
Kenapa mas Surya masih ada di rumahku? kenapa dia belum kembali ke Jakarta padahal aku sudah menyuruhnya pergi. Apa dia menungguku? Sepanjang jalan aku terdiam dan memikirkan suamiku yang belum saja kembali ke Jakarta. Raihan menepuk lenganku menyadarkan aku dari lamunan.
"Mba sedang memikirkan apa dari tadi diam saja?" Raihan bertanya namun pandangannya fokus ke depan.
"Tidak Rai, aku hanya memikirkan gimana nanti di kampus apa kamu tidak malu membawa kami ke kampus mu?" Aku berbohong pada Raihan padahal sebenarnya aku memikirkan suamiku.
"Aku tau mba bukan memikirkan itu tapi memikirkan suami mba Nuri kan?" Raihan seperti memiliki indera ke enam dia tau saja apa yang sedang aku pikirkan.
"Kalau mba ada masalah dengan suami mba kenapa tidak di selesaikan secara baik baik saja bukan malah main kucing kucingan seperti ini."
"Apa kamu merasa keberatan karena aku sudah banyak merepotkan kamu Rai?"
"Oh, tidak. bukan itu maksudku mba."
"Turunkan saja kami di sini Rai, aku tidak ingin lagi merepotkan kamu. Maaf kami sudah banyak merepotkan kamu."
"Bukan begitu maksudku mba, maaf ucapan ku sudah membuat mba merasa tersinggung. Aku hanya...!"
"Kamu tidak tau bagaimana suamiku Rai, dia tidak bisa menyelesaikan masalah secara baik baik." Aku berbicara dengan suara sedikit keras karena aku merasa tersinggung atas ucapan Raihan.
Raihan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan seperti nya dia tidak ingin berdebat sambil mengemudi.
"Menurutmu bagaimana jika pasanganmu mengatakan bahwa kamu seorang pasangan yang tidak berguna, menghina pendidikan rendah serta bodoh dan tak pandai mencari uang lalu di banding bandingkan dengan mantan pasanganmu?"Akhirnya ku ceritakan penyebab aku menghindari suamiku pada Raihan dengan derai air mata.
Raihan memiringkan tubuhnya lalu menatapku lekat. Dia meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Lalu sebelah tangan Raihan mengusap cairan bening yang keluar dari mataku dengan deras. Aku menangis di hadapan Raihan tanpa malu. Menangisi takdir hidupku yang kurang beruntung. Raihan membawa wajahku bersandar di dada bidangnya. Aku menangis sesenggukan di dekapan Raihan. Suatu hal yang tak pernah aku lakukan ketika aku merasa rapuh dan butuh sandaran dan baru kali ini aku bisa bersandar di dada bidang seorang pria yang selalu membantuku. Pria muda yang aku kenal sejak dia masih memakai seragam putih abu abu.
"Maaf mba, maaf aku tidak tau apa yang terjadi sama mba Nuri." Raihan menenangkan ku dari tangisan sambil mengusap usap kepalaku dengan lembut. Sementara Zain yang berada di pangkuanku mendongak kan wajahnya ke arah kami.
"Mama napa nangis?" tanya Zain dengan polosnya. Aku melepaskan diri dari dekapan Raihan lalu menghentikan tangisanku.
"Tidak apa apa sayang, mama tidak menangis kok," ucapku dengan suara parau.
Tangan mungil Zain meraih wajahku lalu mengusap jejak jejak air mata yang masih menempel di pipiku. Aku menciumi Zain bertubi tubi lalu memeluknya erat. Hanya Zain yang aku miliki di dunia ini dan hanya karena Zain aku berusaha kuat menjalani hidupku.
Raihan memperhatikan ku yang sedang memeluk Zain lalu tangannya meraih kepala Zain dan ikut mengusapnya dengan lembut.
