
Aku menjemput Ria dan Rio ke sekolah mereka masing-masing. Namun aku menjemput Rio terlebih dahulu karena selain lebih dekat Rio lebih cepat keluar sekolah dari pada Ria. Rio berjalan ke arahku dengan senyum ceria, sepertinya dia senang sekali aku menjemputnya.
"Ayok naik setelah dari sini kita jemput kak Ria,"ucap ku.
Rio mengangguk sembari tersenyum, kemudian dia menuruti perintahku untuk segera naik di belakangku. Setelah itu, aku melajukan motorku menuju sekolah Ria di SMP kecamatan.Tiba di sana belum nampak satu pun siswa yang keluar dari sekolah bahkan para orang tua yang menunggu pun dapat di hitung dengan jari. Aku berfikir apa aku yang menjemputnya terlalu cepat dari jam biasa dia pulang sekolah.
"Kak Ria biasanya pulang sekolah jam satu kadang jam setengah dua kak,"celetuk Rio yang sedang ku bonceng di belakang.
Aku mengeluarkan ponsel di saku celana ku melihat jam yang terdapat di ponsel itu. Sedikit terkejut melihatnya karena jam itu masih menunjuk kan pukul dua belas lewat lima belas menit.
"Ya ampun masih lama,"gumam ku pelan. Aku jadi kesal sendiri, namun bersyukurnya aku sudah memberi makan dua balita ku di rumah sebelum pergi.
"Kak, Rio haus,"keluh Rio tiba tiba.
"Kamu haus, ya sudah kita cari minum dulu." Setelah berucap aku memarkirkan motorku di bawah pohon berdampingan dengan satu satunya motor yang sudah terlihat jelek serta dekil, seperti tidak pernah di cuci oleh pemiliknya.
Sambil menuntun Rio aku mencari penjual minuman. Sedikit sulit mencarinya, sebab, di sekolah itu tidak ada pedagang asongan atau pedagang keliling menggunakan gerobak di sekitar sekolah karena di dalam sekolah sudah di sediakan kantin jadi para siswa di larang jajan di luar sekolah.
Aku menelusuri tepi jalanan hingga sampai pada sebuah warung bakso dan kebetulan warung bakso itu pun menyediakan aneka minuman. Terlintas di pikiranku untuk memakan bakso terlebih dahulu sambil menunggu Ria keluar sekolah karena kebetulan perutku sudah terasa lapar.
"Rio mau makan bakso tidak?"tanya ku.
"Mau kak."
"Ya sudah sambil menunggu kak Ria keluar sekolah kita makan bakso dulu di warung seberang sana,"tunjuk ku pada warung bakso di seberang jalan.
Rio mengangguk.
Setelah berada di warung bakso itu aku segera memesan."Mang, pesan bakso dua mangkok untuk makan di sini dan juga tolong di bungkus dua ya? terus minumnya jus jeruk dua."
"Siap neng."
Setelah itu aku dan Rio mencari tempat duduk dan kami duduk di meja yang kosong serta berdekatan dengan tiga orang wanita yang sedang memakan bakso.
Karena tempatnya terbilang sepi hingga orang yang mengobrol pun masih bisa terdengar dengan jelas di telingaku.
"Emang itu harganya berapa Che?"
"Tiga juta lima ratus say, mahal kan."
"Wow, pasti mas Surya banyak duitnya dan royal ya che?"
__ADS_1
"Gaji suamiku kan memang besar say apalagi dia punya jabatan di kantornya, jadi apa pun yang aku mau pasti di belikan. Seperti ponsel baru ku ini."
Aku tercengang mendengar suara khas yang sepertinya tidak asing lagi di telingaku.
"Awas lho Che Ipah suaminya di lirik sama perempuan lain apalagi banyak duit dan tinggal di kota lagi."
"Tidak mungkin say, mas surya itu kan cinta banget sama aku. ya memang sih yang naksir suamiku itu banyak, apa lagi mantan istri suamiku itu ngebet banget ngajak balikan lagi tapi sayang nya di tolak mentah mentah sama mas Surya."
Rasanya aku ingin muntah mendengar ocehan bohong Ipah Saripah. Kapan aku ngajak balikan yang ada mas Surya sendiri yang ngajak balikan. Aku biarkan saja dulu dia berceloteh sesuka hatinya, aku ingin tau omong bohong apa lagi yang akan dia katakan pada dua teman nya itu.
"Wah, serius Che?"
"Serius lah, mana mau mas Surya balikan lagi sama dia, jauh level sama aku say. Udah kumel, bodoh, miskin, tidak bisa cari duit lagi. Makannya mas Surya itu ceraikan dia dan lebih milih balikan lagi sama aku."
"Aku jadi penasaran sama mantan istri mas Surya, kita berdua belum pernah melihat gimana orangnya ya sit?"
"He'eh, apa kamu punya fotonya pah? coba kami ingin lihat."
"Dih ngapain aku nyimpan foto orang kumel dan jelek kayak dia. Lagi pula kata mas Surya cantikan aku kemana mana."
Ingin rasanya aku labrak dan ku tonjok muka menor nya itu, berani sekali menghinaku di depan orang lain. Bersamaan dengan rasa kesal di hatiku, tiba tiba ponsel ku berbunyi nyaring. Suara mereka pun terdengar kembali ricuh mencari sumber suara ponsel. Mereka saling menanyakan satu sama lain.
"Sepertinya ponsel milik mba yang duduk di depan kita deh,"ucap seseorang di belakangku.
