
Aku menghentikan omelan Oma pada Raihan dan menjelaskan padanya bahwa waktu itu hanya salah paham saja. Kekesalan Oma pun mulai mereda setelah mendengar penjelasan ku.
"Jadi benar dia tidak menyakiti kamu, Nuri?"
"Mana mungkin saya tega menyakiti Nuri." Raihan lebih dulu menimpali pertanyaan Oma.
"Ish, saya tidak bertanya sama kamu."
Raihan memajukan bibir bawahnya.
"Kamu sedang tidak bicara bohong kan kalau pacar nya si Nura yang rese ini tidak menyakiti kamu?"
Raihan menyipitkan kedua matanya." Pacar Nura, siapa pacar Nura? yang ada juga calon suami Nuri."
"Apa maksud mu?"
"Iya, saya calon suami Nuri. Apa kurang jelas Oma?"
"Rai.." Aku kesal sama Raihan yang berbicara kurang sopan.
"Habis Oma main ngomel saja tanpa ingin mendengar penjelasanku dulu." Raihan membela diri.
"A..apa tadi kamu bilang? calon suami." Oma bertanya kembali seolah olah apa yang di ucapkan Raihan kurang jelas.
"Iya, saya calon suami Nuri."
Dokter Bayu dan Oma nampak tercengang mendengar pengakuan Raihan. Bahkan mulut Oma terbuka cukup lebar.
"Apa, calon suami nya Nuri!" Ulang Oma.
"Iya, saya calon suami Nuri dan Nuri calon istri saya bahkan satu Minggu lagi kami akan menikah. Oma tenang saja Oma dan dokter Bayu akan kami undang kok." Raihan memperjelas ucapannya dengan nada kesal.
Oma melirik ke arah dokter Bayu yang nampak sedang mengepalkan tangannya dan berwajah datar. Kemudian mengalihkan kembali pandanganya ke arahku.
"A...apa benar itu, Nuri?" Tanya Oma padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk." Iya Oma. Saya akan menikah dengan Raihan Minggu depan. Oma dan dokter Bayu datang ya?"
"Nanti undangannya nyusul." kata Raihan.
Oma melirik ke arah dokter Bayu lagi begitu pula dengan dokter Bayu. Jakun dokter Bayu nampak naik turun seperti berusaha menelan salivanya. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkan olehnya.
"Oma, hari sudah siang lebih baik sekarang kita langsung ziarah saja." Ajak dokter Bayu tiba tiba.
"Sebentar Bay." Kemudian Oma melihat ke arah ku lagi." Apa kamu serius mau menikah, Nuri?"
"Oma, sudah lah buang-buang waktu saja Bayu tidak punya banyak waktu setelah ini harus ke rumah sakit. Ayok."
Oma masih terdiam dan menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Dokter Bayu kesal lalu dia menarik paksa lengan Oma dan membawanya menjauhi kami. Aku merasa dokter Bayu sedang marah padaku tapi kenapa? di saat aku terbengong menatap punggung mereka Raihan memegang lengan ku.
"Untung aku duluan yang melamar kamu sayang kalau tidak sudah keduluan sama dokter manja itu."
"Kamu bicara apa sih, Rai."
"Kamu kenal sama mama Melisa dan Bayu, Nuri?" Tanya pak Bagas ketika aku baru saja mendarat kan pinggul ku di atas jok."
Aku menoleh ke belakang dan tersenyum tipis." Iya pak, kami kenal secara kebetulan saja."
"Dimana?"
"Kenal dengan dokter Bayu di rumah sakit."
"Dengan mama Melisa?"
"Di rumahnya saat pertama kali saya ke Jakarta untuk mencari Zain yang di bawa pergi oleh mantan suami saya."
"Oh."
"Pak Bagas melihat mereka? Tapi kenapa bapak tidak turun dan menemui mereka?"
__ADS_1
"Bukannya saya tidak ingin bertemu mereka, mereka yang tidak mau bertemu dengan saya."
"Maksud pak Bagas?"
