Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Flashback 2 ( POV Raihan )


__ADS_3

Setelah selesai di obati oleh dokter aku di tuntun kembali ke luar ruangan oleh mba Nuri. Setelah di luar ruangan aku menghentikan langkah ku.


"Kenapa berhenti dek? Apa mau pakai kursi roda saja?"tanya mba Nuri padaku. Mungkin dia mengira aku kesakitan berjalan hingga dia menawarkan kursi roda, perhatian sekali dia.


Aku menggeleng cepat dan menjawab,"Tidak mba, aku hanya ingin ke bagian admistrasi dulu."


"Oh....tidak perlu dek, aku sudah membayarnya," cegah mba Nuri sembari tersenyum. Seolah olah dia tau apa tujuanku menemui bagian administrasi. Seketika mulut ku sedikit menganga mendengar pengakuannya bahwa dia sudah membayarkan pengobatan ku. Kemudian aku mengatup kan mulut ku kembali lalu bertanya dengan serius,"Mba Nuri serius? kenapa di bayarin mba? saya sendiri juga ada uang kok untuk membayarnya!"


"Tidak apa apa dek!"


"Saya ganti ya mba!"


"Tidak usah saya ikhlas."


Namun meskipun mba Nuri menolaknya aku tetap merogoh dompet yang ku simpan di saku celana seragam sekolahku.


"Tidak perlu dek, kamu simpan saja uang jajan mu itu." Mba Nuri masih tetap melarang ku mengambil uang yang ada di dalam dompet yang sedang aku pegang.


Meskipun mba Nuri menolaknya, aku tetap membuka dompetku. Namun ketika dompet sudah terbuka aku tercengang melihatnya karena di dalamnya hanya ada selembar uang lima puluh ribu. Aku melirik ke arah wajah mba Nuri, jujur aku malu sekali padanya. Jika di lihat dari ekspresinya, aku tau dia menertawakan ku namun di tahannya.


"Kata aku juga tidak usah dek, kalau kamu kasih uang lima puluh itu ke aku nanti uang mu habis. Kalau habis nanti merengek lagi minta uang jajan sama orang tuamu."


Ledekan nya membuat ku merasa malu, kesal dan gemas sekali padanya. Dia tidak tau saja kalau aku ini seorang pengusaha online dan tabungan ku banyak. Tapi sudah lah tidak apa apa di ledek, karena aku juga tidak mungkin menceritakan siapa aku dan membanggakan diriku di hadapannya. Lagi pula apa yang di katakan olehnya merupakan hal yang wajar. Tugas pelajar adalah belajar urusan biaya serta keperluan sekolah orang tua yang mencarinya. Pelajar itu belum bisa menghasilkan uang karena sehari harinya adalah belajar. Begitulah cara pandang kebanyakan orang terhadap seorang pelajar termasuk mba Nuri ini padaku bahwa di matanya aku adalah seorang pelajar yang masih mentergantungkan kebutuhan ku pada orang tuaku.


"Nanti aku akan menggantinya mba, aku janji."


Mba Nuri tersenyum lalu menimpali perkataan ku,"saya kan sudah bilang tidak usah. Biarkan uang itu menjadi pahala untuk saya dek, kalau adek mengembalikannya nanti saya tidak dapat pahala."


Aku bungkam, mendengar ucapannya membuatku semakin kagum saja pada wanita cantik di sampingku.


"Ya sudah yuk keluar, saya antar kamu pulang ke rumah mu." Mba Nuri menuntun ku kembali hingga parkiran motor.


Sebelum mba Nuri menyalakan motor dan aku sendiri belum menaikinya, mba Nuri bertanya," rumah mu dimana dek?"


"Aku tinggal di Kenanga mba!" jawab ku.


"Maksudmu kampung Kenanga?"


"Iya, mba!"

__ADS_1


Mba Nuri terlihat diam sejenak namun kemudian dia bertanya lagi,"memang siapa nama orang tuamu?"


"Erwin dan Fatimah." jawabku singkat.


"Maksudmu pak Erwin pejabat DPRD sama Bu Fatimah kepala sekolah itu?"


"Kok mba tau, apa mba kenal sama orang tua ku?" tanya ku penasaran.