"Mba Nuri seorang mama yang kuat serta hebat bagi Zain, Zain pasti bangga memiliki mama seperti mba Nuri. Mba jangan pernah merasa tidak ada yang sayang sama kalian karena nyatanya masih ada yang sangat menyayangi kalian yaitu.....aku!"
__ADS_1
Aku melirik ke arah Raihan lalu tersenyum. Hanya Raihan yang selama ini ada untuk kami. Raihan yang selalu membantuku ketika aku kesulitan. jika di pikir banyak sekali hutang budi ku padanya.
"Terima kasih Rai!"
Raihan tersenyum lalu melajukan mobilnya kembali. Ketika menemukan warung bubur di pinggir jalan Raihan memberhentikan mobilnya di depan warung bubur.
"Kita sarapan dulu ya mba?"
Aku mengangguk dan Raihan mengambil alih menggendong Zain lalu aku turun dari mobil. Kemudian kami memasuki warung bubur lalu Raihan memesan tiga mangkok bubur. Sambil menunggu bubur datang aku hanya duduk diam sementara Raihan mencandai Zain dan candaannya mampu membuat Zain tertawa renyah.
Tak selang lama bubur pesanan kami datang. Sambil tersenyum Raihan meniup kan bubur yang masih panas di dalam sendok lalu setelah dingin raihan menyuapkannya pada mulut Zain. Zain terlihat makan dengan lahap sekali mungkin dia merasa lapar karena jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Aku yang sedang memperhatikan Raihan di lirik olehnya.
"Kenapa tidak di makan buburnya mba?mumpung masih hangat lho, kalau sudah dingin tidak enak lagi."
"Bagaimana aku bisa makan Rai, sementara kamu saja masih menyuapi anak ku. mestinya aku yang menyuapi Zain Rai!"
"Apa bedanya jika aku yang menyuapinya mba? aku memang bukan laki laki yang menanam benih hingga menjadi sosok Zain tapi aku sudah menganggap Zain seperti darah daging ku sendiri mba."
"Kenapa seperti itu Rai?"
"Rai...!"
"Hem..!"
"Aku dan zain beruntung sekali bisa mengenal orang baik seperti mu Rai..!"
"He..he..! Aku juga beruntung bertemu dengan mba meskipun statusnya sudah menjadi istri orang. Andai saja aku lahir lebih dulu dari mba mungkin aku yang lebih dulu menikahi mba bukan mas Surya."
"Mulai menggombal lagi Rai!"
"Aku bicara serius mba!"
Ku tatap mata sipit Raihan dan Raihan pun menatapku lekat. Aku mencari kebenaran disorot matanya apa benar Raihan menyayangiku atau hanya sekedar kasihan saja pada hidupku yang kurang beruntung?
"Kenapa menatapku seperti itu mba? apa mba tidak takut akan jatuh cinta padaku?"
Aku langsung menunduk kan wajahku." percaya diri sekali kamu Rai."
__ADS_1
"Ha..ha..ya sudah mba, di makan buburnya."
Aku menuruti perintah Raihan memakan bubur ku dengan pelan. Sesekali aku melirik ke arah Raihan yang sedang fokus memakan buburnya. Apa iya aku bisa jatuh cinta pada pria yang usianya enam tahun lebih muda dariku? Ah rasanya tidak mungkin. Aku hanya kagum saja pada sosok Raihan yang Sholeh dan lembut, pikirku.
Setelah selesai memakan bubur, Raihan melajukan kembali mobilnya menuju kampusnya. Setengah jam kemudian kami sampai di sebuah gedung kampus yang cukup besar. Sebuah kampus swasta yang paling populer di daerahku. Raihan memarkirkan mobilnya di area parkiran dan nampak jejeran mobil bagus terparkir rapih. Aku menyakini rata rata mahasiswa yang kuliah di kampus ini merupakan orang orang kaya jika melihat kendaraan yang ada. karena yang kulihat kebanyakan mobil daripada motor yang terparkir.
Kami keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke area kampus. Aku tercengang memandang gedung kampus yang cukup megah.
