
"Nuri..."Tiba tiba dokter Bayu mengejutkan aku dari belakang, bukan hanya aku saja yang terkejut tapi Oma serta bibi Sukma pun ikut terkejut lalu mereka melihat ke arah kami yang sedang berdiri di ambang pintu. Dalam hati aku berharap semoga Oma dan bibi Sukma tidak menyadari bahwa aku telah mendengar perbincangan mereka sejak dari tadi.
"Bayu, Nuri!"ucap Oma, lalu mendekati kami dan berdiri di hadapanku.
"Emm, maaf Oma, bibi saya sudah mengganggu perbincangan kalian, saya kemari hanya untuk pamit sama Oma dan bibi.Terima kasih banyak ya Oma sudah membolehkan saya menginap di rumah Oma."
Oma nampak diam seperti sedang berpikir." Apa kalian mau pergi sekarang juga?"tanya Oma kemudian.
"Iya Oma," jawab dokter Bayu yang sedang berdiri di belakang ku.
"Kenapa cepat sekali? padahal Oma masih ingin nak Nuri berada di sini,"ucap Oma, lalu mengelus pundak ku dengan lembut. Jika melihat dari sorot matanya aku bisa merasakan kalau Oma mengatakannya dari hati bukan hanya sekedar basa basi.
"Oma, tapi kita harus segera mencari Zain anaknya Nuri, nanti kalau sudah di temukan Bayu akan membawa mereka kembali." Dokter Bayu membujuk Oma, dan Oma menghela nafas berat seperti enggan melepas ku.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati hati ya?"setelah berucap Oma memeluk ku dan mengelus punggung ku dengan lembut. Aku merasa pelukannya terasa nyaman dan hangat sekali.
Setelah berpamitan pada Oma dan bibi Sukma kami beranjak pergi dan di antar oleh mereka hingga keluar rumah. Sebelum menaiki mobil aku menoleh pada mereka terlebih dahulu, nampak mereka menyungging kan senyum kearah ku dan aku membalas senyuman mereka.
Mobil dokter Bayu pun melaju meninggalkan rumah besar itu membelah jalanan ibu kota.
"Apa kamu tau dimana tempat tinggalnya?"tanya dokter Bayu di sela sela mengemudi menyusuri kota Jakarta di pagi hari.
Aku memberitahu dokter Bayu dimana mas Surya bekerja sesuai informasi yang aku dapatkan dari Elis sebelumya karena aku sendiri tidak tahu menahu dimana mas Surya bekerja dan tinggal selama ini. Setahuku dia bekerja di perusahaan kecil dan tinggal di sebuah mes yang telah di sediakan oleh perusahaanya dan letaknya berdampingan dengan tempat kerjanya namun aku tidak tau perusahannya bergerak di bidang apa karena mas Surya sendiri tidak pernah cerita dan aku pun tidak pernah bertanya.
Nampak Sebelah tangan dokter Bayu merogoh ponselnya di dalam saku sambil menyetir lalu memainkannya.
"Apa tidak berbahaya main ponsel sambil menyetir dok?"tegur ku.
Dia terlihat tersenyum lalu membalas."Iya Nuri, aku hanya mencari lokasinya saja kok."
"Ohh,"
__ADS_1
"Hem, jauh juga ya."Dokter Bayu bergumam lirih namun masih terdengar dengan jelas di telingaku.
Aku meliriknya," apa nya yang jauh dok?"
"Lokasi perusahaan itu."
"Apa artinya masih jauh?"
"Emm, sekitar dua puluh menit sampai."
Aku manggut manggut saja.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang kami tumpangi memasuki area basemen dan dokter Bayu memarkirkannya di antara jejeran mobil. Setelah itu, kami turun dan berjalan lalu menaiki sebuah anak tangga sebagai penghubung ke lantai dasar. Setelah berada di lantai dasar, terlihat jejeran ruko ruko besar yang memiliki empat lantai. Kemudian kami berjalan lagi menyusuri jejeran ruko itu. Sebenarnya jejeran gedung yang bentuknya persis sebuah ruko itu tidak digunakan selayaknya ruko melainkan di gunakan sebagai gedung perkantoran perusahaan kelas menengah ke bawah atau hanya sebagai gudang saja.
Dokter bayu melihat pada ponselnya kembali dan memperhatikannya dan tidak lama kemudian."Nah itu kantornya," tunjuk dokter bayu pada salah satu bangunan berbentuk ruko itu dan terletak paling ujung.
Kami berjalan ke arah ruko yang di tunjukan oleh dokter Bayu. Setelah tiba di depan bangunan itu di luar nampak sepi namun aku tidak tau bagaimana di dalamnya. Setelah berdiri di depan pintu dan hendak mengetuknya, tiba tiba suara yang sangat aku kenal mengejutkan kami.
