
Aku melihat mba Yati sedang mengobrol mesra dengan seorang laki laki tua di seberang jalan.
"Tolong pinggirkan mobil nya Rai,"titah ku pada Raihan secara tiba tiba.
"Ada apa mba?"tanya Raihan, dia merasa bingung karena tiba tiba aku menyuruhnya berhenti di tengah jalan.
"Itu itu mba Yati di seberang jalan Rai,"tunjuk ku pada suatu tempat dimana ada mba Yati sedang berdiri dan mengobrol dengan seorang laki laki.
Raihan segera menepikan mobilnya. Setelah itu aku buru buru keluar mobil lalu berteriak memanggil mba Yati namun dia tidak mendengarnya karena suara bising kendaraan yang hilir mudik.
Aku hendak menyeberang jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan namun Raihan lebih dulu menarik lengan ku.
"Jangan nekat mba, bahaya,"omel Raihan, dia terlihat panik.
"Tapi aku harus menemui mba Yati Rai."
"Tapi tidak harus nekat menyebrang jalan sembarangan kan mba?"
"Terus gimana?"
"Kita putar arah saja,"kata Raihan, kemudian dia menarik lengan ku dan membawa masuk ke dalam mobil.
Setelah itu Raihan melajukan mobilnya berbalik arah namun ketika sudah berada di tempat di mana tadi mba Yati berdiri serta laki laki tua itu sudah tidak ada. Aku mendengus kesal telah mendapati mba Yati sudah pergi dan kami kehilangan jejak.
"Dia sudah pergi mba, maaf," sesal Raihan.
Aku melirik ke arahnya." kamu tidak salah Rai, kenapa harus minta maaf?"
"Karena aku tadi sudah mencegah mu mba, aku hanya tidak ingin terjadi apa apa sama mba."
Aku tersenyum lalu mengusap pipinya."Makasih ya sudah mengkhawatirkan aku."
Raihan ikut tersenyum kemudian memegang tanganku dan mengecupinya."Aku sayang banget sama kamu mba, aku tidak ingin terjadi apa apa sama mba meskipun itu hal kecil," ucapnya, kemudian mengecupi tangan ku kembali.
"Ehm, Rai, kita kembali ke rumah sakit sekarang saja, aku takut bang Supri membutuhkan kita."
Raihan mengangguk dan melepaskan tanganku lalu melajukan mobilnya. sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara aku dan Raihan, kami sibuk dengan pikiran masing masing.
"Sekali lagi aku minta maaf ya mba," kata Raihan di tengah kebisuan. Raihan masih merasa bersalah karena mungkin menurutnya gara gara dia mencegah aku menyebrang jalan kami kehilangan jejak mba Yati. Sementara aku diam bukan karena aku marah padanya tapi kediamanku itu memikirkan siapa pria tua yang sedang bersama mba Yati tadi? apa mba Yati menyelingkuhi bang Supri?
"Kenapa minta maaf lagi sih Rai, kan aku sudah bilang aku tidak marah."
__ADS_1
"Tapi kenapa mba diam saja?"
"Aku diam bukan berarti aku marah sama kamu Rai, tapi....aku memikirkan siapa laki laki yang sedang bersama dengan mba Yati tadi."
"Mungkin temannya mba."
"Kalau teman kenapa mereka terlihat mesra sekali. Aku merasa hubungan mereka lebih dari sekedar teman Rai."
"Maksudnya?"
"Entah mengapa aku merasa mba Yati menyelingkuhi bang Supri kalau melihat tingkahnya Rai."
Raihan tersenyum mendengar dugaan yang aku utarakan padanya."Jangan berfikir negatif dulu mba, siapa tau itu hanya teman atau kenalannya saja. Lagi pula kita belum ada buktinya kan?"
Aku menghela nafas dan menyenderkan punggungku." Semoga apa yang kamu katakan benar ya Rai, soalnya kalau itu terjadi kasihan sekali sama bang Supri, mana sedang sakit istrinya selingkuh, ibarat kata sudah jatuh tertimpa tangga pula."