"Kenal sih tidak, hanya tau saja. Ya sudah yuk naik!"


Aku manggut manggut kecil dan tidak bertanya lagi. Aku tau orang tua ku merupakan orang penting dan orang orang pasti mengenal mereka termasuk mba Nuri, pikirku. Aku menuruti perintahnya dan segera menaiki motorku. Mba Nuri melajukan motorku dengan kecepatan sedang menuju kampung Kenanga. Dia terlihat seperti sudah hapal sekali dengan jalannya karena sepanjang perjalanan dia tidak pernah bertanya kemana arahnya.


Mba Nuri memberhentikan motorku tepat di depan pintu gerbang rumahku yang tertutup. Aku heran kenapa dia tau dimana rumahku? padahal sebelumnya dia tidak bertanya dan aku sendiri belum memberi tahu dimana rumahku.


Aku turun dari motorku dengan hati hati. Begitu pula dengan Mba Nuri ikut turun bersamaku.


"Ini rumah mu kan dek?"tanya mba Nuri sambil pandangannya mengarah pada rumahku yang berlantai dua.


Aku mengangguk dan karena penasaran darimana mba Nuri bisa tau dimana rumahku, aku bertanya,"mba kok bisa tau rumah ku? apa sebelumnya mba pernah kesini?"


Tin...tin...


"Rai, kenapa berdiri di situ ayah mau masuk nih!" ucap ayah dengan suara sedikit keras.


"Bentar yah!" jawabku. Kemudian aku menoleh pada mba Nuri yang sedang memegang motor hendak menyingkirkannya dari depan pintu gerbang. Ingin rasanya aku mencegahnya dan biar aku saja yang menyingkirkan nya namun apalah dayaku, jangankan membawa motor besar membawa tubuhku sendiri saja kesusahan.


Tak selang lama pintu gerbang terbuka. Bi sumi, art di rumah ku telah membukanya.


"Mba Nuri!" Aku memanggil mba Nuri yang mau mendorong motor dan dia menoleh ke arahku lalu bertanya," ada apa dek?"


"Jangan di dorong berat mba, naiki saja langsung bawa ke dalam!"


Mba Nuri mengangguk kemudian dia menaiki motorku lalu melaju pelan memasuki halaman rumahku. Aku berjalan sangat pelan seperti keong memasuki pintu gerbang. Mba Nuri berlari ke arahku setelah meletak kan motorku. Kemudian dia membantuku berjalan. Aku tau ayahku sedang memperhatikan cara jalanku yang seperti keong serta di bantu oleh mba Nuri di belakang ku namun dengan sabar dia menunggu ku hingga aku memasuki pintu gerbang dan duduk di lantai teras.


"Kamu kenapa Rai?" tanya ayah sambil menutup pintu mobilnya lalu berjalan cepat ke arah kami.


Aku tau ayah khawatir padaku kemudian aku pun menjawabnya," tidak apa apa yah hanya luka kecil. Tadi aku terjatuh dari motor saat mau pulang. Untung ada mba Nuri yang menolongku kalau tidak aku sudah mati tertimpa motor,"ucap ku sambil menoleh pada mba Nuri yang sedang berdiri sambil menunduk kan wajahnya.


"Ya Allah Raihan...kamu itu ada ada saja. Ayah kan sudah bilang naik motor itu bahaya. Pokoknya setelah ini jangan naik motor lagi dan kalau mau kemana mana di antar sama mang Udin saja ya?" ucap ayah lalu menepuk pundak ku.

__ADS_1


"Tapi yah, aku bukan anak kecil lagi. lagi pula motornya baru seminggu ku beli kan sayang kalau dianggurin. Memang dasar aku nya saja yang belum terlalu lancar makannya jadi jatuh kalau sudah lancar juga tidak akan jatuh." Aku membantah keinginan ayah dengan wajah ku tekuk. Perdebatan kecilku membuat aku lupa jika ada mba Nuri di tengah tengah kami yang sedang menyimak.


Tak lama ibu muncul dari balik pintu lalu menoleh ke arahku yang sedang duduk selonjoran dengan perban cukup besar di lutut ku.


