Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Aku cinta kamu


__ADS_3

Aku tersenyum geli melihat Ipah yang sedang menahan si cungkring hendak kabur gara gara di bohongi akan dibawa ke rumah sakit dan di sunat oleh Raihan. Aku heran pada orang tuanya kenapa anak sudah kelas dua SMP belum di sunat dan membiarkan saja padahal anak itu sudah memasuki baligh.


Setelah si cungkring tenang, pembahasan pun berlanjut dan di akhiri dengan perdamaian antara kedua belah pihak. Sepanjang pembicaraan Ipah tidak banyak protes melainkan manggut manggut saja seperti seorang penurut. Entah karena dia menerima anaknya yang salah lebih dulu atau karena pesona Raihan yang menghipnotisnya sehingga dia jadi manut dan tidak protes.


Setelah masalah Ria dan anak Ipah Saripah selesai kami keluar dari ruang BP dan berjalan beriringan ke luar sekolah. Di belakang kami menyusul Ipah dan anaknya.Jika di perhatikan, Ipah hanya besar mulut ketika di belakang ku atau di sosial media saja sementara di hadapan langsung dengan ku dia menciut dan tak berkutik. Seperti saat ini dia diam seribu bahasa, entah karena dia menjaga image nya di depan Raihan atau memang karena dia tidak berani mengatai ku secara terang terangan.


Ketika berjalan ke arah mobil aku menghentikan langkahku. Raihan pun ikut berhenti dan melirik."Kenapa sayang?"tanya nya.


"Aku hampir saja melupakan motorku Rai." Bertemu dengan ipah Saripah, bertemu dengan Raihan dan masalah Ria barusan memang menyita perhatianku sehingga aku melupakan motor yang terparkir cantik di bawah pohon mangga.


"Ya ampun sayang, kirain ada apa? terus dimana sekarang motornya?"


"Di sana,"tunjuk ku pada sebuah tempat. Kemudian aku melangkah ke arah dimana motor ku berada dan Raihan mengekor.


Setelah berada tidak jauh dari motor ku yang terparkir, aku melihat Ipah dan anaknya berada di sana dan nampak Ipah sedang membenarkan motor dekil yang terparkir sejak tadi bersama motorku. Aku baru tau ternyata motor yang sudah usang dan dekil itu adalah milik Ipah Saripah.Terdengar umpatan keluar dari mulutnya karena motornya tidak mau menyala.


"Ehm, kenapa motor nya mba?"Aku basa basi bertanya pada Ipah yang sedang berjongkok membenarkan motornya. Dia melirik ke arahku dan terlihat mukanya tercengang lalu berdiri.


"Mau apa kamu kesini?"tanya nya dengan ketus.


Awalnya aku mau bantuin dia, tapi karena sikapnya ketus padaku jadi niat menolongnya pun ku urungkan.


"Mau ngambil motor ku, tuh!" tunjuk ku pada motor cantik berwarna putih terparkir di samping motornya yang berjarak tiga meter.


Ipah mengikuti arah telunjuk ku dan seketika bola matanya membesar melihat motor itu dan aku tau apa yang sedang dia pikirkan.


"Kata nya suaminya bergaji besar dan apapun yang di mau akan di turuti olehnya. Mba minta di belikan motor seperti punya ku saja dan aku rasa motor harga tiga puluh juta itu kecil buat mas Surya apalagi untuk wanita yang sangat di cintai nya seperti mba ini."Aku sengaja sedikit pamer sekaligus menyindirnya. Entah kenapa aku masih kesal saja jika mengingat dulu yang mana mas Surya lebih banyak memberikan berjuta juta uang pada wanita ini daripada aku sebagai istri sah nya yang hanya di beri nafkah tak lebih dari lima ratus ribu. Gara gara wanita ini aku sering kali kelaparan dan selalu memakai pakaian lusuh serta robek sana sini yang telah ku jahit dengan tanganku hanya karena tidak memiliki uang untuk membelinya.


"Motornya di tinggal saja sayang, sebentar lagi akan ada dua karyawan ku yang akan membawakan motormu."Raihan berjalan sembari tersenyum ke arahku. Perkataannya memutus ingatanku pada masa sulit itu. Aku melirik Ipah yang tadinya memasang wajah kesal namun setelah kedatangan Raihan raut mukanya berubah menjadi malu malu kucing. Aku tersenyum miring saja melihatnya.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Sekalian antar aku ke toko sepatu mau beliin sepatu buat Ria sekalian sama Rio."