Raihan tersenyum lalu mengelus pucuk kepalaku.
Setelah tiba di rumah sakit, aku dan Raihan berjalan beriringan memasuki rumah sakit. Tak sedikit pasang mata yang memandang kagum pada kami, entah karena kagum pada wajah tampan Raihan atau yang lainnya aku tidak tahu.
Malam hari.
Aku menyenderkan tubuh lelah ku di atas sofa. Benar benar lelah sekali mengurusi bang Supri hingga aku kurang tidur. Aku melirik ke arah bang Supri dia sedang berbaring namun matanya terbuka, kemudian melirik ke arah Zain, dia sudah tidur pulas di atas kasur bulu. Setelah itu, aku melirik pada Raihan yang sedang fokus menatap layar laptopnya dengan serius. Aku tau dia sedang bekerja. Di sela sela waktu senggang Raihan memanfaatkan nya untuk bekerja. Aku kasihan dan merasa tidak enak hati sekali padanya sudah ku repotkan dengan urusan keluargaku padahal dia sendiri memiliki urusan lain. Jika di pikir Raihan adalah orang lain, bukan suami, bukan kekasih, bukan kakak atau adik dan bukan pula saudara sepupu tapi kenapa aku membawanya ke dalam masalah ku.
"Tidurlah mba, mba pasti lelah kan hari ini? biar aku yang menjaga bang Supri." Raihan bicara masih dalam pandangan yang tak lepas dari layar laptop.
Aku ragu, rasanya tidak enak hati jika menitipkan bang Supri padanya, lagi pula dia sedang bekerja.
"Aku belum mengantuk,"kata ku beralasan, meskipun sebenarnya mataku sangat mengantuk dan tubuhku sangat lelah.
Raihan melihat ke arah ku lalu menepuk sofa di sampingnya tanpa bicara. Aku tau apa maksudnya karena dia sering seperti itu. Tanpa protes aku berpindah tempat dan duduk di sampingnya. Sebelah tangannya meraih kepalaku lalu di sender kan pada bahunya.
"Tidurlah mba," katanya, setelah sebelah kepalaku bersender di bahunya. Aku menurut saja atas apa yang Raihan lakukan, karena selain lelah aku juga sangat mengantuk oleh karena itu aku tidak protes.
Sebelum aku memejamkan mata dalam posisi menyender di bahu Raihan, aku melirik pada layar laptop yang ada di pangkuannya. Terlihat sebuah grafik presentase yang sepertinya sedang di teliti oleh Raihan. Di balik penampilannya yang sederhana dan biasa tidak akan ada yang mengira jika Raihan seorang pengusaha. Meskipun penampilannya sederhana namun Raihan memiliki otak yang briliant jika tidak mana mungkin dia menjadi pengusaha muda saat ini.
Di tengah aku tertidur aku merasa tubuhku melayang namun kedua mataku sulit sekali dibuka hingga aku membiarkan saja tubuhku terbang hingga terhempas di sebuah permukaan yang terasa berbulu dan lembut.
Aku tersadar dari mimpi melayang dan dalam keadaan mataku masih terpejam samar samar telingaku menangkap seseorang yang sedang berbicara.
"Abang lihat adik mu itu, adik yang sepanjang hidupnya di benci oleh ibu serta kakak kakaknya. Adik yang selama hidupnya selalu menderita karena ke zholiman kalian serta mantan suaminya. Lihat bang, meskipun dia di sakiti oleh kalian, tapi dia adalah orang pertama yang menolong mu, menjagamu siang malam tanpa tidur dan tanpa mengeluh. Sedang kan istrimu, ibu mu, kemana mereka? jangankan menolong mu menjenguk pun tidak."
__ADS_1
Meskipun mataku dalam keadaan terpejam namun telingaku berfungsi dengan sempurna dan aku tau itu adalah suara Raihan yang sedang menasehati bang Supri serta memberi tahu bagaimana aku padanya.
