Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Menolong Sumi


__ADS_3

Sore hari.


Aku sedang duduk termenung di teras samping rumah tiba tiba bang Supri memegang bahu ku. Aku sedikit terkejut dan melirik ke arahnya namun tidak menyapanya.


"Abang perhatikan setelah Andre pulang kamu banyak termenung Nur,"kata bang Supri sembari mendaratkan pinggulnya di atas kursi plastik sampingku.


Aku menghela nafas berat."Aku bingung bang."


"Bingung bagaimana maksudnya Nuri?"Bang Supri terlihat serius sekali.


"Aku bingung menjelaskannya sama Abang ha ha ha."Aku tertawa lepas.


"ish, kamu Nuri, Abang sudah serius malah kamu becanda,"ucap bang Supri dengan nada kecewa. Aku tersenyum saja melihatnya.


"Bang..."


"Hem,"


"Dulu aku di pusingkan dengan masalah keuangan, sekarang uangku sudah banyak malah di pusing kan dengan masalah percintaan."


"Apa kamu mau cerita ke Abang?" tanya bang Supri serius.


"Tidak bang, soalnya kalau aku ceritakan masalah percintaan tidak akan cukup dua atau tiga bab."


"Nuri, Abang serius lho."


"Aku juga serius bang."


"Terserah kamu saja kalau tidak mau cerita. Abang mau mandi dulu sudah mau Maghrib, Kamu masuk jangan melamun di luar takut kerasukan dedemit nanti." Kemudian bang Supri masuk ke dalam rumah, sementara aku tersenyum saja mendengar perkataan seperti kepercayaan orang tua jaman dulu, melarang bermain di luar atau melamun pada jam jam yang di anggap keramat.


Tak berselang lama, suara adzan Maghrib pun berkumandang, aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil air wudhu Siapa tau setelah beribadah pikiranku kembali tenang.


Setelah beribadah aku duduk santai di kasur sementara Zain sedang di temani oleh bang Supri di ruang TV. Tiba tiba ponsel mewah ku bergetar, aku melirik ke arahnya yang sedang ku letak kan di atas meja rias. Terlihat si pemberi ponsel mewah sedang berusaha memanggilku melalui video call. Aku tersenyum lalu meraihnya.


Nampak wajah tampan Raihan terpampang nyata di layar ponsel, aku tersenyum padanya begitu pula dengannya.


"Hai, bidadari ku sedang apa?" tanya Raihan.


"Sedang duduk santai saja di kamar," jawab ku.


"Oooo, kalau Zain kemana?"


"Lagi di luar sama bang Supri."


Akhirnya aku mengobrol panjang dengan Raihan melalui video call. Begitulah, selepas Maghrib Raihan tak pernah absen untuk melakukan video call dengan ku. Mungkin setelah Maghrib saja dia memiliki waktu untuk mengobrol denganku selebihnya dia sibuk bekerja atau mungkin sibuk bersama kekasihnya Nura. Ketika mengobrol pun aku tidak banyak bicara melain kan hanya Raihan saja yang banyak tanya dan banyak bicara Sekedar membicarakan seputar kegiatannya di kantor atau membicarakan masalah staf staf nya.


Satu jam sudah kami mengobrol hingga aku meminta untuk menyudahi karena belum memberi makan Zain. Meskipun sebenarnya raihan enggan menutupnya namun dengan terpaksa dia menuruti keinginanku.


Pagi hari.


"Bang aku lagi malas masak sarapan bubur Bu Minah saja ya?"tawar ku pada bang Supri yang sedang menyapu halaman rumah. Dia menghentikan gerakan menyapunya lalu menoleh ke arah ku.


"Iya Nur, tidak apa apa," jawab nya kemudian.


"Ya sudah, aku beli dulu."


"Zain mana Nur?"


"Lagi di kamar main puzzle. Biarkan saja dia lagi anteng."


Kemudian aku bergegas mengeluarkan motor mahal ku yang ku simpan di dapur melalui pintu samping rumah.


Setelah tiba di warung bubur Bu Minah, terlihat banyak orang yang sedang mengantri untuk membeli bubur. Namun kemudian pandangan semua orang yang sedang mengantri itu mengalih padaku yang baru saja memarkirkan motor. Aku tau apa yang membuat aku menjadi pusat perhatian mereka, apa lagi kalau bukan motor mahal ku berwarna putih yang terparkir cantik di antara motor motor jelek lainnya.


Dengan percaya diri aku berjalan ke arah kerumunan orang, terlihat ada Bu Rida juga di antara mereka serta Sumi teman main masa kecilku.


"Nuri..."teriak Sumi sambil merentangkan tangannya untuk memeluk ku. Kami memang jarang bertemu karena dia kerja di kota dan sangat jarang pulang. Aku pun balik menyapa kemudian kami saling berpelukan melepas rindu.