"Siap sayang." Raihan meraih tanganku lalu membawaku menjauhi motor serta mantan maduku. Ku lirik Ipah, terlihat sekali mukanya memancarkan wajah kesal dan tatapan iri. Aku menyungging kan senyum tipis ke arahnya sembari berjalan di tuntun oleh pria muda dan sempurna.


"Sayang...!"panggil Raihan di sela sela mengemudi.


Aku meliriknya."Aktingnya sudah kelar Rai,"ucap ku.


Raihan tersenyum lebar."Tapi tidak apa apa kan kalau mulai hari ini aku akan panggil mba sayang?"tanya nya.


Aku memajukan bibir bawahku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah jendela mobil.


Zain dan fatan berlarian ke luar rumah setelah Raihan baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumahku. Aku tersenyum lebar melihat mereka yang antusias sekali menyambut kedatangan kami. Mereka bersorak ria sambil loncat-loncat dan bertepuk tangan. Terlihat bang Supri berdiri sambil menyender di tiang pintu.


Ria dan Rio keluar lebih dulu lalu menghampiri Zain dan Fatan. Ku lihat Ria hanya memakai sepatu sebelah dan aku baru teringat bahwa tadi berniat mau membeli sepatu terlebih dahulu sebelum pulang tapi di perjalanan aku benar benar lupa.

__ADS_1


"Rai..."


"Kenapa sayang?"tanya Raihan, sembari melepas sabuk pengamannya.


"Tadi kan niatnya aku ingin ke toko sepatu dulu sebelum pulang, kenapa kamu langsung bawa aku pulang?"


"Kalau mampir dulu ke toko sepatu pasti membutuhkan waktu yang lama kan mba? apa tidak kasihan sama Zain dan Fatan yang sudah terlalu lama menunggu kepulangan mba. Lihat mereka antusias sekali menyambut mama sama kakak kakaknya," tunjuk Raihan pada empat bocah yang sedang bersenda gurau.


"Nanti setelah sholat Dzuhur baru kita ke toko sepatu sekalian bawa semua anak anak jadi nanti akan lebih santai dan tidak di buru buru oleh waktu,"sambung Raihan.


Aku tersenyum mendengar saran Raihan, kenapa aku tidak kepikiran ke arah sana tadi. Apalagi waktu sudah menunjukan pukul setengah dua lewat.


"Ya sudah turun yuk!" ajak nya dan aku mengangguk.


Setelah turun Zain berlari ke arah kami sambil berteriak."Mama....uncle..."aku tersenyum melihat tingkah Zain lalu berjongkok dan merentangkan kedua tanganku bersiap menangkapnya namun Zain tidak memeluk ku melainkan memeluk kaki Raihan. Raihan menertawakan ku lalu mengangkat tubuh mungil itu dan menciuminya dengan gemas.


"Zen lindu angkel,"ucap Zain.


"Uncle juga rinduuuu sekali sama Zain." Lalu menciumi seluruh wajahnya dengan gemas membuat Zain tertawa kegelian.


Aku yang telah di cueki oleh Zain hanya memperhatikan keakraban mereka saja. Zain menyambut Raihan seolah olah menyambut pada seorang ayah yang baru kembali bekerja. Begitu pula dengan Raihan memperlakukan Zain seperti pada anaknya sendiri. Aku mengembangkan senyum melihatnya.


"Manis sekali..."ucap ku tanpa sadar.


Raihan melirik ku."Benar kah, aku cocok kan jadi papa nya Zain?"


Setelah melaksanakan ibadah dzuhur, aku mendandani para bocah kecuali Ria dan Rio karena mereka berdua sudah bisa memakai dan membuka baju sendiri.


Ketika aku sedang memakaikan baju Fatan, bang supri menghampiriku.


"Nuri,"sapa nya.


"He'em," sahut ku, tanpa menoleh padanya dan tanganku sibuk mengaitkan kancing baju Fatan.


"Sebenarnya kalian mau pada pergi kemana sih?"


"Mau pelgi jalan jalan dong wa, naik mobil bagus."Fatan yang menjawab dan aku hanya tersenyum tipis saja.


"Iss, Wawa tidak tanya sama kamu bocil."


