Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pencarian 1


__ADS_3

Raihan dan dokter Bayu memeriksa data itu secara detail sementara aku hanya memperhatikan mereka saja.


"Apa kira-kira menurut mu tiga orang ini masih hidup, Rai?" Tanya dokter bayu dengan tatapan tak beralih dari file tersebut.


Raihan menggeleng kemudian melirik pada teman nya yang sudah memberikan data itu pada kami.


"Bro, kira kira menurut lo orang-orang ini masih hidup tidak?"


"Yah, mana gue tau bro. Gue kerja di sini baru dua tahun. Tapi kayaknya orang-orang itu sudah pensiun dari sini sebelum gue lulus TK, ha ha."


Raihan memajukan bibir bawahnya sementara aku tersenyum saja mendengar candaan pria itu.


"Lebih baik kita cari sekarang saja, Rai. Mudah mudahan orang-orang ini masih hidup."


"Yah, lebih cepat lebih baik."


"Apa perlu kita bawa polisi?"


"Jangan dulu."


"Wait, wait. Sebenarnya ini ada apa? kenapa bawa bawa nama polisi segala?" Tanya teman Raihan dengan wajah penasaran.


Raihan dan dokter Bayu saling pandang.


"Apa hal ini sangat privasi sehingga gue tidak boleh tau?"


"Bisa di katakan demikian bro. Cerita nya terlalu panjang dan kalau di ceritakan sekarang kami kapan pulang nya bro. Nanti kalau ada waktu dan urusannya kelar gue pasti cerita ke lo atau minta bantuan Lo lagi hehe."


Teman Raihan mencebik kak bibirnya.


Setelah data itu sudah berada di tangan kami, kami ijin pamit pada pria baik yang sudah rela menginap di rumah sakit demi melaksanakan perintah Raihan. Aku jadi penasaran sebaik apa Raihan pada teman temannya hingga dia memiliki teman yang hampir semua nya baik. Seperti temannya yang satu ini, dia tidak mau di bayar padahal aku tau mencari data orang yang sudah puluhan tahun itu cukup sulit. Dan beruntungnya data itu masih tersimpan tidak ada kesengajaan orang yang ingin menghilangkannya.


Kami melangkah beriringan keluar dari rumah sakit menuju dimana mobil di parkir. Namun sebelum aku memasuki mobil selintas aku seperti melihat Nura memasuki rumah sakit. Tapi aku tidak bisa memastikan apakah itu benar Nura atau bukan sebab tidak terlihat dengan jelas rupa wajahnya.


"Sayang ayok masuk. Lihatin apa sih?" Tanya raihan.


"Oh, tidak Rai." Kemudian aku segera memasuki mobil.


Mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan sebuah kafe. Aku menoleh ke belakang dimana dokter Bayu duduk sembari sibuk memainkan ponsel nya.


"Kita makan dulu, dok."

__ADS_1


"Panggil aku kakak, Nuri," ucap dokter Bayu tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponsel nya.


Raihan tersenyum mesem."Ingat lho, sayang. Sekarang kamu itu sudah memiliki seorang kakak yang super duber ganteng dan.."


Dokter Bayu mengangkat wajahnya melihat pada kami." Bicara apa kalian?"


"Tidak, aku hanya memberi tahu Nuri kalau dia punya kakak yang tampan. Ya, itu saja."


Dokter Bayu tersenyum tipis tapi masih bisa terlihat oleh mata ku. Aku merasa canggung sekali jika memanggilnya kakak tapi mulai saat ini aku akan berusaha membiasakan nya agar menjadi terbiasa.


Kami turun lalu beriringan memasuki sebuah restauran. Kami pikir kami harus mengisi perut terlebih dahulu sebelum menguras tenaga untuk mencari orang-orang yang akan kami cari. Restauran yang kami kunjungi tidak terlalu ramai jadi tidak terlalu bising. Selain itu kami juga memilih meja yang letak nya cukup jauh dari meja-meja lainnya agar lebih nyaman saja ketika mengobrol.


"Kakak ipar, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Raihan pada dokter Bayu yang sibuk dengan ponselnya.


Dokter Bayu melirik Raihan dengan ujung ekor matanya." Tanya saja?"


"Emm, apa kakak ipar sudah punya pacar?"


Dokter Bayu menatap Raihan dengan tatapan yang sulit ku artikan." Kamu meledek ku?"


"Oh, tidak sama sekali dong. Aku hanya bertanya saja, he he."