"Maaf mba, suara ponsel tadi milik mba ya?" tanya salah satu dari mereka padaku.
Aku memiringkan tubuhku dan menoleh kebelakang, nampak ketiga wanita itu sedang melihatku ke arah ku dan salah satu dari mereka terlihat terkejut sekali melihatku. Mungkin dia tidak menyangka orang yang dia omongin dari tadi ada di tengah tengah mereka.
"Iya mba, ini ponsel saya yang berbunyi tadi,"ucap ku sembari ku tunjukan ponsel mewahku. Biarkan saja, untuk kali ini aku mau membuat ajang pamer pameran pada mereka terutama pada ipah Saripah yang sudah berani bicara bohong tentangku.
Terlihat mereka tercengang melihat ponselku terutama Ipah Saripah, belum reda rasa terkejutnya karena keberadaan ku, di kejutkan pula dengan ponsel mewah yang ku pegang.
"Lho, kok ada mba Ipah disini? jadi yang tadi banyak bicara itu ternyata mba Ipah toh, kok saya baru ngeh yah." Aku berucap seolah olah tidak tau keberadaannya sekaligus menyindirnya.
Ipah salah tingkah, terlihat sekali kalau dia sedang cemas.
"Lho, mba ini kenal sama Che Ipah to?"
Aku tertawa kecil dengan tertawa yang ku buat, kemudian aku menjawabnya."Kenal banget dong mba, Oya perkenalkan dulu nama saya Nuri, nama panjang nya Nuri Aisha." Aku mengulurkan tanganku dan wanita itu membalas uluran tanganku serta menyebutkan namanya.
"Saya ini mantan istrinya mas Surya, mas Surya suaminya mba Ipah dan mba Ipah mantan madu saya," sambung ku dengan bahasa yang ku belit.
__ADS_1
"Maksudnya mba mantan istrinya mas Surya yang tadi di bicarakan oleh che Ipah? kok tidak sesuai sama yang di omongin Che Ipah katanya kumel dan jelek. Apa Che Ipah belum pernah melihat istri mas Surya sebelumnya?" dia menoleh ke arah Ipah Saripah, namun kemudian tak lama dia menoleh lagi padaku." Kok bisa menyimpulkan kalau mantan istrinya jelek padahal cantik banget kayak gini,"sambung nya kemudian.
Ipah terlihat semakin tegang namun gesture tubuhnya banyak gerak. Aku tersenyum saja melihatnya.
Di tengah ketegangan Ipah pandangan kami teralihkan pada sebuah mobil BMW terparkir di depan warung bakso.
Alamak, pucuk di cinta ulam pun tiba, seperti kata pepatah. Ternyata Raihan tidak sedang becanda dia benar benar menjemput ku. selang beberapa menit, sang empunya mobil mewah ke luar. Terlihat seorang pria tampan rupawan dan gagah serta terlihat berwibawa dengan pakaian kerjanya yang lengkap, sepatu, celana dan jas hitam serta dasi yang tergantung di lehernya. Pria itu menyugar rambut hitam dan lebatnya lalu berjalan ke arah ku dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ku lirik ketiga orang itu sedang menatap Raihan tanpa mengedipkan mata mereka serta mulut yang terbuka cukup lebar. Aku geleng-geleng kepala saja melihatnya.
"Hai, bidadari cantik ku,"sapa Raihan, kemudian dia membelai pipiku lalu duduk di depanku.
"Rai, kamu benar benar menjemput ku? terus dengan pakaian formal seperti ini?"Aku heran tumben sekali Raihan bertemu denganku dengan pakaian ala boss atau CEO di film film.
Raihan tertawa renyah.
"Lupa ya kalau calon suaminya ini seorang bos, pemilik R&N Grup?"
Aku memajukan bibir bawah ku namun Raihan menjewel hidungku dengan gemas.
"Tadi aku ada pertemuan dengan klain di daerah kabupaten jadi karena tempatnya dekat dengan calon istri ku apa salahnya aku menjenguk nya dulu sebelum kembali ke Jakarta lagi."
"Memang nya kamu tidak lelah Rai, harus bolak balik gitu?"
"Tidak dong, justru sebaliknya semangat banget kalau mau bertemu dengan bidadari ku ini. Aku benar benar tidak sabar ingin kita segera nikah terus tinggal bersama di Jakarta."
Terdengar manis sekali kata kata Raihan. Menikah, tinggal bersama, membesarkan anak anak bersama, menua bersama hingga akhir hayat. Tapi apakah Raihan benar benar jodohku dan laki laki terakhirku?tapi kenapa aku selalu merasa ragu.
Ku lirik jam di ponsel sudah menunjuk kan pukul satu lebih.
"Astaga Rai..."
"Kenapa sayang?"
"Ria sepertinya sudah ke luar sekolah."
"Apa kita mau pulang sekarang?"
Aku mengangguk.
Kemudian kami berdiri hendak meninggalkan warung baso setelah membayar. Namun wanita di belakangku memanggilku. Aku menoleh ke belakang ternyata wanita yang berkenalan denganku tadi yang telah memanggilku. Aku sendiri lupa kalau masih ada mereka di belakangku karena aku terhanyut pada perlakuan manis Raihan. Terlihat Ipah membuang muka setelah tanpa sengaja aku menatapnya.
"Memang mas ganteng itu siapanya mba Nuri?"tanya nya. Aku diam karena aku bingung menjawabnya.
__ADS_1
"Saya calon suaminya, kenapa?"Raihan balik bertanya, dan mereka terlihat semakin terkejut saja atas pengakuan Raihan.