
Tak selang lama sang waiter kembali ke meja kami sambil membawakan kursi khusus anak kecil.
"Maaf ya mas, mba, sedikit lama!" ucap sang waiter sambil meletak kan kursi kecil untuk Zain duduki.
"Tidak apa apa mba. Oh ya ini pesanan kami." Raihan memberikan catatan makanan yang dia pesan. Sang waiter mengambil kertas yang di sodorkan oleh Raihan lalu melihatnya. terlihat sang waiter membulatkan matanya melihat isi kertas entah apa yang di lihat sehingga dia terlihat terkejut.
"Baik mas, mba, tunggu sebentar ya!"
Aku tersenyum sementara Raihan mengangguk. Raihan mendudukkan Zain di kursi kecil di sampingnya. Sambil menunggu pesanan datang Raihan mencandai Zain sementara aku hanya memperhatikan keakraban mereka sambil sesekali tersenyum.
Sepuluh menit kemudian pesanan kami datang. Ada tiga waiter yang mendatangi meja kami dan masing masing membawa nampan berisi makanan. Mereka mulai meletakkan piring piring berisi makanan di atas meja. Aku tercengang melihat banyaknya menu yang terhidang di atas meja. satu bakul nasi, Ikan bakar, cumi krispy, cumi saos tiram, udang besar saos padang, udang krispy, kerang dara, kerang hijau, kepiting, cah kangkung, kembang tahu, sup salmon, dua gelas es jeruk dan tiga botol air mineral.
"Silahkan mas, mba!" ucap salah satu waiter.
"Terima kasih mba," jawab Raihan sementara aku hanya tersenyum.
"Apa apaan kamu Rai..kenapa banyak sekali pesannya kita hanya makan berdua lho! ini pemborosan namanya Rai..!" aku mengomel setelah semua waiter pergi dari meja kami.
"Soalnya aku tidak tau mba Nuri sukanya makan apa jadi pesan saja semua," jawab Raihan dengan tenang.
Aku sudah membayangkan berapa banyak uang yang harus di keluarkan oleh Raihan untuk membayar semua makanan yang ada di meja ini pasti jumlahnya tidak sedikit.
"Mba tidak usah khawatir, uangku tidak akan habis hanya untuk membayar makanan ini mba. Ya sudah mba, yuk di makan jangan hanya di lihat saja."
Aku menuruti perintah Raihan untuk memakan makanan yang ada di meja, lagi pula perutku sudah sangat lapar.
"Nah kalau sup salmon ini khusus untuk Zain, Zain makan ikan salmon ya biar tumbuh sehat dan pintar,"ucap Raihan lalu menyuapi Zain. Zain terlihat lahap sekali makan sup ikan salmon makanan yang tidak pernah Zain makan sebelumnya.
"Rai..biar aku saja yang menyuapinya."
"Mba makan saja biar Zain aku yang menyuapi."
"Tapi Rai..!"
"Tidak ada tapi tapi mba, mba Nuri sudah lapar kan?"
Aku terdiam lalu melanjutkan lagi makan ku. Sambil mengunyah aku memperhatikan Raihan yang sedang menyuapi Zain dengan
kasih sayang. Aku terharu sekali melihat Raihan yang peduli pada gizi Zain, sampai dia memesan sup Salmon khusus untuk Zain. Padahal sehari hari nya Zain aku beri makan dengan kecap tapi jika sedang memiliki uang baru aku membelikan Zain telur. Andai saja suamiku sikapnya seperti Raihan yang sayang serta peduli pada Zain mungkin aku akan merasa senang. Seketika aku teringat pada suamiku, apa kah dia sudah kembali ke Jakarta atau masih menungguku di rumah?" Namun pikiran itu langsung aku tepis karena untuk saat ini aku masih kesal dan tidak ingin mengingat mas Surya.
Raihan menyuapi Zain perlahan hingga sup salmon nya habis tak tersisa. Setelah menyuapi Zain Raihan mulai memakan hidangan yang begitu banyak. Kami makan dalam diam dan sesekali Rai melirik ke arahku yang makan sambil menunduk.
"Makan yang banyak ya mba, biar montok seperti dulu pertama kali aku bertemu dengan mba."
