Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bertemu calon ibu mertua


__ADS_3

Raihan melajukan mobil nya meninggalkan rumah Padang itu menuju arah kampung kami. Di sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara kami karena aku sendiri pun sedang malas bicara karena benar benar sedang mengantuk.


Goncangan pelan terasa di bahuku. Perlahan aku membuka kelopak mata dan nampak rumah bercat putih di hadapanku. Rumah yang aku kenali sebagai rumah orang tua Raihan. Raihan membangunkan aku yang tertidur entah sudah berapa lama.


"Sudah sampai sayang." Kata Raihan sambil membuka sabuk pengamannya.


Aku mengernyitkan dahiku menatap rumah itu." Rai, kamu..bawa aku ke rumah orang tua mu?"


"Iya sayang, pulang ke rumah mu besok saja. malam ini kamu dan Zain tidur di rumah ibuku dulu."


"Tapi kenapa?"


"Karena sudah larut malam takut mengganggu orang orang yang sudah tidur di rumah mu."


"Tapi disini juga sama saja menggangu ibumu."


"Tapi setidaknya ibuku sudah tau kalau anaknya dan calon istrinya akan pulang sayang. Bahkan ibu sendiri yang menyarankan membawa mu dan Zain kemari."


"Serius?"


"He'em."


Di tengah kami mengobrol tiba tiba pintu rumah itu terbuka lalu keluar seorang wanita paruh baya. Wanita yang sudah melahirkan anak yang hebat seperti Raihan. Kemudian dia melihat ke arah mobil kami.


"Tuh lihat ibu sedang menunggu kita ayok turun." Raihan turun lebih dulu lalu membuka pintu mobil belakang dan mengangkat Zain. Sementara aku masih duduk di tempat dengan perasaan campur aduk, antara senang, takut juga cemas.


"Sayang, ayok turun!" Raihan membuka kan pintu mobil sembari menggendong Zain. Padahal aku sama sekali bukan bermaksud bertingkah seperti seorang Puteri raja lalu meminta bodyguard untuk membukakan pintu mobil melainkan perasaan gugup ku bertemu dengan orang tua Raihan yang pernah melamar aku untuk keponakannya, Andre.


Dan akhirnya aku pun turun dari mobil lalu mengekor melangkah pelan ke arah teras rumah Raihan dimana ibu haji berdiri sembari menatap senyum pada kami.


"Kalian baru sampai. Kenapa larut malam sekali datangnya? kasihan Zain malam malam berada di jalanan." Kata Bu haji. Aku menatap bengong padanya. Tidak menyangka tanggapan nya demikian pada kami. Dan aku yang awalnya gugup serta tegang menjadi sedikit relax lalu memberikan senyuman dan menyalaminya dengan takjim.


"Iya Bu, ada urusan sedikit di jalan." Raihan memberi alasan.


"Ya sudah, ayok masuk Nuri." Bu haji menarik pelan lenganku dan aku pun menurut.


"Sana tidurkan dulu Zain di kamar mu Rai, kasihan."


"Iya Bu, sebentar ya sayang aku tidurkan Zain dulu."


Aku mengangguk.

__ADS_1


Setelah kepergian Raihan dari hadapan kami bu haji menyuruhku duduk di sofa ruang tamu dan aku pun menurut.


"Permisi mba, mba mau minum apa?" Tiba tiba Art Bu haji datang dan menawarkan minuman.


Aku tersenyum padanya."Terima kasih Bu, tapi tidak usah saya sudah minum di jalan tadi."


"Tolong ambilkan air putih saja tiga ya sama ambilkan piring dan sendok." Kata Bu haji.


"Iya Bu."


Tak lama Art itu kembali dan membawa pesanan Bu haji lalu meletakkan nya di atas meja.


"Ada lagi Bu?"


"Tunggu sebentar."


Bu haji mengambil beberapa potong martabat telor menggunakan sendok dan meletak kannya di atas piring kemudian dia memberikan piring itu pada Art nya.


"Ini untuk mu. Di makan mumpung masih hangat."


"Wah, mantap sekali. Saya sudah lama tidak makan martabak telor. Makasih banyak ya Bu." Ucap Art itu sembari tersenyum lebar. Lagi pula siapa yang tidak senang di perlakukan baik oleh sang majikan.