__ADS_1


Setelah melepas pelukan Sumi melihat ke arah motor yang sedang mejeng cantik dengan tatapan kagum.


"Itu....itu motor mu Nuri?" tunjuk Sumi ke arah motorku.


Aku tersenyum lalu mengangguk.


"Hebat bener kamu Nuri bisa beli motor mahal kayak gitu."


"Alhamdulilah." Namun dalam hati aku berkata ya ampun Sumi andai saja kamu tau motor itu pemberian Raihan. Tapi ya sudah lah biarkan saja dia mengira aku yang membelinya karena tidak mungkin juga aku berkata kalau motor itu pemberian anak hajah Fatimah bisa geger satu kampung.


"Aku dengar usaha kerupuk mu sukses ya Nuri, sudah menyebar ke kampung kampung lain juga?"


"Sukses sih belum Sum, baru lancar dan alhamdulilah."


"Memang kalau mau cepat kaya itu harus buka usaha sendiri ya Nur, buktinya kamu usaha kerupuk bisa beli motor mahal. tidak seperti aku kerja di kota bertahun tahun jangan kan beli motor baru motor bekas saja tidak bisa membelinya."


Aku tersenyum saja mendengar curhatan teman kecil ku itu.


Aku melirik ke arah beberapa wanita yang sedang memperhatikan kami mengobrol kemudian memberikan senyuman. Mereka pun membalas senyumanku namun ada satu wanita yang bibirnya merat merot melihatku, siapa lagi kalau bukan Bu Rida.


"Eh Sum, sebentar ya aku mau pesan bubur dulu." Kemudian aku mendekati tukang bubur.


"Bu Minah saya pesan bubur tiga ya di bungkus."


"Eh, ada Nuri tumben sudah lama baru beli bubur lagi," kata Bu Minah.


Aku tersenyum." iya Bu, saya sibuk buat kerupuk maklum orderan makin banyak jadi repot dan tidak sempat beli bubur."


"Oala hebat kamu Nur, lama lama kamu bisa jadi pengusaha kerupuk sungguhan lho nur, apa lagi sekarang saja kamu bisa beli motor harga tiga puluh juta, besok besok kamu bisa saja kebeli mobil itu nur." Aku tersenyum saja mendengar celotehan Bu Minah. Biarkan saja dia mengira motor itu hasil jerih payah ku karena tidak mungkin juga aku menceritakan yang sebenarnya.


"Heh, Bu Minah mau jualan apa ngerumpi? sempat sempatnya ngobrol lagi banyak orang mengantri gini." Tiba tiba Bu Rida bicara dengan ketus dan bernada tinggi. Aku tau kenapa dia marah, apa lagi kalau bukan merasa kepanasan mendengar orang orang memujiku. Beralasan, padahal yang mengantri pun hanya tinggal dua orang saja.


"Yee, Bu Rida sabar kenapa, mulut saya memang mengobrol tapi tangan saya bekerja, nih bubur Bu Rida sudah selesai," kata Bu Minah sembari menyodorkan satu kotak bubur pada Bu Rida.


Bu Rida mengambil kotak bubur itu dengan kasar, setelah itu dia melempar uang ke mengenai wajah Bu Minah sebagai bayarannya. Bu Minah serta orang orang yang melihat sikap Bu Rida mengumpatinya.


Aku terbengong mendengar nya." Stres, Risa stres,"ucapku.


"Emang kamu tidak tahu kalau si Risa stres mendekati gila Nuri?"


Aku geleng kepala karena aku memang tidak pernah lagi bertemu dengan Risa jadi aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang.


Aku pamit pulang setelah menerima bubur dari Bu Minah dan membayarnya.


"Terima kasih Bu, saya permisi pulang dulu."


"Iya Nur, sama sama."


Sebelum aku menaiki motor ku, ekor mataku melirik ke sekitar mencari keberadaan Sumi namun tidak ku temukan.


"nyari siapa Nuri?" tanya seorang ibu yang tidak ku kenal tapi dia mengenaliku.


"Oh, saya cari Sumi Bu."


"Owh, Sumi sudah pulang, tadi adiknya nyusul katanya ibunya kumat lagi."


"Kumat lagi gimana maksud ibu?"


"Ibu nya Sumi kan sedang sakit apa gitu namanya saya lupa Nur."


"Ya sudah Bu, terima kasih ya, saya permisi dulu."


Aku melajukan motorku meninggalkan warung bubur Bu Minah dan selama di perjalanan menuju pulang aku teringat pada Sumi dan aku pun berencana akan ke rumahnya setelah mengantarkan bubur terlebih dahulu ke rumah karena bang Supri dan Zain belum sarapan.


Setelah tiba di rumah aku berjalan tergesa gesa sehingga bang Supri melihat heran padaku.