Aku tersenyum mengingat pertama kali bertemu dengan anak SMA yang jatuh dari motor nya. Saat itu aku mau pulang kerja dan tanpa sengaja melihat anak laki laki berseragam sekolah terjatuh dari motornya lalu aku menolongnya serta mengobatinya. Dan siapa sangka anak SMA yang ku tolong adalah tetanggaku sendiri anak Hajah Fatimah. Setelah kejadian itu Raihan sering kali main ke rumah ku atau menyambangi ku di tempat kerja karena kebetulan jarak sekolahnya dan tempat kerja ku berdekatan. Namun setelah aku menikah aku tidak pernah lagi melihat Raihan entah karena aku yang sibuk mengurus anak atau dia yang sibuk sekolah sehingga aku baru bertemu kembali saat aku membantu ibunya memasak di rumahnya.
"Memangnya aku terlihat kurus ya Rai?"
__ADS_1
"Iya mba, kurus sekali..!"
Aku memajukan bibirku mendengar jawaban Raihan. Apa badan ku ini terlihat kurus sekali di mata Raihan? ya wajar lah jika aku kurus karena aku jarang makan serta jarang makan makanan yang bergizi.
"Tapi tetap cantik..!" sambungnya lalu tersenyum sambil menatapku.
"Menggombal kamu Rai?"
"Tidak, memang kenyataanya demikian mba Nuri tetap cantik seperti dulu."
"Sudah Rai..jangan menggombal terus, habiskan saja dulu makannya."
Dua puluh menit kemudian kami sudah merasa kenyang. Masih banyak makanan yang belum kami sentuh karena terlalu banyak membuat aku tidak sanggup memakannya.
Raihan memanggil seorang waiter lalu waiter itu menghampiri kami.
"Ada yang bisa kami bantu mas?"
"Ini makanan yang masih utuh tolong di bungkus ya mba dan saya pesan sup salmon lagi."
"Baik mas, di tunggu sebentar. Oya untuk transaksinya....!"
"Saya bayar di sini saja mba, saya malas jalan ke kasirnya perut saya kekenyangan."
Sang waiter tersenyum." baik, tunggu sebentar ya mas."
"Totalnya satu juta tiga ratus tujuh puluh ribu mas."
Aku terperangah mendengar sang waiter menyebut nominal uang yang harus di bayarkan oleh Raihan. Satu juta tiga ratus tujuh puluh ribu harga untuk makanan yang kami pesan dan untuk satu kali makan. Sementara aku di beri nafkah lima ratus ribu untuk satu bulan oleh suamiku. Raihan mengeluarkan kartu debitnya lalu melakukan transaksi.
"Sudah selesai mba, yuk keluar." Raihan menggendong Zain dan membawa makanan yang telah di bungkus lalu kami berjalan ke luar restouran menuju mobil. Setelah di dalam mobil Raihan mengajak aku mencari masjid untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu dan aku menyetujui ajakan Raihan. Kemudian Raihan melajukan mobilnya keluar dari area restauran mencari masjid atau mushola di sekitar.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua siang dan kami berhenti di sebuah masjid kota untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Setelah itu, Raihan mengajak kami bermain ke sebuah wahana waterbom. Zain antusias sekali melihat kolam renang yang cukup besar. Raihan membawa Zain memasuki kolam renang sambil membawa pelampung bebek untuk Zain tumpangi. Aku hanya memperhatikan mereka dari tepi kolam. Terlihat Zain senang sekali di ajak berenang oleh Raihan.
Raihan menghampiriku yang sedang duduk di tepi kolam dan tiba tiba dia menarik tanganku hingga aku tercebur ke dalam kolam renang yang kedalamannya sebatas dada Raihan dan sebatas telingaku. Aku kesusahan berenang selain tidak bisa berenang baju serta jilbabku membuat tubuhku terasa berat untuk mengapung ke atas.
Raihan meraih pinggangku dan sedikit mengangkat tubuhku hingga aku terapung dan bisa bernafas. Ku cubiti perut sixpack Raihan di dalam air hingga ia merasa kegelian lalu menggenggam tanganku agar aku berhenti mencubitinya. Aku kesal pada Raihan yang tiba tiba menarik ku hingga aku ikut berenang bersamanya padahal aku sendiri tidak bisa berenang.
"Kamu tega sekali Rai..aku tidak bisa berenang bagaimana kalau aku tenggelam."