Tidak lama kemudian pesanan kami tiba di meja kami dan kami langsung menyantap makanan masing-masing dalam diam namun sesekali di selingi obrolan.


Setengah jam berlalu dan setelah kami sudah selesai makan, kami memutuskan untuk langsung melakukan pencarian kediaman orang-orang yang berkaitan dengan saat ibu Hanum melahirkan.


"Sebenarnya ada berapa orang yang membantu Bu Hanum melahirkan, Rai?" Aku bertanya pada Raihan di tengah dia mengemudi. Aku bertanya karena aku tidak ikut melihat data itu. Entah mengapa aku tidak berkeinginan untuk melihatnya. Melihat sampulnya saja rasanya dadaku sesak apa lagi jika melihat isi file nya.


"Tiga orang sayang. Satu orang dokter laki laki dan dua orang perawat."


Aku terbengong menatap Raihan. Bagaimana tidak bengong. Jumlah orang yang membantu melahirkan Bu Hanum sama persis dengan jumlah orang yang ada di mimpiku saat aku memimpikan seseorang yang sedang melahirkan. Ini cukup aneh, aku tidak tau apakah hanya secara kebetulan saja atau mimpi itu sebuah petunjuk. Tapi, mimpi adalah bunga tidur rasanya tidak masuk akal saja jika aku mempercayai hal tersebut.


"Yes, dapat."


Suara girang kak Bayu tiba tiba membuyarkan lamunan ku lalu aku menoleh padanya." Dapat apa kak?"


"Alamat tiga orang yang akan kita kunjungi. Tapi sayangnya rumah nya berjauhan bahkan ada yang di luar kota Jakarta."


"Serius?" Ucap Raihan.


"Ya, Rai."

__ADS_1


"Terus?" Tanya ku.


"Kita datangi rumah mereka yang letaknya masih di area jakarta saja dulu," usul kak Bayu.


"Siapa kira-kira?"Tanya Raihan.


"Dokter Subroto. Aku sudah mengantongi alamatnya."


"Bagus. Tolong kirimkan alamat itu ke ponsel ku kakak ipar. Kita meluncur ke sana sekarang."


Kak Bayu mengangguk.


Mobil yang kami tumpangi melaju cepat membelah jalanan kota Jakarta. Raihan terus melajukan mobilnya mengikuti arah petunjuk yang terdapat di ponselnya. Semoga GPS itu tidak menyasarkan kami dan membawa kami ke alamat yang benar.


Tiga puluh menit berlalu mobil Raihan sudah berada di jalanan komplek perumahan kelas menengah ke bawah. Raihan memelankan laju mobilnya hingga tiba di rumah berlantai dua lalu memberhentikan mobilnya.


Kami memperhatikan rumah yang tidak terlalu besar, bercat putih dan berlantai dua. Rumah itu nampak sepi dengan pintu pagar yang tertutup rapat. Kemudian kami memutuskan untuk turun.


Raihan berjalan lebih dulu ke arah pintu gerbang yang hanya sebatas dadanya. Aku dan kak Bayu menyusulnya.


"Permisi, permisi." Berulang kali Raihan memanggil si pemilik rumah namun sama sekali tidak ada jawaban.


"Pintu gerbangnya di kunci. Apa pemiliknya sedang berada di luar," kata Raihan.


"Permisi mas, mba." Tiba tiba seseorang menyapa kami. Kami menoleh kebelakang, nampak seorang pria paruh baya memakai kopiah berdiri di belakang kami.


"Assalamualaikum, pak." Raihan memberi salam pada pria itu dan pria itu pun membalas salamnya. Selain memberi salam kami juga bersalaman pada pria yang baru kami ketahui sebagai RT komplek tersebut.


"Maaf, apa mas dan mba sedang mencari pemilik rumah ini?"


"Betul pak, apa kah rumah ini rumah nya Dokter Subroto?" Tanya Raihan.


"Betul mas."


Senyum pun mengembang di bibir kami.


"Apa kira-kira Dokter Subroto dan keluarganya ada di dalam rumah ini, pak?" Tanya kak Bayu.


"Maaf mas, Dokter Subroto sudah wafat sejak lima tahun yang lalu. Istri nya pun sudah wafat sejak enam bulan yang lalu. Dan rumah ini sudah kosong sejak tiga bulan yang lalu karena anaknya beserta suami dan anak anaknya memutuskan untuk tinggal di bandung."


Senyum yang awalnya tersungging di bibir kami seketika itu pula meluntur ketika mengetahui orang yang kami cari sudah tidak ada lagi di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2