Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Godaan Raihan yang tertahan


__ADS_3

Aku mulai sibuk memasak bahan yang ada di kulkas. Hanya butuh setengah jam mengolah bahan makanan sederhana hingga menjadi makanan siap santap. Ku pandangi hasil masakan ku di atas meja.Tumis bayam, dadar telur, goreng tempe dan sambal serta setoples kecil kerupuk hasil buatan kami. Aku berharap semoga Raihan menyukai masakan jauh dari kata mewah ini.


Setelah itu, aku bergegas mencari Raihan. Namun setelah sampai di sofa aku tidak menemukan keberadaannya. Aku mencarinya ke teras rumah dan halaman rumah namun tidak ku temukan juga bahkan sandal nya pun tidak ada. Apa Raihan pulang? tapi kenapa tidak pamit dulu padaku? aku bertanya dalam benak ku.


Kemudian aku bergegas masuk kembali ke dalam rumahku. Tanpa di sengaja ekor mataku melirik ke arah sepasang sandal yang teronggok di pojokan ruang tamu. Ternyata Raihan menyembunyikan sandalnya. Lucu sekali dia, sudah tidak membawa motor menyembunyikan sandalnya pula. Apa dia takut ketahuan orang orang jika sedang di rumah ku lalu di gosip kan lagi? atau dia takut ketahuan oleh ibunya karena Bu haji melarang kami bertemu? Entah lah hanya Raihan yang tau apa alasannya. Jika sandal Raihan ada lantas dimana orangnya? tanyaku dalam hati.


Memikirkan dimana keberadaan Raihan cukup membuatku pusing. Lebih baik aku melihat Zain terlebih dahulu yang sedang tidur siang di dalam kamar. Setelah itu, baru aku akan melanjutkan lagi mencari Raihan. Tak ku duga, ketika aku membuka pintu kamar, ku dapati dua anak manusia yang berbeda ukuran tubuhnya sedang tidur berpelukan. Aku menggelengkan kepala melihat Raihan sedang tidur sambil memeluk Zain di atas kasur.


Ku dekati Raihan lalu duduk di tepi kasur. Tangan ku terulur menyentuh lengannya lalu menggoyang goyangkan nya. Aku membangun kan Raihan tanpa membuka suara karena takut mengusik tidur Zain. Raihan menggeliat kemudian melepaskan tangannya dari tubuh mungil Zain lalu berbalik mengarah padaku dengan jarak cukup dekat. Ku perhatikan wajahnya yang masih terpejam kemudian menggoyangkan kembali lengannya agar dia terbangun.


Berkali kali aku menggoyangkan lengannya tapi Raihan masih saja tidak membuka matanya. Ketika aku merasa capek sendiri dan hendak bangun tiba tiba tangan panjang Raihan meraih pinggangku membuat tubuhku rubuh ke atas kasur lalu Raihan membawaku ke dalam pelukannya sambil tidur. Aku terkejut atas perbuatanya namun aku segera menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara dan membuat Zain terusik.


Raihan memeluk ku dalam posisiku yang sedang terlentang. Kedua tangannya melingkar di pinggangku dan mengikatnya hingga aku kesulitan melepaskan diri dari tubuhnya. Aku menoleh ke arah samping dimana letak wajah Raihan berada. Ku pandangi wajahnya dengan jarak yang sangat dekat bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas hangat serta wangi miliknya dan aku menyukainya.


"Apa mba mau ciuman dariku?" goda Raihan tiba tiba.


Aku tersentak kaget ternyata Raihan mengetahui jika aku sedang memandangi wajah tampannya padahal matanya dalam keadaan terpejam rapat.


"Oh, jadi kamu pura pura tidur Rai, aku pikir kamu sedang mengigau memeluk ku tanpa sadar."


Raihan tidak menjawabnya bahkan tidak pula membuka matanya.


"Lepas kan ini tangan mu Rai, aku mau bangun." Aku menggeliat sana sini mencari celah agar bisa terlepas dari tangan Raihan. Namun tanpa sengaja lutut ku menyenggol sesuatu yang mengeras di bawah perut Raihan. Ternyata pergerakan ku membangunkan adik kecil miliknya.