"Masa kalah sama Zain sih mba, Zain saja bisa berenang."
Ku lihat Zain yang sedang menumpangi bebek bebekan dia terlihat senang sekali.
"Apa perlu memakai bebek bebekan seperti Zain biar mba bisa berenang?"goda Raihan.
"Apa kamu pikir aku anak kecil Rai?"
__ADS_1
"Ha..ha..mba tidak akan tenggelam kok selagi ada di sampingku."
Aku baru sadar jika pinggangku sedang di peluk Raihan hingga aku terangkat.
"Rai..lepasin Rai..!"
"Yakin? kalau mba tenggelam bagaimana?"
"Aku mau naik ke atas saja Rai !"
"Mama cini aja belenang cama Zen!" Zain berceloteh.
"Tuh, Zain minta di temani berenang sama mamanya." Raihan membawa tubuhku mendekati Zain. Zain merentangkan tangannya ingin ku peluk. Jadilah kami berenang dan becanda di kolam renang hingga aku merasa kedinginan dan meminta pada Raihan untuk menyudahi dan membawaku ke tepi kolam. Raihan menuruti keinginanku lalu dia membawa aku serta Zain ke tepi kolam. Raihan membantuku menaiki tepi kolam lalu mengangkat Zain dan memberikannya padaku. Setelah itu, Raihan ikut naik ke atas kolam dan seketika aku terpana melihat tubuh atletis Raihan yang sempurna.
"Kenapa melihat ku seperti itu mba? awas lho nanti suka," goda Raihan sambil tersenyum jahil.
Aku menunduk kan wajah merah ku. Malu sekali rasanya kepergok oleh Raihan kalau aku sedang memperhatikannya.
"Tunggu sebentar ya mba!" Raihan berjalan ke arah parkir mobil yang letaknya cukup jauh. Ku perhatikan kepergian Raihan dan ternyata Raihan sedang menjadi pusat perhatian orang orang yang dia lintasi terutama kaum wanita. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian, wajah Raihan sangat tampan, berkulit putih bersih serta tubuh tinggi tegap dengan perut sixpack. Sempurna sekali Raihan.
Raihan kembali dan menghampiriku yang sedang memeluk Zain karena kedinginan.
"Ini mba..!" Raihan menyodorkan sebuah paper bag berukuran cukup besar.
"Apa ini Rai?" tanyaku sambil meraihnya di tangan Raihan.
"Itu ada handuk, peralatan mandi serta baju ganti mba Nuri serta Zain."
"Hah, kapan kamu membeli semua ini Rai?"
"Hasil sulap mba!" jawab Raihan sambil nyengir dan menggaruk tengkuknya.
"Ya sudah mba, cepat lah ganti kasihan Zain sudah kedinginan."
Aku tak lagi berfikir panjang karena aku sendiri pun sudah sangat kedinginan. Ku gendong Zain menuju kamar mandi serta membawa paper bag pemberian Raihan. Setelah di kamar mandi ku bersihkan tubuh Zain terlebih dahulu lalu memakaikan baju baru yang di belikan oleh Raihan.
Setelah itu, aku membersihkan tubuhku lalu memakai baju yang Raihan beli. Ku perhatikan baju setelan pemberian Raihan terlihat bagus sekali dan pas di tubuhku. Dan aku yakin baju yang ku pakai ini harganya mahal jika melihat kualitas bahan dan modelnya. Masih menjadi tanda tanya bagiku kapan Raihan membeli baju untuk ku serta Zain?
Hari menjelang sore, Raihan melajukan mobilnya menuju arah pulang. Zain tertidur di pangkuanku karena kelelahan serta dia belum tidur siang. Raihan membawaku menuju arah rumahku namun ketika sudah tiba di jalan depan rumah dan Raihan hendak berbelok aku melihat motor mas Surya masih ada di halaman rumahku serta mas Surya yang sedang duduk di teras sambil memainkan ponselnya.
"Lurus saja Rai..!"
"Kenapa mba? bukannya suami mba lagi menunggu?"
Ku lihat ke arah rumahku, mas Surya sedang memperhatikan mobil yang kami tumpangi dan sedang berhenti di pinggir jalan.
"Cepat pergi dari dari sini Rai!"
__ADS_1
"Baik mba!" Raihan mengikuti keinginanku lalu dia melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.