Bu haji mengangguk.


"Kenapa sih sayang." Raihan protes.


"Malu, Rai."


"Ngapain malu sama ibu sih. Tidak apa kan Bu kalau kami berpelukan di depan ibu?"


Aku menunduk malu sementara Bu haji geleng-geleng kepala saja melihat tingkah anaknya padaku.


"Maafin anak ibu yang sikapnya kata bocil ya Nuri!" Kata Bu haji. Rasanya ingin tertawa mendengar ledekan Bu haji untuk Raihan namun aku menahannya. Raihan menekuk kan wajahnya.


"Nanti kalau kalian sudah menikah kamu harus sabar sabar menghadapi sikap ke kanan Kanakan Raihan, Nuri." Aku melirik ke samping dimana raihan duduk begitu pula dengan Raihan melirik padaku.


"Apa aku ini seperti anak kecil sayang?"Tanya Raihan.


"Kadang kadang." Ucap ku sembari tersenyum.


Cup

__ADS_1


Tiba tiba Raihan mencium pipiku di depan Bu haji. Aku segera menunduk malu. Raihan benar benar kelewatan mencium ku di depan ibunya sendiri.


"Ayok, ngomong lagi biar ku cium bibir mu."


"Kamu ini Rai, main nyosor saja. Sudah Nuri jangan di pikirkan. Mending kita makan martabak telor saja mumpung masih hangat.


Aku mengangguk lalu melirik kesal pada Raihan sebelum mengambil sepotong martabak telor. Raihan tersenyum usil lalu ikut mengambil sepotong martabak.


Martabak telor merupakan salah satu makanan favorite ku. Dulu ketika aku masih bekerja, setelah pulang kerja selalu membelinya namun setelah menikah aku tidak pernah lagi memakannya.


Entah karena aku lapar atau rasa martabaknya yang sangat enak di lidah ku tanpa terasa aku sudah menghabiskan beberapa potong martabak.


"Tadi di suruh makan tidak mau sekarang malah ngabisin satu kotak." Sindir Raihan.


Aku yang baru saja akan menggigit martabat seketika terdiam lalu menoleh pada kotak martabak dan ternyata martabak itu hanya tersisa dua potong lagi. Aku tersenyum malu pada Bu haji yang tengah memperhatikanku.


"Tidak apa Nuri habiskan saja. Ini masih banyak." Kata Bu haji sembari tersenyum.


Aku menunduk malu.


"Iya sayang aku cuma becanda saja. Habiskan saja tidak apa apa. Apa mau aku belikan lagi?"


Aku menggeleng cepat.


"Ehm, Nuri!" ucap Bu haji.


Aku pun mendongak menatapnya." Iya Bu."


"Nanti kalau kalian menikah siapa yang akan menjadi wali nikah mu? maaf lho, ibu hanya ingin tau saja."


Aku dan Raihan saling pandang kemudian mengalihkan pandangan kami pada Bu haji.


"Ada bang Supri Bu, biar dia yang menjadi wali nikah Nuri."


"Tapi bukanya Nuri punya kakak satu lagi namanya.....siapa itu ibu lupa."


"Bang Supra Bu, dia tinggal di Kalimantan dengan keluarganya."


"Oh ya Supra. Ehm...tapi Nuri kamu kok tidak mirip ya sama kedua abang mu itu? Perbedaanya jauh banget. Wajahmu kebulean dan warna kulit nya putih beda banget sama mereka. Apa kamu ada keturunan dari kakek nenek mu mungkin?"


Aku terdiam. Apa yang dikatakan Bu haji benar bahwa aku memang tidak memiliki fisik yang sama dengan kedua kakak ku apalagi karakter kami.

__ADS_1


"Ibu bicara apa sih. Meskipun satu produksi tapi tidak harus sama kan Bu. Contoh, Perusahaan PT mayora memproduksi roti. Tapi yang di produksi oleh perusahaan itu tidak hanya satu jenis roti saja Bu melainkan banyak jenisnya."


Apa yang dikatakan Raihan juga benar. Satu orang tua tidak selalu menghasilkan generasi yang sama. Aku jadi bingung sendiri memikirkannya.


__ADS_2