"Mashaallah Raihan...kamu kenapa Rai?" teriak ibu sambil berjalan cepat ke arahku lalu ikut duduk di lantai.


"Ini..ini kenapa kaki mu Rai?" tanya ibu lagi dengan panik.


Aku masih diam namun ayah yang menjawabnya dengan nada menyindir," itu lah Bu, gara gara tidak menuruti kata orang tua jadinya seperti itu."


Ibu menoleh pada ayah lalu bertanya," apa maksudnya yah? apa yang sudah terjadi sama Raihan?"


"Ya itu, dia jatuh dari motornya sendiri. Ayah kan sudah bilang jangan naik motor bahaya. Seperti biasa saja kalau mau kemana mana di antar sama mang Udin saja."


Ibu menoleh lagi padaku dengan wajah cemas dan bertanya,"benar itu Rai kamu jatuh dari motor mu? Apa lagi yang sakit Rai? apa parah, kita ke rumah sakit saja yuk?" sambil membolak balik kan tubuhku mencari luka luka di bagian tubuhku yang lain. Jujur saja, perlakuan ibu yang memperlakukan aku seperti anak kecil membuatku malu sekali pada mba Nuri.


"Jangan berlebihan seperti ini Bu, aku bukan anak kecil." Kemudian aku menyingkir kan tangan ibu dari tubuhku perlahan.


"Aku hanya terluka sedikit di lututku ini, ibu tidak usah khawatir," ucap ku kembali sedikit memberi tahu bahwa aku baik baik saja.


"Terluka sedikit bagaimana Rai, ini lukanya besar lho! benar kata ayah mu besok kamu di antar saja sekolahnya sama mang Udin jangan naik motor."


Tidak ayah tidak ibu, mereka sama sama menganggap aku anak mereka yang masih kecil meskipun aku sudah bisa mencari uang sendiri tetap saja di mata mereka aku ini masih anak kecil.


"Tidak bisa begitu dong Bu, aku...!"


"Ehmm.!"


Aku dan ibu menoleh ke arah mba Nuri yang tiba tiba mengeluarkan suara seolah olah dia kesal menyaksikan perdebatan antara orang tua dan anak. Ibu ku sendiri baru menyadari kehadiran mba Nuri di tengah tengah kami mungkin karena dia panik melihat ku terluka jadi tidak memperhatikan di sekitarnya. Aku sendiri belum sempat memperkenalkan ibu dengan mba Nuri karena sikap ibu yang langsung posesif padaku.


"Bu kenalkan ini mba Nuri, dia yang sudah menolong aku waktu terjatuh. Dia juga yang membawa aku ke klinik serta membawa aku pulang ke sini." Aku memperkenalkan mba Nuri pada ibu. Kemudian mba Nuri terlihat tersenyum pada ibu.


"Lho...bukannya nak Nuri ini yang sering mengantar Bu Retno ke pengajian ya? jadi nak Nuri ini yang sudah menolong Raihan? terima kasih banyak ya nak Nuri" Aku jadi bingung melihat ekspresi ibu terhadap mba Nuri yang seolah olah mengenalinya.


Mba Nuri tersenyum ramah pada ibu lalu menjawab pertanyaan nya," Benar Bu, saya Nuri anaknya Bu Retno."


"Oala nak Nuri ini anaknya Bu Retno toh, saya pikir siapanya Bu Retno kalau melihat sedang mengantar pengajian. Soalnya nak Nuri tidak ada kemiripan sama sekali sama Bu Retno. Maaf ya nak Nuri!"


Sebelum mba Nuri menjawab aku menyela terlebih dahulu karena aku penasaran," kok ibu bisa tau sama mba Nuri?"

__ADS_1


"Makannya Raihan, sering sering lah gabung atau main main sama anak anak di kampung ini jangan nguprek di depan layar laptop saja. Agar kamu tau dan kenal sama orang sini. Tuh kan ada cewek super cantik kayak nak Nuri di kampung ini saja kamu tidak tau, Payah kamu Raihan!" Ayah menimpali pertanyaan ku. menggoda sekaligus meledek ku. Aku merasa malu sekali pada mba Nuri.


__ADS_2