"Lepas kan Rai, aku mau bangun. Adik kecil mu terbangun tuh!" ledek ku. Aku tau bahwa pusaka kebanggaan Raihan sudah on dan aku tidak ingin menyiksa raihan yang sudah berhasrat semakin berhasrat saja karena aku tidak mungkin melayaninya toh aku bukan istrinya.


"Mba harus tanggung jawab sudah membangunkan adik kecil ku," ucap Raihan sambil mata masih terpejam.


"Tanggung jawab bagaimana Rai?" tanyaku dengan polos seolah olah aku tidak tau.


"Tidur kan lagi!"


"Bagaimana cara menidurkannya Rai?"


"Terserah mba, mba yang lebih berpengalaman."


"Rai..!"


"Hem..!"


"Ayok lepas kan tangannya. Kalau kamu begini yang ada kamu semakin tersiksa Rai !"


"Aku memang sudah tersiksa sejak lama mba, sejak mba menikah dengan pria lain."


"Rai, aku..!"

__ADS_1


"Aku..ingin banget mba, aku ingin menyentuh mba lebih. Aku ingin menjadikan mba milik ku seutuhnya." Raihan semakin mengeratkan pelukannya lalu hendak mencium ku namun sebelum itu terjadi aku lebih dulu menahan bibirnya dengan telapak tanganku.


"Istighfar Rai, ingat...aku ini istri orang dan kita bukan pasangan suami istri. Tolong Rai, tolong jangan berbuat melebihi batas. Aku tidak ingin menambah dosa."


Raihan membuka matanya lalu melepaskan tangannya dari tubuhku. Aku segera duduk begitu pula dengan Raihan ikut duduk.


"Astaghfiruallah hal adzim!" ucap Raihan lalu mengusap wajahnya.


"Maaf mba, maaf. Aku...!" Raihan segera bangkit dari kasur lalu keluar kamar tanpa melanjutkan ucapannya lagi.


Ketika aku melewati kamar mandi samar samar telingaku mendengar suara de sa han dan erangan di dalamnya. Sebagai wanita dewasa dan sudah menikah tentu saja aku tau apa yang sedang Raihan lakukan di kamar mandi. Ada rasa kasihan serta lucu juga melihatnya. Salah sendiri kenapa meluk aku akhirnya dia tersiksa sendiri. Aku tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.


Raihan kembali dari kamar mandi dengan rambut yang basah mungkin dia habis mandi. Kemudian dia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di sampingku.


"Mba..!"


Aku menoleh dan bertanya," Kenapa Rai?"


"Aku tadi memakai peralatan mandi mba," lapornya padaku.


"Kenapa tidak bilang mau mandi Rai? aku kan bisa kasih handuk ke kamu."


Raihan tersenyum nyengir." Tidak apa apa mba."


Aku tersenyum melihatnya." Apa mau makan sekarang Rai?"


Aku mengangguk menyetujui ajakannya. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sementara Raihan menungguku di ruang TV. Setelah itu, kami melaksanakan sholat dzuhur berjamaah dengan khusuk.


"Mba..!"panggil Raihan setelah selesai sholat.


"Kenapa Rai?" tanya ku sambil melipat sajadah.


"Aku..aku.. minta maaf...atas kejadian tadi, aku..aku..!" Raihan berbicara terbata bata tumben sekali biasanya dia bicara seperti jalan tol lancar tanpa hambatan.


"Ku maafkan Rai..!" aku memotong ucapannya yang terbata bata.


"Aku mengerti. Aku juga minta maaf sudah membuat bathin mu tersiksa," sambung ku lagi.


Raihan menunduk sepertinya dia malu padaku atas kejadian tadi yang mana dia memintaku untuk melayani hasratnya.


"Andai saja aku adalah istri mu dan kamu adalah suamiku, aku tidak akan menolaknya Rai, aku akan melayani mu dengan suka rela." Ucapku dalam hati. Namun aku segera menepisnya, Rasanya tidak mungkin kami bisa menjadi pasangan suami istri. Aku merasa halu ku terlalu jauh sekali membayangkan hal itu terjadi padahal banyak sekali rintangan di hadapan kami dan belum tentu juga kami mampu melewati rintangan itu.