Beberapa menit kemudian suara Raihan menghilang dan dalam keadaan mata yang masih terpejam aku merasa tubuhku seperti di tutupi dengan selimut sehingga aku merasakan tubuhku mulai menghangat.
Satu minggu kemudian.
Seminggu sudah aku berada di rumah sakit dan selama itu pula Raihan selalu menemaniku. Dia lebih memilih mengesampingkan perusahaanya daripada membiarkan aku sendirian di rumah sakit menjaga bang Supri.
Hari ini dokter membolehkan bang Supri untuk pulang ke rumah dan membolehkan melakukan kemoterapi di rumah dengan cara meminum obat karena melihat kondisi bang Supri yang berangsur membaik. Aku senang sekali mendengarnya karena aku tak perlu berlama lama lagi tinggal di rumah sakit dan aku masih bisa mengontrolnya di rumah.
Awalnya bang supri meminta aku untuk diantarkan pulang ke rumah mertuanya namun aku melarangnya dan memberi penjelasan bahwa dia masih harus melakukan kemo dan aku tidak yakin istrinya atau mertuanya mau merawatnya selama dalam proses penyembuhan. Akhirnya bang Supri menurut dia mau ku ajak pulang ke rumahku.
Ketika Raihan sedang keluar kamar dan aku mengemasi barang barang karena hari ini akan pulang, tidak sengaja sebuah kertas yang terlipat jatuh dari kantong switer Raihan lalu aku mengambil dan membukanya, ternyata kertas kwitansi rumah sakit. Tertera deretan angka di kertas itu mulai dari biaya UGD, VIP room, obat obatan, cairan infus, operasi serta biaya kemoterapi untuk beberapa siklus.
Pupil mataku membesar melihat angka jumlah biaya keseluruhan yang harus Raihan lunasi.
"Dua ratus sebelas juta,"ucap ku dengan suara keras sehingga bang Supri melirik ke arahku dan bertanya.
"Kenapa Nuri?"
Aku berjalan mendekati bang Supri yang sedang duduk di atas ranjang pasien kemudian memberikan kertas itu padanya.
"Apa ini Nuri?"tanya bang Supri sembari mengambil kertas itu dari tanganku.
"Baca saja bang."
Bang Supri mulai membacanya dengan wajah terkejut." ini...."
"Iya itu harga biaya perawatan mu bang." Aku memotong ucapannya.
Bang Supri terlihat bengong entah apa yang dia pikirkan.
"Kamu berhutang budi sama Raihan bang, kamu harus banyak banyak terima kasih sama dia. Beruntung di saat kamu sakit serius dan istri serta mertuamu tidak peduli masih ada orang baik seperti Raihan yang mau menolongmu."
"Siapa sebenarnya Raihan itu Nuri? kenapa dia terlihat dekat denganmu dan mau menolongku?"tanya bang Supri. Wajar saja jika bang Supri bertanya demikian karena Raihan terlihat sangat intim denganku, selain itu dia juga dengan suka rela mau membiayai pengobatannya. Bang Supri sendiri tidak pernah bertemu bahkan mengenal Raihan karena saat Raihan pindah dan tinggal satu kampung denganku bang Supri sudah menikah dan tinggal bersama mertuanya, olah karena itu mereka tidak pernah bertemu.
"Dia temanku bang."Aku menjawabnya singkat saja karena tidak mungkin aku mengatakan bahwa Raihan pacarku secara kami memang tidak pernah mengucapkan sebuah komitmen untuk menjalin hubungan berpacaran meskipun Raihan kerap kali mengungkap kan perasaan cinta dan sayangnya padaku.
"Apa kamu benar benar sudah bercerai dengan si Surya?"
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa Nuri? bukannya dia itu suami yang baik."
"Baik, mana ada suami baik melakukan poligami, dan hanya wanita bodoh saja yang mau menerima di poligami."