"Kamu kok jalannya kayak mau lomba maraton saja nur?"

__ADS_1


"Aku buru buru bang,"ucapku, sembari meletak kan tiga kotak bubur itu di atas meja makan.


"Buru buru mau kemana? Bang Supri bertanya dia penasaran karena tingkah lakuku yang tak biasa.


"Urgent bang, aku mau ke rumah temanku katanya ibunya sakit. Tapi aku belum suapi Zain."


"Apa penyakitnya parah?"


"Tidak tau bang, makannya aku mau ke sana buat mastikan semoga tidak parah."


"Ya sudah kamu ke sana saja biar Zain Abang yang suapi."


"Serius bang?"tanya ku dengan senang.


"Iya, tidak usah khawatir."


Setelah itu, aku bergegas pergi ke rumah Sumi menggunakan motor agar cepat sampai di rumahnya.


Aku memarkirkan motorku di depan rumah yang ukurannya lebih kecil dari rumahku. Berdinding setengah tembok dan setengah bilik. Rumah Sumi nyaris tak terlihat karena di kelilingi oleh rumah tetangga yang besar besar dan bagus.


Terlihat sepi dari luar karena pintu rumahnya tertutup namun ketika hendak mengetuk pintu terdengar tangisan menyayat hati dari dalam. Aku tidak lagi mengetuk pintu melainkan membukanya langsung karena aku takut sedang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam.


Di ruang TV yang ukuranya kecil, ibu nya Sumi sedang terbaring lemah dengan nafas tersengal sengal. Sumi serta dua orang adiknya sedang menangisi di sampingnya.


"Ibumu sakit apa Sumi?"aku bertanya di belakang Sumi. Dia yang baru menyadari ke datangan ku menoleh ke belakang dengan air mata yang terus mengalir.


"Nuri..."dia langsung memeluk ku.


"Ibu mu sakit apa Sumi?"aku bertanya kembali. Sumi melepaskan pelukannya dan menjawab.


"Aku tidak tau Nuri."


"Apa sudah di bawa berobat?"


Sumi menggeleng sembari menangis."Aku belum pernah bawa ibu berobat."


"Kenapa?"


"Aku tidak punya uang Nuri, aku punya uang sedikit sisa gaji tapi untuk kebutuhan makan kami sehari hari kalau aku pakai berobat ibu aku takut anak serta adik adik ku tidak makan karena aku sudah tidak lagi bekerja."


Aku tercengang mendengar nya. Segitu sengsara nya kah hidup Sumi yang selama ini kerja di kota dan jarang pulang? ku pikir hidupnya lebih mudah dariku ternyata lebih sulit. Sumi sendiri seorang single mom yang sudah di tinggalkan oleh suaminya ketika dia baru melahirkan. Selama ini Sumi menjadi tulang punggung keluarganya karena ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kecil sama hal nya denganku.


"Kita bawa ibumu berobat sekarang."


"Tapi Nuri...."


"Sudah jangan banyak bicara. Ibumu harus segera di obati kasihan dia. Sekarang kamu siap siap saja aku keluar dulu nyari rental mobil karena tidak mungkin membawa ibumu menggunakan motorku." Sumi mengangguk lalu menyeka air matanya.


Sepuluh menit kemudian, mobil yang ku rental bersama sopirnya sudah terparkir cantik di depan rumah Sumi. Kemudian aku dan sumi berusaha mengangkat tubuh Bu Mariam dan memasukan nya kedalam mobil.


Sumi menitipkan anaknya yang berusia empat tahun pada adiknya yang sudah lebih besar. Begitu pula dengan ku menitipkan Zain pada bang Supri sebelum aku pergi dan bang Supri menyanggupinya.


"Ibunya mau di bawa kemana mba?"tanya sang sopir rental.


"Ke rumah sakit kabupaten saja pak."


"Nur.." Sumi terlihat cemas.


"Tidak usah khawatir Sum, inshaallah uang mah ada kok." Aku menenangkan Sumi yang terlihat cemas karena biaya rumah sakit.


Setelah tiba di rumah sakit dokter mendiagnosa kalau Bu mariam mengidap penyakit paru paru basah dan harus menjalani rawat inap untuk beberapa hari di rumah sakit. Lagi lagi Sumi terlihat cemas kemudian aku pun bertanya." Kamu kenapa lagi sih Sum?"


"Kalau ibu di rawat lama di sini lantas bagaimana dengan anak serta adik adik ku di rumah? siapa yang akan memberi mereka makan Nuri."


"Tidak usah khawatir biar aku nanti yang memberi mereka makan. Kamu fokus saja merawat ibumu selama di rumah sakit.


"Terima kasih banyak ya Nuri, kamu baik banget peduli sama aku dan keluarga ku. Aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu ini.

__ADS_1


"Sudah jangan berlebihan kita kan senasib he he."


__ADS_2