Fatan memajukan bibirnya.


"Apa yang di bilang sama fatan benar kok bang,"ucap ku Kemudian, Fatan terlihat tersenyum. Sepertinya dia senang aku telah membelanya.


"Serius mau jalan-jalan? aku ikut kenapa Nuri, aku bosan di rumah terus."

__ADS_1


"Kalau mau duduknya di bagasi sih boleh-boleh saja bang."


"Maksud mu?"tanya nya dengan serius.


Aku berdiri setelah selesai merapikan Fatan, kemudian balita itu menghampiri Zain yang sedang main mobil mobilan.


"Itu mobil jok nya hanya empat bang, terus nanti Abang duduknya dimana kalau ikut?"


"Memang nya bang Supri sudah benar benar sehat dan kuat kalau jalan jarak jauh?"Raihan menyela obrolan kami sembari berjalan mendekat. Aku menoleh, nampak penampilannya sudah berubah menjadi pria muda biasa, memakai kaos hitam dan celana levis pendek namun penampilannya itu tidak mengurangi ketampanannya.


"Kuat kok, kuat. Aku sudah sehat Rai," jawab bang supri dengan menggebu gebu.


"Biarkan saja bang supri ikut mba, nanti duduknya bisa memangku fatan atau Rio,"kata Raihan.


"Yes, yes, yes...!" bang Supri melompat lompat seperti bocah. Dia terlihat senang sekali mendengar persetujuan Raihan untuk mengajaknya.


"Ya terserah kalau mau memangku mereka mah." Setelah berkata aku memasuki kamarku hendak mengganti baju.


Aku membuka lemari pakaian dan memilih baju yang terasa simple dan tidak ribet. Mata ku tertuju pada sebuah jumpsuit warna moka, jumpsuit baru yang ku beli beberapa waktu lalu dan belum pernah di pakai. Setelah memakainya, aku mematut diri di cermin sembari menyisir rambut panjang ku. Bersamaan dengan itu, tiba tiba Raihan nyelonong masuk ke kamarku dan melihat ke arahku. Aku terkejut di buatnya, mana kala aku belum sempat memakai hijab.


Senyum Raihan mengembang melihatku, kemudian dia mendekat lalu membelai rambut ku. Aku terpaku di tempat tanpa menyuruhnya keluar dan malah membiarkan dia membelai rambutku


"Mba cantik sekali,"ucap nya, sembari membelai lembut rambut lurus ku.


Aku masih diam membisu dan menatap lekat seolah olah aku sedang terhipnotis oleh nya.


"Boleh kan kalau calon suami mba ini melihat mahkota indah calon istrinya? dan aku harap hanya aku satu satunya laki laki yang dapat melihatnya."


"Rai...."ucap ku lirih.


"He'em, kenapa sayang?"


"Aku...."


"Aku cinta kamu, itu kan yang akan mba katakan padaku?"Raihan memotong ucapan ku dan dengan percaya diri dia berkata demikian. Ku cubit gemas bagian perutnya hingga dia mengaduh.


"Sakit mba, mending di cium saja jangan di cubit tidak enak."


Karena kesal Raihan menggodaku, aku mencubit perutnya kembali namun dia menahan tangan ku. Dan disaat itu pula setan berhasil menggoda dua anak manusia yang lemah iman ini. Raihan mencium ku dan aku membalas ciumannya. Kami saling pagut menikmati saliva yang terasa manis sekali di lidah kami. Di tengah tengah saling pagut, gedoran pintu terdengar nyaring sekali.


"Mama....Wawa ...uncle...."teriakan anak anak di depan pintu.


Kami terkejut sekali hingga aku mendorong tubuh Raihan dengan kuat tanpa sadar hingga dia jatuh dan terlentang di atas kasur. Aku salah tingkah, lalu segera menata rambut hingga wajahku.


"Sepertinya kita harus segera menikah mba, kalau begini terus setan akan terus menerus menggoda kita. Mending kalau menggodanya hanya sekedar ciuman kalau melebihi ciuman bagaimana?"

__ADS_1


Aku melirik nya lewat cermin." Kamu nyalahin setan terus Rai, salahkan dirimu kenapa main masuk dan menggodaku," ucap ku, sembari memasang hijab.


"Tapi mba suka kan?"goda Raihan. Aku menunduk malu kemudian beranjak keluar dari kamar.


__ADS_2