba minum obat dulu ya!" kata Raihan.
Aku melirik kearahnya yang sedang mengisi gelas dengan air minum di meja makan.
"Iya Rai."Ucap ku pelan tanpa tenaga.
Kemudian Raihan mendekatiku sembari membawa gelas berisi minuman lalu duduk di sampingku. Dia meletak kan gelas itu terlebih dahulu lalu membantu aku duduk tegak. Zain yang sedang duduk di samping kananku hanya memperhatikan kami saja.
Raihan membantu aku meminum tiga macam obat dari klinik. Setelah itu, dia menggendong tubuhku memasuki kamar tidurku bersama Zain.
"Kamu tidur ya sayang!" Ucap nya sembari mengelus lembut pucuk kepalaku lalu menaikan selimut sebatas dada. Setelah itu, dia keluar kamar ku.
Tubuh panas, kepala pusing, perut mual, lemas dan lesu membuat aku sulit memejamkan mata. Padahal aku sudah minum obat tapi obat obatan itu tidak sama sekali tidak bereaksi apapun pada tubuhku. Bahkan suhu tubuhku semakin panas saja.
Sembari memegang keningku yang amat pusing. Aku melirik ke arah pintu yang tengah terbuka. Nampak Raihan memasuki kamarku sembari membawa sebuah mangkok ukuran besar dan handuk kecil.
"Apa panas nya belum turun sayang?" Aku menggeleng pelan. Rasanya mulut ku ini tidak mampu berucap.
Raihan duduk di sampingku lalu meletak kan punggung tangannya pada kening serta pipiku." Aneh sekali kenapa panasnya tidak turun turun padahal sudah satu jam dan mestinya obat itu sudah bereaksi. Apa jangan jangan dokter genit itu salah memberi obat." Kemudian dia mengompres keningku perlahan hingga aku tertidur karena air kompresan itu sedikit meringankan panas tinggi yang aku derita.
Di tengah tidurku yang tidak nyaman aku merasa terusik oleh gerak ranjang yang sedang ku tiduri. Aku pun membuka mataku sedikit nampak Raihan sedang mengangkat tumbuh Zain lalu di pindahkan pada kasur bulu yang nampak tebal di bawah ranjang tidurku. Setelah meletak Zain Raihan ikut merebah kan tubuhnya di samping Zain lalu memeluk Zain dan memejamkan matanya.
Entah sudah jam berapa Aku merasa tubuhku sangat menggigil kedinginan. Rasa dingin yang luar biasa setelah merasakan panas yang luar biasa pula. Tapi anehnya, Aku merasa sangat kedinginan tapi kenapa air keringat mengucur di seluruh tubuhku.
Aku mengerat kan selimut pada tubuhku tapi sayangnya tetap saja selimut itu tidak mampu menghangatkan tubuhku. Dalam keadaan seperti itu aku melirik Raihan yang sedang tidur di bawah ranjang. Bibirku gemetar sampai tidak mampu menyebut nama Raihan dan terpaksa aku menjatuhkan bantal ke atas tubuhnya.
Raihan menggeliat lalu membuka matanya dan menoleh ke atas ranjang.
"Sayang!"spontan dia duduk tegak lalu menghampiriku.
"Kamu kenapa?" Tanya nya dengan panik.
__ADS_1
Bibirku yang semakin gemetar tak mampu berucap. Hanya suara erangan saja yang ke luar dari mulutku. Nampak nya Raihan mengerti jika aku sedang menggigil. Kemudian dia mengambil dua selimut tebal lalu menyelimuti ku dengan tiga lapisan. Selain tiga selimut itu Raihan pun ikut masuk kedalam selimut lalu memeluk ku.