"Rai...kita makan sekarang yuk! aku sudah lapar sekali nih."


Rai mengangguk, kemudian kami bergegas ke dapur. Aku menarik kursi untuk Raihan duduki, sambil duduk dia tersenyum padaku dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Rai..maaf ya, aku tidak bisa menghidangkan makanan enak untuk mu," ucap ku lirih.


Kemudian Raihan memandangi makanan yang tersedia di atas meja lalu tersenyum padaku.


"Kata siapa bukan makanan enak? apa mba tidak tau ini makanan favorit ku mba, sayur bayam dan tempe. Aku boleh langsung makan kan?


Aku mengangguk sambil tersenyum." Silahkan di makan Rai!"


Raihan mulai menyendok makanan dan meletakkan nya di atas piringnya lalu memakannya dengan lahap.


Aku masih memperhatikan nya saja karena tidak menyangka sayur bayam dan tempe adalah dua jenis makanan favorit nya.


Aku menghampiri Raihan yang sedang menemani Zain bermain puzzle di ruang TV. Raihan tersenyum ke arahku begitu pula dengan diriku sendiri.


"Rai..!"


"Kenapa mba?"


"Apa aku boleh titip Zain satu jam?"


"Mba mau kemana?"


"Aku mau mengantar kerupuk ke warung warung dulu Rai."


"Apa tidak sebaiknya aku antar saja mba?"


"Tidak perlu Rai, apa kamu mau kita jadi bahan gosip lagi kalau orang melihat kita berboncengan?"


Raihan menggeleng," tidak mba, aku tidak mau mba down lagi. Baru saja mau bangkit. Ya sudah mba kalau begitu, aku akan jaga Zain dan mba hati hati ya?"


Aku tersenyum senang, Raihan tidak keberatan di titipi Zain, setidaknya aku tidak terlalu berat ketika berjalan sambil membawa kerupuk.


Kemudian aku bergegas pergi sambil kedua tanganku menenteng dua kantong plastik besar. Aku tau Raihan sedang memperhatikanku dengan pandangan iba. Mungkin dia merasa tidak tega melihat hidupku seperti ini harus mencari uang sendiri padahal memiliki seorang suami.


Aku mendatangi warung warung yang sudah menjadi langganan kerupuk ku sejak dulu. Mereka menyambut aku dengan baik karena cukup lama juga aku tidak menitipkan kerupuk ku pada mereka. Selain itu, aku memberikan kerupuk lebih pada setiap pemilik warung sebagai testimoni dan respon mereka semuanya positif dan memuji setelah mencoba kerupuk hasil olahan ku. Kata mereka kerupuk buatan ku yang ini jauh lebih enak dari pada kerupuk ku yang dulu.


"Ini enak banget Nur pasti laku keras. Apa ini beneran hasil resep kamu sendiri Nur?" tanya Bu Siti, pemilik warung terakhir yang aku titipi kerupuk ku.


"Alhamdulilah, terima kasih Bu. Iya Bu, ini hasil ide saya sendiri."


"Wah, hebat kamu Nur, saya doakan semoga usaha mu lancar dan sukses ya Nur!"


"Amin...amin terima kasih banyak atas doanya ya Bu! kalau begitu saya permisi dulu ya Bu Siti !"


"Iya Nur, silahkan. Hati hati."

__ADS_1


Aku bergegas pulang ke rumahku setelah kerupuk ku di titipkan semuanya. Aku senang sekali mereka semuanya mengatakan kalau kerupuk ku enak nya melebihi kerupuk yang dulu.


Ketika aku berjalan melewati rumah Raihan yang pintu gerbangnya sedang terbuka lebar, aku melihat ada Bu Rida, suaminya, Risa serta Bu haji sedang berbicara di depan rumah. Bu Rida sempat melihatku lalu dia berubah sikap dari yang tadinya terlihat kalem menjadi seperti perangko yang menempel kan diri ke Bu haji dan tertawa tawa kecil seperti ada yang lucu dan seolah olah biar terlihat akrab dengan Bu haji. Aku ingin tertawa melihat tingkahnya. Dia tidak tau saja kalau pria yang sedang mereka apeli sedang mengapeli ku di rumahku.


__ADS_2