"Mba mau ikut aku ke kelas atau mau menunggu aku di taman sana? Tunjuk Raihan pada sebuah taman kampus yang cukup luas.
"Aku menunggu di taman saja Rai, tidak mungkin kalau aku ikut masuk ke kelas mu toh aku bukan mahasiswa di sini lagi pula aku membawa anak apa kata teman temanmu nanti."
"Sebenarnya tidak ada masalah kalau mba mau ikut ke dalam kelasku."
"Tidak usah Rai, aku tunggu di taman saja. Sudah sana masuk ke kelas mu."
"Ya sudah kalau begitu, tunggu aku ya mba, aku hanya ada satu mata kuliah saja hari ini mungkin sekitar dua jam. kalau mba haus atau lapar di sana ada kantin," tunjuk Raihan pada suatu tempat dan aku mengikuti arah telunjuknya.
Aku mengangguk.
Raihan mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil uang dua lembar berwarna merah lalu dia meraih tanganku dan meletak kan uang itu di telapak tanganku.
"Apa ini maksudnya Rai?" tanyaku.
"Ini uang untuk jajan Zain di kantin mba, takut dia haus dan lapar." Raihan memberikan uang padaku dengan alasan untuk jajan Zain padahal aku tau itu hanya alasan saja agar aku menerimanya.
"Tapi aku punya kok Rai."
"Tidak apa apa mba, pegang saja untuk jaga jaga."
Aku terdiam sambil memegang uang pemberian Raihan.
"Aku masuk kelas dulu ya mba?" Raihan berjalan ke arah gedung kampusnya setelah mendapat anggukan dariku. Aku menggendong Zain melangkah ke arah taman namun baru beberapa langkah aku mendengar seorang wanita memanggil nama Raihan. Aku berbalik dan ku lihat Risa menghampiri Raihan. Ku perhatikan interaksi mereka dari jarak tidak terlalu jauh mereka terlihat mengobrol akrab dan wajah Raihan terlihat tersenyum terus memandang Risa. Entah mengapa aku merasa tidak suka melihat keakraban mereka terlebih melihat ekspresi Raihan yang terlihat senang bertemu dengan Risa. Aku memperhatikan mereka hingga mereka pergi beriringan menuju kampus. Dadaku terasa sesak sekali melihat pemandangan tersebut. Apa aku cemburu? tidak mungkin aku cemburu karena aku tidak memiliki hubungan apa apa dengan Raihan. Yang pasti aku tidak mengerti dengan perasaan ku saat ini.
Aku melanjutkan langkahku ke arah taman. Setelah tiba di taman aku duduk di sebuah bangku panjang menghadap ke arah air mancur. Pikiranku teringat kembali pada pertemuan Raihan dan Risa serta melihat ekspresi Raihan yang terlihat senang bertemu dengan Risa. Entah mengapa aku merasa jadi gelisah.
Sudah satu jam aku berada di taman menunggu Raihan. Zain kehausan dan minta minum. Aku menggendong Zain berjalan menuju arah kantin. Tiba di kantin aku memesan air mineral dan ketika aku hendak berjalan keluar aku melihat Raihan sedang mengobrol dengan Risa di sebuah kursi sambil meminum jus. Lagi lagi dadaku terasa sesak melihatnya. Aku melanjutkan lagi langkahku tidak ingin berlama lama memperhatikan mereka namun tanpa di sengaja aku menabrak seorang wanita yang sedang membawa minumannya sehingga minumannya terjatuh ke lantai. Wanita itu memaki ku dengan suara lantang sehingga mengundang semua yang ada di kantin melihat ke arah kami termasuk Raihan dan Risa. Aku meminta maaf berulang kali namun wanita itu masih saja memaki diriku hingga Zain menangis. Aku malu sekali menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin. Aku pun berjalan cepat menuju arah keluar kantin meninggalkan wanita yang tanpa sengaja ku tabrak dalam keadaan marah padaku.
__ADS_1