Aku berbalik begitu pula dengan dokter Bayu, seketika pupil mata ku membulat, benar saja dugaan ku bahwa orang yang berbicara di belakang kami adalah Raihan.
"Rai..."ucap ku dengan nada mengayun. Sungguh aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di depan kantor dimana mas Surya bekerja, karena aku sendiri tidak memberi tahu dimana letak kantor mas Surya. Nampak Raihan memakai jas hitam, kemeja putih dan dasi yang menggantung di lehernya, penampilannya terlihat berwibawa sekali seperti seorang bos saja meskipun kenyataanya Raihan memang seorang bos. Namun yang menjadi pusat perhatianku padanya adalah raut wajahnya terlihat datar saja menatap kami.
"Kenapa kamu bisa ada di sini Rai?"tanya ku.
Raihan berdecak lalu menumpukan kedua tangannya di atas dadanya."Memang kenapa kalau aku ada disini mba?"Raihan balik bertanya dengan nada terdengar sedikit ketus.
"Terus tujuan mu datang kemari mau apa Rai?"tanya dokter Bayu.
"Apa aku harus memberitahu dokter tentang tujuanku datang kemari?"Raihan balik bertanya lagi lagi dengan nada terdengar ketus.
Aku tahu Raihan sedang cemburu pada dokter Bayu, tapi rasanya aku tidak mungkin menjelaskan kesalahpahaman saat ini, selain ada dokter Bayu juga aku sudah tidak sabar untuk menemui Zain. Sebelum mereka berdebat lebih panjang aku lebih dulu mengajak mereka untuk segera menemui mas Surya.
__ADS_1
"Raihan, dokter Bayu, kalian ingin membantuku mencari Zain kan?ayok kita temui mas Surya sekarang."
Raihan menurunkan kedua tangannya namun wajahnya tetap datar. Setelah itu dia berjalan melewati kami lalu membuka pintu kantor itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku dan dokter Bayu saling pandang kemudian mengekor di belakangnya memasuki kantor itu.
Tiba di dalam nampak beberapa pasang mata melihat ke arah kami. Kemudian Raihan berjalan mendekati seorang wanita muda memakai rok span di atas lutut dan blazer warna hitam sedang berdiri sambil mendekap sebuah map tak jauh dari kami. Wanita itu nampak terkesima memandang Raihan yang terlihat tampan dan berwibawa. Aku dan dokter Bayu pun mengekor di belakangnya. Wanita itu tambah terkesima saja melihat keberadaan dokter Bayu yang tak kalah tampan dari Raihan. Bagaimana tidak terkesima tiba tiba saja dia di dekati oleh dua pria tampan sekaligus.
"Permisi mba!"sapa Raihan, raut wajah nya belum berubah masih datar bahkan terkesan dingin.
"I...iya mas, eh pak, eh mas. a..ada yang bisa sa..ya bantu?"sahut wanita itu dengan terbata bata. Sepertinya wanita itu sangat gugup.
"Apa pak Surya masuk kerja hari ini?"tanya Raihan.
Tring tring
Bersamaan dengan itu ponsel dokter Bayu berbunyi kemudian dia merogoh nya dan memperhatikan nya. Setelah itu dia melirik ke arahku."Nuri, aku keluar dulu sebentar mau angkat telpon dari Oma,"ijin nya dan aku mengangguk.
"Masuk kerja tidak?" tanya ulang Raihan setelah kepergian dokter Bayu.
Wanita itu nampak terkejut karena Raihan bertanya dengan suara sedikit tinggi."Ma..suk mas masuk. Maaf kalau saya boleh tau ada perlu apa ya mas?"dia balik bertanya.
"Tidak perlu kamu tau urusan saya. Saya hanya minta tolong beri tau saya dimana ruangannya?"
"Maaf tapi kalau boleh tau mas ini siapa?" wanita itu masih saja bertanya dengan rasa penasarannya.
Raihan nampak kesal menghadapi wanita yang banyak bertanya itu. Dia tidak menjawab melainkan merogoh saku yang ada pada kemeja putihnya lalu mengeluarkan sesuatu seperti kartu nama dan memberikannya pada wanita itu.
Wanita itu mengambilnya lalu membacanya pelan."Raihan Hermawan Gemilang, CEO R&N GROUP." Seketika bola matanya membesar melihat Raihan dan aku tau apa yang sedang wanita itu pikirkan.
"Cepat antar kami ke ruangannya sekarang."
"Ba..baik pak Raihan baik."
__ADS_1