"Mama Melisa membenci saya ketika saya memutuskan menikah dengan Meri setelah satu bulan kepergian Hanum. Dia menuduh saya berselingkuh dengan Meri padahal demi tuhan saya sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan Meri bahkan saya bertemu dengannya saja hanya satu kali saat Hanum istri saya mengenalkannya pada saat acara tujuh bulanan anak kedua kami. Di saat saya merasa frustasi setelah kepergian istri sekaligus anak kedua saya Meri mendekati saya dan saya juga bingung kenapa tiba tiba saya menikahi meri padahal saya sangat mencintai istri saya dan tidak memiliki perasaan apa apa pada Meri. Setelah saya menikah mama Melisa memberi jarak antara saya dan Bayu. Dia mengambil alih hak asuh bayu dengan alasan karena saya memiliki istri baru dan tidak bisa menjamin kenyamanan hidup Bayu. Dia ia membawa Bayu ke Belanda hingga Bayu berusia empat belas tahun. Hingga saat ini meskipun Bayu tau saya ayahnya tapi dia seperti mengaggap saya orang asing, dia tidak mau dekat dengan saya. Jika bicara hanya seperlunya saja bahkan saya pernah meminta nya untuk memimpin perusahaan tapi dia sama sekali tidak mau. Saya tidak menyalahkan mama Melisa dan Bayu. Semua ini memang salah saya karena saya terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah lagi dan saya sendiri bingung kenapa saya bisa menikahi Meri wanita yang tidak saya cintai."
"Kalau tidak mencintai ibu Meri kenapa bisa tahan selama ini pak?" Raihan bertanya.
"Saya bertahan karena Nura. Saya tidak ingin dia menjadi anak broken home. Apa lagi Nura tidak seberuntung Bayu yang memiliki Oma kaya raya.
"Maksud pak Bagas?"
"Nura tidak memiliki seorang nenek atau kakek. Orang tua saya sudah meninggal dan orang tua Meri pun sama. Meri sendiri terlahir dari keluarga yang bisa di katakan tidak mampu. Kalian tau Unity Corp perusahan yang saya pimpin itu? itu merupakan perusahaan yang di dirikan oleh orang tua serta almarhum istri saya Hanum. Saya hanya meneruskan dan mengembangkan nya saja. Kelak, jika bayu ingin mengambil alih perusahaan itu dengan senang hati saya akan memberikan seluruh kepemilikan saham unity Corp meskipun sebenarnya lima puluh persen sudah dimiliki oleh mama Melisa. Saya akan memberikan sisa saham nya jika bayu menginginkannya."
"Ehm, Nuri, Rai. Maaf ya saya cerita panjang lebar pada kalian. Karena selama ini saya merasa hidup sendiri meskipun saya memiliki seorang istri dan anak. Saya tidak memiliki seseorang yang dapat saya percaya dan tempat untuk berkeluh kesah."
"Jadi intinya bapak percaya sama kami berdua?"
"Ya, saya percaya dengan kalian?"
"Alasannya?"
"Saya percaya kalian orang baik. Hati saya mengatakan kalian orang baik dan dapat di percaya."
"Tapi bapak baru mengenal kami lho apalagi sama Nuri."
"Tapi, saya benar benar percaya pada kalian. Sekali lagi terima kasih ya Nuri, Rai."
Aku dan Raihan saling pandang lalu menggeleng." Tidak apa apa pak, kami tidak keberatan mendengar cerita bapak." Ucap ku. Ternyata pak Bagas tidak seburuk seperti apa yang pernah Oma ceritakan. Tapi jika mendengar cerita pak Bagas yang bercerita tentang kebingungannya menikahi ibu Meri aku merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka.
"Terima kasih Nuri terima kasih."
"Kita pulang sekarang sayang?" Tanya Raihan. padaku. Aku menoleh kebelakang melihat pada Zain dan pak Bagas." Apa kita pulang sekarang pak?" Tanyaku pada pak Bagas.
"Iya Nuri, nampak nya Zain juga sudah mengantuk mendengar cerita opanya yang tidak penting ini. ma?Maaf ya, nak!" Zain tersenyum nyengir.
__ADS_1